Cara Mengubah Sedih menjadi Bahagia

Cara Mengubah Sedih menjadi Bahagia

 

Kehidupan masa lalu boleh kelam, tetapi hidup ke depan tetaplah masih cerah dan bersinar. Siapapun memiliki masa lalu dengan berbagai kisah. Kisah yang terlalu menyedihkan dan membuat hilang separuh kehidupan dan terbawa dalam hidup ke depan adalah kerugian dua kali. Sudah menderita ditambah dengan membawa derita dalam hidup yang akan dilewati.

Kehilangan, kegagalan dan kekecewaan masa lalu tidak sepatutnya menjadi bayang di masa yang akan datang. Sedih memang, namun tidak perlu larut dan mematisurikan kehidupan. Ditinggalkan, dikhianati dan dicampakkan tentu menderita tetapi penderitaan itu nikmati sebgai bagian yang membawa bahagia di hari depan.

Mengubah derita menjadi bahagia, mengubah sempit menjadi kesempatan berharga, mengubah tangis menjadi tawa, mengubah duka menjadi suka cita tentu tidak semudah membalikan goreng tempe di wajan.

Butuh kemauan, kekuatan, tekad dan kesabaran dalam melakukan perubahan. Sebagai pangkal awal dari kemauan merubah adalah mengubah mindset, pikiran, sikap yang diikuti dengan perilaku yang mendukung.

Reset Pikiran

Bersyukurlah manusia dikaruniai akal, pikiran dan kecerdasan. Siapa yang mau hidup menderita? Siapa yang mau kehilangan yang dicintai dalam hidup? Tentu akal, pikiran akan menjawab tidak mau. Mengapa menyimpan hidup yang derita?  Apakah tidak ingin hidup bahagia? Bagaimana agar bisa bahagia? Tanyakan dalam pikiran dan temukan jawaban yang membuat nyaman, tenang dan lakukan.

Meski ada tangis saat teringat yang telah lalu, itu hal biasa karena kita memang bukan robot yang berjalan dengan perintah tanpa rasa. Perasaan memperhalus dan mempercantik sikap yang kita miliki.

Penuhi  dan arahkan semua pikiran pada hal-hal yang membuat kita memilih bahagia dan pikiran yang positif. Jika hari ini dikecewakan, jika hari ini disedihkan percayalah bahwa kita sedang dibawa untuk kehidupan yang baik di masa depan.

Justru saat kita sedih, itu adalah pelajaran untuk perbaikan diri. Karena Allah telah menunjukkan apa akibat dari apa yang telah dilakukan. Segala sesuatu yang baik datang dari Allah, dan segala yang buruk datang dari diri sendiri. Jika keburukan itu menimpa, sesungguhnya itu karena ulah dan perilaku diri sendiri. Tidak perlu menyalahkan orang lain jka dikecewakan, tidak sepantasnya membenci jika disedihkan. Berbahagialah Tuhan telah menunjukkan ada yang salah yang telah kita lakukan. Mohonlah ampun dan mintalah petunjuk. Hidup tidak akan pernah sanggup berdiri tanpa pertolonganNya.

Mengemas duka menajdi senyum bahagia, butuh jalan pajang dan kesabaran. Percayalah setidaknya jika dilewati dengan baik, kita akan temukan hal-hal baik yang tertanam dalam diri. Jika menanam yang baik, kelak buah kebaikan akan dinikmati

Lakukan

Pikiran sudah direset dan diprogram dengan baik belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan perilaku yang mendukung. Lakukan hal-hal yang mampu menghapus sedih. Terdiam dan kebayakan berpikir mengundang iblis merasuk pikiran dan membisikan hal yang tidak baik. Kala sedih datang bergeraklah berwudhu. Masih tetap sedih dan menangis lakukan shalat, urailah sedih dan tangis dalam shalat, berbicara kepada yang Maha Mendengar dan Maha Kasih Sayang. Biarlah saat ini shalat penuh dan basah dengan air mata.  Datangkan pikiran positif, kekuatan dalam diri dan tetaplah bermohon untuk kebaikan kini dan nanti.

Jika sudah tenang lakukan segera hal lain yang menjadi kewajiban dan tunaikan tugas. Dekatkan diri dengan mengingat Allah, berzikir dan membaca Quran adalah obat bagi ketenangan diri.  Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Kadang ada hal-hal yang mengingatkan yang telah lalu dan membuat sedih. Sebanarnya tidak boleh dihindari, harus tetap dihadapi dan disikapi positif. Namun tidak perlu ditantang untuk menguji kesedihan diri. Ganti hal-hal yang tidak perlu dan tidak mendukung dengan aktivitas lain yang lebih baik.

Meski sedih kadang hadir, air mata kadang menetes, percayalah perlahan berkurang dan mekanisme diri akan menghapus dan kembali tenang. Lanjutkan dengan amal perbuatan yang lainnya tetap produktif  dan terus berbuat baik. Butuh air hujan dan cahaya matahari untuk membuat pelangi nan indah. Butuh konsistensi dan kesabaran dalam beramal baik untuk hari depan yang baik.

Semoga Allah melindungi dan memberkahi kita

 

 

Berubah

Image
 

Hidup berubah

itulah hidup

dahulu anak-anak sekarang dewasa

dahulu dimandikan sekarang mandi sendiri

dahulu dipakaikan baju sekarang pakai baju sendiri

dahulu waktu dilahirkan tergeletak tidak berdaya sekarang bisa berlari

cerita yang panjang untuk hidup yang berubah

 

 

Namun suatu saat aku bisa bayangkan

perubahan akhir hidup yang akan dialami

kembali kepada ketidakberdayaan

saat dimandikan, tergelatak, dan tebujur kaku

dipakaikan kain putih dan diantarkan ke rumah terakhir

itu perubahan yang akan datang dialami

 

 

berubah

tidak perlu bersedih jika ada yang berubah

dalam hidup berubah itu keniscayaan

dahulu ada teman disisi

seiring waktu kita sendiri

bersyukurlah umur yang panjang

Dapat mendoakan dan menyaksikan kepergiannya

 

berubah

manusia selalu berubah

berubah kearah yang lebih baik

agar hidup ada dalam kedamaian

 

berubah

proses perubahan dinikmati dan dilalui dengan sabar

agar sampai pada hasil  dan bermanfaat

air netral dipanaskan berubah menjadi panas

bisa digunakan untuk menikmati secangkir kopi panas

 

berubah

meski perih, pedih, penuh rintih

sabarlah

jika berubah demi kebaikan

segalanya menjadi tenang

akan terganti dengan senyum dan syukur

 

 

nikmati segala yang berubah dalam hidup

gambar: http://www.nasehatislam.com/?p=188

 

 

 

 

 

 

 

Banjir Tahunan, Kalau Musim Hujan Setahun 4 Kali, Tetep Langganan?

Hidup sebagian ada dalam kehendak dan kekuatan kita sepenuhnya, apakah memilih untuk dapat hidup baik atau buruk, bahagia atau derita, putus asa atau penuh harapan, berbaik sangka atau berburuk sangka kita yang tentukan. Allah telah memberikan segala karunia dan kasih sayang yang melimpah kepada kita. Hidup di bumi dengan segala kekayaan di dalamnya yang dapat dimanfaatkan manusia. Namun sayang makin bertambah usia bumi, makin padat penduduk bumi, makin banyak bencana dan derita terjadi karena tangan-tangan manusia sendiri.

Di setiap musim hujan, bencana tahunan bisa hampir dipastikan terjadi, banjir melanda wilayah-wilayah rawan dan potensial tergeanang air. Dari tahun ke tahun tidak berubah selalu kebagian jatah terendam. Selain banjir musibah yang potensial terjadi di musim hujan adalah longsor. Kontur tanah yang potensi turun menjadi ancaman terjadi longsor. Apakah manusia tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk merubahnya? Menghindari bencana banjir tahunan, menghindari bahaya longsor dan menghindari ancaman penyakit yang memungkinkan datang. Tentu kita mau dan mampu merubahnya.

Image

Banjir menjadi bencana tahunan karena musim hujan sekali dalam setahun. Andai musim hujan ada 4 kali dalam setahun, apakah yang akan dilakukan? Apakah makin resisten terhadap bencana banjir atau makin tinggi kesadaran dalam menjaga lingkungan.

Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah dengan  musibah yang datang. Allah begitu sayang dan selalu membantu. Tetapi tidakkah sadari bahwa musibah yang datang itu karea ulah kita sendiri? Dimanakah selama ini penduduk di pinggr kali membuang sampah? Bagaimanakah selama ini pengelolaan sampah? Apakah sungai-sungai tempat air mengalir selalu di rawat dan dijaga? Apakah kita masih selalu menanam pohon? Apakah pabrik-pabrik telah membuang dan mengelola limbah dengan benar? Dimanakah anak-anak sekolah yang makan dalam angkot membuang sampahnya? Pertanyaan itu, bisa dijawab sendiri dari pengalaman dan kenyataan yang dilihat.

Hidup di dunia tidak menyendiri,  kebergantungan satu dan lainnya memberikan efek kepada yang lainnya, apa yang kita buat bukan saja berbalik kepada diri sendiri tetapi juga lingkungan di mana kita tinggal. Sampah yang dibuang sembarag pun bukan dilakukan sendiri tetapi bersamaan dengan yang lain. Jika kini aliran sungai tersumbat dan air memasuki rumah kita, inilah bagian yang kita nikmati dari apa yang telah kita buat.

dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura, 42:30)

Allah masih tetap sayang dan terus memberikan maaf. Semoga esok lusa kita bisa berbenah untuk lingkungan, menjaga alam tempat kita tinggal. Mengembalikan air kepada tempatnya di sungai dan samudra yang luas. Meski ini bukan pekerjaan mudah, mengandalkan pemerintah tidaklah cukup. Butuh kesadaran pribadi yang meluas, sehingga menjadi kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.

 

Nikmati Banjir

  

gambar : diterjang banjir …depoknews.com

Emosi Cinta

Emosi  Cinta

 

Manusia bukan seonggok daging tanpa perasaan, manusia adalah makhluk yang kaya emosi.  Kemampuan memahami dan mengelola emosi adalah bagian terpenting dalam kesuksesan hidup sebagai manusia. Manusia dengan kecerdasan intelektual yang tinggi namun hampa emosi seperti robot yang bergerak, kering tanpa perasaan. Emosi memberikan warna yang membuat hidup penuh warna.

Cinta adalah emosi yang terindah dalam hidup. Cinta memberikan segenap rasa dan tergerak perilaku dengan suka cita. Pengorbanan demi cinta tidak akan dimengerti oleh akal. Namun cinta  sanggup melakukannya, karena keyakinan akan cinta yang telah memenuhi dada dan mengelora.

Image 

Saya membayangkan bagaimana kala para sahabat semasa Rasul Muhammad SAW, yang dengan keyakinan cinta kepada Rasul segenap jiwa raga menjadi taruhannya. Kecintaan kepada anak dan isteri menjadi nomor kesekian setelah cinta kepada Allah dan Rasul. Keyakinan cinta kepada Rasul di atas cinta kepada anak dan lainnya. Namun saat mendahulukan cinta kepada Rasul, bukan berarti menelantarkan yang lain, karena Rasul tidak berlaku demikian.

Indahnya cinta para sahabat. Tetapi cinta tidak pernah luput dari ujian, tantangan dan cobaan. Seberapa besar cinta dan kerelaan itu kemampuan dan kesidaan dalam menyelesaikan cobaanlah jawabannya. Ali ra,  bersedia tidur di tempat Rasul, kala malam hijrah, dengan taruhan nyawa yang akan melayang incaran orang kafir.

Warna emosi baru kembali saat yang dicintai pergi, menghadap panggilan Ilahi, remuklah seluruh raga, duka yang tiada terkira. Kembali bagaimana emosi butuh akal untuk memandu dan menegakkan pada tempatnya. Meski duka dan kesedihan tidaklah  mudah untuk dihilangkan.

 Bilal yang setia mengumandangkan azan saat Rasul hidup, dengan suara yang mengetarkan, memikat dan menakjubkan. Namun saat Rasul tidak ada, bilal tidak sanggup bersuara dan melapalkan nama orang yang dicintai, karena kesedihan yang mendalam.

Bilal pun pindah dari tempat yang membuatnya teringat duka dan kesedihan. Sampai suatu malam, sang kasih datang dalam mimpi dan merindu. Bilal kembali ke tempat  dimana segala kenangan terukir dan menggetarkan hati.

Atas permintaan cucu Rasul, Bilal kembali mengumandangkan azan, makin teringatlah kenangan akan yang dicintai, saat mendengar alunan suara azan yang mengunggah emosi lama terpendam. Pecah tangis dan isak orang-orang disekitar akan orang yang dicintai. Semua menangis merindu beliau hadir dan ada.

Cinta memang sangat emosional, sulit dimengerti akal. Dengan keyakinan cinta dapat tumbuh dan mekar. Kasih sayang, merindu dan tidak menyakiti ada dalam cinta. Tidak ada cinta jika masih menyakiti.

Gambar: kata bijak cinta… konkzmedia.blogspot.com

Salam cinta

Bersiap dengan Masa Depan

Manusia, waktu dan pengalaman tiga hal yang terkadang jika salah memberikan hubungan dan makna yang terkait membuat kekacauan hidup. Seiring waktu yang dilalui terdapat beragam macam pengalaman yang dirasakan. Pengalaman bagian dari sisi kehidupan pribadi yang membedakan manusia satu dan  lainnya. Meskipun dibesarkan dalam lingkungan yang sama, penerimaan dan pemaknaan akan apa yang terjadi membuat manusia unik satu dengan lainnya. Keunikan dan dinamika sifat dan sikap manusia, tidak dapat menghasilkan sebuah kesimpulan akan pribadi orang dan diri kita sekalipun.

Terdapat sisi yang sulit dimengerti atas diri sendiri terlebih orang lain. Secara logika bisa mengatakan mestinya begitu, harus begini, dan kudunya begono.. Tetapi saat unsur lain turut bekerja dalam diri seperti emosi dan nafsu tidak mudah mengatur dengan kata semestinya. Itulah keadaan konflik yang terjadi pada struktur manusia yang menurut Freud pertentangan antara Id dan Super Ego.

Tidak mudah untuk memenangkan norma dan menjalankan norma, butuh kekuatan, dukungan, dan penyadaran agar tetap mendahulukan norma dan berjalan tanpa pertentangan yang berlarut.

Saat waktu mepet pergi ke kantor, jalann  macet, ada ruang kiri dan kanan jalan kosong yang bisa dilewati kendaraan, tetapi bukan line yang seharusnya. Apa yang  akan dilakukan? Saat Pria berisitri, menyukai gadis kinyis-kinyis yang hampir sama dengan anaknya, dan ternyata gadis kiyis itu juga suka, karena pria sudah menikah lebih terlihat gagah dan mapan (ingat  tulisan mbak Ellen Maringka, mapan karena kartu platinum di tangan), Apa yang akan dilakukan pria gagah atau gadis kinyis itu? Menangani Proyek miliaran di Departemen yang mesti disalurkan dengan prosedur yang seharusnya, lalu ada yang ingin mendapatkan tanpa perlu melalui proses, dengan imabalan sekian persen dari rupiah yang diterima, apa yang akan dilakukan? Banyak hal yang saat itu, dituntut bertindak, tindakan mana yang dipilih itu hasil dan keputusan dalam diri Anda.

Memang tidak mudah mengenal pribadi, terlebih pribadi orang lain. Namun sesunguhnya yang mengenal diri seutuhnya adalah diri sendiri. Karena itu jika kita sudah mampu mengenal diri seutuhnya sesungguhnya kita mengenal akan penciptanya.  

Tindakan masa lalu yang dimenangkan oleh nafsu, mengesampingkan yang seharusnya diakumulasi menjadi sejumlah pengalaman. Kesalahan tindakan tidaklah menjadi kesalahan seutuhnya. Manusia terus berposes, kekeliruan tindakan di masa lalu menjadi sebuah pelajaran dalam hidup. Betapa berharga memiliki pengalaman yang mesti dibayar mahal, bukan saja materi tetapi harga diri.

Pembelajaran untuk tidak masuk dalam lubang sama  untuk kedua kali dan berbagi pengalaman agar tidak ditiru adalah hadiah terbesar yang diberikan dari sebuah pengalaman yang dianggap keliru.

Image

Seburuk apapun masa lalu, masa yang akan datang tetaplah suci, begitu kira-kira kata Mario Teguh. Hidup untuk masa depan lebih optimis, bersiap meraih kesuksesan dan kebahagian dengan lebih matang.

 

Menjadikan  pelajaran dari masa lalu dan  menjadikan pribadi bermutu. Membuka kesempatan untuk masa depan yang lebih baik. Tentu membuka dan mengerjakan hal-hal baru yang dianggap perbaikan diri. Memperbaiki sikap, memandang optimis hidup dan bersemangat dengan kebaikan-kebaikan.

Hal-hal lama yan telah merugikan tentu tidak digunakan lagi. So pasti, hendak membuat sesuatu yang baru, dengan cara lama mustahil jadi baru. Menargetkan yang lebih baik dengan usaha-usaha lama yang telah menggagalkan juga bukan hal yang tepat. mengambil bagian yang baru dan meninggikan standar dilakukan dengan cara-cara yang baru dan lebih dari sebelumnya, memungkinkan untuk hasil yang berbeda.

Think  right and do it now

gambar: Shared From : http://explorequotes.com/

Mendapat kutuk atau Berkah Ibu Kuncinya.

Mendapat kutuk atau Berkah Ibu Kuncinya.

 

Ibu dan anak memiliki ikatan emosional yang cukup panjang. Setidaknya selama masa kahamilan atau  pranatal anak berada dalam rahim ibu. Hanya ibu yang memiliki rahim, rahim artinya kasih sayang, tentu kasih sayang yang diberikan ibu tidak akan dapat tergantikan dengan yang lainnya. Dalam desain yang Maha Kuasa, anak tumbuh berkembang dalam rahim yang kokoh, pasokan makanan dari apa yang ibu makan tersalurkan melalu plasenta yang sampai kepada anak.  Bahkan bukan saja makanan rasa bahagia, ketenangan dan kegembiraan terdeteksi turut dapat dirasakan anak.

 

Hal-hal yang bersifat psikologis yang dialami ibu akan berpengaruh kepada anak. Ibu yang cemas dan gelisah akan mempengaruhi janin dan perkembangan fungsi psikologisnya. Keadaan, susana hati dan nutrisi ibu mempengaruhi masa pembentukan dan masa pertumbuhan saat anak dalam kandungan.

 

Kelekatan ibu dan anak terus terjalin kuat, masa penyusuan yang panjang (dua tahun) adalah masa kelekatan dan hubungan emosional terjalin dengan baik. Segala kebutuhan anak direspon ibu dengan segera. Resposisivitas akan keperluan anak di masa bayi ini menjadikan kelekatan yang tumbuh dengan baik pada anak. Ibu segera mengganti popok yang basah, memberikan air susu saat anak mulai haus, mengajak berbicara dan bermain. Seluruh waktu dan kehidupan ibu saat itu hanya satu merawat menjaga dan membesarkan anak.

 

Tidak heran jika yang dicari anak adalah ibu, saat menangis karena ketakutan dengan orang asing, yang dicari ibu. Sudah besar pun  saat ada kesulitan dengan teman yang dicari ibu, saat pulang sekolah yang di rumah hanya ada ayah, yang ditanya ibu mana? hehe…segitunya ayah ga diangap.

 

Beruntunglah anak memliki kelekatan dengan Ibu, karena ada banyak masalah jika anak tidak memiliki kelekatan saat anak membutuhkan figure kelekatan. Penelitian akibat dari  tidak adanya figure kelekatan ditulis Goldfarb (1947) anak mengalami disfungsi kognitif, bahasa dan sosial ekstrem yang umum terlihat pada anak-anak yang dibesarkan dipanti-panti asuhan yatim piatu pada masa itu. Artinya pada masa anak membutuhkan figure kelekatan dengan ibu atau pengasuh yang permanen, itu tidak didapatkan. Bisa jadi karena pergantian pengasuh membuat anak kebingungan dengan figure kelekatan.

 

Ada keseimbagan peran dan fungsi orangtua di rumah. Untuk urusan merawat, mengasuh tentu dengan kodrat feminimitas ada pada ibu. Dan kodrat maskulin ada pada Ayah yang melindungi dan memberi rasa aman dalam keluarga. Indah kelarga yang memiliki fungsi dan peran yang berjalan harmoni.

 

Tugas orangtua tidak hanya sekedar memberikan makan, fasilitas, kenyaman, dan pendidikan namun ada yang tidak tertulis,  senantiasa diucapkan dalam untain kata yang memohon akan kebaikan dan kesejaheraan anaknya, ini kekuatan doa orangtua terhadap anaknya yang mengiringi tumbuh dan kembang mereka. Saat dalam kandungan untaian doa tidak pernah henti, saat duduk dalam pangkuan ibu, untaian doa ibu terus keluar, saat anak tumbuh dewasa pun untaian doa tidak selalu terucap.

 

Doa orangtua terhadap anaknya termasuk doa yang tidak terhalang, tidak tertolak dan langsung didengar oleh Allah. Sebagaimana hadis berikut;

 “tiga macam doa yang tidak ditolak, yang tidak diragukan lagi kedahsyatannya, yaitu doa orang tua kepada anaknya, dan doa orang musafir (orang yang sedang berpergian), dan doa orang yang dizahalimi (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah).

 

Apapun doa ibu tidak ada halangan untuk tidak didengar, termasuk yang buruk sekalipun. Karena apa yang dikatakan ibu adalah doa, berhati-hatilah dengan ucapan ibu kepada anaknya. Jangan sampai anak durhaka dikutuk menjadi batu. Doakanlah agar ia menjadi anak yang taat. Kepedihan dan sakit hati memang mudah membuat kata, ucap yang tidak terkontrol. Menangis, diam dan berdoa yang terbaik membuat lebih baik.

 

Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

 

Perjalanan hidup manusia bisa dilihat sebagai garis  fase yang tersekat, namun juga bisa merupakan sebuah garis kontinum. Waktu yang dibuat dilalui sebagai  tanda akan kehadiran dan keberadaanya. Waktu sesungguhnya terus berjalan manusia memberi makna kepada waktu akan kehadiran dan keberadaanya. Isi kepala dan pikiran manusia tidak pernah sama maka penentuan waktu menjadi bervariasi. Itulah keberagaman dan kebebasan berekspresi dengan menandai dan memaknai waktu.

Seiring waktu ada banyak berubah dalam diri manusia, sejak manusia lahir dan terus melewati lorong waktu, mengubah fisik manusia dari yang tidak berdaya menjadi manusia dewasa, tua dan bahkan menjadi manusia yang tidak berdaya kembali.

Waktu mengantarkan kepada fase akhir dalam kehidupan di dunia, namun sesungguhnya waktu belumlah berakhir, ada perjalanan lanjutan yang dengan keyakinan kuat bahwa kehidupan setelah di dunia ini terdapat kehidupan yang sempurna. Segala perbuatan baik dan buruk terbalas dengan sempurna.

Ada unsur dalam diri manusia yang tidak turut hancur bersama perjalanan waktu yaitu jiwa. Jiwa tmbuh subur membutuhkan nutrisi, sebagaimana tubuh, jiwa pun tumbuh dan butuh makanan dengan nutrisi yang kaya agar menjadi jiwa yang sehat. Tubuh memerlukan berbagai kandungan seperti protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral. Jiwa pun demikian, namun makanan jiwa tidak sama dengan tubuh.

Mengenali sifat dan kebutuhan jiwa menjadi pelajaran menarik, semenariknya bagi perempuan memantaskan pakaian dan makanan untuk tubuh, bahkan mungkin juga laki-laki. (samalah). Jiwa tumbuh abadi, manusia memiliki jiwa yang berpotensi kepada kebaikan dan keburukan. Karena itu bukan manusia yang selalu benar, atau selalu salah. Manusia dalam kesatuan jiwa yang unik, yang tidak sema dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Tentu beruntung yang mengurus dan menjaga jiwa dalam kebaikan.

Jiwa memiliki sifat menyesali, saat pertarungan dalam diri menurutkan hawa nafsu dan jiwa yang ingin terbebas dari keburukan menjadi konflik internal pada diri manusia. Siapakah pemenangnya, dialah yang lebih banyak ‘diberi makan dan fasilitas’. Jika jiwa terus dipupuk, dirawat dan dipelihara dalam kebaikan, maka jiwa mengarah kepada kebaikan dan dialah pemenang dalam setiap pertarungan dalam diri. Jika pun berada dalam kekeliruan  jiwa menyesali hadir.  Pada akhirnya sampai kepada jiwa yang tenang.

Namun jiwa memiliki sifat yang berubah-ubah, konflik dalam diri tidak akan pernah usai dalam hidup, perjuangan dan konsistensi dalam kebaikan membutuhkan amunisi, vitamin dan perjuangan. Proses pertentangan dalam hidup ini akan berujung pada akhir. Jika berhasil dan menetapkan kepada kebaikan hingga akhir masa maka menjadi akhir yang baik (khsnul khotimah).

Karena inilah, jiwa membutuhkan sekolah untuk didiik agar menjadi terjaga dan mencintai kebaikan.

Bukan hal mudah menjaga dan merawat jiwa di zaman yang absurd. Namun kekacauan dalam dunia tidak boleh mengerus jiwa. Meski menyadari kualitas dan peradaban manusia terbaik terus menurun. Kecintaan dunia, mengahalalkan segala cara, dan hidup semena-mena menjadi pengkal kekacauan jiwa.

Menilik sifat dan kebiasaan manusia terbaik pada zamannya, merawat dan mendidik jiwa mereka sebagai berikut:

1. Menjaga hati

Hati menjadi pusat perilaku dan penilaian. meski sulit melihat isi hati tetapi dapat terungkap melalui laku, lampah yang diperbuat, jika tidak terlihat pula, bukan urusan kita menilai, cukuplah diri dan Allah yang tahu, karena tidak ada yang luput dari balasan-Nya.

Hati laksana raja dalam diri manusia, karena itu memelihara hati dan menjaga hati menjadi pekerjaan penting dalam merawat jiwa.

Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah, yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, tiada lain adalah hati.” (HR. Bukhori).

Mulut pandai mengatakan kebohongan, kaki dan tangan tidak berdaya mengikuti apa yang dikata. Tetapi tanyakan kepada hati, maka hati tidak pernah dusta. Inilah yang panglima yang mesti tetap terjaga sebagai kontrol perilaku diri.

Memberikan makanan yang halal dan baik bagi tubuh berarti menjaga hati, agar terbebas dari debu yang memburamkan hati dan mengkaburkan perilaku.

2. Ingat Mati

Semua yang bernyawa pasti mati, begitu juga manusia. Keyakinan akan pembalasan yang sempurna, maka kematian adalah gerbang kehidupan abadi yang menentukan. Saat kematian menjemput, tidak ada lain yang terbawa hanya helai kain kafan yang membungkus dan segala amal yang telah diperbuat.

Tentu tidak ingin bersusah diri saat nanti, perhitungan yang lama namun tidak ada hasil yang dinikmati. Ditanya umur dihabiskan untuk apa, panjang jawabnya tetapi tidak banyak yang bersisa dalam kebaikan. Ditanya harta untuk apa, panjang rinciannya tetapi tidak ada yang menyangkut untuk kebaikan. Karena kehhidupan dunia telah menenggelamkannya dan melupakan investasi jangka panjang untuk kehidupan akhirat.

Beda dengan yang satu ini, ditanya umur, tidak lama uraiannya, karena umur hidunya pendek. Ditanya harta tidak banyak pula jawabnya karena hidupnya miskin, hidup lebih banyak diberi orang. Kelihatan menderita dimata manusia orang ini, sudah miskin umur hidupnya pendek. Tetapi dimata Allah ternyata dia orang yang hebat, bersabar dalam kemiskinan dan memanfaatkan umur dengan maksimal.

Tentu bukan pula kita mengharapkan hidup miskin, atau umur pendek. Tetaplah berharap yang terbaik. Diberi umur panjang tetapi dalam taat dan kebaikan. Diberi harta melimpah tetap dalam keberkahan.

Cukup dua saja pelajaran bagi jiwa yang saya lihat dibuku Manhajul Taabi’in fi Tarbiyatin-Nufuus, meski masih banyak cara lain yang digunakan untuk mendidik jiwa di dalamnya, namun masih butuh waktu untuk menyampaikannya kepada diri dan orang lain, karena ketidakberdayaan dan kelemahan diri yang berlumur debu dan noda.  Semoga hari-hari selanjutnya membuat jiwa ini tumbuh dan terpelihara dalam kebaikan.