DALAM DOAMU IBU

DALAM DOAMU IBU  

 

Rintik hujan di pagi hari, tanggal 22 Desember bagai melodi iringi haru mengingat jasa, perjuangan dan pengorbanan ibu. Aku tidak kuasa menahan air mata mengenang jasa Ibu. Aku tidak begitu ingat bagaimana waktu bayi diberi kasih sayang, memori yang tersimpan sekitar usia menginjak awal Sekolah Dasar. Seingat kenang dalam benak ini, ibu begitu semangat untuk mengajarakan anaknya pendidikan agama.

 

Setelah pulang sekolah di SD, siang harinya aku diantar ibu sampai menyebrang jalan untuk belajar agama di Madrasah  Diniyah. Selain ketelatenan ibu menyiapkan aku berangkat belajar, aku juga teringat keceriaan  bersama teman di sekolah diniyah yang kadang tidak ada guru, aku dan teman-teman pasti bermain, berenang di sungai yang aliran airnya tidak jauh dari danau, air jernih, bersih, dan sungainya lebar.

 

Melompat dari jembatan main petak umpet di bawah air,  menyenangkan. Pulang ke rumah mata sudah merah, karena terlalu lama bermain air, ibu terlihat marah. Aku hanya bilang, habis gurunya tidak datang.

 

Sampai aku lulus sekolah dasar ibu masih mengarahkanku untuk belajar agama. Aku dikirim ke pesantren. Meski waktu itu guru di sekolah menyaranankan dan akan mendaftarkan  untuk masuk ke SMP Negeri, ibu menolak. Di awal tahun di pesantren, aku adalah anak manis,  aku didaftarkan di MTs swasta, padahal ada negeri tetapi karena tidak mengerti dan ibu juga tidak tahu, dijalani saja.  Karena sekolah MTs ada diluar lingkungan pesantren dan aku mulai suka dengan kegiatan eskul, kerja kelompok, dan ikut cerdas cermat, kegiatan di pondok jarang kuikuti kecuali malam selepas magrib, dan subuh sebelum berangkat sekolah. Jika tidak ada kegiatan sekolah pun kadang aku tidak langsung pulang, lebih banyak di sekolah, jadilah suruhan guru, ngoreksi hasil ujian, nulisi tulisan angka di rapot, mungkin tulisan tanganku dianggap bagus.

 

Aku bukan dari keluarga yang kecukupan. Kadang bekal  di pesantren sudah habis, ibu belum datang juga mengirim uang. Dan aku termasuk yang sulit mengatur keuangan, karena kegiatan diluar sekolah tadi yang tidak masuk perhitungan. Dipikir ibu cukup satu bulan, buatku itu cukup untuk 3 minggu. Minggu terakhir aku puasa. Dengan aturan sunah yang tidak jelas. Puasa senin kamis bukan, daud juga bukan. Pokoknya setiap hari puasa sampai ibu datang ke pondok. Uang hanya cukup untuk ongkos sekolah. Aku buka dan sahur sedapatnya, yang pasti sekedar air putih dan sepotong kue bisa didapat, tetapi untuk beli nasi dan lauk tidak cukup.

 

Pernah ku ceritakan ini kepada ibu, kenapa ibu lama datangnya, aku seminggu puasa, karena tidak cukup uang untuk makan. Ibu mengatakan baru ada uang dari hasil jual panen kebun dan ikan. Ibu terlihat berkaca-kaca membendung air mata dan tersenyum. Dia hanya bilang dihemat.

 

Urusan keuangan sekolah tidak begitu kesulitan, karena sekolah memberi beasiswa bagi yang juara kelas, selama satu semester. Sejak masuk sekolah aku hanya bayar SPP di awal masuk karena waktu itu aku belum dapat rangking satu. Setelah itu sampai lulus aku tidak bayar sekolah.

 

Tamat MTs, ibu memintaku untuk masuk lagi sekolah agama, meski waktu itu aku ditawari dan akan didaftarkan oleh guru masuk ke SMA Negeri di Cibinong. Ibu meyarankan masuk sekolah agama lagi, tetapi kini yang mencari sekolah tetaplah aku sendiri. Aku pernah dengar sekolah agama di kota Bogor, aku mencari sendiri dan daftar di sekolah tersebut. Sejak itu karena jarak rumah ke sekolah lebih dekat dari rumah, aku tidak lagi tinggal di pondok.

 

Aku termasuk anak yang mandiri dan sangat memahami kesibukan orangtua bantu Bapak  serta mengurus adik. Kadang jika ada rapat sekolah aku tidak memberitahu ibu. Aku hanya tanyakan ke sekolah apa keputusan rapat, dan hasilnya kusampaikan kepada ibu. Walhasil hingga aku lulus, ibu tidak tahu aku sekolah dimana, karena tidak ada acara orangtua di sekolah yang sempat dihadiri.

Lulus sekolah dan memilih Perguruan Tinggi, aku pikir ini kebebasanku memilih, aku memilih jurusan kedokteran UI dan ikut UMPTN. Sebenarnya orangtua tidak izinkan, aku tetap daftar dan tidak lulus. Whehe.. sadar kejauhan standarnya. Ibu tetap sarankan untuk masuk jurusan agama, tidak ada minat kuliah tahun itu, ingin coba UMPTN tahun depan  tetapi ibu tidak setuju, ibu meminta kuliah yang dekat rumah saja, di UIKA. Kampus yang setiap hari ku lewati jika berangkat ke sekolah, sepertinya sepi tidak ada kehidupan hehe… dalam hati bangunanpun masih bagus sekolah sebelumnya.  Meski kurang begitu semangat, aku sempat juga melihat batas akhir pendaftaran 31 Agustus.

 

Selama bulan Juli sampai Agustus, aku ikut bekerja dengan tetanggaku di pabrik busana. Merasakan bekerja yang persis kerja rodi, tidak bebas, di bawah tekanan, selalu diawasi dan kata-kata teguran yang sadis. Aku memperhatikan orang-orang bekerja, rerata mereka tamat SD, SMP dan paling tinggi SMA. Bagian pengawas lulus SMA dan teramasuk senior di tempat kerja. Karyawan banyak membenci pengawas ini dan sering disumpahi, perawan tua, disebut emak lampir, nenek sihir dan lainnya karena tidak suka dengan sikap dan cara dia mengawas dan menegur karyawan. Melihat kejadian itu, pelajaran besar buatku, pilihan sekolah lagi adalah yang paling tepat.

 

Di rumah ibu, bertanya lagi, kapan mau daftar kuliah, ibu sudah siapkan untuk pendaftaran. Sore menjelang sehari penutupan pendaftaran aku beragkat daftar. Ternyata kampus itu memiliki  dua lokasi, di jalan baru dan di Jl. RE. Martadinata, lokasi pendaftaran ada di jalan RE Martadinata. Waktu berlalu sewaktu memilih jurusan ibu tetap menyarankan untuk pilih agama. Alamak… ya, meski begitu aku ikuti. Di pertengahan semester dua, aku bosan dengan pelajaran agama, rasanya ingin pindah Jurusan Teknik atau Ekonomi. Kuceritakan kepada ibu, kali ini ibu bilang terserah mana aja baiknya.

 

Bingung jadi bertambah, karena jika kujalani tanpa dukungan ibu, rasanya aku tidak bisa. Aku bahagia jika ibu bahagia. Akhirnya ku katakan tidak jadi pindah tanggung nanti sama juga, lulus kudu kerja. Kayaknya jadi guru lebih aman. Kalau punya anak dan keluarga bisa di rumah dan ngajar sedikit aja. Kalau kerja begitu di perusahaan kata temen bisa dipecat. Ya aku pilih tetap teruskan kuliah di Jurusan Pendidikan Agama.

 

Tidak banyak kesulitan mengikuti mata kuliah, yang sulit keuangan. Setiap semester bayar SPP dan SKS kelimpungan, sampai menjelang ujian belum lunas semua, langganan menghadap dan minta dispensasi ke pembantu Dekan II. Untungnya mereka baik, ujian jalan terus. Di semester 3 dapat beasiswa Supersemar karena dapat IP 4,0. Setelah itu tidak boleh dapat lagi karena gantian dengan yang lain.

 

Di rumah aku pernah saksikan ketika ibu bahas keuangan dengan bapak, untuk biaya semester aku dan adik-adik, mereka ribut. Bapak malah bilang ke aku, ‘kamu udah besar, terserah kamu kuliah, mau berhenti mu terus. Urus sendiri.’ Mendengar itu serasa panas kupingku, dan aku mesti selesaikan kuliah.

 

Besoknya aku cari teman yang bisa bantu aku kerja. Pernah aku tanya seorang teman yang terlihat cukup berada, ke kampus sudah gaya tante-tante, tas, sepatu, baju keren, tetapi ku cobalah tanya dia kerja dimana, mungkin aku bisa ikut. Dia bilang ‘aku banyak kenalan aja, kerja paling pergi keluar temenin jalan, ke puncak, atau ke mana aja, nanti pulang aku dikasih duit’. Wew.. tidak terbanyang di otakku itu kerja macam apa.

 

Aku kuliah tinggal dua semester lagi, semester 7 dan 8. Ketika libur akhir semester 6, aku ditawari pekerjaan entry data Purnawirawan tempatnya di gedung DKI Matraman, kerja jam 8 sampai jam 5, selebihnya hitung lembur, upahnya perhari 20 rb. Tanpa banyak pikir aku setuju dan besok langsung kerja, kurang lebih sebulan berangkat selepas subuh dan kembali selepas magrib sampai di rumah. Ini telah membantu keuangan dan semangat untuk selesaikan kuliah.

 

Di semester 8, ku ditawari dosen untuk jadi asisten dosen. Karena dosen ini akan mengambil kuliah S2, dia butuh pendamping ngajar. Sempat ragu bisa tau tidak, tetapi ini belum dicoba, lagi kalau aku lulus pun kerjaku ya ngajar. Aku jawab, ‘siap bu, kan nanti juga pekerjaan saya jadi guru dan mengajar.’ Minggu depan mulai masuk kelas, ikut bu dosen. Minggu ketiga bu dosen tidak masuk, dan saya melanjutkan ngajar di semester 5 kelas karyawan mata kuliah Psikologi Agama. Kelas ini adalah kelas karyawan, mahasiswa rata-rata sudah tua, dan kelas ini belum pernah saya masuki. Dengan senyum menatap mahsiswa tua-tua, yang juga menatapku di depan dengan senyum tanda tanya mungkin, aku mulai mengatakan ‘saya pengganti sementara dosen yang sebenarnya, saya asistennya.’ Ada yang bilang ini mah seuisa anak saya. Kept smile aja dah..

 

Hari menjelang wisuda tiba, orangtuaku bahagia sepertinya, mereka bersiap mengantarku. Di akhir acara wisuda ada pengumuman mahasiswa terbaik. Aku asyik ngobrol dengan teman sebelah, tidak ada dibenakku untuk dipanggil namaku dan maju ke depan. Kata temenku, ‘giliran Fakultasmu tu’. Iya aku dengar. Alamak..namaku dipanggil, aku tidak sangka, aku dapat lulusan terbaik. Aku hanya ingat ibu waktu itu. Ini adalah hadiah untuk ibu, yang selalu memberi semangat dan doa tiada henti.

 

Ketika acara selesai dan kami berkumpul, ibu bercerita bahwa mereka di belakang haru dan menitikan air mata, saat namauku dipanggil sebagai lulusan terbaik. Ibu dan bapakku tidak pernah mengatarkan dan tahu sekolahku di Madrasah Aliyah dan juga megurus daftarku dan datang ke kampus.  Tetapi kini anak itu sudah  jalankan dan  lulus dan terbaik. Aku haru juga mendengar cerita mereka.

 

Aku merasa ini karunia besar Allah yang telah diberikan kepada kami. Hadiah untuk ibuku yang semangat belajar di sekolah formal terpasung karena pernikah dini. Ibu yang sedang sekolah di SMP dipaksa menikah karena keluarga ibu banyak dan ibu adalah anak pertama dari 11 bersaudara. Ibu bertekad anaknya tidak boleh mengalami nasib serupa, dia harus sekolah setinggi-tingginya. Mungkin yang diingat ibu waktu itu sarjana, kini cita-cita ibu telah sampai, dari ketiga anak ibu yang kuliah, aku yang beberapa kali telah menyelesaikan sratara sarjana. Adikku terhambat dengan berbagai urusan pribadi.

Ketika aku jalani semua, aku tidak mengerti apa maknanya, aku hanya senang belajar dan belajar. Kini aku sadar, semua karena doa dan ridho ibu, Allah telah kabulkan doa ibu pada anak sulungnya yang tidak ada batas lagi permohonan dan ungkapan doa itu.

 

Kini doa kita antara aku dan ibu tidak ada penghalang. Aku memohon kepada Allah, agar ibu selalu sehat, bahagia apa yang dicita-citakan ibu, Allah beri kemudahan. Berziarah ke makam Rasul, melihat anak-anak, cucu yang sehat dan bahagia, keluarga kami semua yang tenang dan damai. Semoga ibu dapati sampai nanti.

 

Tanpamu ibu, aku tidak akan pada keadaan bahagia seperti ini. Selamat hari ibu, mengenang perjuanganmu tidak pernah usai.

 

 

 

 

2 thoughts on “DALAM DOAMU IBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s