AKU BAHAGIA MAMA…

AKU BAHAGIA MAMA…
Sabtu, di rumah sejak pagi padat dengan pekerjaan yang mesti segera diselesaikan. Disamping disibukkan dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak. Melelahkan rasanya, mudah emosi dan kurang menikmati apa yang sedang dikerjakan.
Tiba-tiba, anakku dinda, yang duduk di kelas 1 SD, pulang bermain mendekatiku dan bercerita tentang teman-temannya. “Mama, aku habis main sekolah-sekolahan seru banget..” oh.., jawabku, sambil tangan tetep ngetik dan mata ke layar monitor. Dia melanjutkan lagi, ‘mama, kemarin di sekolah aku bisa mengerjakan tugas dan betul semua’. Aku hanya bilang hebat!, mataku tetep sambil lihat ketikan di laptop. Dia meneruskan lagi, ‘Ada temenku jalan-jalan mulu di kelas, pokoknya dia becanda mulu, tugas dia ga selesai’ aku hanya bilang, ‘jangan ditiru’. Dengan ekspresi datar dan tetep meneruskan pekerjaan.
Dia menceritakan apa saja sesuka hatinya, sampai akhirnya dia mau pakai laptop yang sedang ku gunakan untuk mengetik. ‘ma aku mau ngetik’ sambil mendekatiku dan melihat laptop. Aku mulai terganggu konsentrasi, aku bilang ‘kalau mau ngetik di computer depan aja! mama lagi sibuk, ini mesti segera dikumpulkan, padahal bangun dari malam, tapi belum juga beres’. Dengan mengatakan keluhan lainnya yang dia sendiri bingung dengarnya, Dia hanya menimpali ‘mama lagi stress ya..’ Aku bilang ‘ya, lagi pusing’.
???????????????????????????????
Dinda, “ye..ye..aku selesai nomor 1”
Aku menoleh ke wajahnya, dia mengatakan, ‘kalau aku bahagia ma, tersenyum terus, seneng punya banyak teman, tugas hasilnya bagus. Pokoknya aku bahagia’. Aku kaget dan terkesima dengan ucapannya, ‘aku bahagia’ ku lihat wajahnya dia bener-bener bahagia, sambil menunjukkan senyumnya padaku.
???????????????????????????????
Dinda, ‘jangan di foto, aku belum mandi’
Ya Tuhan, aura bahagia itu menular kepada ku. Aku jadi malu, dia santai, tenang dan menyenangkan. Untung dia tidak tertular ruwetku  Duhh..jangan sampe dech.. Tersadar betapa aku kurang menikmati yang sedang ku kerjakan. Terkadang keadaan yang tidak stabil membuat mudah hilang kendali, untung dia lagi happy jadi bisa menetralisir kurang nyaman sikap emaknya.
Sesungguhnya anak-anak memang menyenangkan dan menginspirasi. Alhamdulillah.. bahagia membuat kita lebih sehat. Ok. Mama juga bahagia..
Thanks nak, pelajaran hidup yang mengesankan. Semoga kita bahagia selalu..

Advertisements

KEBAIKAN SELALU BERBUAH BAIK

KEBAIKAN SELALU BERBUAH BAIK
Percaya sepenuhnya bahwa Allah tidak pernah tidur. Dia mendengar dan menyaksikan apa yang kita rasa, pikir dan kita perbuat. Jangan pernah terganggu untuk berhenti berbuat baik lantaran keburukan dan kezaliman yang orang lain perbuat terhadap kita. Karena apa yang kita lakukan akan kembali kepada kita sendiri. Aku tuliskan ini terinspirasi dengan kisah dosenku yang baru saja diceritakan di meja makan kantin.
Betapa tidak ucapan syukur terus mengalir, karena sesuatu yang kurang menyenangkan di waktu lalu menimpa diri, dapat dilalui dan dijalani tanpa pernah merasa dan berfikir dendam. Dijalani dengan apa adanya dan tetap berlaku lurus-lurus saja. Meski terhambat atau dihambat proses akademik, namun tetap dinikmati dengan rasa syukur. Akhirnya semua berlalu dan bisa dilalui. Kini Allah menunjukkan buah kebaikannya. Membalikan semua keadaan yang dahulu terjadi, tanpa pernah diduga Allah telah membalaskannya dengan manis. Kebaikan selalu berbuah kebaikan. Bahkan Allah memberikan lebih dan lebih lagi. Amiin..
Komitmen terhadap kebenaran, tanpa kompromi terhadap ketidakadilan membuat dirinya terkenal dengan keberanian dan tidak peduli meski tidak disenangi. Sejauh tetap pada prinsip-prinsip kebenaran tidak pernah takut untuk bertindak. Itulah Beliau, pemberani dan komitmen terhadap kebenaran. Kata yang aku ingat dari beliau ‘hidup ini bukan untuk menyenangkan semua orang’. Artinya jika yang kita lalukan tidak disukai orang ya.. tidak masalah. Rasul saja orang yang sangat benar dan dicintai Allah tidak disukai oleh seluruh manusia, buktinya pamannya sendiri, Abu Lahab selalu mengusik, orang-orang kafir selalu menyerangnya. Hidup itu yang penting jadilah diri sendiri.’
Kekuatan itu perlahan masuk dalam pikiran dan tindakanku. Aku yang kadang peragu, darinya ku belajar untuk menentukan sikap. Aku mulai memilih, meninggalkan yang tidak penting bagiku dan membuat prioritas dalam hidup. Meski banyak harapan yang ingin kucapai kini aku lebih fokus dengan anak-anak. Aku melepas jabatan struktural di kampus, dan aku berani melakukannya meski SK Rektor sudah terbit. Kini aku bahagia tanpa harus terbelenggu dengan rutinitas yang sampai pada tahap tidak menyenangkan bagiku. Aku lebih bahagia bersama anak-anak, menyiapkan bekal mereka sekolah, memeriksa buku komunikasi mereka, menunggu mereka mengerjakan tugas, sambil aku juga mengerjakan disertasi.
Terima kasih atas insipirasi keteguhan hati mengikuti nurani, melakukan yang terbaik dalam hidup, pelajaran bersikap penuh optimis serta terus berpikir positif. Karena hidup tidak selalu mudah nikmati dan syukuri itulah yang tertanam dipikiranku. Thanks a lot, Sir.. inspiring in my life.

Ibu Inspirasiku

Ibu Inspirasiku

Kehidupan adalah rahasia Tuhan. Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput kita. Hari jum’at 6 September 2013 saya ke rumah Prof. Anna Suhaenah, beliau adalah dosen yang mengajar saya mata kuliah evaluasi program waktu saya ambil mata kuliah itu Tahun 2011. Kini Beliau juga promotor untuk disertasi yang sedang saya tulis. Kali ini saya berkunjung ke rumah Beliau bukan hendak bimbungan disertasi, namun ta’ziyah atas meninggalnya Bapak A. Soeparno suami Prof. Anna.
Tiba di rumah beliau jam 10an, saat itu keluarga; anak, cucu, menantu dan kerabat sedang melakukan shalat janazah yang dipandu oleh Bapak Arif Rahman Hakim. Karena sedang tidak shalat, aku sejenak turut hening dan berdoa untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. Selintas ku melihat lukisan pasangan Prof. Anna dan Almrhum ketika masih muda, tampak pasangan yang serasi. Lalu ku menatap janazah yang terbujur kaku, dengan wajah yang putih bersih. Almarhum berjuang melawan sakit jantung yang lama dideritanya.
Ada kekaguman pada sosok yang kuanggap orangtua sendiri. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki puncak prestasi akademik, jabatan akademik dan tetap setia terhadap keluarga. Ketika beliau memiliki putra yang masih anak-anak, beliau lebih prioritaskan anak-anak di rumah, dan tetap mengajar selama tiga hari. Berkiprah penuh waktu saat anak-anak sudah besar. Beliau begitu fokus, memberikan yang terbaik, sehingga prestasi akademik sebagai guru besar pun diraihnya. Kepercayaan menjadi Rektor IKIP Jakarta pun dilakoni tahun 1992.
Hal yang menyentuh dan menginspirasiku adalah kesungguhan dalam mementingkan keluarga. Saat suami sakit ia fokus mengurus suami dan mendampingi hingga tutup usia. Meski banyak aktivitas yang ia lakukan, tidak hanya di UNJ namun juga di BAN PT dan Mendikbud ia tetap mampu membagi waktu dan membuat prioritas. Sungguh berkah yang tiada terkira mampu membuat pilihan terbaik. Kini diusia beliau yang tidak muda lagi, namun semangatnya nampak selalu muda, semoga Prof. Anna selalu sehat dan liputi keberkahan.

Meneliti Kualitatif Penuh Warna

Meneliti Kualitatif Penuh Warna

Hari minggu, 1 September 2013 niatnya memulai mencari kesedian reponden sebagai keluarga yang akan dimintakan informasi dan didalami cara-cara dalam mendidik anak-anak mereka di rumah. Dalam kelurga faktanya terdapat kategori keluarga dengan atribut orangtua. Ada orangtua yang sibuk bekerja diluar rumah keduanya. Ada juga orangtua yang hanya Ayah bekerja diluar rumah sedang ibu di rumah. Dalam penelitian kualitatif mencari hal yang ekstrim alias unik sangat membantu dan makin menggoda untuk didalami.
Akhirnya pagi itu, selepas pengajian yang dihadiri banyak keluarga, ada resonden yang menjadi catatanku setengah bersedia untuk berbagi cerita. Meski ketika akan dilanjutkan kesediaan waktu dengan penggalian informasi berikutnya belum ada kepastian. Ada keraguan dibenak mereka sepertinya, khawatir tidak dapat memenuhi harapan yang menjadi tujuan penelitian ini.(ini yang sebenarnya mesti disimapa dahulu pada pertemuan awal, biarkan ketertarikan saja dalam cara mereka yang diungkap, karena tidak sedikit orang umumnya merasa terganggu dengan bahasa penelitian) Namun harapan tidak boleh putus. Mesti dicarikan cara dan waktu yang lebih tepat lagi. Artinya membaca suasana hati orang, ekspresi wajah dan bagaimana seseorang bersikap menjadi catatan penting.dan apa yang nyaman disampaikan pada tahap awal pertemuan, mesti juga dirasakan ketika di lapangan.
Informasi tetap didapatakan pagi itu, bahkan ada masukan baru sebuah keluarga yang nanti akan kusambangi dan menjajaki kemungkinan kesediaannya dalam berbagi mendidik anak-anak mereka yang tidak sedikit jumlahnya dan anak-anaknya menurut pandangan orang sudah berhasil. Tidak terpikirkan olehku sebelumnya, akhirnya informasi terus bergulir. Ini kadang dinamakan snowball informasi yang terus menggelinding mengantarkan tidak hanya data yang dibutuhkan dalam penelitian tetapi juga menentukan responden.
Dua hal yang akan dijadikan pelajaran dalam gambaran keluarga, namun keduanya bisa berbeda kondisi bisa keluarga yang memang sudah dianggap berhasil, maka cara-cara tertentu mereka dalam melakukan pendidikan menjadi contoh. Dan ada keluarga yang dianggap semraut menurut orang, cara-cara mereka mendidik juga menjadi contoh dan perlu dicarikan apa sebab dan apa yang semestinya. Namun aku sebagai peneliti tidak akan memberikan label terhadap keluarga berhasil atau tidak berhasil, biarkan nanti pembaca yang menilainya.karena tugas penelitian bukan menghakimi tetapi lebih banyak mendeskripsi.
Banyak hal menarik dalam melakukan penelitian kualitatifku kali ini, apalagi sifatnya sesuatu yang cukup menantang, penasaran untuk didalami lebih lanjut. Karena aku sebagai orang dewasa tentu membutuhkan informasi cara-cara dari pegalaman mereka mendidik anak-anaknya. Namun memang tidak mudah mencari responden yang bersedia dan proaktif. Kiranya ditemukan responden yang terus memperkaya kepenasaranku.atau bahkan diantara pembaca yang bersedia atau mereferensikan?

Salam Semangat