Malaikat Pun Bertanya, Siapakah Peniup Trompet Itu?

Malaikat Pun Bertanya, Siapakah Peniup Trompet Itu?

 

Dalam keheningan dan kesunyian malam para malaikat tengah bertasbih memuji Tuhan. Namun mendekati jam 12 malam, para malaikat dikagetkan dengan apa yang terjadi di bumi. Seolah-olah terjadi susul-menyusul ledakan dan  lompatan cahaya yang di langit yang kejar-mengejar. Lebih dikagetkan lagi dengan bunyi terompet yang terus menerus. Sampai berpikir salah satu malaikat mengenai tugas temannya yang meniup sangkakala, apakah tugas malaiat yang meniup sangkakala sudah dimulai?

 

Biasanya suara di bumi ketika hening menuju malam, banyak yang menyampaikan doa dengan tangisan dan tiada henti. Doa  yang tercatat terfavorit saat ini yaitu, pertama para caleg yang ingin lolos dalam pemilihan 2014. Malaikat pun mulai enggan mencatat doa-doa mereka, karena mereka lupa dengan janjinya saat setelah kursi yang mereka inginkan didapat.

 

Doa terfavorit kedua adalah doa para koruptor yang ingin dibebaskan dari jeratan hukum tanpa merasa bersalah dan menyesal. Malaikat pun sudah mulai bosan, para koruptor paling pandai membujuk rayu, dan membohongi. Begitu serakah dan tidak peduli, sampai masuk terporosok lubang pun masih belum menyadari segala kesalahan diri. Menyalahkan sistem yang membuatnya berlaku demikian itulah yang sering didengar. Sibuk dengan dendam dan menyalahkan yang lain, jika sekarang mendekam dalam hotel prodeo, sebenrnya ada yang mesti bertanggung jawab dan memliki kesalahan besar atas ini semua yaitu atasan. Begitulah gumam para korotor yang tidak sedikitpun merasa menyesal dan beritikad baik.

 

Akibat perbuatan merampok harta rakyat, banyak rakyat yang sengsara makin menderita. Sulit menikmati beras murah, harga daging yang terjangkau, atau biaya sekolah gratis. Koruptor tidak menyadari anak-anak yang menggelandang, memungut recehan dengan mengelap sepatu, membawa payung saat hujan dan membawakan barang bawaan orang yang berbelanja demi untuk bisa makan dan ongkos bersekolah.

 

Malaikat sangat senang mendengarkan doa anak-anak yang tertindas dan menginginkan perbaikan, menengar doa tulus orang-orang miskin papa yang ingin diberikan kekuatan dan kesabaran serta doa orang kaya yang ingn hartanya diberi keberkahan agar mampu berbagi tanpa banyak halangan dan merasa riya atau ingin dipuji orang.

 

Namun saat menjelang tengah malam waktu itu, malaikat benar-benar dikagetkan, suara doa dan tangisan mengadukan kesulitan dan keadaan hidup tidak sebanyak saat sebelumnya. Malam itu banyak terdengar suara musik, tawa dan hingar binger sejak sore hingga tengah malam yang makin menjadi. Apakah Tuhan mulai memerintahkan kiamat, siapakah yang meniup terompet itu, namun tidak ada goncangan di bumi. Malaikat pun bertanya-tanya.

Keletihan dan Ketidakstabilan Emosi

Keletihan dan Ketidakstabilan Emosi

 

Siapa pun tidk ingin mengecewakan orang lain juga diri sendiri. Saat orang lain membutuhkan bantuan, dengan senang hati membantu dan melakukan apa yang bisa dikerjakan. Begitu pula dengan diri sendiri, ketika komitmen tugas dan waktu tertentu akan hasrat memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri, lega jika sudah bisa dilakukan. Menuliskan  apa yang ada di kepala, melakukan olah raga, itu bagian dari pekerjaan yang membuat diri senang. Apalagi berat badan setelah melahirkan kembali normal. Huhu.. sebenarnya sehat yang utama, turun berat badan itu bonus tambahan. Begitu juga menulis, mengasah dan mengolah rasa dan  pikir itu yang utama, jika bermanfaat untuk orang lain itu bonus luar biasa.

Menjaga untuk tetap komitmen melalakukan jadwal sendiri,  dan membantu pekerjaan orang-orang terdekat kita tentu tidak mudah apalagi saat letih mendera. Apa yang terjadi bukan saja pekerjaan tidak beres tetapi  hubungan emosional dengan orang terdekat dan emosi diri sendiri mulai tidak stabil.

Saat letih mudah sekali merasa sedih, meluncur kata tidak bersemangat (masih sodaraan sama ngeluh), badan terasa sakit dan kata-kata tidak terkontrol (bisa menyakiti orang lain). Jika dalam keadaan seperti itu menutup kamar dan apapun yang kita lakukan tidak ada kontak dengan orang lain (termasuk tidak sms) mungkin sedikit aman. Karena hanya tinggal memulihkan diri sendiri. Bisa langsung tidur, meditasi, atau berzikir seperti yang diajarkan Rasul kepada Fatimah saat lelah dengan pekerjaan rumah tangga. Karena ketika Fatimah curhat dan meminta pembantu kepada Ayahnya, justru Ayahnya memberi sesuatu yang lebih dari pembantu.

Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293).

 

Siapa yang tidak percaya kepada kekuatan Tuhan? Segalanya mungkin bagi-Nya, bermohon dan mengagungkan nama-Nya, yang diri ini ada dalam kekuasaan-Nya tentulah hal tepat. Bisa jadi dengan begitu, meski lelah seharian, menjelang tidur dan berdoa, bangun bukan saja segar secara fisik tetapi juga ketenangan dalam batin.

Kemarin saya mengalami hari yang belum juga matahari penuh keluar, lelah begitu mendera, bangun pukul 2 dan mengerjakan semua pekerjaan orang-orang terdekat yang tertunda. Pagi sebelum jam 6 saya harus berangkat bimbingan draf proposal tugas akhir yang sebelumnya sudah janji pagi datang bimbingan. Namun sayang tidak membuahkan hasil, yang saya temui sedang berada diluar, tetaplah bukan salah Pembimbing. Mahasiswa kan bisa saja datang hari lain. hehe.. ngobati mahasiswa yang suka pengen cepet acc, sabar ya.. nanti ada waktunya.. jalani aja.

Sambil menuliskan kejadian ini, sebelumnya saya tidak sadar dan patuh bacaan zikir, meski sebelum tidur selalu berdoa, namun zikir tidak konsisten. Paling tidak ada komitmen baru dan kekuatan baru, siang hari bekerja, ikhlas dan bersemangat. Malam sebelum tidur berdoa, dan zikir membaca takbir, tasbih dan tahmid, agar bangun pagi hari dengan energi baru, semangat baru dan tetap terjaga emosi yang stabil.

Kalau sudah begini, bagi saya setiap hari adalah hari baru dan tahun baru.. hehe.. bingung dech.. kalau hari baru , iya. tapi kalau tahun baru setiap hari,  mau tahun ke berapa jika tahun baru terus. Ah.. kelewatan.. wkaka..

 

Tetep Semangat Baru. Selamat Tahun Baru All…

 

Menikah lagi

Menikah lagi

Entah apa yang dipikirkan anak usia 10 tahun dan 15 tahun, mereka berdua menangis di kamar, sementara di rumahnya sedang begitu ramai, orang-oarang berkumpul menghadiri pernikahan ibunya yang kedua kali. Sejak kurang lebih sepuluh tahun lalu, ayah mereka meninggalkan rumah, anak dua ini hidup bersama ibu dan neneknya. Ibu mereka bekerja di warung nasi, dan selama itu pula mereka dapat hidup baik dan bersekolah seolh ayah yang tidak bertanggung jawab itu hilang bersama angin.

Bagi orang dewasa melihat pernikahan itu sebuah kehidupan baru yang membahagiakan bagi ibunya, namun entah bagi keduan anaknya. Usia anak-anak dan remaja belum memahami betul makna kehidupan ke depan apalagi kehidupan berkeluarga, yang saat ini mereka rasakan ada orang asing yang tidak dikenal anak-anaknya masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka. Dan orang asing ini tentu akan menyita waktu dan perhatian ibunya. Bagaimana pun ibu ini sudah menjadi isteri yang memiliki tugas baru terhadap suaminya.

Memang keputusan berat menikah lagi dengan keadaan yang tidak sendiri lagi, terlebih dengan anak-anak yang sudah remaja, bukan hal yang mudah. Remaja yang sikapnya spontan, tanpa pikir panjang dan merespon langsung apa yang ada di depannya, butuh pemahaman dan kesepakatan dengan keluarga saat menentukan kehidupan bagi kehidupan bersama.

Karena itu ada hal yang diperhitungkan matang saat keputusan menikah lagi,

1. New comer kudu jalin emosi dengan Anak

Bagi anak-anak orangtua seburuk apapun tetaplah orangtua. Ada ikatan emosional dalam dan terjalin lama, ada kasih sayang meski dalam pertengkaran. Saat jauh terpisah atau tidak bersatu lagi, memasukan orang baru dalam kehidupan di tengah anak-anak yang belum memahami hidup orang dewasa, butuh waktu untuk memberikan kepercayaan dalam hubungan yang hangat dengan orang baru yang akan memasuki kehidupan keluarga. Bukan lagi kata yang terucap tetapi perilaku yang ditunjukkan.  Mereka belum paham untuk memasuki pikiran orang dewasa. Berbeda jika anak-anak sudah dewasa, jika orangtua mereka salah satunya tidak ada, mereka kadang menyarankan kepada orangtuanya untuk menikah lagi, apalagi itu adalah ayah. Alasan sederhana, anak-anak sudah berkeluarga, ayah tidak ada yang mengurus dengan penuh, karena itu ayah boleh mencari pendamping baru.

Namun begitu, mengambil keputusan dan memberitahu bakal calon yang dipilih tetaplah didiskusikan dangan anak-anak dan keptusan disepakati bersama. Karena hidup ke depan bukan hanya mereka berdua tetapi melibatkan seluurh komponen keluarga. Menikah bukan saja hubungan suami dan isteri tetapi hubungan kedua belah kelurga yang saling memahami.

2.  Perhitugkan kebaikan yang bisa diterima bersama

Menikah hanya memperburuk keadaan keluarga, lebih baik tetap melajang. Meski cinta berat dan cinta mati, rasionalitas tetap dijalankan. Selama hidup sendiri ibu menanggung kehidupan anak dan keluarga, jika menikah lagi dengan lelaki yang hanya menambah beban, seperti tidak punya keahlian, tidak memiliki pekerjaan, tetapi hobi berpoya-poya, buang aja ke laut hubungan itu, meski wajah ganteng tetapi tidak memiliki kepribadian jelas, tentu tidak berkelas, hanya akan  mendatangkan kehidupan yang bakal tidak jelas.

Begitupula bagi lelaki yang kebelet menikah lagi, meski wajah cantik selangit sampai susah tidur mengingat parasnya tetapi memiliki perangai buruk yang bakal menghancurkan pundi-pundi yang telah dibangun, lebih baik lupakan keputusan hidup bersama. Karena bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga biasanya keluarga turut menderita.

Lelaki tua menikah dengan ABG kinyis-kinyis, hobi dugem, pakaian yang dikenakan mesti barang branded, dan bergaul tanpa batas, jangan harap kehidupan keluarga yang mendamaikan, bisa jadi malah mempercepat kematian memikirkan perilaku isteri dan kekeliruan diri.

Menikah bukan sekedar kesenangan semata, tetapi nilai kebaikan yang bisa diperbuat bagi diri, keluarga dan orang lain. Doa dalam pernikahan sangat  indah, memohon keberkahan dan menyatukan kedua insan dalam kebaikan. Menikah dengan orang yang memiliki sikap dan sifat yang belum tepat, berharap suatu saat yang belum tepat ituakan bisa berubah, karena cita bis merubahnya, itu khayalan yang jauh dari nyata.

Anda menikah dengan cewek matre bin boros berharap setelah menikah bisa jadi manita hemat dan gemar menabung. Atau sebaliknya menikah dengan cowok jelalatan bin playboy berharap setelah menikah bisa jadi lelaki jinak dan tertunduk mata jika lihat harem. Tentu keputusan ini tidak ada salahnya. Tetapi berharap mereka berubah seperti yang diinginkan jauh dari langit. Karena berubah semata karena kemauan diri dan petunjuk Ilahi bukan karena Anda sepenuhnya.

Jika terpaksa menikah lebih baik Anda yang menyiapkan energi khusus untuk berdampingan dengan sikap dan sifatnya. Siapkan emas berlian segunung untuk cewek matre bin boros meski itu tidak akan pernah cukup. atau lapangkan dada untuk cowok jelalatan bin playboy sampai kering air mata.

Memang bukan hal mudah dua insan berbeda untuk bersatu, terlebih melibatkan keluarga dengan isi kepala yang berbeda. Tetapi jika didasari kebaikan dan dilakukan kebaikan-kebaikan, segala yang berbeda akan bersepakat bersama dalam kebaikan. Butuh waktu dan pengorbanan dalam sebuah kebahagiaan.

Semoga anak-anak yang menangis tadi karena ibunya menikah lagi, diberikan kebahagiaan dan memiliki harapan baik dalam keluarga orangtua mereka yang baru menentramkan membahagiakan dan penuh kasih sayang.

 

#hadiri pernikahan tetangga 29.12.13

Ibu Sekolah Pertama Anak # Perempuan 1

Ibu Sekolah Pertama Anak  # Perempuan 1

Saya tidak terlalu faham gender, tetapi buatku perempuan harus lebih cerdas dan lebih baik. Tanpa mengesampingkan peran laki-laki, karena semunya berjalan secara harmoni membentuk pribadi-pribadi yang dapat berperan lebih baik. Bagaimana mungkin ada perempuan-isteri  hebat tanpa dukungan suami. Sebaliknya dibalik laki-laki yang hebat ada perempuan yang hebat pula. Dalam sebuah keluarga dan peran dalam keluarga mampu membuat laki-laki atau perempuan menjadi berdaya. karena itu tidak ada kesuksean pula tanpa keluarga.

“Al-umm madrosatul ula” ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah teman setia yang mengasuh, mendidik dan mengajarkan dunia kepada anaknya. Anak mengenal dunia luar beberapa tahun setelah kelahariannya melalui ibu. Bayangkan jika anak ada dalam pengasuhan  ibu yang cerdas dan sholeh tentu apa yang diajarkan, dan cara mengasuh yang digunakan juga cara yang cerdas.

Sikap dan perilaku ibu sangat mudah ditiru anak, cara ibu bicara, cara ibu mensikapi masalah, bahkan cara ibu manyun karena marah, bisa ditiru anak. Anak belajar dan lekat dengan ibu. Karena itu hati-hati juga jangan sampai anak meniru sikap dan perilaku pembantu- Mbok Iyem yang ngasuh anak di rumah, Sejak bayi merah sampai balita Iyem yang ngasuh, ibu bekerja keluar rumah, Iyem bekerja di rumah Ibu. Jadilah anak-anak adalah anak Iyem. Tidak heran jika gaya-gaya dan senyumnya aja mirip Iyem. Hehe..tiap hari yang dilihat gayanya iyem.

Saya juga bukan wanita rumahan murni, oplosan dalam dan luar. Setengah di rumah dan setengah diluar rumah. Hehe… diluar ngajar mahasiswa, di rumah ngajar mahaguru. Anak-anak itu sebenarnya adalah guru dalam kehidupan. Ada banyak hal yang saya lupa anak memperlihatkannya.

Kepolosan, keceriaan dan kebahagiaan anak-anak adalah nafas dalam hidup. Apalagi saat mereka bayi, dia telah berjasa mengatarkan ibunya untuk menjadi sabar, tenang dan disiplin. Bagaimana tidak sabar, dia bangun di tengah kita sedang lelap tertidur. Anak jatuh atau sakit, ibu belajar tenang, karena kalau panik terbaca oleh anak dan tidak memberikan efek positif. Anak merengek menangis kesakitan, ibu obati dan usap sambil mengatakan “sebentar lagi sembuh…” Perilaku dan kata itu menjadi sebuah keyakinan dan membuat tenang anak.

Usia balita masih belajar toilet training, jika tidak disiplin, serem ya dengar kata disiplin, maksud saya dibiasakan untuk buang air kecil, tentu anak tidak akan mudah mengompol. Kalau khawatir mengompol kan bisa gunakan diaper- penyerap anti bocor. Hmm.. Saya gunakan itu biasanya  dalam keadaan darurat saja seperti membawa anak berpergian- keluar rumah. Setelah setahun sudah bisa terlihat pola anak buang air kecil. Tidak jauh beda dengan orang dewasa, bangun tidur pastilah ke kamar mandi, siang, sore  setelah makan dan sebelum tidur itu jam yang memungkinkan bisa digunakan membawa anak ke kamar mandi. Aman dijamin tidak banyak ompol dimana-mana.

Meskipun pekerjaan itu bisa diatasi oleh pembantu, tetapi jika saya dapat melakukannya sendiri sangat senang. Saya percaya anak pun akan lebih senang jika ibunya yang langsung membantu, mengasuh dan merawatnya. Naluri sebagai ibu pun demikian mengasuh dan merawat. Meskipun Ayah bisa lakukan, tetapi daya tahannya pasti berbeda dengan Ibu.

Masih banyak hal lain menyenangkan menjadi seorang Ibu. Tunggu dicerita lainnya ya..

DALAM DOAMU IBU

DALAM DOAMU IBU  

 

Rintik hujan di pagi hari, tanggal 22 Desember bagai melodi iringi haru mengingat jasa, perjuangan dan pengorbanan ibu. Aku tidak kuasa menahan air mata mengenang jasa Ibu. Aku tidak begitu ingat bagaimana waktu bayi diberi kasih sayang, memori yang tersimpan sekitar usia menginjak awal Sekolah Dasar. Seingat kenang dalam benak ini, ibu begitu semangat untuk mengajarakan anaknya pendidikan agama.

 

Setelah pulang sekolah di SD, siang harinya aku diantar ibu sampai menyebrang jalan untuk belajar agama di Madrasah  Diniyah. Selain ketelatenan ibu menyiapkan aku berangkat belajar, aku juga teringat keceriaan  bersama teman di sekolah diniyah yang kadang tidak ada guru, aku dan teman-teman pasti bermain, berenang di sungai yang aliran airnya tidak jauh dari danau, air jernih, bersih, dan sungainya lebar.

 

Melompat dari jembatan main petak umpet di bawah air,  menyenangkan. Pulang ke rumah mata sudah merah, karena terlalu lama bermain air, ibu terlihat marah. Aku hanya bilang, habis gurunya tidak datang.

 

Sampai aku lulus sekolah dasar ibu masih mengarahkanku untuk belajar agama. Aku dikirim ke pesantren. Meski waktu itu guru di sekolah menyaranankan dan akan mendaftarkan  untuk masuk ke SMP Negeri, ibu menolak. Di awal tahun di pesantren, aku adalah anak manis,  aku didaftarkan di MTs swasta, padahal ada negeri tetapi karena tidak mengerti dan ibu juga tidak tahu, dijalani saja.  Karena sekolah MTs ada diluar lingkungan pesantren dan aku mulai suka dengan kegiatan eskul, kerja kelompok, dan ikut cerdas cermat, kegiatan di pondok jarang kuikuti kecuali malam selepas magrib, dan subuh sebelum berangkat sekolah. Jika tidak ada kegiatan sekolah pun kadang aku tidak langsung pulang, lebih banyak di sekolah, jadilah suruhan guru, ngoreksi hasil ujian, nulisi tulisan angka di rapot, mungkin tulisan tanganku dianggap bagus.

 

Aku bukan dari keluarga yang kecukupan. Kadang bekal  di pesantren sudah habis, ibu belum datang juga mengirim uang. Dan aku termasuk yang sulit mengatur keuangan, karena kegiatan diluar sekolah tadi yang tidak masuk perhitungan. Dipikir ibu cukup satu bulan, buatku itu cukup untuk 3 minggu. Minggu terakhir aku puasa. Dengan aturan sunah yang tidak jelas. Puasa senin kamis bukan, daud juga bukan. Pokoknya setiap hari puasa sampai ibu datang ke pondok. Uang hanya cukup untuk ongkos sekolah. Aku buka dan sahur sedapatnya, yang pasti sekedar air putih dan sepotong kue bisa didapat, tetapi untuk beli nasi dan lauk tidak cukup.

 

Pernah ku ceritakan ini kepada ibu, kenapa ibu lama datangnya, aku seminggu puasa, karena tidak cukup uang untuk makan. Ibu mengatakan baru ada uang dari hasil jual panen kebun dan ikan. Ibu terlihat berkaca-kaca membendung air mata dan tersenyum. Dia hanya bilang dihemat.

 

Urusan keuangan sekolah tidak begitu kesulitan, karena sekolah memberi beasiswa bagi yang juara kelas, selama satu semester. Sejak masuk sekolah aku hanya bayar SPP di awal masuk karena waktu itu aku belum dapat rangking satu. Setelah itu sampai lulus aku tidak bayar sekolah.

 

Tamat MTs, ibu memintaku untuk masuk lagi sekolah agama, meski waktu itu aku ditawari dan akan didaftarkan oleh guru masuk ke SMA Negeri di Cibinong. Ibu meyarankan masuk sekolah agama lagi, tetapi kini yang mencari sekolah tetaplah aku sendiri. Aku pernah dengar sekolah agama di kota Bogor, aku mencari sendiri dan daftar di sekolah tersebut. Sejak itu karena jarak rumah ke sekolah lebih dekat dari rumah, aku tidak lagi tinggal di pondok.

 

Aku termasuk anak yang mandiri dan sangat memahami kesibukan orangtua bantu Bapak  serta mengurus adik. Kadang jika ada rapat sekolah aku tidak memberitahu ibu. Aku hanya tanyakan ke sekolah apa keputusan rapat, dan hasilnya kusampaikan kepada ibu. Walhasil hingga aku lulus, ibu tidak tahu aku sekolah dimana, karena tidak ada acara orangtua di sekolah yang sempat dihadiri.

Lulus sekolah dan memilih Perguruan Tinggi, aku pikir ini kebebasanku memilih, aku memilih jurusan kedokteran UI dan ikut UMPTN. Sebenarnya orangtua tidak izinkan, aku tetap daftar dan tidak lulus. Whehe.. sadar kejauhan standarnya. Ibu tetap sarankan untuk masuk jurusan agama, tidak ada minat kuliah tahun itu, ingin coba UMPTN tahun depan  tetapi ibu tidak setuju, ibu meminta kuliah yang dekat rumah saja, di UIKA. Kampus yang setiap hari ku lewati jika berangkat ke sekolah, sepertinya sepi tidak ada kehidupan hehe… dalam hati bangunanpun masih bagus sekolah sebelumnya.  Meski kurang begitu semangat, aku sempat juga melihat batas akhir pendaftaran 31 Agustus.

 

Selama bulan Juli sampai Agustus, aku ikut bekerja dengan tetanggaku di pabrik busana. Merasakan bekerja yang persis kerja rodi, tidak bebas, di bawah tekanan, selalu diawasi dan kata-kata teguran yang sadis. Aku memperhatikan orang-orang bekerja, rerata mereka tamat SD, SMP dan paling tinggi SMA. Bagian pengawas lulus SMA dan teramasuk senior di tempat kerja. Karyawan banyak membenci pengawas ini dan sering disumpahi, perawan tua, disebut emak lampir, nenek sihir dan lainnya karena tidak suka dengan sikap dan cara dia mengawas dan menegur karyawan. Melihat kejadian itu, pelajaran besar buatku, pilihan sekolah lagi adalah yang paling tepat.

 

Di rumah ibu, bertanya lagi, kapan mau daftar kuliah, ibu sudah siapkan untuk pendaftaran. Sore menjelang sehari penutupan pendaftaran aku beragkat daftar. Ternyata kampus itu memiliki  dua lokasi, di jalan baru dan di Jl. RE. Martadinata, lokasi pendaftaran ada di jalan RE Martadinata. Waktu berlalu sewaktu memilih jurusan ibu tetap menyarankan untuk pilih agama. Alamak… ya, meski begitu aku ikuti. Di pertengahan semester dua, aku bosan dengan pelajaran agama, rasanya ingin pindah Jurusan Teknik atau Ekonomi. Kuceritakan kepada ibu, kali ini ibu bilang terserah mana aja baiknya.

 

Bingung jadi bertambah, karena jika kujalani tanpa dukungan ibu, rasanya aku tidak bisa. Aku bahagia jika ibu bahagia. Akhirnya ku katakan tidak jadi pindah tanggung nanti sama juga, lulus kudu kerja. Kayaknya jadi guru lebih aman. Kalau punya anak dan keluarga bisa di rumah dan ngajar sedikit aja. Kalau kerja begitu di perusahaan kata temen bisa dipecat. Ya aku pilih tetap teruskan kuliah di Jurusan Pendidikan Agama.

 

Tidak banyak kesulitan mengikuti mata kuliah, yang sulit keuangan. Setiap semester bayar SPP dan SKS kelimpungan, sampai menjelang ujian belum lunas semua, langganan menghadap dan minta dispensasi ke pembantu Dekan II. Untungnya mereka baik, ujian jalan terus. Di semester 3 dapat beasiswa Supersemar karena dapat IP 4,0. Setelah itu tidak boleh dapat lagi karena gantian dengan yang lain.

 

Di rumah aku pernah saksikan ketika ibu bahas keuangan dengan bapak, untuk biaya semester aku dan adik-adik, mereka ribut. Bapak malah bilang ke aku, ‘kamu udah besar, terserah kamu kuliah, mau berhenti mu terus. Urus sendiri.’ Mendengar itu serasa panas kupingku, dan aku mesti selesaikan kuliah.

 

Besoknya aku cari teman yang bisa bantu aku kerja. Pernah aku tanya seorang teman yang terlihat cukup berada, ke kampus sudah gaya tante-tante, tas, sepatu, baju keren, tetapi ku cobalah tanya dia kerja dimana, mungkin aku bisa ikut. Dia bilang ‘aku banyak kenalan aja, kerja paling pergi keluar temenin jalan, ke puncak, atau ke mana aja, nanti pulang aku dikasih duit’. Wew.. tidak terbanyang di otakku itu kerja macam apa.

 

Aku kuliah tinggal dua semester lagi, semester 7 dan 8. Ketika libur akhir semester 6, aku ditawari pekerjaan entry data Purnawirawan tempatnya di gedung DKI Matraman, kerja jam 8 sampai jam 5, selebihnya hitung lembur, upahnya perhari 20 rb. Tanpa banyak pikir aku setuju dan besok langsung kerja, kurang lebih sebulan berangkat selepas subuh dan kembali selepas magrib sampai di rumah. Ini telah membantu keuangan dan semangat untuk selesaikan kuliah.

 

Di semester 8, ku ditawari dosen untuk jadi asisten dosen. Karena dosen ini akan mengambil kuliah S2, dia butuh pendamping ngajar. Sempat ragu bisa tau tidak, tetapi ini belum dicoba, lagi kalau aku lulus pun kerjaku ya ngajar. Aku jawab, ‘siap bu, kan nanti juga pekerjaan saya jadi guru dan mengajar.’ Minggu depan mulai masuk kelas, ikut bu dosen. Minggu ketiga bu dosen tidak masuk, dan saya melanjutkan ngajar di semester 5 kelas karyawan mata kuliah Psikologi Agama. Kelas ini adalah kelas karyawan, mahasiswa rata-rata sudah tua, dan kelas ini belum pernah saya masuki. Dengan senyum menatap mahsiswa tua-tua, yang juga menatapku di depan dengan senyum tanda tanya mungkin, aku mulai mengatakan ‘saya pengganti sementara dosen yang sebenarnya, saya asistennya.’ Ada yang bilang ini mah seuisa anak saya. Kept smile aja dah..

 

Hari menjelang wisuda tiba, orangtuaku bahagia sepertinya, mereka bersiap mengantarku. Di akhir acara wisuda ada pengumuman mahasiswa terbaik. Aku asyik ngobrol dengan teman sebelah, tidak ada dibenakku untuk dipanggil namaku dan maju ke depan. Kata temenku, ‘giliran Fakultasmu tu’. Iya aku dengar. Alamak..namaku dipanggil, aku tidak sangka, aku dapat lulusan terbaik. Aku hanya ingat ibu waktu itu. Ini adalah hadiah untuk ibu, yang selalu memberi semangat dan doa tiada henti.

 

Ketika acara selesai dan kami berkumpul, ibu bercerita bahwa mereka di belakang haru dan menitikan air mata, saat namauku dipanggil sebagai lulusan terbaik. Ibu dan bapakku tidak pernah mengatarkan dan tahu sekolahku di Madrasah Aliyah dan juga megurus daftarku dan datang ke kampus.  Tetapi kini anak itu sudah  jalankan dan  lulus dan terbaik. Aku haru juga mendengar cerita mereka.

 

Aku merasa ini karunia besar Allah yang telah diberikan kepada kami. Hadiah untuk ibuku yang semangat belajar di sekolah formal terpasung karena pernikah dini. Ibu yang sedang sekolah di SMP dipaksa menikah karena keluarga ibu banyak dan ibu adalah anak pertama dari 11 bersaudara. Ibu bertekad anaknya tidak boleh mengalami nasib serupa, dia harus sekolah setinggi-tingginya. Mungkin yang diingat ibu waktu itu sarjana, kini cita-cita ibu telah sampai, dari ketiga anak ibu yang kuliah, aku yang beberapa kali telah menyelesaikan sratara sarjana. Adikku terhambat dengan berbagai urusan pribadi.

Ketika aku jalani semua, aku tidak mengerti apa maknanya, aku hanya senang belajar dan belajar. Kini aku sadar, semua karena doa dan ridho ibu, Allah telah kabulkan doa ibu pada anak sulungnya yang tidak ada batas lagi permohonan dan ungkapan doa itu.

 

Kini doa kita antara aku dan ibu tidak ada penghalang. Aku memohon kepada Allah, agar ibu selalu sehat, bahagia apa yang dicita-citakan ibu, Allah beri kemudahan. Berziarah ke makam Rasul, melihat anak-anak, cucu yang sehat dan bahagia, keluarga kami semua yang tenang dan damai. Semoga ibu dapati sampai nanti.

 

Tanpamu ibu, aku tidak akan pada keadaan bahagia seperti ini. Selamat hari ibu, mengenang perjuanganmu tidak pernah usai.

 

 

 

 

Multitasking Keren Padahal Merugikan

Multitasking Keren Padahal Merugikan

 

Bisa mengerjakan banyak dalam waktu bersamaan wow.. keren kan. Bisa kirim email sambil browsing artikel, update status di facebook, di tweet dan sambil ngprint. Semua dikerjakan silih berganti.  Sedang kirim email, sambil membaca artikel yang sudah nongol di jendela sebelah.  Sambil baca nengok lagi ke email belum beres mengiirim karena muatan banyak, pindah ke facebook untuk tulis status dan komentar di wall. Sementara ngprint bahan siap dimulai. Tinta habis, sambil isi tinta, email gagal mengirim lampiran, ulangi email dan selesaikan isi tinta printer. Lihat inbox facebook, ada pesan masuk,  minta nomor dan alamat lengkap untuk kirim buku,  siap tulis yang diminta dan kirim.

 

 Begitu sibuk mata, tangan, pikiran yang melompat-lompat. Dari urusan satu ke urusan yang lain. Tanyakan hasilnya apa? Ternyata tidak sedikit yang membuat kesalahan, salah kirim artikel, lampiran yang dikirim kosong, bahan yang dpirint salah. Sungguh kerja yang tidak efektif. Ini pengalaman, melakukan dengan bergamam pekerjaan dalam sekali waktu, meski kecil tapi ini terasa mengganggu dan tidak efektif.

 

Bangun tidur dan bersiap untuk shalat, sambil nyalakan air pump karena tanki air kosong. Memasak air  karena termos kosong, nanti repot untuk buat susu bayi, atau membuat teh, kalau air termos kosong. Saya lakukan pekerjaan itu bebarengan. tekan stop kontak air, klik kompor nyalakan api dan siap shalat. Saya kira semua akan selesai setelah saya beres shalat, ternyata di beberapa menit rakaat terakhir, air sudah matang dan bunyinya makin kuat, ga mungkin shalat dibatalkan tanggung sedikit lagi. Saya biarkan, meski ketika shalat berpikir yang sedang tidur bisa terbangun, karena bunyi itu tidak berhenti dan makin keras. Hehe.. akhirnya ya, padahal dia baru nyenyak tidur.  Menganggu orang tidur dan shalat tidak fokus.

 

Masak sambil mengirim pesan, sms, seru lah.  Goreng tempe sambil jawab sms masuk untuk janjian pergi undangan, ketika agak serius tempat yang mana yang bisa strategis ketemu, mulai mikir dan kemudian mengirim pesan. Setelah selesai saya dapati tempe gosong. Hehe…

 

Contoh perkara di atas masih hal kecil, bagaimana jika hal-hal besar yang bukan saja merugikan diri tetapi juga mengancam nyawa orang lain. tentu kerugian yang sangat besar. Menelpon atau menulis pesan sambil menyetir kendaraan, memilih gelombang radio. Tiba-tiba ada kendaraan mendadak memotong, atau ada yang menyebrang, keputusan cepat mesti diambil tertunda beberapa detik, dalam kecepatan tinggi pula. Bayangkan saja apa yang terjadi.  Bisa jadi  telepon dan pesan yang dibuat sebagai telepon dan pesan terakhir kepada keluarga atau sahabat, karena maut mengancam.

 

Dalam urusan pekerjaan yang menyangkut karir dan masa depan multitasking bukan hal yang baik. Karena fokus terbagi. Meskipun bisa dilakukan, tetapi hanya sekedar bisa, dan itu memperlambat keberhasilan bidang yang sedang ditekuni. Tidak ada yang bisa dikerjakan dalam waktu bersamaan dengan hasil yang memuaskan.

 

Ini tentu hanya pendapat yang bisa saja diperdebatkan. Bisa saja ada yang memiliki pengalaman meski multitasking tetep sukses tu. Ok. Ceritakanlah gimana caranya?

 

Ibarat mengejar dua kelinci, sulit untuk mendapatkan keduanya dalam waktu yang sama.

 

UKUR PENDERITAAN

Tidak ada kesuksesan dan kebahagiaan tanpa perjuangan. Artinya banyak luka, duka, perih, lelah dan bermacam rasa yang berat yang dilewati untuk mencapai sesuatu yang tinggi. Ibarat menaiki sebuah bukit atau gunung, tentu perjalanan yang mendaki, terjal, dan curam. Bukan  perjalanan yang pendek, yang hanya selangkah atau dua langkah, tetapi perjalanan yang panjang dan kadang melelahkan.

 

Untuk sampai pada puncak yang tinggi, dilakukan langkah demi langkah. Mendaki dan meniti lngkah, tidak ada yang melangkah sekali langsung sampai di puncak gunung. Langkah adalah proses kecil yang dikerjakan terus menerus, hingga akhirnya sampai pada puncak yang tinggi.

 

Di puncak gunung, ketika berdiri di diketinggian sejenak nikmati pemandangan alam luas nan indah. Semua terlihat keseluruhan dari kejauhan puncak gunung. Ketika  di atas melihat ke bawah tempat kita berpijak, tempat hiruk pikuk bersaut.  Di atas ada langit luas yang terbentang, tidak ada penghuni lain selain kebesaran atas kuasaNya. Melihat ke bawah, melihat realitas kehidupan, dan beragam rupa wajah kehidupan.

 

Hidup dalam nyata, bukan sekedar angan kebahagiaan. Nyata usaha dan kerja yang dilakukan belum tentu sampai kepada hasil yang diharapkan. Hidup yang selalu mujur dengan kebaikan yang diperbuat dan mengira telah sampai kepada kesempurnaan hidup kini dan nanti, belumlah tentu. Hidup yang penuh dengan kesengsraan,  dan kekurangan hingga merasa lelah dan mengira bantuan dan pertolongan begitu jauh, tidak juga demikian. Semua kiraan tentang itu terjawab.

 

QS, 4:214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.

 

Nyata kehidupan yang telah lalu, tidak lepas dari cobaan. Malapetaka dan kesengsaraan serta goncangan hidup. Tuhan tidak diam, Tuhan melihat dan menyaksikan. Tuhan menyakinkan bahwa pertolongan itu dekat. Kesusahan di dunia tidaklah sebanding dengan kesengsaraan nanti. Ukur sedikit kesulitan yang dialami, belum seberapa pastinya.  Berjalan dan tetap mendaki percaya semua terganti dengan sempurna suatu saat nanti.  #reflect verse

 

Mengenal Ciri-Ciri Orang Besar

Cagito's Blog

Mengenal Ciri-Ciri Orang Besar

Membaca buku tentang ‘ayah’ yang mengkisahkan tentang bagaimana Hamka melalui penuturan seorang anaknya Irfan Hamka. Hamka seorang Ulama Besar dengan kesungguhan, konsistensi di jalan dakwah yang juga seorang Sastrawan. 

Kebesaran nama Hamka tidaklah serta merta membuatnya demikian. Terdapat banyak peristiwa dalam perjalanan  hidup yang membentuk dan menerpa pribdi sehingga orang yang dulu  bukan apa-apa menjadi apa-apa, from nothing to something, from zero to hero.

Sekaliber Hamka, siapa yang tidak kenal, dengan karya sastra dan buku yang ditulis tetap menggugah. Kegiatan dakwah yang tidak henti serta dunia politisi yang dijalani dengan konsisten dakwah, bukan sesuatu yang mudah. Tindakan yang kala itu dianggap subversif, jeruji tahanan adalah hadiahnya.

Menarik bagi saya mecermati perjalanan orang besar. Tetapi lebih menarik melihat bagaimana orang besar bertindak. Apa saja yang dilakukan dan sikap apa yang selalu dipegangnya. Bersiap-siaplah menjadi orang besar dengan membaca ciri-ciri ini. Check it out:  

1…

View original post 715 more words

SAKIT JIWA MENGINTAI…

Cagito's Blog

SAKIT JIWA MENGINTAI…         

Hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, sekalipun apa yang sangat kita butuhkan. Tidaklah selalu akan sesuai. Keinginan dan kebutuhan sangat subyektif, menurut kita perlu dengan berbagai alasan logis yang dimiliki belum tentu berterima dan sependapat dengan yang lain. hidup memang unik selalu ada kejutan yang tidak kita prediksi.

Menghadapi berbagai kesulitan yang kadang tidak dimengerti, ada keyakinan diri yang selalu mengobati. Keyakinan memperkuat perjuangan hidup seseorang. Keyakinan yang benar tentunya yang menuntut pada kesabaran dalam menghadapi masalah.

Masalah dapat membuat orang menjadi lebih cerdas, tetapi bisa juga membuat tidak waras. Menghadapi masalah berat atau ringan bergantung pada kita yang menghadapi, dibuat berat bisa dibuat ringan juga mungkin. Kalau yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban diluar batas kemampuan kita, maka percayalah masalah yang dihadapi tidak seberapa. kalau sedang buntu hadapi masalah artinya belum dapat pembanding, coba sesekali melongok kanan dan kiri yang…

View original post 291 more words

MANUSIA GEROBAK

think n share

Cagito's Blog

MANUSIA GEROBAK

 

Membaca judul buku kecil “Manusi Gerobak”, selintas saya menerka ini kehidupan orang yang hidup dalam gerobak, fenomena sosial yang dekat dengan keseharian metropolitan namun jauh dari menikmati hingar bingar kehidupan.  Saya dapat menerka ini, karena sebelumnya saya baca tulisan manusia gerobak sebagai contoh deskriptif dalam buku “Penelitian Kualitatif Ilmu Pendidikan social”  tulisan Nusa Putra. Dalam cerita itu menggabarkan secara deskriptif apa itu manusia gerobak. Ternyata saya masih penasaran dengan manusia gerobak, jadi ketika lihat buku kecil Manusia Gerobak langsung penasaran ingin baca.

Saat membaca buku Manusia Gerobak kumpulan puisi esai tulisan Elza Peldi Taher, saya justru dihantarkan kepada sebuah keresahan yang berlalu, mengulang kesedihan dan tangis yang dicampur  marah kepada penguasa dan rakusa yang hidup semena-mena.

Ini bukan puisi khayal, tetapi kisah nyata, yang dipaparkan indah lewat imajinasi penulis. Waktu saya membaca kisah ini disebuah surat kabar, rasanya tidak tahan  menahan air mata, sebagai bagian dari kehidupan…

View original post 536 more words