CERITA & DERITA PERTAMA MASUK SEKOLAH

CERITA & DERITA PERTAMA MASUK SEKOLAH

Tahun ajaran baru tiba, hari pertama masuk sekolah dasar tanggal 15 Juli. Apakah yang ada di benak anak-anak, yang teramati sebelum hari masuk sekolah tiba, anakku begitu antusias, menyiapkan peralatan sekolah, bertanya berapa hari lagi masuk sekolah seolah sudah tidak sabar ingin berada duduk di bangku kelas. Itulah kesan sebelum tiba masuk sekolah.

Tiba hari berangkat sekolah, wajah senang, berseri terlihat, apalagi usia untuk masuk SD sudah sangat mencukupi, kini usia 7 tahun kurang dua bulan. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung sudah dianggap cukup untuk bekal belajar. Seolah tidak ada lagi yang dikhawatirkan. Karena itu pesan pertama sekolah, menanamkan tujuan bisa menguasai kelas, karena pelajaran kelas satu sudah banyak dikuasai. Mengucap salam dan salaman, ia siap berangkat sekolah bersama kakaknya. Iringan doa orangtua menyertai, semoga langkah awal untuk kehidupan yang bermakna kelak serta kebahagian kini dan nanti.

Karena bula Ramadhan jam 12.30 sekolah selesai, jarak yang tidak begitu jauh, jam 13.00 sudah tiba di rumah. Dengan muka merengut anak kelas satu SD ini berucap, “Aku mau sekolahnya sampai si kakak lulus di sana aja, kelas dua aku pindah”. Entah apa yang sedang ia pikirkan, perlahan keselusri apa yang sudah terjadi di sekolah. Satu-persatu ia ceritakan bagaimana perlakuan teman sebangkunya yang memaksa, memerintah, berkata buruk dan bahkan mengancam. Tetesan air mata mulai keluar, menangis dan berkata tidak mau sekolah karena takut.

Dalam hati rasanya tidak sabar ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, meski tidak berharap untuk berulang. Karena itu keesokan harinya, berniat untuk mengantar ke sekolah. Namun pagi itu ia tidak mau sekolah. Membujuk untuk berangkat sekolah, akhirnya bersedia, dengan syarat saya harus menunggu.

Tiba di pintu sekolah, ia mulai ketakutan dan gemetar, dia memastikan dimana duduknya teman yang hari kemarin menakutkannya. Setelah itu ia mengambil posisi jauh di belakang, saya biarkan keputusannya itu. Ternyata teman yang ia takuti itu, ingin duduk dengan anakku, mulailah ia menangis, dan berkata “aku mau duduk sendiri”. Akhirnya dengan terpaksa kuceritkan sebabnya kepada guru dan juga orangtua anak. Ia merasa takut karena hari pertama mendengar kata dan perlakuannya yang kasar dan mengerikan. Rupanya guru dan orangtua sudah memahami, guru merasakannya dan orangtua pun bercerita bagaimana keadaan anakknya di rumah dan perlakuan orangtua yang keras. Akupun memaklumi. Tetapi sayang anakku belum merasa nyaman berada dalam kelas. Ia menangis dan meminta ku duduk di kelas, tentu keputusan yang belum bisa dituruti.
Akhirnya sambil menangis, dia keluar dari kelas. Sambil engusap airmatanya ku berpesan; pastikan bahwa dia tidak akan ditinggal, bu guru sudah tahu dan akan memperhatikanmu dan tidak membiarkan kamu duduk dengan teman yang kamu takuti. Carilah teman lain dan duduk bersama teman yang baru. Menagis hanya menunjukkan ke temen-temen bahwa kamu cengeng, itu akan menambah senang teman yang “nakal” denganmu karena ia telah berhasil membuatmu takut dan menangis. Dengan mengusap air matanya ia masuk kembali. Karena merasa sudah nyaman, akhirnya aku pulang dan meninggalkannya, dengan berpesan kepada guru, bahwa saya meningglakannya dan mohon untuk memesankan untuk tetap di sekolah sampai ada yang menjemputnya.
Sore hari bertemu di rumah dan ia menangis karena telah ditinggalkan. Dengan menjelaskan bahwa ia sudah dititipkan bu guru dan aka nada teman baru yang nemani duduk, ia terdiam. Pagi menjelang sekolah, ia mulai berkata, “tidak mau sekolah, aku belajar di rumah saja, biarkan seharian pun, yang penting tidak ke sekolah”. Tentu keputusan yang entah serius atau tidak, tetapi serasa menambah lelah pikiran. Aku menunjukkan perlatan baru yang nanti di bawa ke sekolah, dia tidak mengacuhkan. Ia masih tidak tergerak untuk bersiap-siap. Akhirnya membujuk dan memastikan lagi, meski keputusan menunggu di sekolah, karena ia masih merasa takut.

Sebelum berangkat ku berpesan jika istirahat bisa bermain bersama kakak dan teman-temannya, ini kumaksud untuk mengurangi interaksi dengan teman di kelas yang ia takuti, dan menambah kepercayaan bahwa ia punya teman yang lain.Tiba di sekolah, ia hanya melihat kakaknya bermain bola di lapangan. Di kelas ia sudah ada kawan sebangku, yang kulihat baik. Sepertinya ketakutan itu mulai berkurang. Dia mulai bisa tersenyum dan bercanda dengan teman-teman yang lain. Hari itu pun guru mendapat laporan orangtua anak laki-laki teman sebangku anak yang dianggap “nakal” itu tidak mau sekolah karena peralatan belajarnya dihilangkannya. Kejadian yang sama salah satunya pada anakku di hari pertama sekolah. Salah satu orangtua pun bercerita bahwa ia melihat anakku begitu diperlakukan tidak baik, diganggu, didorong dan lainnya, sampai ia tidak tega melihatnya. “o..itu anak ibu, kasian bu, kemaren dia duduk sebangku sama anak “jail” itu di belakang, dijahatin terus, didorong, mau nulis dijagain, tasnya dijatohin, mau duduk dihalangin, mulutnya ngomong mulu tu anak, tau ngomong apa, tapi anak ibu diem aja, sampe saya bilang ke guru, “bu tu anak pisahin ngapa, kasian dijailin mulu”. Baru tu dipisahin duduknya, tapi kayaknya dia ngedeketin lagi”. Rasanya pantes juga, di hari pertama, anakku menangis dan tidak mau sekolah, karena ada yang belum ku persiapkan, menghadapi beragam perilaku teman. Dalam hati aku bersyukur, semoga ini menjadi pelajaran yang baik bagi anakku untuk memahami dan mensikapi perilaku teman yang beragam.

Kini memang mulai marak istilah bullying atau pelatok. Tidak mengenal tingkatakan dari mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pelaku bully adalah anak yang agresif dan sebenarya memiliki kelemahan dan tekanan di tempat lain. Sehingga di sekolah ia pun melakukan pelepasan agresivitasnya. Anak yang terkena sasaran bully adalah anak yang dianggap lemah dan sensitive. Keduanya, baik korban dan pelaku dapat diatasi, terlebih pada tingkat sekolah dasar. Menanamkan keberanian, kepercayaan dan rasa nyaman secara terus menuerus bagi anak korban pelatok. Jangan menuruti untuk pindah sekolah, karena sekolah baru belum tentu bebas dari perilaku anak yang demikian. Menghadapi dan terus berikan kepercayaan bahwa ia anak yang berani, memiliki banyak teman dan memastikan ada guru yang akan memperhatikan di sekolah. Sedangkan bagi anak pelaku bully perlu kerja sama dalam membina perilakunya, kerjasama orangtua dan guru untuk memperhatikan perilaku dan mengarakn kepada yang positif.
Semoga esok terus membaik, sekolah menjadi tempat belajar yang nyaman. Belajar memahami perbedaan teman, belajar memenuhi tujuan pembelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s