Mengapa belajar dari kesalahan, emang bisa?

Mengapa belajar dari kesalahan, emang bisa?

Dalam sepanjang hidup tidak ada manusia yang tidak berbuat salah. Jika manusia pasti ada salahnya, sifat salah dan lupa itulah yang melekat pada diri manusia. Kalau selalu salah bukan manusia namanya, ada makluk lain ciptaan Allah yang melulu salah. Kalau selalu benar juga bukan manusia, ada makhluk yang Allah ciptakan dengan selalu benar, patuh pada yang benar. Dua makluk itu tidak terlihat oleh kita (So pasti belum pernah kenalan tentunya). Tidak tahu juga kalau mereka kenal kita, atau selalu mempengaruhi kita sesuai dengan sifat bawaannya. Ada yang bisikan dan mempengaruhi pikiran kita untuk berbuat tidak baik. Atau sebaliknya. Sesuatu yang memang abstrak. Namun sebagian informasi makhluk ciptaan Allah seperti keberadaan dan sifatnya dapat kita temui.

Kembali kepada manusia yang memiliki sifat salah dan lupa. Dua hal ini sesungguhnya anugerah yang luar biasa. Satu hal yang terpenting salah itu wujud nyata, tidak mungkin ada salah dalam kekosongan. Salah mesti melekat pada sesuatu yang telah kita lakukan. Salah wujud yang telah diperbandingkan. Dikatakan salah karena ada pembandingnya yaitu ukuran atau patokan yang dianggap betul. Salah menurut kita belum tentu salah menurut orang lain, karena betul atau benar menurut manusia relatif. Kecuali kebenaran yang berasal dari Tuhan, itulah kebenaran yang hakiki. Bagaimana bisa belajar dari kesalahan? Sesuatu yang salah bukan untuk diikuti. Salah bukan contoh yang baik untuk diikuti. Salah mesti diperbaiki.

Salah dan memperbaiki adalah proses kerja, karena itu hal yang luar biasa adalah karena orang yang salah dan memperbaiki artinya sudah melakukan sesuatu. Melakukan adalah hal penting. Apapun ceritanya salah ataupun benar hasil itu persoalan kedua. Lebih mudah memperbaiki yang salah karena wujudnya ada. Lebih terasa belajar dari kesalahan karena telah melakukan. Lebih mengesankan belajar dari kesalahan karena seluruh perhatian telah tercurah. Melakukan sesuatu dan proses memperbaiki menjadi sesuatu yang sangat bermakna.

Jangan takut salah, takutlah jika tidak berbuat sesuatu dalam hidup.

Advertisements

Jangan Tanya Lagi Dimana.. Aku Dekat

Jangan Tanya Lagi Dimana.. Aku Dekat

Meski kitab yang dibaca berbahasa Arab, namun saya termasuk yang kurang faham dengan tulisan yang dibaca dalam bahasa Arab. Jadilah kini setiap kali membaca dalam bahasa Arabnya, dilanjutkan membaca terjemahnya dalam bahasa Inggris (walah tambah ngaco). Qur’an terjemah bahasa Indonesia membantu saya memahami ayat yang dibaca.

Setiap kali membaca artinya, setiap itu pula persepsi diri akan ayat yang dibaca menjelajah, menerawang sendiri sesuai dengan pengalaman sendiri. Bukan menafsirkan, tetapi mempersepsi sendiri. Kalau mau dibilang tafsir ya tafsir dewekan. Kadang isi bacaan itu begitu cocok dengan suasana batin. Saya memberi tanda dibacaan itu, jadilah tu Qur’an terjemah banyak tanda dimana-mana. Termasuk saya menandai bacaan ini,

… apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,… 2:186.

Yang terlintas dipikiran, terkadang saya lupa bahwa ada yang selalu setia dan begitu dekat. Ketika limbung, lebih sibuk mencari ini kesalahan siapa, lebih suka menyalahkan diri sendiri, orang lain ketimbang keluar dari belenggu kesalahan dan menyalahkan. Habis energi dan masalah tidak selesai. Perasaan menjadi kusut dan tidak tenang. Ini bukan sebuah tindakan yang baik. Ini pertanda buruk bagi sikap diri dan kesehatan diri sendiri.

Bersyukur kemampuan baca, tulis dan hitung dari sejak SD berlanjut dan bisa diterapkan hingga sekarang. Ya, membaca, menulis dan berhitung menjadi kekuatan, untuk mencari dan mengembangkan diri. Termasuk baca ayat di atas, berarti jika sulit tidak lagi tanya, “Tuhan dimana, dimana, dimana”? Dia dekat. Sudah jangan lagi tanya dimana tetapi langsung saja mengajukan permohonan. Tanpa pelu diketik, pakai perangko atau diantar ke kantor pos. tinggal katakan saja “tanpa harus kuurai detail, Engkau sesungguhnya mengtahui apa yang terjadi dan apa yang terbaik untuk diri ini, berikan sabar dan segeralah, berikan yang terbaik”. (sedikit memaksa dan kelihatan tidak sabar juga…hee). Untung curhatnya dengan Tuhan, memaklumi dengan ciptaanNya serupa ini.

Jangan keburu enak dan kepedean, kelihatan gampang, susah tinggal minta, sulit tinggal memohon. Ada berikutnya yang butuh perjuangan, kalau hanya minta dan memohon, setiap langkah, sambil diam, duduk atau berbaring juga bisa. Tetapi kalimat “hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku” ini yang mejadi tantangan besar di tengah hidup yang mempesonakan dan makin menua. Semoga kesadaran membuat hidup indah kini dan nanti.

Salam

Sebelum Jatuh Sakit, Coba Cegah dengan Obat Dalam Diri

Sebelum Jatuh Sakit, Coba Obat Dalam Diri
Sesehat apapun tubuh, kadang tidak mengira akan jatuh sakit. (hee.. itu namanya tubuh tidak sehat ya..) Mulai dari sakit ringan seperti sakit perut, migran, demam, flu atau apalah. Kali ini saya merasakannya, wow..dingiin padahal badan hangat, nyeri badan ga keruan. Ini berulang padahal baru pekan kemarin ketemu dokter, komennya singkat, asam lambung tinggi, istirahat. Beres minum obat langsung cespleng kayaknya, jadi bisa beraktivitas dan wara-wiri (kayak tukang ojek). Ah ternyata, dia datang lagi, tubuh minta perhatian. Please… akhirnya aku mengurai apa salahku dan apa dosaku padamu hingga lowbat, seperti handphone kurang dicas.
Akhirnya saya mengaku dech… Pertama, dalam sebulan terakhir jarang olahraga, meskipun olahrga kurang maksimal, baru jalan pagi 10 menit, sudah rusuh dengan pekerjaan lain. sarapan dan bekal anak belum siap, jadwal ngajar pagi sudah dekat.. (alasan memang). Kedua, tidur sepertinya kurang maksimal, meski sampai 7 jam, tetapi kualitasnya kurang. Di tengah tidur Pake iklan buatkan susu bayi, ganti popok, dan kadang mimpi dikejar semut (klo mimpi ini pasti ngarang). Dua hal itu saja sudah jadi alasan kuat untuk membuat tubuh tidak sehat. Belum lagi kalau ditanya apakah mengalami stress? Hmm… rasanya tidak (tidak ngaku).
Sebenanrnya ini semua bisa diatasi, jangan sampai berlanjut, ini sinyal tubuh untuk lebih peduli dan mengatur hidup. Hidup sepenuhnya milik dan tanggung jawab diri sendiri. Sambil mengingat-ingat yang telah lalu, dan memperbaiki, akhirnya saya membuka buka seri Healthy Life. Tampak jelas kesalahan dan juga solusi yang mesti lebih ditekankan. Inilah point yang dapat saya ambil:
1. Memorizing
Menelususri track record aktivitas kebelakang. Apa kurangnya, dan apa lebihnya. Kalau untuk sakit ringan masih bisalah melakukan ini, sambil minum teh hangat, menyepi dan membeberkan aktvitas diri kebelakang, atau karena tubuh sedang terasa dingin, bisa sambil jalan dan gerak-gerakan badan. Sadar ini ada yang tidak beres dan segera perbaiki. Asli habis itu bobok lagi. Lemes euy.. ternyata langkah saya ini diragukan, ini membuat saya lelah. Jangan dipaksakan tentunya. Akhirnya sambil bobok mulai aktivitas lain, menghitung berkah.
2. Menghitung Syukur
Aktivitas bersyukur mempengaruhi aktivitas otak. Bersyukur menghasilkan energy positif. Kecemasan sebaliknya menambah berat dan merusak otak jika berkepanjangan. Saya coba tampilkan gambarnya, saya bukan ahli otak. Jadi hanya kutip gambarnya

Sumber: Daniel G Amen, Change Your Brain Change Your Body, 2012. h.249
Kurang jelas memang gambarnya, tetapi ini dari gambar di atas menunjukkan bahwa rasa syukur mengpengaruhi kerja otak tepatnya pada lobus temporal menjadi sehat. Sedangkan kecemasan dan rasa takut aktivitas lobus temporalnya menurun tajam. Jadi rasa syukur adalah berkah yang patut disyukuri karena otak menjadi sehat.
Akhirnya saya mulai menghitung syukur:
a) terima kasih buku-buku yang ada di kamar, yang pasti bukan datang sendiri tetapi ada banyak lantarannya. Ada yang sengaja membeli, ada juga yang sangat berbaik hati dan peduli meminjamkan bahkan memberi saya buku. Dengan ini saya jadi pintar. (ngaku2)
b) berkah anak-anak yang menyenangkan, meski saya terkadang kurang sabar, tetapi sesungguhnya saya sangat mencintai dan peduli mereka. (versi ibu bawel)
c) teman hidup yang pengertian. Sebenarnya saya bisa ambil air hangat sendiri, tetapi tanpa komentar dia tetap diberinya meski baru saja ganti celana bayi yang ngompol.
d) terima kasih untuk tempat yang nyaman ditinggali
e) puji syukur, laptop yang masih layak, printer yang oke dan modem yang lancar.
f) terima kasih juga listrik yang menyala, air kran yang jernih.
Dan seterusnya….
Ah nanti kebanyakan kalau ditulis semua di sini. Intinya masih banyak syukur yang tidak terhitung jumlahnya.
3. Meditasi
Olahrga yoga, meditasi juga membatu kesembuhan. Meditasi dan yoga memang dua hal yang berbeda. Tetapi masih berkaitan. Keduanya kerap dijadikan cara penyembuhan. Meditasi sebagai cara penyembeuhan alami bisa baca artikelnya Om Tjip. http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2013/11/12/meditasi-cara-penyembuhan-diri-secara-alami-610104.html.
Aktifitas ini membimbing pada ketenangan batin, kesadaran jiwa dan menyelaraskan diri ke dalam. Cara ini pula dapat mengatasi stress. Bagi saya doa dan shalat mestinya bisa dijadikan cara yeng tepat. Karena keyakinan pada Tuhan yang maha menyembuhkan. Terdapat banyak doa yang diajarkan untuk kesembuhan. Begitu pula dengan shalat asal dijaga koneksi atau keterhubungan dengan Khalik sejak awal dan sepanjang shalat memiliki efek yang lebih baik. Shalat dan doa merupakan ibadah yang memiliki dimensi kesehatan yang kuat.
4. Manajemen Stress
Stress adalah beban yang menumpuk sehingga membuat yang bersangkutan terbebani. Masalahnya mudah, karena tidak bisa menolak apa yang datang sehingga menumpuk dan sulit untuk mengaturnya. Kemampuan untuk mengatakan tidak adalah cara terbaik untuk mengatur aktivitas dan menghindari strees. Ini maksudnya tidak lantas berkata ‘tidak’ saat mendapat tawaran atau kesempatan baru, tetapi dengan bijak dapat dikatakan “saya pikirkan dahulu’ artinya kita menyesuiakan dengan segala sesuatu yang ada dengan tujuan dan fokus yang dijalani.
5. Tertawa
Tertawa dinggap baik bagi system kekebalan tubuh, karena tertawa dapat menurunkan poduksi hormone stress. Tetapi sayang orang dewasa sudah tidak sebanyak anak kecil tertawa. Anak-anak lebih mudah tertawa melihat sesutau yang orang dewasa tidak terdorong untuk tertawa. Saat yang tepat mulai menertawakan diri sendiri, sebelum orang lain menertawakan.

Sebenarnya cara di atas lebih banyak untuk menjaga kesehatan, menghindari atau meredakan stress. Jika ada sesuatu yang sakit bersifat fisik, tentu ke dokter berobatlah. (ada dokter Wahyu kan…) Namun setidaknya aktifitas ini dapat mengurangi nyeri dan membantu kesembuhan.

Salam

Menggali Makna Sabar

Menggali Makna Sabar

Sabar kata yang mudah diucapkan namun butuh perjuangan ketika menjalankan sifat sabar. Bagaimana tidak di tengah hidup yang tidak selalu berjalan lurus, linier dan determinan, saat bertemu badai memporak porandakan kemapanan dan kestabilan hidup, sabar hadapi tantangannya.. (ya meski.. bada pasti berlalu…#nyanyi) Lalu apa pesan sabar yang membuat sifat itu menjadi alat dalam menghadapi berbagai dinamika hidup. Banyak kita mensalah artikan sabar, sabar bukan berarti statis, diam dan terima saja tanpa usaha.

Jika sabar diartikan diam, ststis dan terima saja tanpa ada upaya maka orang sabar pasti tergilas, tertinggal dan tidak ada perubahan hidup. Sabar itu adalah dinamis, mendapati kenyataan hancur bukan lantas diam, tetapi berusa bangkit dari kehancuran. Mencari alternative penyelesaian, mengupayakan perbaikan itulah makna sabar. Untuk bergerak maju dan berupaya dari kegagalan atau musibah dbutuhkan sikap penerimaan atas musibah yang dialami sebagai bagian dari ketentuan hidup yang harus dialami. Penerimaan dijadikan sebuah kesadaran awal, bahwa hidup memang tidak selalu berjalan lurus. Setelah itu bergeraklah, tidak larut dalam mendramatisisr keadaan. Teori memang mudah ya dikatakan, memang mestinya begitu. Tidak banyak yang bersabar bisa jadi karena tidak mengerti manisnya sabar, apa gunanya sabar, yuk kita lihat berikut ini:

1. Sebagai Alat Mendapat Pertolongan Allah
Jika meminta tolong kepada Allah, sabar adalah alatnya, karena Allah memiliki banyak cara memberikan pertolongan kepada kita. Tentu tidak selamanya enak atau tidak enak. Ukuran enak dan tidak enak menurut kita tentu berbeda dengan yang Maha mengetahui diri kita sendiri. Hidup susah memang tidak enak sudah berupaya segala cara belum berhasil, tetaplah sabar, tetaplah berusaha karena kita tidak pernah mengetahui rencana Tuhan untuk hidup yang dijalani. Satu hal yang menjadi paket yang tidak boleh lepas saat memohon pertolongan kepada Allah yaitu dibarengi shalat. Sebagai bentuk kontemplasi diri, komunikasi spiritual, pemujaan, penghambaan, kepasrahan dan ketundukan kepada yang Maha mengetahui segalanya. Itulah pesan yang tersurat dalam firman-Nya 2:153 … “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

2. Mencapai Tujuan
Kalau tidak sabar mana mungkin sampai kepada tujuan. Jika tidak sabar mana mungkin berhasil. Orang yang sabar saja belum tentu sampai kepada tujuan, apalagi yang tidak sabar. Upaya dalam kesabaran merupakan proses yang penting ketimbang sampai kepada hasil atau tujuan.

3. Kebahagiaan Abadi
Sabar meski dalam penderitaan sesungguhnya telah sampai kepada kebahagiaan yang tidak ternilai. Sabar dalam kesenangan pun kebahagiaan. Bagaimana sabar dalam kesenangan? Kesenangan hidup tidak membuat lupa diri bahwa apa yang dimilikinya sesungguhnya bukan milik diri seutuhnya. Apalagi kalau sampai rebut hak orang lain, pasti hidup tidak bahagia. Ada hak-hak orang lain yang mesti disampaikan dan diberikan. Berbagi dan peduli dengan apa yang dimiliki juga adalah kebahagiaan. Sabar tidak melulu dalam musibah, dalam anugerah dan berkah tetaplah sabar.

Nomor selanjutnya koq ya susah keluar, padahal belum dalam gali sumurnya, eh maknanya. Maksud hati menggali makna, tetapi jadinya segitu. Keterbatasan diri, dengan kelemahan yang tidak berbatas. Disudahi dulu saja, bukan berarti nulisnya tidak sabar. Ada paket sabar yang belum dilaksankan. 

Asah dan Latih Intuisi, Dengarkan Katanya

Asah dan Latih Intuisi, Dengarkan Katanya

“Ma, dinda sakit perut, dari tadi nangis terus, sudah diberi minyak kayu putih. Sekarang ada di kantor. Bagaimana Ma, apa di rumah ada orang jika diantar ke rumah?” bunyi sms dari guru kelas di sekolah, terbaca di handphone saat dihidupkan setelah beberapa jam dimatikan. Sebelum mematikan hp siang itu sempat terpikir bagaimana jika pas dimatikan ada kabar yang penting. Tetapi pikiran itu diabaikan. Saya mematikannya dan mendapati itu kenyataan, anak tiba-tiba sakit di sekolah dan membuat panik guru. Dari kejadian ini jadi terpikir tentang firasat atau intuisi. Saya telah diingatkan, tetapi diabaikan, sambil kerja merasa tidak tenang, akhirnya dinyalakan juga hp, nyatalah yang diabaikan itu terjadi. Biasanya juga tidak matikan hp siang hari. Baru matikan hari itu juga padahal sebentar. Apapun ceritanya, saya jadi tertarik membahas intuisi.
Intuisi adalah pengetahuan langsung atau segera, tanpa kesadaran terlibat dalam kegiatan persiapan berpikir. Dalam arti lain suatu pertimbangan yang dibuat tanpa renungan pendahuluan (Chaplin, kamus Psikologi, h. 260). Spontan, tanpa sadar, entah dari mana munculnya, tiba-tiba muncul dibenak kita dan mengatakan sesuatu (tetapi bukan juga bisikan-bisikan gajebo). Setiap kita memiliki kemampuan intusi, namun seberapa jauh kita memanfaatkan, mengasah dan melatih intuisi itu menjadi tajam dan kuat, tentu masaing-masing kita berbeda.
Kemampuan intuitif sebenarnya menggunakan cara kerja otak belahan kanan. Terkadang hasil dari pikiran tersebut bersifat irrasional. Carl G Jung membahas kemampuan ini dalam tipe kepribadian bahwa intuisi adalah fungsi irasional yang muncul tanpa diketahui alasan yang rasional dan entah darimana pula asal pikiran itu muncul. … irrational function -intuition- is knowing about something without conscious understanding of where that knowledge comes from. The ”irrational” function, according to Jung, is typical for mental and perceptual activity that predominantly … (http://stottilien.com/2012/03/05/carl-g-jungs-typology-classification/). Ya bagaimana tidak irasional, menemukan kecenderungan orang saat pertama berjabat tangan dan berkenalan. Merasakan orang ini seperti kurang menyenangkan dan lainnya padahal sebelumnya kita tidak pernah kenal. Bahaya memang jika salah menempatkan, namun ini adalah tanda agar dapat berhati-hati.
Meski intuisi bersifat irasional, telah banyak intuisi dapat mengubah hidup seseorang, jika orang itu mengambil tindakan dari apa yang terbersit kuat dipikirannya. Keputusan-keputusan intuitif banyak digunakan pebisins dalam mengambil tindakan, seperti keputusan membeli saham, meski secara rasional harga yang sangat tinggi, seperti yang dilakukan Ray Krock mengatakan “intuisi saya mendorong saya untuk tetap dan harus membelinya” hasilnya McDonalds tersebar dimana-mana. Tidak hanya pebisnis, ilmuan sekaliber Einstein pun mengatakan “Saya tidak menemukan pengertian saya pada hukum universal hanya dengan pikiran analitis. Satu-satunya hal yang berharga adalah intuisi”. Artinya memang intuisi itu berperan dan penting. Lao Tzu mengatakan, “The Power of Intuitive understanding will protect you from harm until the end of your days” banyak lagi tokoh yang membuat keputusan melibatkan intuisinya.
Kemampuan intuitif muncul dan memberikan sinyal kepada kita, jika intuisi itu ditemukan dan dijalankan maka sesuatu mejadi lebih mudah. Intuisi bukan sembarang pikiran sebenarnya, ia keluar berdasarkan banyak data yang tersimpan di pikiran bawah sadar. Karena itu kepekaan menjaga dan melatih intuisi menjadi penting. Bagaimana mengasah intuisi, beberapa ini saya sarikan:
1. Relaksasi
Kesibukan dan kepadatan yang hampir merampas waktu 24 jam kita, membuat tubuh dan otak bekerja kelelahan. Relaksasi, bermeditasi, menenangkan pikiran sejenak, manarik nafas dan menikmati setiap helaan nafas. Dalam kondisi relaks dan tenang gelombang alfa bekerja mengaktivasi otak kanan, lebih dapat mendengarkan intuisi dengan jernih. Enaknya lakukan relaksasi dini hari atau malam hari.
2. Melatih Menerka dan Membaca Emosi
Jika bunyi sms, sebelum membuka, terka lebih dahulu sms siapa yang masuk. Dari setiap terkaan berapa banyak meleset dengan benarnya. (tidak perlu dihitung, latih aja). Dugaan yang kita buat tentu bukan sembarang. Seluruh data dalam memori bekerja, menghubungkan kemungkinan sms siapa yang masuk. Jadi dugaannya tidak asal menduga.
Cara berikutnya cob abaca emosi orang-orang yang sedang berkumpul dengan kita, misalnya saat rapat atau lainnya. Lihat apakah mereka sedih, bahagia, gembira, takut, marah atau lainnya. Kemudian coba dijelaskan dengan intuitif, kira-kira apa yang menyebabkan itu terjadi.
3. Membaca Sinyal Tubuh
Tubuh akan memberikan sinyal seperti berat, terasa tidak enak. Sebenarnya itu adalah tanda yang perlu diperhitungkan dalam tindakan yang kita ambil. Tubuh akan ringan, semangat jika memang sesuatu itu baik-baik dan menyenangkan. Sebaliknya terasa berat artinya ada yang tidak beres. Perlu berhati-hati atau waspada.
Masih banyak lagi cara-cara mengasah dan melatih intuisi, cukup tiga saja dulu, selamat mempraktekan dan mendengarkan intuisi bicara.

Mata, kawan dalam diri yang bercerita

Mata, kawan dalam diri yang bercerita
Menyaksiakan indah pemadangan, gunung menjulang, rumput menghampar, bunga yang menarik perhatian dengan warna-warni menawan…
Menatap indahnya langit yang berhias bintang, dalam sinaran bulan purnama yang benderang dalam senyum langit malam.
Pagi beringsut siang, langit biru, awan putih berarak, angin semilir mengusap kulit. Matahari hangat menyinari alam tanpa henti.
Hiruk pikuk kehidupan, gedung yang menjulang tinggi, segenap pikiran dan raga bekerja, berpakaian rapih, bersih dan menawan. Dunia ada dalam genggaman, bergerak dan terus taklukan mimpi.
Sepasang tua renta berjalan, mengais rejeki di jalanan. Menadah tangan, memungut sampah dan menikmati untuk sekedar makan siang.
Larut dalam buah pikiran yang mencerahkan, membangkitkan jiwa dan mengobarkan semangat melewati untaian kata yang tertulis, menggerakan batin keluar batas dalam kenikmatan menyelami kata dan makna.
Kecintaan yang menyejukkan hati, mengundang senyum dan berbalut kasih sayang. Melihat keceriaan, menatap keindahan dan menyaksikan kebahagiaan.
Banyak yang tidak mampu terurai lewat kata dari keindahan yang terpancar dari setiap tatap mata.
Sampai pada kesadaran pada apa yang disaksikan, dilihat dan dirasakan ini karena nikmat dan anugerah mata yang telah Kau berikan.
Anugerah penglihatan membawa menemmbus batas, melewati gelap, melintas samudra, dengan sahabat penglihatan berjalan dan menyaksikan.
Bagai sahabat setia yang tidak pernah lepas, selalu bersama dan saling membantu, memahami dan mengerti. Kini tiada, penglihatan hanya gelap. Semua serba hitam, tidak terlihat warna cantik, indah senyum dan rupa yang menawan. Sahabat setia itu tidak lagi bisa membantu dan menemani. Penglihatan itu sudah tidak ada.
Hidup berkawan sebatang tongkat dan bersykur seorang yang rela dengan mengorbankan hidupnya menemani, mendampingi. Membacakan, menuliskan dan menunjukkan apa yang dibutuhkan. Sahabat itu seperti tidak pernah lelah melakukannya.
Sesungguhnya harga sebuah penglihatan sangat tidak terhingga. Begitu luar biasa yang telah menganugerahkan peglihatan ini. Menemani sepanjang hayat, semoga selalu.
Tidak ada kata yang bisa terucap menatap mata dan pesona yang diraihnya, seperti memiliki sejuta kawan dalam diri yang terus bercerita dan berbicara pada setiap apa yang dilihat. Mengajarkan untuk syukur, berterima kasih kepada sang pemilik Mata.
#Inspiring Mata

Refleksi & Move on, Makna Hijriyah

Refleksi & Move on, Makna Hijriyah

Memasuki tahun 1435 H rasanya tidak ada telat untuk membicarakan lagi. Melihat berbagai acara dilangsungkan menyambut hijriyah, seperti pawai obor, baca yasin bareng, shalat magrib bersama dan membaca doa awal tahun. Tidak ketinggalan semarak ucapan dan harapan memasuki tahun baru yang bertebaran diberbagai sosmed. Tidak ada yang salah semua itu dilakukan. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah esensi atau makna yang penting ditembus ke dalam bathin dan berwujud pada tindakan akan hakikat hijriyah.

Mengapa harus pawai obor, kayaknya sekarang lampu aja terang benderang. Jalan malam hari bawa obor dan beramai-ramai. Tidak salah juga, maksudnya adalah mengingatkan bahwa ini tanda memasuki tahun baru hijriyyah. Bukan lantas menjadi patokan karena masehi, memasuki tahun baru ramai bakar-bakar. Bakar jagung, bakar ayam, bakar ikan, bakar kambing, itu juga sah-sah saja asal jangan bakar rumah. Nanti mau tinggal dimana.

Ucapan tahun baru hijriyah apa perlu? Bukan persoalan perlu atau tidak. Apalagi kalau dibadingkan zaman Rasul waktu itu, pasti tidak ada yang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Apalagi lewat berbagi sosmed, pakai kartu ucapan aja tidak. Apakah tidak menyalahi atau bid’ah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan rasul? Ketimbang melabel bid’ah atau tidak lebih baik melihat sisi positifnya. Siapa yang tidak mau selamat, semua orang mau selamat, apalagi dari tahun ke tahun, hidup selamat, seperti selamat dari kejahatan, selamat dari fitnah, selamat dari tindakan penggelapan uang, dan selamat dari korupsi. Siapa yang tidak ingin limpahan doa dan kebaikan. Biasanya orang mengucapkan selamat beriiring doa. Tidak ada doa yang buruk dalam mengiringi kebaikan. Ada doa dan harapan setelahnya, jika diaminkan, dan dikabulkan ada tebaran kebaikan.

Saya tidak lagi mempersoalkan acara apapun dan kegiatan apapun selama itu bermanfaat terkait dengan hijriyah, kenapa tidak, tetapi jangan dilupakan makna hijriyah sesungguhnya. Saya coba menuliskan beberapa diantaranya:

1. Momentum Dakwah
Terdapat makna perjalanan dakwah dalam hijriyah. Sekian lama rasul dan sahabat berdakwah di Mekah tidak memberikan kemajuan yang berarti. Malah penindasan, cacian dan makian yang makin menggila, bahkan nyawa pun teracam. Ditengah kesulitan itu tidak ada toleran untuk bargaining, menukar apalagi menggadai keyakinan yang didakwahkan. Pilihan tepat adalah pindah. Itulah hijrah. Meninggalkan Mekkah, menata kehidupan yang lebih baik menuju Madinah.

2. Merefleksikan dakwah
Memotret kehidupan dakwah Rasul meski penuh dengan darah dan nyawa kala itu, bukan berarti kita serta merta melakukan itu. Tidak ada yang memulai itu, meskipun derita luar biasa karena perlakuan kafir mekkah. Ketika Rasul kembali dan mendapat kemenangan tidak ada satu tetes darahpun yang menetes. Rasul tidak membalas perlakukan keji mereka. Rasul mendakwahkan adalah agama kasih sayang bagi alam semesta, bukan saja manusia tetapi seluruh makhluk Allah di muka bumi “Rahmatan lil ‘alamiin”. Peace ya.. hidup dalam damai dan terus berbuat baik.

3. Hijrah artinya Move on
Masih hidup bergeraklah. Kalau sudah tidak hidup tinggal digotong aja ke makam (hee… sadis). Memilih hidup artinya bergerak. Bukan juga kutu loncat, bergerak sana-sini. Kehidupan tidak selalu berjalan mulus dan linier. Penuh liku, percabangan dan lubang. Jika masuk kedalam wilayah yang membuat terpuruk, mundur dan terjerebab jurang jangan diteruskan. tidak perlu lama menyiksa diri segera bergerak pada tempat yang membahagiakan dan mencerahkan. Hijrah itulah pindah dari yang gelap menuju terang, buruk menuju baik, galau ke move on, sakit menuju sehat dan Lesu menuju semangat
Bukan hal yang mudah untuk bergerak positif, butuh pengorbanan dan kekuatan berlebih. Tetapi bukan hal yang sulit pula, karena perubahan bisa dilakukan.
Makna selanjutnya sudah tidak terpikir, ketikan langsung menuju end, bunyi azan subuh membuat saya kudu hijrah ke mekkah, walah jauh amat.. bergerak menuju tempat lain.
salam

Mendidik, Bukan Memenuhi Isi Kepala, Namun juga Memupuk Jiwa

Mendidik, Bukan Memenuhi Isi Kepala, Namun juga Memupuk Jiwa

Apa sich makna mendidik? Pertanyaan yang bisa berat jawabnya bisa juga ringan. Ringannya lakukan sebagai pendidik sejati dengan memberi pendidikan yang bermakna, berempatis dan tiada akhir.. yach berat juga ya maknanya. Mungkin karena saya yang jawab dengan segudang permasalahan pendidikan jadi jawabnya terkontaminasi dengan apa yang ada dalam isi kepala ini.
Mendidik itu bukan seperti membuat sambal, kalau yang makan kepedesan dan sakit perut, tinggal bilang, ‘sudah tahu pedes, dimakan’. Padahal karena pedesnya itu bisa makan banyak dan berselera, karena itu sambal dicari. Mendidik tidak terasa efeknya dalam waktu singkat. Butuh waktu untuk dapat berwujud seperti apa jadinya. Apakah sesuai dengan harapan atau jauh dari harapan.
Tidak sedikit yang salah kaprah dengan akan makna pendidikan. mendidik, artinya mengajarkan pelajaran dan tes kemampuan akan yang sudah diajarkan, itu namanya mengajar. Just transfer knowledge. Maka target sukses ngajar jika tingkat kefahaman melampaui angka yang ditargetkan. Angka menjadi patokan. Orangtua siswa akan resah jika anak mendapat angka rendah dalam ulangan. Sebaliknya merasa bangga dan bahagia kalau anaknya dapat angka tinggi dan melapau temen sekelas kalau perlu sesekolahannya.
Padahal hasil dari mendidik bukanlah sekedar kumpulan angka.

Angka representasi kognitif
Kecenderungan materialis, mengarah kepada usaha pemburuan angka. Padahal angka secara dominan dalam pendidikan hanya mengukur kemampuan kognitif, kemampuan nalar, berpikir dan intelektual. Dari kemampuan mengingat, menerapkan sampai mengevaluasi. Jika hanya aspek itu yang diajarkan, kekusutan dunia bisa makin bertambah. Sudah banyak contoh kemapuan intelektual yang hebat dan pengetahuan yang banyak tidak lantas membuat yang bersangkutan sukses dalam menjembatani hidup.
Diusia produktif dengan kepandaian yang luarbiasa, harus rela berada dalam kungkungan pesakitan, mempertanggungjawabkan laku yang merugikan diri. (tanggungjawab terpaksa, karena ketahuan) senyatanya tidak ada yang luput dalam pengetahuan-Nya. Aman di dunia, belum tentu aman di akhirat. Terjebak dalam pengejaran sebuah wujud material, deretan nominal, label kehormatan, dan kejantanan. (ngemeng apa ya ini… sambungin aja dech). Membuat manusia terperdaya dalam kebahagian yang semu.
Ada yag terlupa bahwa sesungguhnya mendidik buka hanya memenuhi isi kepala dengan berbagai pengetahuan, strategi dan analisis yang jago sehingga selalu dapat memenangkan apa yang menjadi buruan. Tetapi sesungguhnya mendidik juga membalut jiwa menjadi lembut, konsisten dalam kebenaran, jujur, empatis dan berlaku baik yang membawa kepada kebahagian abadi.

Mendidik Memupuk Jiwa
Memenuhi pribadi yang teguh memegang nilai, memiliki sikap dan karakter. Itulah persolan mendidik yang tidak mudah. Membiasakan perilaku baik tentu lebih sulit ketimbang menjejalkan pengetahuan kepada anak. Anak lebih mudah menghafal perkalian ketimbang bisa tertib mengantri atau berdisiplin mentaati aturan. So, tidak perlu khawatir anak belum dapat baca atau hitung. Karena suatu saat dia akan bisa juga, toh kemamuan menghitung 1 -10 saja sudah bisa modal untuk hidup (jadi wasit tinju aja hitungnya paling banyak sampe 10).

Akhirnya memang tidak mudah mendidik, lalu bagaimana. Sudahkah para guru yang mengajar juga mendidik. Seyogyanya mesti.
Salam