SEMUA BISA MARAH

SEMUA BISA MARAH
Semua orang bisa marah, tapi tidak semua orang mampu marah pada tempatnya. Mungkin pernah melihat kemarahan orang meluap, luapan itu kadang tidak tepat sasaran. Marah kepada anak, suami imbasnya semua orang yang datang ke rumah terkena aura kemarahannya. Marah kepada sistem kerja, orang yang tidak terkait bias terkena marah juga. Marah yang berasal dari rumah, karena profesi mengajar terbawa juga ke murid di sekolah. Sungguh memang tidak mudah mengelola emosi marah, apalagi selama pikiran negatif bersarang dipikiran.
Ada pesan Nabi bahwa “jangan marah, bagimu surga” (kalau begitu jika kita marah kebalikannya donk) mungkin juga iya. Kita menciptakan suasana panas pada diri sendiri dan lingkungan, apalagi jika marah yang tidak tepat.
Marah adalah emosi yang manusiawi. Orang boleh saja marah, tetapi marah yang bukan ditunjukkan kepada pribadi orang, tetapi pada perilaku. Diluar perilaku yang membuat kita marah, tentu saja kita tidak meyangkutpautkan. Jika itu teman setelah kita merasa marah dengan apa yang dilakukan, maka pertemanan tetap berjalan dengan baik. (bisa ga ya?? Bisa kalee…).
Apakah ada keuntungan setelah marah? Rasanya hampir tidak ada. Kalau pun ada tetapi bukan merupakan win-win solution, karena ada objek kemarahan, yang belum tentu terima dengan cara kita marah. Marah sebenarnya menunjukkan kualitas diri kita di hadapan orang lain. Marah di rumah karena ada masalah menunjukkan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah, (mungkin anak di rumah berkata, “O..begitu cara menyelesaikan masalah) refrences unrecomended tentunya.
Jika terlancur marah, banyak cara sebenarnya untuk mengontrol kemarahan itu. Pesan Nabi, jika kamu marah, maka berwudhulah. Sudah wudhu padahal masih marah juga, maka berbaringlah. Kegiatan ini tentu mencoba untuk memberikan ketenangan, sehingga kita dapat berfikir lebih tenang dan jernih. Berfikir tentang mengapa saya marah? Apa yang menyebabkan kemarahan ini? Bagaimana mengelola kemarahan ini menjadi sesuatu yang positif? Menelusuri dan menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sejenak membuat kita bisa mengendalikan kemarahan. Jika kita tidak mampu mengendalikan kemarahan dan berbuat diluar kendali diri, inilah kondisi yang dinamakan “pembajakan emosi”.
Pembajakan emosi adalah ketika emosi yang datang kerena ada stimulus luar yang masuk, merespon kita untuk bertindak tanpa berpikir. Dalam kerangka alur kerja di otak kita itu artinya stimulus masuk ke thalamus (pengaturan) masuk ke amigdala tanpa melalui korteks. Inilah yang terjadi ketika kemarahan tidak terkendali dan merugikan diri sendiri pastinya dan juga orang lain. Agar tidak terjadi pembajakan emosi, tentu memberikan kesempatan korteks (otak berpikir) untuk memikirkan emosi apa yang sedang kita rasakan, apa sebabnya, dan apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan begitu kita dapat marah pada tempatnya. (jadi ingat adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya). Ya begitulah menajdikan marah yang elok.
Mari marah yang elok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s