Kompasiana buat saya nekat menulis

Kompasiana buat saya nekat menulis
Terasa cukup lama waktu yang terlewat untuk menulis, alasan sakit jadi absen menulis. Menuliskan segala cerita dan apa saja yang terlintas di pikiran tanpa merasa terbebani seperti merasa tulisan salah, tidak layak atau apapun. Kemudian mempostingkannya di kompasiana. Itulah kelebihan menulis dan bergabung di blog keroyokan kompasiana, saya jadi nekat menulis.
Saya memang sedang mencoba untuk memiliki kemampuan baru. Ya, kemampuan menulis. Meskipun tidak mudah tetapi saya percaya bisa dipelajari. Kalau saya bisa bicara dan menjelaskan sesuatu kepada siswa, kenapa juga saya tidak bisa menuliskan sesuatu untuk memberikan informasi atau penjelasan kepada pembaca. Cie…cari penguatan diri. Meski saya sedikit mengetahui menulis tidak sama dengan berbicara. Kalau orang yang pandai bicara bisa otomatis pandai menulis mungkin tulisan Socrates bisa sebanyak tulisan Aritoteles. Bisa juga Socrates tidak terkenal lagi jago retorika. Karena memang menulis adalah kemampuan yang berbeda dengan berbicara. Kemampuan menulis tumbuh dengan latihan dan kemauan.
Ingin menjadi chef ya.. latihan masak, berminat menjadi penyanyi, latihan nyanyi. Kalau hendak menjadi penulis ya.. latihan menulis. Menuliskan apa saja yang mau ditulis. Tetapi menulis tanpa ada ide juga tidak berkembang. Ada juga yang bilang siapa bilang begitu, meski tidak ad aide, tetap koq bisa menulis. Tulis aja saya tidak punya ide untuk menulis. Terus kenapa? Bingung? Tulis juga. Saya bingung mau menuliskan apa. Terus kenapa? Saya bingung kenapa saya menjadi bingung? Tulis juga kenapa saya jadi bingung. Mulailah berpikir dan mencari jawaban. Alternative jawaban yang didapat menjadi tulisan juga kan… Bener juga nasehat itu. Paling tidak melakukan dan merasakan menulis dengan menyusun kata demi kata menjadi sebuah makna sudah dapat dilakukan.
Kegiatan menulis ibarat produksi yang butuh bahan baku. Cara mendapat bahan baku tentu dengan membaca. Membaca dan menulis, dua pekerjaan yang selalu beriringan. Membaca sebagai modal awal maka kegiatan lanjutan yaitu menulis menjadi mudah. Hasil dari membaca menyimpan banyak informasi di kepala, ketika menulis membutuhkan refrensi maka dengan mudah isi kepala keluar dan menguraikannya.
Membaca dan menulis terkadang menjadi perkara. Ini menjadi masalah yang bukan saja dialami oleh anak-anak tetapi juga para akademisi. Waktu masih kanak-kanak kesulitan membaca dan menulis, anak-anak belajar dan membaca dan menulis. Sudah jadi mahasiswa juga masih kesulitan membaca dan menulis. Alasan tidak ada waktu membaca dan sulit menulis. Karena tidak banyak membaca tentu terasa sulit menulis. Jadi dosen juga sama kesulitan membaca dan menulis. Alasan sama, sibuk ngajar sampai tidak sempat membaca apalagi menulis. Menulis karya ilmiah, menulis makalah menjadi pekerjaan yang menghabiskan banyak energi karena tidak terlatih. Hehe… pengalaman sendiri.
Mudah-mudah sekarang sudah tobat, tidak ada alasan untuk tidak membaca dan menulis. Paling tidak nulis untuk blog sendiri.. semangaaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s