Menikah lagi

Menikah lagi

Entah apa yang dipikirkan anak usia 10 tahun dan 15 tahun, mereka berdua menangis di kamar, sementara di rumahnya sedang begitu ramai, orang-oarang berkumpul menghadiri pernikahan ibunya yang kedua kali. Sejak kurang lebih sepuluh tahun lalu, ayah mereka meninggalkan rumah, anak dua ini hidup bersama ibu dan neneknya. Ibu mereka bekerja di warung nasi, dan selama itu pula mereka dapat hidup baik dan bersekolah seolh ayah yang tidak bertanggung jawab itu hilang bersama angin.

Bagi orang dewasa melihat pernikahan itu sebuah kehidupan baru yang membahagiakan bagi ibunya, namun entah bagi keduan anaknya. Usia anak-anak dan remaja belum memahami betul makna kehidupan ke depan apalagi kehidupan berkeluarga, yang saat ini mereka rasakan ada orang asing yang tidak dikenal anak-anaknya masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka. Dan orang asing ini tentu akan menyita waktu dan perhatian ibunya. Bagaimana pun ibu ini sudah menjadi isteri yang memiliki tugas baru terhadap suaminya.

Memang keputusan berat menikah lagi dengan keadaan yang tidak sendiri lagi, terlebih dengan anak-anak yang sudah remaja, bukan hal yang mudah. Remaja yang sikapnya spontan, tanpa pikir panjang dan merespon langsung apa yang ada di depannya, butuh pemahaman dan kesepakatan dengan keluarga saat menentukan kehidupan bagi kehidupan bersama.

Karena itu ada hal yang diperhitungkan matang saat keputusan menikah lagi,

1. New comer kudu jalin emosi dengan Anak

Bagi anak-anak orangtua seburuk apapun tetaplah orangtua. Ada ikatan emosional dalam dan terjalin lama, ada kasih sayang meski dalam pertengkaran. Saat jauh terpisah atau tidak bersatu lagi, memasukan orang baru dalam kehidupan di tengah anak-anak yang belum memahami hidup orang dewasa, butuh waktu untuk memberikan kepercayaan dalam hubungan yang hangat dengan orang baru yang akan memasuki kehidupan keluarga. Bukan lagi kata yang terucap tetapi perilaku yang ditunjukkan.  Mereka belum paham untuk memasuki pikiran orang dewasa. Berbeda jika anak-anak sudah dewasa, jika orangtua mereka salah satunya tidak ada, mereka kadang menyarankan kepada orangtuanya untuk menikah lagi, apalagi itu adalah ayah. Alasan sederhana, anak-anak sudah berkeluarga, ayah tidak ada yang mengurus dengan penuh, karena itu ayah boleh mencari pendamping baru.

Namun begitu, mengambil keputusan dan memberitahu bakal calon yang dipilih tetaplah didiskusikan dangan anak-anak dan keptusan disepakati bersama. Karena hidup ke depan bukan hanya mereka berdua tetapi melibatkan seluurh komponen keluarga. Menikah bukan saja hubungan suami dan isteri tetapi hubungan kedua belah kelurga yang saling memahami.

2.  Perhitugkan kebaikan yang bisa diterima bersama

Menikah hanya memperburuk keadaan keluarga, lebih baik tetap melajang. Meski cinta berat dan cinta mati, rasionalitas tetap dijalankan. Selama hidup sendiri ibu menanggung kehidupan anak dan keluarga, jika menikah lagi dengan lelaki yang hanya menambah beban, seperti tidak punya keahlian, tidak memiliki pekerjaan, tetapi hobi berpoya-poya, buang aja ke laut hubungan itu, meski wajah ganteng tetapi tidak memiliki kepribadian jelas, tentu tidak berkelas, hanya akan  mendatangkan kehidupan yang bakal tidak jelas.

Begitupula bagi lelaki yang kebelet menikah lagi, meski wajah cantik selangit sampai susah tidur mengingat parasnya tetapi memiliki perangai buruk yang bakal menghancurkan pundi-pundi yang telah dibangun, lebih baik lupakan keputusan hidup bersama. Karena bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga biasanya keluarga turut menderita.

Lelaki tua menikah dengan ABG kinyis-kinyis, hobi dugem, pakaian yang dikenakan mesti barang branded, dan bergaul tanpa batas, jangan harap kehidupan keluarga yang mendamaikan, bisa jadi malah mempercepat kematian memikirkan perilaku isteri dan kekeliruan diri.

Menikah bukan sekedar kesenangan semata, tetapi nilai kebaikan yang bisa diperbuat bagi diri, keluarga dan orang lain. Doa dalam pernikahan sangat  indah, memohon keberkahan dan menyatukan kedua insan dalam kebaikan. Menikah dengan orang yang memiliki sikap dan sifat yang belum tepat, berharap suatu saat yang belum tepat ituakan bisa berubah, karena cita bis merubahnya, itu khayalan yang jauh dari nyata.

Anda menikah dengan cewek matre bin boros berharap setelah menikah bisa jadi manita hemat dan gemar menabung. Atau sebaliknya menikah dengan cowok jelalatan bin playboy berharap setelah menikah bisa jadi lelaki jinak dan tertunduk mata jika lihat harem. Tentu keputusan ini tidak ada salahnya. Tetapi berharap mereka berubah seperti yang diinginkan jauh dari langit. Karena berubah semata karena kemauan diri dan petunjuk Ilahi bukan karena Anda sepenuhnya.

Jika terpaksa menikah lebih baik Anda yang menyiapkan energi khusus untuk berdampingan dengan sikap dan sifatnya. Siapkan emas berlian segunung untuk cewek matre bin boros meski itu tidak akan pernah cukup. atau lapangkan dada untuk cowok jelalatan bin playboy sampai kering air mata.

Memang bukan hal mudah dua insan berbeda untuk bersatu, terlebih melibatkan keluarga dengan isi kepala yang berbeda. Tetapi jika didasari kebaikan dan dilakukan kebaikan-kebaikan, segala yang berbeda akan bersepakat bersama dalam kebaikan. Butuh waktu dan pengorbanan dalam sebuah kebahagiaan.

Semoga anak-anak yang menangis tadi karena ibunya menikah lagi, diberikan kebahagiaan dan memiliki harapan baik dalam keluarga orangtua mereka yang baru menentramkan membahagiakan dan penuh kasih sayang.

 

#hadiri pernikahan tetangga 29.12.13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s