Kekuatan dalam Pendidikan

Senyatanya kehidupan ini dijalani untuk kebahagiaan. Proses pendidikan dijalani sejak usia dini hingga pendidikan tinggi tidak boleh melupakan kebahagiaan murid-muridnya. Capaian kemampuan akademik memang penting, namun jauh lebih penting adalah bagaimana mengantarkan kebahagiaan para muridnya.

Kebahagiaan diraih bukan sebuah proses yang instan dan parsial, tetapi melibatkan semua pihak yang ada dalam komponen pendidikan.

Anak-anak yang bahagia datang ke sekolah tentu berawal dari rumah yang penghuninya juga bahagia. Mereka punya cara dalam mensikapi masalah anak-anak. Anak berangkat dengan percaya diri dan bahagia. Orangtua melepas anak belajar dengan percaya dan bahagia.

Sekolah yang menumbuhkan suasana bahagia adalah sekolah yang di dalamnya ada guru, kepala sekolah dan pegawai lainnya yang menyambut dan melayani dengan bahagia. Mereka sehat jiwanya, mampu menstimulasi perkembangan dan kebutuhan anak.

Apa guna nilai akademik tinggi namun tertekan dalam hidup? Apa guna jabatan tinggi tapi tidak sehat secara rohani, depresi dan banyak marah?

Sadar akan pentingnya meluaskan tujuan pendidikan ini, menciptakan kepandaian akademik dan non akademik.

Di banyak negara yang telah berhasil dalam aspek pendidikan menjadi cermin, bahwa ada negara yang maju secara akademik, mampu menguasai Ilmu dan teknologi namun rapuh dalam kejiawaannya. Mereka hampa tanpa tujuan yang hakiki, hidup tidak menikmati, dan kecemasan tinggi. Dampaknya angka bunuh diri pun bisa tinggi pula karena hidup tidak bahagia dan hilang arah.

Di bagian negara lain, orang telah mafhum dengan keberhasilannya dalam dunia pendidikan, diperhitungkan negara lain capaian akademiknya, juga memiliki tingkat kebahagiaa hidup yang tinggi pula. Apa pangkal kesuksesannya?

Dari beberapa yang dapat saya fahami, kekuatan pendidikan untuk menciptakan keberhasilan dan kebahagiaan murid-muridnya adalah GURU

Orang yang hendak menjadi guru harus memilki niat yang baik, akademik yang hebat dan jiwa yang sehat.

Status sebagai guru bukan berarti profesi yang terus bekerja hingga pensiun, menajalankan tugas mengajar tetapi mengabaikan diri sebagai pembelajar yang tiada henti.

Guru bertindak berdasarkan hasil analisis dari masalah yang dihadapi. Kerja penelitian bukan sesuatu yang terpisah dari pekerjaan, tetapi menjadi satu kesatuan dalam profesi.

Secara teoritis pendidikan di negara ini memiliki konsep yang sejalan dengan apa yang dilakukan oleh negara yang sukses dalam aspek pendidikan, tetapi secara fakta apa yang dilakukan belum mewakili dari besarnya populasi penduduk negeri ini.

Banyak guru sejati, namun jika dibandingkan dengan luas wialayah negeri, guru sejati masih berimbang dan bahkan tertutupi oleh guru yang bermasalah. Masalah dalam pendidikan,masalah dalam pengajaran, masalah dalam sosial, dan banyak masalah lainnya.

Bila serius ingin memperbaiki pendidikan, maka guru sebagai pangkalnya. Guru memiliki keluasan akses dan waktu untuk belajar. Bukan hanya menghabiskan waktu mengajar hingga lelah dan tak ada waktu meningkatkan kemampuan diri.

Guru memerlukan dukungan dan bantuan agar mampu menjalankan kewajibannya dan mengantarkan keberhasilan akademik dan kebahagiaan murid-murid.

#cinta#guru

Advertisements

Tradisi Ilmiah

Setiap kita memiliki kebiasaan, dan kebiasaan itu teleh membudaya menjadi sebuah tradisi yang melekat pada diri. Mulai dari bangun tidur apa yang biasa dilakukan,  siang hari aktivitas apa yang menyembul menjdi kebiasaan dan sampai hendak tidur lagi apa yang biasa kita lakukan. Itu tentu kita sendiri yang sadari apa yang menjadi kebiasaan.

Apa yang kita lakukan tidak lepas dari apa yang kita fahami. Megambil langkah-langkah cerdas terkait dengan apa yang kita pelajar dan ingin kita biasakan. Jika kita melakukan sesuatu tanpa dasar apa pentingnya bagi diri sendiri, rasanya tidak akan ada yang mau untuk membiasakan pekerjaan ringan sekalipun, apa lagi pekerjaan yang sulit.

Bangunan pengetahuan dan kesadaran amat penting dalam membangun kebiasaan yang akan diwariskan bagi diri sendiri maupun pada kelompok.  Mengorganisasi diri dan mengorganisasi sekelompok orang  sama pentingnya. Setiap diri ingin menampilkan harapan yang terbaik. Kesehatan yang baik, penampilan yang baik dan kualitas diri yang baik.  Apa-apa yang mendukung pada apa yang menjadi harapan, atau pun apa yang menjadi tujuan dalam hidupnya akan dijalankan dengan senang  hati.

Karena itu apa  pun yang dilakukan manfaat dari apa yang dibuat kembali kepada diri sendiri. Minum beberapa gelas air saat bangun tidur adalah kebiasaan yang mendukung bagi kesehatan diri.  Lantas apa yang kaitannya tulisan ini dengan tradisi ilmiah. Tentu belum ada kaitan-kaitan yang memang belum saya buat.

Kebiasaan untuk sebuah perilaku memiliki pola yang sama, yang membedakan jenis pekerjaan yang dibiasakan. Jika membiasakan hidup sehat, seseorang akan sadar apakah hari ini sudah minum dua liter air, maka dalam kesehariannya ada pola yang dibiasakan untuk memenuhi kebiasaan ini. Begitu pula kebiasaan dalam akademik, menjadikan sesuatu sebagai tradisi, itulah kebiasaan yang akan muncul dalam kesehariannya,  itulah kaitannya. Apa yang dibiasakan dalam tradisi ilmiah, menurut saya inilah penjelasannya;

  1. Tradisi ilmiah adalah kebiasaan yang telah mengakar dan membudaya baik pada seseorang maupun sekelompok orang dengan aktivitas yang dikatakan ilmiah.
  2. Kegiatan ilmiah itu bukan klenik, kegiatan ilmiah itu terkait dengan aktivitas yang dibangun secara sistematis, logis yang terkait dengan kegiatan akademik yang ditopang berdasarkan data penelitian. Jadi tidak ada cerita tanpa dasar atau omong kosong. Apa yang dikatakan berdasarkan rujukan yang jelas dan pemikiran yang sistematis dan logis.
  3. Tradisi ilmiah dapat tumbuh subur dalam dunia akademik, seperti sekolah atau pun kampus. Tetapi tidak salah jika dalam keluarga atau dalam diri sendiri memiliki tradisi ilmiah.
  4. Dimana pun tempatnya siapapun orangnya tradisi ilmiah ini tidak akan jauh berbeda jenis, langkah dan tahapannya.
  5. Meskipun pendidikan formal bukan satu-satunya jalan dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tertentu, artinya kita dapat pengetahun dan keterampilan diluar pendidikan formal, namun struktur dan sistematisasi kompetensi apa yang dapat diperoleh maka jalur pendidikan formal dinilai efektif.
  6. Dalam proses pendidikan formal dari mulai Sekolah Dasar hingga S tiga alias Doktor, secara perlahan dan pasti terdapat proses akademik dan tradisi ilmiah yang melekat. Bagaimana melestarikan kebiasaan ilmiah yang tumbuh dan ditempa saat pendidikan, Apakah selepas pendidikan formal kebiasaan akademik menjadi makin jadi dan makin kuat? Karena tidak sedikit yang seiring waktu terkikis masa. Masalah ini kembali kepada diri sendiri dan lingkungan.
  7. Langkah konkrit tradisi ilmiah akan terlihat pada aktivitas berikut ini;
  • Kegiatan membaca
  • Kegiatan Penelitian
  • Kegiatan Publikasi hasil Penelitian
  • Kegiatan diskusi ilmiah
  • Kegiatan pendukung dalam melakukan kegiatan di atas.
  1. Kapan waktunya baca, seharian berjibaku dengan pekerjaan, malam lelah, besok sudah berangkat kantor lagi! Keluhan macam ini seolah hanya orang ini yang sibuk, orang lain santai-santai. Tidak ada ruang bagi orang yang tidak mau menafaatkan kesempatan sekecil apapun untuk keluar dari rutinitas. Banyak cara dapat dilakukan untuk membaca selain secara sengaja memiliki waktu khusus untuk membaca. Waktu menunggu dan dalam perjalanan adalah waktu yang tepat untuk hanyut dalam terbenam dalam pemikiran dan ide  sebuh bacaan yang kita baca.  Bagi yang hobi di depan laptop kegiatan membaca bukan halangan, karena jutaan ribu file yang bisa kita baca secara online, baik itu jurnal penelitian, e-book, atau lainnya. So, tentukan fokus yang hendak dibaca, ditengah rimba  belantara kita harus memiliki arah untuk berjalan dan menikmati perjalanan.
  2. Kegiatan penelitian pada dasarnya hal yang sederhana yang biasa dilakukan oleh seseorang saat menemukan masalah dan kemudian mendapat jawaban dengan jalan yang shahih. Inilah jalan penelitian. Ada jalan yang tepat dalam setiap penyelesaian masalah. Karena itu pengetahuan dasar metodologi penelitian adalah hal yang mendasar untuk dikuasi bagi setiap peneliti. Di dunia ini ada kategori metode penelitian dengan beragam jenisnya seperti kuntitatif, kualitatif, dan action reserach. Kuantitatif adalah penelitian yang terkait dengan hitungan statistik seperti menguji hubungan, pengaruh dan penenlitian pengembangan. Dalam kualitatif terdapat beragam jenis seperti kualitati deskriptif, fenomenologi, etnografi, studi kasus dan lainnya. Action reserach terdapat beragam jenis seperti classroom action reserach, participatory action research dan lainnya. Butuh waktu dan aplikasi untuk berkenalan dengan setiap jenis penelitian tersebut.
  3. Publikasi ilmiah adalah proses lanjutan dari pekerjaan penelitian. So tidak ada publikasi ilmiah tanpa kegiatan penelitian. Publikasi ibarat kita menempatkan sebuah barang dagangan yang akan kita jual. Di tempat mana kita akan menyimpannya. Karena itu terdapat gerai atau lapak yang bergenngsi dan bahkan abal-abal. Tempat menentukan produk yang akan kita tempatkan. Dalam hal ini tentu wadahnya jurnal. Dalam hal ini perlu meniliki jurnal yang bereputasi dan jurnal predator. Namun demikian apa pun tempatnya, niatkan saja publikasi itu adalah perluasan amal yang dengan itu orang lain dapat menikmati tulisan dan terbantu dalam mempertahankan eksistensi jurnal. Jurnal tanpa produksi artikel lambat laun bisa terkubur dalam kenangan.
  4. Kegiatan diskusi dan ngopi bareng sambil membicarakan hal-hal ringan sebenarnya menjadi pemantik dalam mengembangkan ide serta kreativitas seseorang. Apalagi diskusi yang berat perlu ditambah selain ngopi..hehe..  bukan itu maksudnya, tetapi persiapan yang terencana dan terfokus akan suatu bahasan sesuai dengan misi atau visi dari suatu komunitas. Diskusi tidak perlu repot selalu seting ruangan, menentukan  ruangan dan proses perjalan di tempat diskusi. Diskusi bisa dilakukan secara daring, asal ada komitmen bersama, tujuan  yang jelas, maka komunikasi bisa terbangun. Namun jika kopdar bisa memungkinkan tentu lebih terasa, ada interaksi fisik yang lain dari sekedar daring.
  5. Pendukung lain secara tidak langsung telah tersebut dalam pembahasan di atas, seperti kemampuan metodologi dalam menujang penelitian, kemampuan membaca juga perlu dukungan bahasa, jika literatur yang dibaca bukan bahasa kebiasaan kita. Kemampuan menulis juga kegiatan dasar yang sangat mendukung.

 

Sadar tidak sadar, mau tidak mau bagi yang berada dalam dunia pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi tradisi ilmiah ini perlu ditumbuh suburkan. Mulai dalam diri sendiri dan temukan orang-orang yang memiliki komitmen sama. Bersama mengubah wajah diri dan lingkungan kita. Semangat

 

 

Bogor, 21 Nopember 2016. #04.00 am.

Terbang dan Berpetualang

Sekeras apa pun keadaan yang dihadapi
maka komitmenlah yang membuatnya kuat dan bertahan.

Dalam setiap perbuatan yang kita lakukan tersimpan niat yang mendasarinya. Tidak ada orang yang mengetahui niat sesungguhnya dalam diri setiap orang. Hanya orang itulah yang memahami niat yang sebenarnya. Meskipun niat itu tersembunyi jauh dalam lubuk batin seseorang, namun niat dapat menyembul dalam gambaran perilaku dan kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Niat baik dan niat busuk akan mengeluarkan aura dalam interaksi, kegiatan yang berjalan, mengambil sebuah keputusan, arah pemikiran atau lainnya. Niat itu yang akan memberikan bias auranya dari setiap laku kita. Saya tidak akan membahasi niat busuk, karena tidak ada yang patut menghakimi niat seseorang, kecuali dirinya sendiri dan akibat dari perilakunya sendiri. Sebaiknya kita belajar meluruskan niat dan membangun niat yang baik dalam setiap perbuatan dan hidup ini.

“berangkatlah kalian dengan niat dakwah” ini penggalan pesan yang disampaikan kepada para mahasiswa yang akan melakukan praktek dan pengabdian di lapangan yang bertempat di luar negeri, tepatnya Negara Thailand Selatan. Mengapa pesan ini penting disampikan? Apa dampaknya jika ditekadkan dalam diri seseorang?

Di tempat yang baru, tidak semua keadaan yang dihadapi akan nyaman. Banyak terdapat kemungkinan yang terburuk dalam hidup, namun tidak sedikit hal-hal yang manis yang mungkin dirasakan. Semua kembali kepada bagaimana niat dan sikap diri seseorang dalam menghadapi keadaan tersebut.

Niat dakwah adalah niat yang indah dan manis bagi siapapun yang merasakannya dengan ketulusan hati. Apa sesungguhnya niat dakwah? Niat ini hanya tercatat dalam batin terdalam seseorang tentang apa yang dilakukannya sepenuhnya hanya karena Allah, niat mengajak untuk bersama-sama mencintai kebaikan, kebenaran dan bersungguh-sungguh melakukannya. Tidak peduli pedih, sakit dan kesulitan apapun. Karena memang tidak mudah menghadapi keadaan dengan tetap bersahaja, kecuali orang yang memiliki komitmen.

Percaya di mana pun bumi dipijak, Allah selalu ada. Karunia Allah terhampar dimanapun kita berada. Berikan yang terbaik, dan jangan berharap mereka yang membalas segala kebaikan kita. Kembalikan segalanya kepada yang Maha menentukan. Percaya bahwa segalanya tidak akan disia-siakan.

Jadilah seorang petualang, pengembara yang tidak memiliki tujuan kecuali tujuan kembali dalam keadaan dan niat yang terbaik dalam diri. Tidak ada kepentingan yang menungganggi yang bersifat sementara dan merusak keadaan. Belajarlah dalam setiap langkah, ambil yang terbaik. Segalanya akan berpulang kepada diri sendiri.

Pesan ini tidak hanya bagi mahasiswa yang hendak berangkat KKN keluar negeri, tetapi ini juga menjadi pesan bagi saya pribadi dalam menjalankan tugas dan peran. Segalanya diniatkan untuk ibadah, mencintai kebaikan, bersungguh-sungguh menegakan kebenaran. Allah yang Maha Mengetahui dan bermohon kepada Allah untuk tetap berkomitmen pada jalan-Nya.

At home, 18 Nopember 2016. When the other sleeping and dreaming at 02.37

Bumiku Pijak, Keluar dari Bumi

bumi.jpg

“Mah, bagaimana bisa keluar dari Bumi? Pertanyaan yang berulang ditanyakan oleh  anak umur 4 tahun.

Pertanyaan yang spontan, meski sering diucapkan. Aku tidak heran mengapa pertanyaan itu menyembul di otak anakku yang bungsu. Karena beberapa kali dia melihat tayangan video tata surya, dan menanyakan kepadaku nama-nama benda yang bergerak di video itu. Aku menyebutkannya kadang sembarang, namun yang hafal dan akrab dengan ku, itulah bumi. Berbeda dengan benda lain, bumi berwara biru. Aku ceritkan bahwa bumi banyak mengandung air, dan air itu adalah sumber kehidupan utama bagi makhluk hidup. Anak sekecil itu entah paham atau tidak aku rasa tidak masalah.

Kebiasaan berfikir yang terbalaik dan melawan arah fikir inilah yang membuat bahasa anak ini berbeda. Saat cerita bumi, maka dia akan berfikir bagaimana keluar dari bumi.  Begitu pula saat bermain, misalnya saja main tanah, aku bilang “di tanah banyak cacing” ringan anak itu akan menjawab, “aku mau cacing”.   Ku rasa dia menjawab demikian untuk mempertahanan apa yang dilakukannya agar tidak cepat berlalu. Saat main diluar panas terik, aku katakan, “main diluar panas, ayo masuk ke dalam”. Bisa dibayangkan dia akan jawab apa untuk mempertahankan kemauannya. Yap. “aku mau panas-panas”.

Tidak begitu banyak menarik dari kebiasaan itu, karena mungkin masih dini, dan juga pola jawaban yang sudah bisa ditebak. Tetapi ada hal yang ikut terpikir dibenakku saat bicara bumi. Tempat kehidupan ini berlangsung. Tempat bersemayam jasad kaku di dalamnya, karena ruh tentu telah lepas entah ada dibagian mana.

Kehidupan menghadiran kesenangan, kebahagiaan, kesedihan, kemalangan dan bermacam perasaan menyertai setiap lakon dalam hidup ini. Di bumi, tempat segala amal terkumpul untuk bekal perjalanan. Karena bukan bumi tempat akhir dari kehidupan manusia ini. ada perjalanan panjang yang menetukan kebagiaan dan penderitaan abadi.  Maka siapa pun berharap kebahagiaan yang abadi.

Hidup setelah mati, sesuatu yang sangat misteri. Aku membayangkan bisa berjumpa dengan orang-orang yang aku kenal dalam kebahagiaan. Entahlah apa yang dilakukan di sana. Sangat tidak mudah difahami, yang pasti dunia ini jembatan, kehidupan yang singkat untuk menuju keabadian. Segala amal akan ditentukan balasnnya di akhir nanti.

Tentu di antara kita tidak ada yang memiiki amalan yang seragam. Sehiangga nanti jika diperhitungkan amal akan masuk pada tempat yang sama. Ya, tentu tidak sesederhana memesan tiket nonton bioskop, yang bisa tentukan tempat mana  kita bisa duduk bersama.

Setiap kita berbeda. Beramal yang serupa pun belum tentu mendapat balasan yang sama.  Beramal banyak pun belum tentu akan dapat membayar syurga. Karena syurga tidak berlabel harga sepersekian amal. Sungguh tidak bisa dapat kita prediksikan amal dan balasan dari semua apa yang kita kerjakan, kecuali mengharap keridhoan dari yang Maha memiliki segalanya. Allahu Robbii…

Menerawang jauh, bumi tempat yang kini bisa kurasakan hembusan udara, tetesan air dan hiruk pikuk kehidupan. Hal yang sama dapat dinikmati setiap yang bernyawa. Yang membedakan di antara kita, seberapa besar tanda syukurmu atas semua ini.

Khayalku, anakku…

Terbang tinggi ke atas sana, kau akan keluar dari bumi.

Singgah di bulan, melonggok mars

Berkejaran bersama gemintang

Bila segala materil ini memberatkan

Terbanglah dengan segala makna kebaikan

Ringan, menghujam, bercahaya dan cepat bagai kilat

Hatimu yang menentukan

Amalmu yang menguatkan

 

Di Bumi, 17 Juli 2016.

 

Tips Menumbuhkan Sikap Positif

Setiap kita tumbuh dengan beragam pengalaman hidup. Sejak mula bayi hingga terus bertambah usia, bertambah pula pengalaman. Belajar adalah salah satu pengalaman, kehidupan diluar pun menjadi pengalaman.  Seiring waktu begitu padat hari-hari dengan beragam pengalaman.

Setiap hari adalah kehidupan baru. Tidak pernah sekalipun kita mengalami keadaan yang sama. Karena sesunguhnya meski kejadian sama, waktu sudah berbeda, cara sikap tidak akan selalu sama, tempat dan waktu yang menandai saja bisa berbeda,  belum lagi sikap diri dan sekitaran juga membuat beda. Setiap hari memang berkah hidup yang patut dimaknai dan disyukuri.

Setiap hari dalam sekian detik ke depan, tidak pernah ada yang bisa mengira apa yang bakal terjadi. terlebih kematian adalah misteri yang akan mendatangi siapa pun. Jika memahami hakikat hidup di dunia  maka setiap kita akan mengambil sikap sesuai dengan apa yang menjadi keyakinannya.

Hidup bagi orang yang berkeyakinan bahwa ini sementara sebagai tempat beramal sebagai bekal kembali pada kehidupan yang panjang di alam akhir akan berbeda sikap hidup dengan orang yang berkeyakinan hidup ini hanya sekali dan tidak akan ada kehidupan lagi. inilah keyakinan.

Bagi yang berkeyakinan hidup di dunia ini sementara dan tempat beramal, maka hidup tidak ubah seperti menikmati perjalanan untuk pulang. Meski di perjalanan itu menarik hati dan menyenangkan, tidak boleh lena, karena ada yang lebih dirindu untuk segera pulang dan sampai di tempat yang telah memberikan kenyamanan hati dan pikiran. Bertemu dengan yang begitu amat berjasa dalam keseluruhan hidup.

Tidak mudah mengawal hari agar tetap memiliki sikap yang baik. Keseluruhan kualitas kerja ditentukan oleh sikap, niat dan motivasi yang ada dalam diri. Karena itu memperbaiki bagian dalam diri ini jauh lebih penting untuk didahulukan dibenamkan dalam diri.

Ini beberpa pengingat diri agar memilii sikap hidup yang baik dalam diri:

  1. Syukuri anugerah hidup

Dalam kondisi apapun saat ini, selama ada nafas artinya kita masih hidup, diberi kesempatan menikmati dunia dengan cara yang kita sanggup.  Bagi yang tidak terhambat dengan kesehatan fisik dapat banyak amal bisa diperbuat. Peduli dengan sesame, karena hakikat kebaikan amal dan kualitas diri adalah kebermanfaatan terhadap sesama. Karena itu membangun empati dan beramal sholeh dengan ikhlas sebagai tanda syukuri nikmat hidup. tidak boleh lepas beramal baik bagi yang dirundung malang dan sakit, memahami makna sakit dan begitu besar pahala menerima sakit, bersabar dan bersemangat untuk berobat agar sembuh, serta tidak meninggalkan kewajiban ibadah adalah yang terbaik yang bisa dilakukan. Sebagai wujud syukur atas nikmat hidup saat sakit.

 

 

  1. berfikir positif

Pikiran mempengaruhi cara sikap. Pikir yang baik akan membimbing sikap dan cara berperilaku yang baik. Pengalaman kurang baik berulang yang tidak disikapi dengan baik pun akan menjadi pola buruk dalam mensikapi pengalaman yang serupa. Karena itu perlu lingkungan, atmosfir yang kondusif. Jika berkeluarga, ciptakan keluarga yang ramah anak, isteri, suami dan lingkungan luar. Tanamkan sikap-sikap positif pada anak. Anak belum banyak pengalaman, kadang mudah mengeluarkan kata yang kurang syukur tehadap pemberian terutama dari  orangtua. Padahal bisa jadi orangta melakukan untuk anak dengan susah payah. Bisa menjadi emosi yang negatif jika tidak memahami akan kekurangan dan cara memupuk perilaku positif. Berikan makna melalui pengalaman yang dapat menumbuhkan anak akan kecintaan terhadap anak-anak yang kekurangan, tidak ada ayah ibu, dan hidup dalam asuhan orang lain. Berbagi pengalaman ini anak akan memiliki cara pandang yang baru dalam mensikapi hidupnya sendiri. Banyak cara menumbuhkan sikap positif, dengan memahami apa yang didapat kini adalah yang terbaik yang Allah berikan, maka terima, sukuri dan nikmati keindahan-keindahan dari rasa syukur yang akan tumbuh di tempat yang tidak disangka.

  1. tambahkan ilmu pengetahuan

Ilmu yang mengawal kehidupan dan mengarahkan pemiliki ilmu pada jalan-jalan yang lebih baik. Untuk bisa memiliki sikap-sikap yang baik, maka menambahakan ilmu akan suatu hal yang kita hadapi akan memberikan cara pandang baru dan beda. Cinta ilmu tidak selalu di bangku kelas untuk menimbanya, dalam kehidupan banya ilmu berserak yang bisa didalami. Banyak sumber yang bisa diselami. Melalui tulisan, atau bertemu dan mendengar langsung dengan ahlinya sangat memungkinkan. Tidak ada batas waktu usia untuk mencari ilmu, selama masih hidup tidak boleh lepas dari mencari ilmu. Banyak ragam ilmu, tentu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan yang baik adalah ilmu yang terbaik.

Kali ini cukup tiga di atas sebagai jalan mengarahkan kepada sikap yang baik dalam memupuk kualiatas diri yang baik. Itu pun  jika dilakukan akan tumbuh kembangan hal baik di dalamnya, seperti optimism dan menghargai orang lain. Tentu bukan hal mudah untuk bisa jalankan ketiga hal  itu dan juga bukan perkara sulit, jika berniat dan memiliki kekuatan diri untuk mengubah diri menjadi lebih baik bermohonlah kekuatan kepada Allah, semoga Allah beri kekuatan dan konsistensi dalam kebaikan.

 

 

Inspirasi Model-Model Evaluasi

Inspirasi Model-Model Evaluasi

Beberapa hari ini dengan waktu yang tidak memadai, saya mencoba mengidentifikasi berbagai model evaluasi. Pekerjaan ini telah sejak dahulu dilakukan, tetapi tidak banyak mengeksplorasi, sehingga saya menuliskan model dalam tulisan tugas akhirpun tidak banyak. Kali ini mendapat masukan untuk menambah jumlah model evaluasi dalam pembahasan menjadi tujuh. Pekerjaan yang menarik, untuk menambahkan model yang mana yang akan saya masukan dalam pembahasan, saya menelaah perkembangan model evaluasi yang direntang sejak awal munculnya model evaluasi hingga model yang kini. Jika bisa dilihat bahwa perkembangan model seiring dengan perkembangan pandangan ilmu pengetahuan, bermula dari pandangan behavioristik yang deterministik, secara tidak langsung juga mempengaruhi cara mengevaluasi yang bersifat objective oriented, atau behavioral approch. Model ini yang dikenal dengan evaluasi berbasis tujuan. Tujuan menjadi determinan dalam pencapaian keberhasilan suatu program atau kegiatan. Evaluasi ini yang dipelopori oleh Tyler.

Lepas dari model semula, muncul beragam model dengan pendekatan yang berbeda, terkadang keahlian seseorang yang mencetus model memberikan wana yang unik pada model yang digagasnya. Misalnya evaluasi model Connoiseurship and Critism, istilah konoseurship lekat dengan dunia seni, karena memang Einser penggagas dari evaluasi ini sangat mencintai dunia seni. Dalam evaluasi model ini, seseorang yang akan melakukan evaluasi perlu memiliki keahlian pada bidang yang akan dievaluasi inilah yang dinamakan Konosheursip dalam bidang tersebut. Namun bukan berarti seorang evaluator yang tidak memiliki keahlian dalam bidang tertentu tidak dapat melalukan evaluasi, terdapat cara yang difasilitasi dalam model ini yaitu dengan bekerja sama pada pakar yang mumpuni dalam bidang yang dievaluasi.

Perkembangan metodologi dari kuantitatif sebagai metode yang tradisional dan paling tua, bergeser pada metodologi yang terus berkembang hingga action research/ participatory bersinggungan dengan model-model evaluasi, yang masuk dalam bingkai Intuitionist-pluralist evaluationyang dikenal dengan model evaluasi dengan pendekatan naturalistic & participant-oriented. Sejumlah nama yang konsen pada bidang ini antara lain Stake, Guba dan Patton.

Butuh waktu yang panjang mengenal jelas model evaluasi yang beredar di dunia perevaluasian (seperti dunia persilatan), mengobservasi atau pun mencobakan bagaimana setiap model diaplikasikan dalam suatu program atau kegiatan.Sampai pada kesimpulan dapat menentukan beragam model evaluasi dengan akurat pada persoalan-persolan yang akan dievaluasi.

Ilmu memang tidak pernah ada habisnya, hanya umur yang bisa habis.. xixi

Dimana pun kita, Kematian itu Begitu Dekat

Manusia hanya punya rencana karena apa yang terjadi tidak selalu sama dengan apa yang direncanakan. Hari minggu pagi, Ibu setengah baya yang selepas olahraga berbelanja di pasar kecil bisa jadi telah terbayang bisa memasak untuk keluarga, namun apa yang terjadi saat berbelanja tiba-tiba sakit perut yang luar biasa sehingga terjatuh. Orang-orang di sekitarnya dengan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tidak lama di rumah sakit dalam proses pengecekan, nyawanya melayang meninggalkan jasad. Tidak ada yang bisa dihubungi dan diketahui darimana berasal. Karena tidak ada Kartu tanda Penduduk (KTP) maupun telepon genggam. Masuklah jasad yang tidak lagi bernyawa itu ke dalam kamar mayat.

Sungguh hidup tidak pernah disangka. Ajal begitu dekat, sampai tidak mau menunggu hingga ada di tengah keluarga. Dimana pun yang Maha memiliki jiwa ini hendak mengambilnya tidak ada satu pun yang dapat menundanya.

Seribu kali keluarga, orangtua, sahabat begitu menyayangi namun belum tentu mendapati saat keadaan yang tersulit, menghadapi sakitnya ajal menjemput. Kebaikan dan kepedulian orang yang tidak dikenal dengan izin Allah memberikan bantuan. Namun kadang selagi hidup tidak mudah berinteraksi dan meberikan kebaikan kepada orang yang tidak dikenal. Orang-orang lebih banyak menaruh curiga kepada orang yang tidak dikenal. Memang disatu sisi mesti waspada, tetapi perlu juga melihat kondisi yang ada. Kecurigaan yang tidak beralasan, membuat prasangka-prasangka yang dapat mempengaruhi perilaku dan merugikan.

Hidup adalah kebaikan, karena kebaikan akan berbuah kebaikan. Kita tidak pernah mengatahui bagian mana dari kebaikan ini yang melindungi kita dari suatu keburukan. Dan tidak pula setiap kebaikan dapat memenuhi akan kebutuhan yang kita perlukan. Segalanya adalah karunia Allah, kasih sayang Allah. Seluruh kebaikan yang kita buat beum tentu mampu mengimbangi akan kasih sayang yang telah Allah beri. Kebaikan tulus karena Allah, tanda syukur atas segala nikmatnya. Tidak perlu lagi ditakuti akan apa yang terjadi. Karena Allah telah mengatur segalanya.

Namun demikian sebagai usaha memudahkan indentifikasi saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saat berpergian sendiri khusunya maka perlu beberapa hal yang dipersiapkan meskipun kita berangkat ke tempat yang dekat sekalipun yaitu: 1) izin atau memberi tahu kemana akan pergi dengan orang yang di rumah, artinya jika kita pergi hendak kemana ada yang mengetahuinya. 2) jika memungkinkan membawa dompet pastikan ada KTP, 3) jika memungkinkan membawa handphone, jangan lupa nama di nomor kontak handphone yang jelas, kalau orangtua, suami atau istri disertakan keterangannya. 4) baca doa sebelum pergi mohon perlindungan kepada Allah, berserah diri kepada Allah, apa pun yang terjadi saat diperjalanan atau dalam berpergian semoga Allah memberikan yang terbaik.

Kadang dalam kondisi tertentu tips di atas tidak semua berlaku. Tidak ada orang yang di rumah, tidak perlu bawa KTP atau handphone. Tetapi nomor empat itu yang sangat mungkin. Kept doa.