Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

 

Perjalanan hidup manusia bisa dilihat sebagai garis  fase yang tersekat, namun juga bisa merupakan sebuah garis kontinum. Waktu yang dibuat dilalui sebagai  tanda akan kehadiran dan keberadaanya. Waktu sesungguhnya terus berjalan manusia memberi makna kepada waktu akan kehadiran dan keberadaanya. Isi kepala dan pikiran manusia tidak pernah sama maka penentuan waktu menjadi bervariasi. Itulah keberagaman dan kebebasan berekspresi dengan menandai dan memaknai waktu.

Seiring waktu ada banyak berubah dalam diri manusia, sejak manusia lahir dan terus melewati lorong waktu, mengubah fisik manusia dari yang tidak berdaya menjadi manusia dewasa, tua dan bahkan menjadi manusia yang tidak berdaya kembali.

Waktu mengantarkan kepada fase akhir dalam kehidupan di dunia, namun sesungguhnya waktu belumlah berakhir, ada perjalanan lanjutan yang dengan keyakinan kuat bahwa kehidupan setelah di dunia ini terdapat kehidupan yang sempurna. Segala perbuatan baik dan buruk terbalas dengan sempurna.

Ada unsur dalam diri manusia yang tidak turut hancur bersama perjalanan waktu yaitu jiwa. Jiwa tmbuh subur membutuhkan nutrisi, sebagaimana tubuh, jiwa pun tumbuh dan butuh makanan dengan nutrisi yang kaya agar menjadi jiwa yang sehat. Tubuh memerlukan berbagai kandungan seperti protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral. Jiwa pun demikian, namun makanan jiwa tidak sama dengan tubuh.

Mengenali sifat dan kebutuhan jiwa menjadi pelajaran menarik, semenariknya bagi perempuan memantaskan pakaian dan makanan untuk tubuh, bahkan mungkin juga laki-laki. (samalah). Jiwa tumbuh abadi, manusia memiliki jiwa yang berpotensi kepada kebaikan dan keburukan. Karena itu bukan manusia yang selalu benar, atau selalu salah. Manusia dalam kesatuan jiwa yang unik, yang tidak sema dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Tentu beruntung yang mengurus dan menjaga jiwa dalam kebaikan.

Jiwa memiliki sifat menyesali, saat pertarungan dalam diri menurutkan hawa nafsu dan jiwa yang ingin terbebas dari keburukan menjadi konflik internal pada diri manusia. Siapakah pemenangnya, dialah yang lebih banyak ‘diberi makan dan fasilitas’. Jika jiwa terus dipupuk, dirawat dan dipelihara dalam kebaikan, maka jiwa mengarah kepada kebaikan dan dialah pemenang dalam setiap pertarungan dalam diri. Jika pun berada dalam kekeliruan  jiwa menyesali hadir.  Pada akhirnya sampai kepada jiwa yang tenang.

Namun jiwa memiliki sifat yang berubah-ubah, konflik dalam diri tidak akan pernah usai dalam hidup, perjuangan dan konsistensi dalam kebaikan membutuhkan amunisi, vitamin dan perjuangan. Proses pertentangan dalam hidup ini akan berujung pada akhir. Jika berhasil dan menetapkan kepada kebaikan hingga akhir masa maka menjadi akhir yang baik (khsnul khotimah).

Karena inilah, jiwa membutuhkan sekolah untuk didiik agar menjadi terjaga dan mencintai kebaikan.

Bukan hal mudah menjaga dan merawat jiwa di zaman yang absurd. Namun kekacauan dalam dunia tidak boleh mengerus jiwa. Meski menyadari kualitas dan peradaban manusia terbaik terus menurun. Kecintaan dunia, mengahalalkan segala cara, dan hidup semena-mena menjadi pengkal kekacauan jiwa.

Menilik sifat dan kebiasaan manusia terbaik pada zamannya, merawat dan mendidik jiwa mereka sebagai berikut:

1. Menjaga hati

Hati menjadi pusat perilaku dan penilaian. meski sulit melihat isi hati tetapi dapat terungkap melalui laku, lampah yang diperbuat, jika tidak terlihat pula, bukan urusan kita menilai, cukuplah diri dan Allah yang tahu, karena tidak ada yang luput dari balasan-Nya.

Hati laksana raja dalam diri manusia, karena itu memelihara hati dan menjaga hati menjadi pekerjaan penting dalam merawat jiwa.

Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah, yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, tiada lain adalah hati.” (HR. Bukhori).

Mulut pandai mengatakan kebohongan, kaki dan tangan tidak berdaya mengikuti apa yang dikata. Tetapi tanyakan kepada hati, maka hati tidak pernah dusta. Inilah yang panglima yang mesti tetap terjaga sebagai kontrol perilaku diri.

Memberikan makanan yang halal dan baik bagi tubuh berarti menjaga hati, agar terbebas dari debu yang memburamkan hati dan mengkaburkan perilaku.

2. Ingat Mati

Semua yang bernyawa pasti mati, begitu juga manusia. Keyakinan akan pembalasan yang sempurna, maka kematian adalah gerbang kehidupan abadi yang menentukan. Saat kematian menjemput, tidak ada lain yang terbawa hanya helai kain kafan yang membungkus dan segala amal yang telah diperbuat.

Tentu tidak ingin bersusah diri saat nanti, perhitungan yang lama namun tidak ada hasil yang dinikmati. Ditanya umur dihabiskan untuk apa, panjang jawabnya tetapi tidak banyak yang bersisa dalam kebaikan. Ditanya harta untuk apa, panjang rinciannya tetapi tidak ada yang menyangkut untuk kebaikan. Karena kehhidupan dunia telah menenggelamkannya dan melupakan investasi jangka panjang untuk kehidupan akhirat.

Beda dengan yang satu ini, ditanya umur, tidak lama uraiannya, karena umur hidunya pendek. Ditanya harta tidak banyak pula jawabnya karena hidupnya miskin, hidup lebih banyak diberi orang. Kelihatan menderita dimata manusia orang ini, sudah miskin umur hidupnya pendek. Tetapi dimata Allah ternyata dia orang yang hebat, bersabar dalam kemiskinan dan memanfaatkan umur dengan maksimal.

Tentu bukan pula kita mengharapkan hidup miskin, atau umur pendek. Tetaplah berharap yang terbaik. Diberi umur panjang tetapi dalam taat dan kebaikan. Diberi harta melimpah tetap dalam keberkahan.

Cukup dua saja pelajaran bagi jiwa yang saya lihat dibuku Manhajul Taabi’in fi Tarbiyatin-Nufuus, meski masih banyak cara lain yang digunakan untuk mendidik jiwa di dalamnya, namun masih butuh waktu untuk menyampaikannya kepada diri dan orang lain, karena ketidakberdayaan dan kelemahan diri yang berlumur debu dan noda.  Semoga hari-hari selanjutnya membuat jiwa ini tumbuh dan terpelihara dalam kebaikan.

One thought on “Jaga hati dan Ingat Mati, Sekolah Jiwa Kali Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s