Semangat Pembelajar Sejati

Semangat Pembelajar Sejati

Keberadaan manusia di muka bumi ini memiliki tugas yang diamanatkan dalam kitab suci. Dalam Qur’an manusia diciptakan sebagai hamba untuk beribadah dan sebagai khalifah di muka bumi. Dua tugas ini tidak mungkin dapat dijalankan dengan baik jika manusia tidak memiliki ilmu. Ilmu menjadi modal strategis dalam mengembangkan manusia dan sekitarnya. Adam pun sebagai manusia pertama untuk menamai yang ada di sekitanya ia pun belajar. (Karena manusia pertama ya.. belajarnya langsung kepada makhluk Allah yang selain manusia, maksudnya malaikat). Mengapa manusia belajar? Karena sesungguhnya manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dengan tidak mengtahui apa-apa. Kemudian Allah jadikan pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu berfikir.”

Pendengaran, penglihatan, dan hati adalah perangkat potensial yang ada dalam diri individu sebagai karunia terbesar yang Allah berikan. Karena dengan itu manusia mampu belajar dan berkembang. Bukan telinga yang disebutkan dalam ayat itu, tetapi pendengaran, bukan mata, tetapi penglihatan. Fungsi-fungsi itulah yang ditekankan. Secara fisik orang bisa saja baik dan lengkap, namun itu tidak berfungsi. Telinga ada, tetapi tidak mendengar. Mata ada tetapi tidak melihat. Karena itu pula kita selalu mengharapkan sehat walafiat. Sehat secara fisik, berguna dan bermanfaat.

Keberhargaan orang yang menuntut ilmu dan berilmu memiliki tempat tersendiri. Secara teoritis, bahkan firman Allah dan empiris dalam kehidupan, kita dapat menyebutkan dan melihat faktanya. Orang yang berilmu memiliki derajat yang lebih baik, hidup yang lebih baik dan kebahagiaan yang lebih tinggi. “Allah mengangkat derjat orang yang beriman dan berilmu.” Iman menjadi landasan yang selalu melekat dalam segala perbuatan. Tidak heran ilmuan-ilmuan terdahulu berkembangan dan lebih baik Karena orientasi belajar dan bekerja mereka bukan karena yang lain. Tetapi karena keimanan kepada Allah semata. Imam Bukhori, penjelajah hadits, mengumpulkan dan memverifikasi ribuan hadis. Imam syafi’I penulis dan imam besar ilmu fiqih, AlGhazali, ibnu Taimiyah dan ilmuan lainnya dengan peninggalan karya yang dimanfaatkan banyak orang. Mereka adalah sebagai pejuang ilmu yang gigih. Mereka berjuang dan mempertaruhkan hidupnya untuk ilmu. Mereka memiliki karya yang luar biasa dan fenomenal, yang sampai saat ini digunakan dan menjadi rujukan.

Tidak ada sekolah formal pada zaman mereka, tetapi semangat belajar mereka tumbuh dan membara. Tidak ada fasilitas sebanyak sekarang, tetapi mereka berekad dan bersungguh-sungguh. Semangat belajar mereka tumbuh dalam hati, kelas dan sekolah mereka adalah kehidupan, guru mereka adalah kehidupan. Ada peran yang tidak bisa dilepaskan yang menjadikan mereka tumbuh sebagai pencinta ilmu. Pendidikan di rumah dan lingkungan sebagai bekal. Rumah adalah institusi bagi pembelajar dini. Menanamkan kebiasaan membaca dan belajar kepada anak-anak sejak dini menjadi tanggung jawab orangtua. Kembali memfungsikan peran dantanggung jawab orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anak. Hal yang tidak mudah dengan perkembangan zaman dan pergeseran peran saat ini. Jika dahulu waktu masuh kecil, aku merasakan pagi sekolah dasar, sore sekolah dininyah dan malam belajar dengan orangtua. Kini di tengah kesibukan orangtua di zaman sekarang, maghrib belum tentu bisa berkumpul shalat berjama’ah dan belajar bersama. Beruntung orangtua yang masih bisa berkumpul maghrib dan belajar. Tantangan perlu dicari pola pembelajaran keluarga bagi yang orangtua bekerja untuk membina anak dalam keluarga. Karena anak-anak kini adalah generasi dan penentu peradaban mendatang.

Rumit juga pikiran ini, berkaca pada masa lalu, hidup di masa sekarang dan harapan lebih baik di masa mendatang. Multiperan sebagai orangtua, individu yang bertanggung jawab dengan belajar sendiri dan menjalankan peran lainnya. Menyadari bahwa belajar itu tanpa batas hanya kematian yang memisahkan, semestiya tidak ada alasan untuk tidak belajar. Semoga menjadi penyemngat dan pengingat diri sendiri, belajar tidak perlu menunggu dapat beasiswa. Orang dulu tidak S3 tetap belajar. Meneliti tidak perlu menunggu bantuan. Orang dahulu meneliti karena panggilan dan keingintahuan yang berangkat dari diri sendiri. Memenuhi kebutuhan fasilitas belajar tidak perlu menunggu sertifikasi, belajar dengan memanfaatkan apapun yang ada. Dahulu belum ada mesin tik, apalagi laptop dan gadget buku-buku bisa ditulis. Bekerja pun tidak perlu mesti menjadi pegawai negeri, karena rezeki sudah ada yang mengatur dan kebahagian kita sendiri yang menciptakan.

Semoga selalu tertanam, tertutur dan terwujudkan dalam hidup. Kept spirit learner whatever ur condition.

Salam
Learner is happy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s