Mengurus bayi & Menulis Disertasi

Image

Hari ke-18 bersama bayiku Diandra. Kegembiraan yang tiada terkira melihat ia tumbuh sehat, lahir dengan normal, dan bisa menikmati ASI. Alhamdulillah Allah mengabulkan do’aku, selama kehamilannya meski tidak sedikit goncangan bathin, yang membuat meleleh air mata, namun disela tangis dan shalatku aku selalu memohon kepada Allah agar dikaruniai bayi yang sehat, sempurna, dimudahkan proses persalinannya dan dijadikan anak yang sholeh. Doa yang selalu ku baca:

“allohummahfaz waladii maadama fii batnii, wa suwarohu suratotan, jamilatan, kamilaan, hasanatan, wa’ahrijhu min batni sahlan wasalam. Allohummaj’alhu waladan muti’an laka, walirosulika wamujahidan fi sabiilika, Wabirrom biwalidaihi  birohmatika ya Arhma rohimiin”.

Di tengah kehamilan tidak sedikit pekerjaan yang harus ku selesaikan, mulai urusan kuliah S3, ada mata kuliah yang aku harus mengulangnya. Alhamdulillah UAS awal Juli 2012, hasilnya jauh lebih baik, pas-pasan rasanya lulus dapat nilai B.  Mata kuliah psikometri, memang langka untuk bisa lulus. Dari angkatan ku yang ada 25 orang hanya lulus 7 orang selebihnya mengulang dan kira-kira hanya lulus sekitar 7 orang lagi. Aku bersyukur bisa melewatinya.

Aku juga mengajar mahasiswa, meski tak jarang mahasiswa bertanya kapan aku melahirkan, dan mereka mengkhawatirkanku karena kehamilan yang besar aku tetap menjalankan kewajibanku, akhirnya sampai pada UAS mereka tanggal 4 Agustus aku masih bisa hadir.

Kegiatan buka puasa bersama yang diadakan Fakultas tanggal 7 Agustus 2012, aku pun bisa menghadirinya, dan tentu aku  juga berpuasa. Padahal waktu itu kehamilanku sudah usia matang dan bisa untuk melahirkan yaitu akhir dari 38 minggu.

Keesokan harinya, rabu tanggal 8 Agustus 2012, mesti menguji hafalan Juz ‘ama. Tapi untuk urusan  ini masih bisa bargaining, mahasiswa sudah mulai banyak yang libur, dan hafalan bisa dibuat kesepakatan bersama, aku putuskan hafalan mulai aktif pada hari perkuliahan di mulai, habis idul fitri, bulan September.

Hari itu aku praktis di rumah, istirahat, dan bermain bersama anakku Abiel dan Dinda. Tiba waktu magrib, kami berbuka puasa. Namun setelah berbuka puasa aku belum bisa bangun dari tempat dudukku, merasakan sakit pinggang yang luar biasa, aku hanya berpikir ini tanda melahirkan sudah dekat atau bisa jadi aku kurang minum. Namun tiba-tiba serasa ada yang keluar cairan dari jalan lahir. Ku biarkan hingga selesai keluar. Rasanya hanya sedikit, aku kuatkan utuk bangun dan ke kamar mandi, sekalian untuk shalat magrib. Ku lihat ada sedikit darah dengan warna yang pucat, pink.

Sakit di daerah pinggang makin hebat. Aku tak mau membuang tenaga, aku putuskan itu tidur lebih cepat, aku langsung istirahat dan tidur setelah magrib. Aku katakan kepada suami,  “rasanya kelahiran sudah dekat, jika aku paksakan untuk mengepel lantai dan turun naik tangga mungkin lebih cepat lagi, tapi khawatir kelelahan, karena ini mau malam, jadi aku mau istirahat, titip anak-anak”

Saat tidur antara sadar dan mengantuk, aku bisa merasakan sakit pinggang yang tidak hilang dan makin kuat. Aku lihat jam sudah menunjukkan angka 10, aku sulit tidur, lalu anak-anak minta pindah ke atas, tadinya aku dan anak-anak tidur di kamar bawah. Naik ke kamar atas, makin sulit tidur, aku bulak balik kamar mandi serasa mau buang air tapi tidak ada. Jam 11.30 malam aku mulai tidak nyaman tidur. Aku bangunkan suami yang sepertinya kelelahan, karena setelah magrib ada kerja bakti warga, pengecoran jalan ke mesjid.  Meski tidak tega, tapi hanya ia yng terdekat yang bisa aku mintai pertolongan. Aku minta dia mengantarkan ku ke bidan, untuk mengcek apakah ini sudah siap akan lahiran. Sekaligus cek bidan, jika waktunya aku mau lahiran bidan siap dan ada di tempat.

Malam itu juga aku dan suami berangkat ke bidan, yang tidak jauh dari rumah, dengan menggunakan motor. Sesampai di rumah bidan, ku dperiksa, bidan mengatakan kalau ini sudah pembukaan 4 dan tidak perlu pulang lagi. Akhirnya aku tetap di sana sambil jalan dan merasakan sakit yang hebat, sementara suami pulang membawa dua tas peralatan tempur, pakaian ku dan pakaian bayi.

Aku coba berjalan, berdiri jongkok, namun tiba-tiba, tak tertahan cairan keluar deras. Bobok lah aku di ruang bersalin. Untung suami dan ibuku sudah datang. Sepertinya bayi ini sudah akan keluar, mendorong sangat kuat, tapi menurut bidan pembukaan yang belum lengkap jadi tidak boleh mengejan. Tidak lama jam 13.45 bayi itu lahir. Bayi laki-laki, panjang 53 cm dan berat 4kg. Alhamdulillah..

Hari demi hari aku lalui, mengganti popok, menyusuinya dan memandikannya. Ada kesenangan tersendiri. Namun kini aku mulai gamang, ada pekerjaan yang mendesak yang mesti ku kerjakan segera tahun ini, disetasi. Ya diserasi yang tak kunjung selesai dar sejak kehamilan itu belum ada. Aku sudah berpikir disertasi tapi langkah nyata dan usaha keras ku tidak nyata. Kini ada sedikit sesal, aku belum bisa rampungkan proposalku. Padahal orang terdekat yang selalu mensupportku selalu mengatakan semangat dan fokus, targetkan disertasi beres proposalnya sebelum si mungil lahir. (thanks my best… atas kesabaran dan kepedualian yang tak terkira)   Tapi mengapa keinginanku tak berbareng dengan tekan dan perbuatanku. Aku kadang merasa kesedihan yang dalam. Aku tidak mengejar proposal selesai bukan berarti aku santai tidak mengerjakan sesuatu. Aku disibukkan degan urusan yang hari-hari.

Kini aku mulai membangun semangat dan kepercayaan, bahwa aku bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Aku selalu bicara dengan si mungil, kita punya pekerjaan menulis. Namun yang terpenting aku harus bicara dengan Dia yang Maha Kuasa, berikan aku semangat dan kekuatan untuk bisa menulis Disertasi. Berikan kesehatan dan keberkahan kepada bayiku, anak-anak dan suami. Khusus untuk suami semoga Allah beri kesehatan segera, (sakit jantung yang dideritanya belum juga tuntas pengobatannya) dan semoga Allah mudahkan rejeki yang halal dan berkah untuknya.

Jika aku bisa menulis catatan ini, artinya aku bisa menulis kata demi kata untuk bab dua ku. Semoga. Ya Allah beri hamba kemudahan. Meski hamba bukanlah orang yang taat kepadaMu, banyak salah dan khilaf yang hamba lakukan., Namun jika hamba tiak bermohon kepadaMu kepada siapa hamba harus memohon pertolongan dan pengampunan atas segala khilaf dan salah..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s