Mendidik, Bukan Memenuhi Isi Kepala, Namun juga Memupuk Jiwa

Mendidik, Bukan Memenuhi Isi Kepala, Namun juga Memupuk Jiwa

Apa sich makna mendidik? Pertanyaan yang bisa berat jawabnya bisa juga ringan. Ringannya lakukan sebagai pendidik sejati dengan memberi pendidikan yang bermakna, berempatis dan tiada akhir.. yach berat juga ya maknanya. Mungkin karena saya yang jawab dengan segudang permasalahan pendidikan jadi jawabnya terkontaminasi dengan apa yang ada dalam isi kepala ini.
Mendidik itu bukan seperti membuat sambal, kalau yang makan kepedesan dan sakit perut, tinggal bilang, ‘sudah tahu pedes, dimakan’. Padahal karena pedesnya itu bisa makan banyak dan berselera, karena itu sambal dicari. Mendidik tidak terasa efeknya dalam waktu singkat. Butuh waktu untuk dapat berwujud seperti apa jadinya. Apakah sesuai dengan harapan atau jauh dari harapan.
Tidak sedikit yang salah kaprah dengan akan makna pendidikan. mendidik, artinya mengajarkan pelajaran dan tes kemampuan akan yang sudah diajarkan, itu namanya mengajar. Just transfer knowledge. Maka target sukses ngajar jika tingkat kefahaman melampaui angka yang ditargetkan. Angka menjadi patokan. Orangtua siswa akan resah jika anak mendapat angka rendah dalam ulangan. Sebaliknya merasa bangga dan bahagia kalau anaknya dapat angka tinggi dan melapau temen sekelas kalau perlu sesekolahannya.
Padahal hasil dari mendidik bukanlah sekedar kumpulan angka.

Angka representasi kognitif
Kecenderungan materialis, mengarah kepada usaha pemburuan angka. Padahal angka secara dominan dalam pendidikan hanya mengukur kemampuan kognitif, kemampuan nalar, berpikir dan intelektual. Dari kemampuan mengingat, menerapkan sampai mengevaluasi. Jika hanya aspek itu yang diajarkan, kekusutan dunia bisa makin bertambah. Sudah banyak contoh kemapuan intelektual yang hebat dan pengetahuan yang banyak tidak lantas membuat yang bersangkutan sukses dalam menjembatani hidup.
Diusia produktif dengan kepandaian yang luarbiasa, harus rela berada dalam kungkungan pesakitan, mempertanggungjawabkan laku yang merugikan diri. (tanggungjawab terpaksa, karena ketahuan) senyatanya tidak ada yang luput dalam pengetahuan-Nya. Aman di dunia, belum tentu aman di akhirat. Terjebak dalam pengejaran sebuah wujud material, deretan nominal, label kehormatan, dan kejantanan. (ngemeng apa ya ini… sambungin aja dech). Membuat manusia terperdaya dalam kebahagian yang semu.
Ada yag terlupa bahwa sesungguhnya mendidik buka hanya memenuhi isi kepala dengan berbagai pengetahuan, strategi dan analisis yang jago sehingga selalu dapat memenangkan apa yang menjadi buruan. Tetapi sesungguhnya mendidik juga membalut jiwa menjadi lembut, konsisten dalam kebenaran, jujur, empatis dan berlaku baik yang membawa kepada kebahagian abadi.

Mendidik Memupuk Jiwa
Memenuhi pribadi yang teguh memegang nilai, memiliki sikap dan karakter. Itulah persolan mendidik yang tidak mudah. Membiasakan perilaku baik tentu lebih sulit ketimbang menjejalkan pengetahuan kepada anak. Anak lebih mudah menghafal perkalian ketimbang bisa tertib mengantri atau berdisiplin mentaati aturan. So, tidak perlu khawatir anak belum dapat baca atau hitung. Karena suatu saat dia akan bisa juga, toh kemamuan menghitung 1 -10 saja sudah bisa modal untuk hidup (jadi wasit tinju aja hitungnya paling banyak sampe 10).

Akhirnya memang tidak mudah mendidik, lalu bagaimana. Sudahkah para guru yang mengajar juga mendidik. Seyogyanya mesti.
Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s