Mengapa Studi S3 Lambat?

Mengapa Studi S3 Lambat?

 

Ini nasib kuliah terlalu lama menurut ukuran saya, mestinya paling lama 3 tahun bisa selesai doktor, tetapi kini sudah 7 semester baru 1/3 tugas akhir dijalankan.  Mestinya kuliah itu tidak perlu pakai lama, tetapi koq temen-temen saya dan juga saya kecenderungan melewati batas 3 tahun itu hampi 95% karena dari 40 teman yang ada baru satu orang yang selesai.  Selebihnya, ada satu orang yang akan segera sidang terbuka, satu orang sidang tertutup,  beberapa yang sudah seminar proposal dan selebihnya sedang menulis proposal dan ada juga yang masih gonta-ganti judul. (hehe.. excuse..aja)

Saya sebenarnya sempat stress dengan penyelesaian studi ini. tetapi rasanya daripada strees malah tidak bisa mikir bener, lebih baik gunakan stress sebagi alat untuk bergerak lebih maju. Mengurai, memaklumi dan mentoleransi atas apa yang sudah dilewati, mengidentifikasi kesulitan untuk bisa diatasi jauh lebih penting dari pada memikirkan lama atau tidak. Sebenarnya mentoleransi dan memaklumi ‘keterbelakangan’ adalah hal yang kurang baik. Membenarkan ‘kemunduran diri’ berarti mempersilahkan terus mundur, tenang-tenang dan merasa nyaman karena yang senasib masih banyak. Hidup dalam zona nyaman adalah stagnasi dan ketertinggalan.

 

Kemajuan akan didapat manakala berusaha untuk melongok ketertinggalan dan kemudian bergerak, berjalan, berlari dan bahkan melompat untuk mengejar ketertinggalan dan setelah itu teruslah berjalan. Pertanyaannya siapa yang hendak dikejar? Apa standar bahwa ini sudah sampai pada yang dimaksud. Ini bahasa orang pengukuran, dalam hal tidak perlu digunakan secara ketat. Siapa yang bisa mengukur gerak, jalan, lari dan lompatan dalam mengejar ketertinggalan. Ini bahasa analogi yang dapat diterjerjemahkan oleh setiap orang secara subyektif. Dalam memaknai konteks  ini adalah terus berusaha, melakukan apa yang dapat dilakukan.

 

Tidak sedikit masalah dan rintangan yang dihadapi, masalah adalah sebuah kewajaran hidup. karena itu yang tidak ingin memiliki masalah adalah tidak wajar. Dengan masalah kita tumbuh dan berkembang. Setiap masalah mengajarkan hal baru dalam hidup. dengan begitu pula selalu ada kepandaian baru dibalik masalah yang dihadapi. Makin bertambah umur artinya semakin banyak pengalaman dan pelajaran hidup. tidak heran dengan begitu makin tua makin mempesona. Kematangan dan ketenangan ada pada masa itu. Bagi yang hidup kini tidak punya masalah, carilah masalah, sikapi masalah sebagai pelajaran dalam hidup, agar hidup makin hidup.

Saya hendak menceritakan, masalah yang umum dihadapi mahasiswa perempuan kuliah s3. Karena saya melihat beberapa teman perempuan mengalami kemandekan studi, dengan beragam alasan. Perempuan yang ambil s3 jarang yang single role, rerata kuliah jadi mahasiswa s3 dan mengambil peran yang lain, ada yang bekerja di instansi atau bisnis sendiri dan berumah tangga. jadi bukan saja sebagai mahasiswa tetapi juga ada label tambahan emak, isteri, dan juga pegawai. Kebayang kan peran itu membutuhkan waktu dan space tersendiri. Dalam keadaan dan tuntutan yang sama dalam satu waktu, status sosial keluarga tentu tidak bisa diabaikan.

 

Saya lebih bahagia dan tenang dengan mengurus bayi, dan meninggalkan pekerjaan yang diluar. Meski segala konsekuensinya mesti ditanggung. Tetapi pilihan yang diambil tentu merupakan keputusan yang menjadi pertimbangan matang. Anak-anak terus tumbuh dan berkembang, masa bayi dan anak-anak tidaklah lama. Seorang ibu tentu tidak ingin kehilangan masa yang singkat merawat dan menyaksikan tumbuh kembang anaknya. Instansi tempat bekerja tidak akan bubar hanya karena mundurnya satu orang pegawai. Banyak yang dapat menggantikan. Tetapi ibu di rumah tidak bisa tergantikan oleh siapapun.

Ada sesuatu yang dilepaskan dan yang terlepas itu memiliki bargaining position yang lemah. Tidak rugi kehilangan sesuatu jika memperjuangkan untuk mendapatkan sesuatu yang besar. Ini bicarakan soal keterlambatan studi jadi kemana-mana ya.. sebenarnya tentu repot dan tidak repot itu bukan hal yang penting, tetapi sejauh mana seseorang bisa mensikapi kepadatan aktivitas itu hal yang perlu dilihat. Arena tidak sedikit orang yang dengan segudang aktivitas tetap saja bisa tuntaskan segala pekerjaannya. Jadi gubernur, ibu rumah tangga dan juga kuliah S3, everthing is oke. Persoalannya adalah bagaimana membagi dan memfungsikan peran dengan seimbang. Kebanyakan yang membuat masalah itu adalah karena ketidakseimbangan. Sehingga kelebihan di satu pihak dan kekurangan disisi lain.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat sesuatu lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan tugas. Ada banyak pilihan dalam satu waktu, namun ada keerbatasan yang dibuat dalam waktu bersamaan. Maka:

1. Tentukan prioritas

Banyak yang mesti dikerjakan dan dijalankan? Urutkan mana yang mendesak dan penting itulah yang menjadi prioritas utama. Jika sudah dipilih maka fokuslah. Agar apa yang dilakukan bisa tuntas dengan baik dan memuaskan. Saya sekarang bingung priotitas saya apa ya… (selesaikan kuliah lah) kenapa lambat menyelesaikan kuliah? itu karena konsekuensi pilihan, saya memilih mengandung, melahirkan generasi baru dan merawat calon pemimpin masa depan, pembela kebenaran, penegak keadilan, asset bangsa, agama dan Negara (ups..panjang amat). Tentu butuh waktu dan perhatian tercurah untuk pilihan yang saya buat. Mengurus bayi itu tidak lama, asi ekslusif 6 bulan, tumbuh gigi 4-6 bulan dan bisa jalan 10-12 bulan, bisa diajak ngobrol dan jalan bareng 2 tahun. Kapan fokus nulisnya… hehe.. Bener, mengurus bayi itu menggemaskan, mengasyikan dan menyenangkan.  Jika semua dikerjakan sendiri, tentu kerepotan dan bisa tidak asyik nantinya.. karena itulah perlu kerjasama.

2. Sinergi

Ada peran yang tidak bisa digantikan dan ada yang bisa diwakilkan. Itulah butuhnya kerja sama dan mencari bala bantuan. Menyusui bayi, saat asi ekslusif tentu tidak bisa diwakilkan, susu formula tidak sebanding dan skebaikan nutrisi pada ASI. Itu tugas pokok ibu menyusui, namun untuk lainnya ganti popok bisa orang rumah lainya yang bantu. Begitu pula nulis disertasi, it’s my task, kudu baca, menelaah dan menuliskan. Tetapi untuk mencari sumber atau refrensi bisa minta bantu dengan orang yang memiliki bidang ilmu yang sama atau orang yang memiliki koleksi buku pas dengan yang dibutuhkan. Ini bisa menghemat badget juga waktu. (saya beruntung dapat keberkahan ini, alhamdulillah).  Saling membantu, tolong menolong dalam kebaikan itu ruh kehidupan.

3. Woles

Semua sudah diatur, dipersiapkan, diusahakan, dan dijalankan akhirnya kudu sabar. Tenang dan nikmati proses. Selama proses dijalankan dengan baik dan benar, pada hakekatnya tidak ada kegagalan, yang ada adalah istilah penundaan hasil. Sabar sebentar untuk menanti berkah yang melimpah. Tentu tiada ada kesabaran dan ketenangan tanpa melibatkan Tuhan dalam semua perkara. Bisa terima dan tenang karena kita percaya Tuhan sedang berikan yang terbaik.

 

Akhirnya, tulisan ini sebenarnya adalah nasehat untuk diri sendiri. Saat hening dan menengok diri, berpadu dengan pikir dan rasa, menuangkan lewat kata, menjadi secercah semangat jiwa menapaki setiap nafas hidup. Entah apa yang ada dalam hati dan pikir terkadang begitu lembut menyapa jiwa dan tidak terasa menitikan air mata.

 

Love

Santi Lisnawati

26/2/14

Apakah itu Program?

Apakah itu Program?

 

Setelah menelaah beberapa refrensi tentang apaitu sesunguhnya program, maka saya tuliskan tentang program. Sembarang dan penempatan  kata program bisa diselipkan dalam berbagai kalimat, seperti:

  • Gambarnya bagus menggunakan program apa?
  • ‘Setelah beres kuliah ini apa program selanjutnya?
  • Sudah kuliah, ambil program studi apa?
  • Penelitiannya apa? Evaluasi program. Program apa yang  dievaluasi?

Kata program dalam kalimat tersebut di atas, memiliki beragam makna.  Seperti kalimat setelah beres kuliah ini, apa program selanjutnya, itu sebenarnya identik dengan sebuah rencana yang akan dilakukan. Dan ketika melakukan rencana yang dibuat tentu tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Ada pertanyaan siapa yang akan terlibat dalam rencana yang dibuat ini, kapan dan samapai kapan waktunya, butuh biaya berapa dan pertanyaan lain yang terkait dengan rencana yang akan dilakukan. (layaknya sebuah proposal)

Nah, kalau ada mahasiswa yang berniat mengevaluasi program, apakah program yang dimaksud? Saya jadi mulai kutip mengutip,  menurut Spaulding (2008)  A program is a set of specific activities designed for an intended purpose, with quantifiable goals and objectives.  Kegiatan yang disain khusus untuk tujuan dan arah yang jelas.

Sedangkan Arikunto dan Jabar (2007), program adalah suatu unit kegiatan yang merupakan realisasi atau implmetasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan dan terjadi pada suatu organisasi yang melibatkan sekolompok orang.

Merujuk pada dua pengertian program di atas, maka dapat diketahui ciri-ciri sebuah program yaitu:

  1. kegiatan yang memiliki tujuan. Banyak kegiatan disekitar kita, belum tentu itu program. Adakah tujuan dari kegiatan itu? Lanjutkan ke pertanyaan berikutnya;

 

  1. apakah kegiatan itu merupakan sebuah kebijakan? Jika ya, berarti kegiatan itu merupakan program. Kebijakan siapa? Siapa aja boleh.. maksud saya, bisa kebijakan pemerintah, kebijakan sekolah atau institusi, lembaga atau lainnya yang terorganisir. Kegiatan program merupakan implemtasi dari kebijakan pemerintah atau lembaga, tentu butuh waktu dan personal yang terlibat dalam melaksanakan program tersebut. Konsekuensinya kedua ciri tersebut melekat tambahan waktu dan personal.

 

  1. waktu implementasi program, sebetulnya baik lama maupun baru berjalan itu program jika tujuan ingin melihat efektifitas proses yang berjalan, tidak perlu menunggu selesai. Kapanpun itu evaluasi dilakukan memiliki manfaat tersendiri. Program belum selesai tidak bisa dievaluasi. Menurut saya bisa saja dievaluasi, jika tujuan untuk memperbaiki program yang sedang berjalan dalam satu unit, mengapa menunggu selesai. Kalau selesai berarti unit ini terlewat mendapat perbaikan. Misalnya kurikulum 2013 hendak dievaluasi implementasinya, dikatakan terlalu dini untuk dievaluasi. Menurut saya, evaluasi bukan hanya menggambarkan hasil dan memberi keputusan melanjutkan atau menghentikan program,  tetapi jauh lebih bermakna memperhatikan bagaimana proses yang terjadi, bagaimana pandangan setiap personal yang terlibat. Gambaran usia program yang belum lama dan yang sudah ada hasil tentu berbeda, dan tujuan mengevaluasi juga berbeda, so, no problem to evaluate something.. gunakan saja idenya Scriven evaluasi bisa dilakukan di tengah atau di akhir. Anyway, anytime sok lah..
  2. implementasi program tentu melibatkan sekelompok orang, karena muncul dari kebijakan publik, maka implemetasi dan hasil yang dari program tentu juga terkait dengan orang banyak. Jangankan urusan yang melibatkan orang banyak  Program yang merupakan kebijakan diri sendiri saja melibatkan banyak orang, karena pada hakekatnya kehidupan ini tidak dapat dilakukan sendiri, tumbuh dan berkembang membutuhkan orang lain. karena sejak lahir pun manusia tidk bisa tumbuh besar dengan sendirinya, tanpa bantuan dan dukungan sekelilingnya. Begitu pula dengan program yang dibuat.

 

Dengan begitu tidak perlu ragu untuk menumbuhkan semangat evaluasi terhadap kegiatan atau program dengan cirri-ciri di atas. Jika belum dapat mengevaluasi program, mengevaluasi diri sendiri juga menarik. Tetapi memang terkadang tidak ada habisnya.  Banyak orang terbiasa mengevaluasi diri sendiri ketika dipenghujung tahun, pergantian tahun dibarengi dengan refleksi dan membuat resolusi.

 

Resolusi mantep ditulis dan dibuat, tetapi tahapan proses hari demi hari juga penting diperhatikan, karena tidak sedikit resolusi hanya tulisan di selembar kertas tanpa jiwa. Maksudnya tidak dijalankan dengan penuh perhatian dan segenap hati. hehe.. ini pengalaman. Jika saya buka sendiri catatan yang merupakan mimpi-mimpi, saya rasanya sedang berjalan tetapi tidak sepenuhnya menjemput mimpi. Jadi pantas mimpinya masih bener-bener mimpi. Tetapi saya percaya dengan mengurai langkah dan kegiatan yang mengarah kepada pencapaian tujuan alias turunan mimpi itu bisa membantu, sehingga berjalan tidak kehilangan arah.

 

Akhirnya mengevaluasi diri pun sesuatu yang membutuhkan prinsip-prinsip kerja dalam mengevaluasi objek lainnya. Butuh ilmu..

 

Love

Santi Lisnawati

25/2/14. 05.00 am

Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif

Validitas dan Reliabilitas dalam Penelitian Kualitatif

Saya menuliskan tentang validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif setelah seharian kemaren membaca ulang buku-buku kualitatif.  Penelitian kualitatif tentu berbeda dengan penelitian kuantitatif. Namun kemunculan kuantitatif lebih dahulu maka para kuantitatifer minded akan mempertanyakan bagaiamana keabsahan penelitian kualitatif, dengan sudut padang penelitian yang telah diketahuinya.

Melekat dengan penelitian kuantitatif adalah istilah validitas dan reliabilitas. Validitas mempertanyakan apakah penelitian telah mengukur apa yang mesti diukur.  Cara-cara pengukuran validitas pun beragam baik secara konten maupun empiris. Secara konten alat yang akan digunakan dalam mengukur  memiliki  keabsahan secara logis, dan keterbacaan (face validity). Artinya peneliti membaca betul apa yang akan diukur, bagaimaa indikator dan butirnya, dan apakah butir yang dibuat telah mencerminkan indikator sesungguhnya. Begitu pula apakah indikator sudah merupakan cerminan dari variabel yang hendak diteliti.

Validitas secara empiris dilakukan setelah melakukan validitas logis dan face validity. Sebelum membagikan kepada sampel serupa sebagai ujicoba instrumen. Alat pengumul data juga lebih bagus jika dapat dikonsultasikan dengan pakar (expert judgment) paling tidak ada 5 pakar yang menilai alat yang akan dijadikan pengumpul data. Setelah menganalisis masukan penilai dengan menggunakan analisis statistik interrater, maka dapat dilihat kualitas alat  tersebut.

Melakukan tahap ujicoba alat kepada sampel serupa, kemudian dianalisis untuk menentukan indeks validitas dan reliabilitas alat tersebut. Reliabilitas adaah konsistesi alat yang digunakan. Artinya tingkan keajegan alat tersebut memiliki angka yang cukup reliable. Penghitungan ini dapat dilakukan dengan beragama cara penghitungan validitas dan reliabilitas. Kurang lebih terdapat 16 cara menghitung valisitas dan reliabilitas.

Peneliti kuantiatif  memiliki kerja ekstra memfixkan proposal dan instrument sebelum turun ke lapangan. Berbeda dengan penelitian kualitatif. Alat dan instrument  bukan merupakan panduan yang ketat dan kaku.  Jadi boleh saja langsung ke lapangan dengan proposal penelitian yang ada, dan tidak mustahil diperjalanan ada perubahan dari apa yang sudah direncanakan.

Penelitian kualitatif tidak mengenal istilah validitas dan reliabilitas. Namun hakekat bahwa penelitin itu mesti benar, dapat dipercaya,  dan objektif  tentu dipegang sebagai kekuatan penelitian. Namun istilah dan cara-cara yang digunakan berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif,  menurut Guba dan Licoln, dikutip Trochim (2006) terdapat istilah credibility, transferability, dependability dan confirmability.  Credibility  mengukur apakah hasil penelitian dari berbagai perspektif subyek dapat dipercaya. Padananan dalam penelitian kuantitatif adalah internal validity. Sedangkan transferability adalah berkaitan dengan hasil penelitian dapat ditranfer atau digunanakan pada konteks lain atau konteks yang lebih spesifik.  Dalam penelitian kuantitatif  dikenal dengan generalability, istilah  external validity.

Adapun dependability  berakaitan dengan apakah  hasil penlitian dapat diulangi lagi. sebenarnya ide dependability menurut Trochim (2006) adalah  menekankan kepada peneliti untuk melaporkan konteks setiap perubahan yang yang terdapat dalam penelitian. Peneliti bertanggung jawab untuk menggambarkan bagaimana perubahan yang ada dalam setting penelitian.  Ini dipadankan dengan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif. Confirmability adalah bagaimana hasil penelitian itu dapat dibenarkan oleh yang lain. artinya apa yang ditemukan, dituliskan dan dilaporkan sesuai dan dapat dibenarkan. Ini dipandankan dengan objectivity dalam penelitian kuantittaif.

untuk memenuhi kriteria keabsahan data dalam penelitian kualitatif tersebut di atas yaitu credibility, transferability, dependability dan confirmability digunakan cara tertentu. Creswell  (1998) dikutip Tauro (2011)  menggunakan triangulation, member check, and rich, thick description”.  Triangulasi adalah mengunakan beragam  sumber,  dan teknik yang dugunakan dalam pengumpulan data. “multiple sources, methods and time for collecting data”.

Beragam sumber dalam mengumpulkan data misalnya, menanyakan kebiasaan belajar  siswa, tidak hanya bertanya kepada  siswa tetapi juga bisa bertanya seperti kepada guru, teman,  dan orangtua. Metode pegumpul data yang beragam digunakan seperti tidak hanya cukup dengan wawancara tetapi juga bisa seperti obeservasi, pertanyaan tertulis, dokumentasi, dan kelompok fokus.  Triangulasi menguatkan dependability dan credibility penelitian kualitatif.

Member check yaitu diskusi peneliti dengan melibatkan orang yang terkait dengan penelitian dalam hal data yang dikumpulkan, untuk mengecek apakah interpretasi dapat diterima. Member chek mendukung keabsahan data dalam credibility.  Dan terakhir yaitu rich, thick description merupakan catatan yang detail dan tebal  yang mengambarkan setting dan apa yang diteliti. Ini untuk mendukung bahwa penelitian kualitatif dapat ditranfer atau digunakan dalam koteks lain, transferability.

Penelitin kualitatif yng bersifat interpretif tentu berbeda dengan paradigma positivistik. Kecenderungan bidang  yang ditelit juga berbeda. Namun sesungguhnya bidang apa saja bisa mengunkan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif tergantung tujuannya apa. Kalau menguji hiptesis, dengan melihat hubungan, maupun sebab akibat tentu cocoknya menggunakan penelitian kuantitaif. Tetapi jika ingin melihat sebuah fenomena secara mendalam tepat jika menggunakan metode penelitian kualitatif.

 

Keabsahan data dan cara pengumpulan data sangat penting baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Sebenarnya tidak perlu mempadan-padankan indicator keabsahan penelitian kuantitaif dan kualitatif. Karena keduanya bukan sesuatu yang sama, tetapi memiliki prinsip yang sama dalam sebuah penelitian yaitu menjamin keabsahan data.  Tidak perlu pula merendahkan dan mengunggulkan satu dan lainya dalam metode penelitian tersebut karena keduanya telah berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetauan di dunia ini.

Saatnya tidak merendahkan dan mengunggulkan satu dengan lainnya. Segalanya memiliki arti dan peran masing-masing.  

Pada Anak-anak Ada Kelucuan yang Menghibur

Pada Anak-anak Ada Kelucuan yang Menghibur

Ini cerita yang  anakku tertawa-tawa kalau ku ceritakan ulang.  Waktu aku kecil, di kampung belum banyak rumah, kanan, kiri jalan masih sawah dan kebun. Depan rumahku berhadapan ke jalan, dan baru ada rumah lagi setelah aku kira-kira mau lulus SD. Waktu itu rumah yang ada di depan rumahku sedang dibangun.  Di bawah rumah ku ada mesjid dan di kanan mesjid ada lapangan. Aku suka main sepeda di lapangan, temanku kebanyakan laki-laki, rasanya jarang teman peremuan. Jadi kebiasaan main bola, manjat pohon dan bersepeda itu yang paling sering, ketimbang masak-masakan atau main boneka.

Suatu hari pulang sekolah, di rumah tidak ada orangtua, aku tahu mereka biasanya ada di sawah. Aku hendak menyusul dan sekalian mau pamit main sepeda ke rumah nenek. Ganti baju yang agak bagus, karena rumah nenekku beda kampung dan lumayan jauh. Dengan menaiki sepeda keluar rumah aku berangkat. Jalanan dekat rumahku agak tinggi/menanjak, biasanya aku jarang menaiki sepeda jika turunan atau tanjakan, kebanyakan menuntun sepeda. Karena sepedaku berat dan tidak ada remnya. Meski kalau lihat temen naik sepeda diturunan asyik benar meluncur.

Hampir setengah perjalanan ke rumah nenenk, aku lupa bawa baju salin, karena di rumah nenek biasanya berenang di kali, jaga-jaga basah jadi bawa baju salin. Akhirnya aku balik lagi  ke rumah mengambil baju salin.  Mendekati turunan dekat rumah, biasanya aku turun dan menuntun sepeda, naum kali ini aku mau coba dengan tetap menaiki sepeda, menahan laju sepeda dengan rem kaki ke belakang ban. Aku sering lihat anak-anak seusiaku kalau turun ke lapangan dari atas, terus meluncur dengan menempelkan kaki ke roda belakang sepeda. Laju sepeda dapat tertahan. Aku pikir gampang, akhirnya ku coba..

Kecepatan sepeda tinggi, dan lebih tinggi lagi saat turunan. Sial aku tidak bisa menahan laju sepeda. Sambil  sepeda meluncur turun aku teriak.. “aaaaa….aaaa…”Menurut orang yang sedang bekerja memasang genting rumah yang tempatnya di depan rumahku, dipikirnya aku sengaja sedang ngebut, terdengar teriakan tukang bangunan itu bilang.. “ayo neng kebuut.. kebuut..” aku timpali aaaa…lebih panjang lagi, karena aku panik dan tidak bisa belok. Tepat depan mesjid mestinya belok, aku malah lurus.  Kalau belok itu jalan yang benar, tapi kalau lurus aku masuk sungai kecil bersebelahan dengan  empang/kolam ikan.

Tidak bisa tertahan lagi akhirnya aku masuk selokan. Terjungkal dan melayang sepertinya, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, sampai  terdengar ada orang ramai mendekatiku. Mereka menyingkirkan rangka bambu kering yang menutupi sungai kecil. Barulah mereka menarik tanganku, baru sadar kalau aku jatuh dan sepedaku ada disebelahnya.

Malu beneran.. enggak sempet bilang aduh, hanya senyum, ambil sepeda dan bilang terima kasih. Hendak pulang dan menuntun sepeda, tiba-tiba ada ibu setengah tua datang dari balik jamban pembuangan hajat umum. Dengan polos dia bilang, “kenapa.. koq baju basah dan lumpur  gitu” Aku bilang “jatuh disitu”.  “O.. yang suara tadi gedeblug itu eneng jatuh, kirain nangka jatuh” Gubraks.. (gw disamain nagka jatoh)

Suka bener anak-anak dengan penderitaan emaknya waktu kecil. Mungkin anakku membayangkan emaknya yang ngebut di turanan itu, sambil teriak aaaa.. yang dipikir orang sedang aksi unjuk kepandaian bersepeda. Sehingga orang yang melihatnya dengan percaya diri memberi support, “ayoo..neng..kebuuut”  emm.. ternyata, teriak ketakutan karena gak bisa ngerem, dan terjungkal salto masuk solokan sama sepedanya.

Buatku masih untung juga waktu jatuh, sepeda gak menimpa ku, dan medan jatuhan badan dan kepala juga tidak ada batu atau bidang yang keras. Jadi masih aman, hanya sedkit kaget karena melayangnya aja dan tambahan sedikit malu.. Akhirnya, aku pulang ke rumah, bersih-bersih dan ganti baju. Aku langsung mencari umiku dan sepeda ku tinggal di rumah. Waktu ku ceritakan ke umi, bukan dikasihani tetep aja diketawain.

Pada anak-anak selalu ada kelucuan yang menghibur.

 

Niat Shalat dan Iming-Iming Hadiah

Motivasi dan niat orang melakukan sesuatu sangat beragam. Begitu pula dengan melakukan ajaran agama meski ibadah sejatinya hanya karena Allah namun diperjalanan terkadang niat orang bukan saja hanya karena itu. Ada udang dibalik bakwan. Ada iming-iming hadiah yang dituju. Namun sesungguhnya yang mengetahui niat  yang ada dalam hati adalah Allah. Cerminan niat dapat terlihat dari perilaku dan sejauhmana mensikapi persoalan  dan tantangan yang datang.

Di Bengkulu, ada banyak orang yang tiba-tiba rajin mendatangi masjid at-taqwa, pada saat zuhur.  Mereka shalat zuhur berjamaah, datang dari beragai perkantoran dan beragam masyarakat. Tidak seperti biasanya, karena memang kali ini ada janji hadiah dari Wali kota bagi yang shalat zuhur berjamaah selama 40 hari berturut-turut. Tidak semua yang shalat di mesjid at-taqwa itu hanya niat karena ingin mendapat hadiah innova atau umroh semata. Tetapi tidak juga ketahui secara pasti niat seseorang. Namun terlihat sejak dibuka pendaftaran shalat zuhur 40 hari tanpa absen,  orang ramai dan turut dalam memenuhi persyaratan dan ketentuan itu. Walaupun sedang haid perempuan tetep ke masjid, meski tidak shalat katanya bisa nunggu sandal. Karena  jika kosong, atau absen maka hitungan kembali lagi ke awal. Sungguh ritul ibadah ini layaknya sebuah permainan.

shalat n innova

kompas.com/Firmansyah. Suasana di dalam Masjid At-Taqwa Kota Bengkulu sebelum shalat jamaah Zuhur dimulai.

 

Syarat dan ketentuan diberlakukan. Tidak heran meski shalat berjamah sudah dimulai, Imam mulai takbir, ada jamaah shalat yang niatan shalat karena hadiah  belum mengumpulkan persyartan, tentu lebih mendahulukan mengumpulkan peryartan agar berpeluang mendapat hadiah. Inilah cerminan dari niat, meski niat hanya dalam hati hanya Allah dan yang bersangkutan yang tahu, namun niat merupakan arahan, kompas dalam sebuah tingkahlaku yang ditunjukkan. Kecenderungan perilaku, mencerminkan arah atau tujuan perilaku tersebut.  Esensi ibadah dapat kehilangan makna saat ibdah hanya gerak dan duniawi semata. Lebih suka hadiah materi ketimbang cahaya bagai matahari dari Allah. Itulah cerminan sebuah niat.

Walikota yang prihatin dengan sepinya masjid, dan melakukan cara  memberikan hadiah agar masjid penuh dengan orang yang sahlat, tercapai sudah, karena banyak orang yang berdatangan dan memenuhi masjid untuk shalat zuhur bejamaah. Namun sesungguhnya shalat bukanlah seperti keramaian orang yang senam pagi di lapangan,  dimotivasi hadiah ramai berdatangan. Shalat memiliki hubungan vertical, yang meski memiliki dampak bagi pelakunya.  Apa artinya ramai jika ruhnya kosong. Mendapatkan hadiah Materi yang tertanam dibenaknya, bukan  wujud rasa syukur dan mohon  ampunan dan kasih sayang Allah.  Departemen Agama, seyogyanya bekerja keras, memberikan penyuluhan agar masyakat dapat tercerahkan. Saat jamah berkumpul sahalat dan memenuhi ruang masjid, membetulkan niat dan mencerahkan makna ibadah mungkin menjadi sebuh langkah  membuat nikmat nasi yang sudah jadi bubur.

Sebagai seorang beragama, Saya  percaya Wali Kota memahami esensi shalat dan niatan shalat.  Namun keperihatinan  beliu akan mesjid yang  sepi jamaah dan jarangnya orang yang shalat, membuat sebuah motivasi yang saya kira sebuah tindakan semu. Bagai buih, yang terlihat bagus dan banyak  namun mudah hilang.  Efek dari ini ada motivasi berbuat, yang hanya karena materi, maka memungkin keruskan mental, sehingga membuat  masyartakat dibodohkan.

Namun sesungguhnya dari kejadian ini begitu banyak terdapat pelajaran berharga, alih-alih menyalahakan, sebaiknya melihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan masyarakat muslim  sesungguhnya. Sadar kejadian ini adalah menjadi cerminan bagaimana ummat mensikapi sebuah ajaran agama. Materi lebih menggiurkan ketimbang ampunan dan kasih sayang Allah. Kesadaran agama bahwa Allah adalah penjamin rezeki dan janji Allah akan sebuah kebaikan belum terinternalisasi.

 Target jangka pendek lebih menarik dari pada masa yang panjang. Kehidupan di dunia lebih menarik dari kehidupan akhirat. Padahal akhirat itu lebih baik. QS. 87:17. Namun sungguh menyadarkan dan mengambil peran untuk jangka panjang tidak banyak orang melakukan. Karena itulah aktivitas mengingatkan, mengajak kepada yang benar (Dakwah), tidak pernah berhenti. Dengan berbagai sisi pengetahuan dan  bidang  ilmu, memberikan pencerahan bagi banyak orang. Dengan kejadian ini diketahui bahwa pengetahuan dan pemahaman agama masyarakat pada umumnya dalam menajalankaan ajaran agama masih sebatas ritual yang lepas dari kebermaknaan. Mudah dipermainkan dan dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan. Ini menjadi gambaran bagaimana sebaiknya pemerintah menata kehidupan agama. Ulama dan umaro bertangung jawab membuat masyarakat tercerahkan.

Mengubah sesuatu dengan cara instan dan mengedepankan jangka pendek berakhir dengan kesunyian.

Menguji Proposal

Proposal adalah rencana detail dan terukur tentang apa yang dicapai atau dilaksanakan. Proposal hidup adalah perencanaan hidup yang akan dijalankan. Proposal pernikahan adalah rencana detail tetang pernikahan yang ingin dilaksanakan. Proposal penelitian adalah rancangan perecanaan detail dan terukur tentang penelitian yang akan dilakukan. Proposal kematian adalah rencana yang akan dicapai dalam kematian. (meski tidak tahu kapan kematian itu tiba, maka waktu, tempat kematian masih rahasia, usia kematian rahasia, dalam keadaan seperti apa saat kematian rahasia.. proposal kematian adalah perencanaan penuh rahasia, pada bagian tertentu).

Jika kematian datang tidak membenci dan dendam kepada siapapun mungkin bisa dijalankan, terus berlanjut dalam hidup dengan menahan untuk tidak membenci dan dendam kepada siapa pun. Jika kematian datang tidak berhutang, mungkin bisa juga dijalankan, dengan sebisa mungkin tidak berhutang semasa hidup. Ingin saat kematian datang ketika setelah subuh, o.. tidak bisa dilaksanakan. Karena kematian datang tidak ada yang tahu kapan waktunya datang. Ingin kematian datang saat usia 40 tahun juga tidak bisa ditentukan.  Waktu kapan, jam, tanggal, hari dan tahun kapan meninggal tidak bisa dipastikan. Dimana saat kematian datang pun tidak bisa diketahui pasti, apa di tempat tidur, di kamar mandi, di mushola, di pasar, atau di rumah sakit, tidak ada yang tahu satu pun. Dalam keadaan apa meninggal dan lantaran apa meninggal juga tidak kita ketahui. Yang pasti lantaran saat malaikat ijrail menghampiri dan membawa terbang ruh yang ada dalam jasad ini.

Saya hendak menceritakan proposal tapi proposal penelitian, karena baru kemarin ujian proposal penelitian.  Ada hal-hal penting yang menurut saya bisa menjadi bahan self correction sebelum maju seminar proposal. Kalau saya sich serba nekat dan kepedean, soal nanti bagaimana, urusan bagaimana nanti saja, jadi tidak banyak persiapan, hehe…contoh yang tidak patut ditiru.

 Image

Gambar: MEKATRONIKA INSTRUMEN: Apa Itu Proposal? dendiatama.blogspot.com

Setelah seminar selesai dan beberapa pertanyaan diajukan, sebenarnya itu kegalauan saya sendiri yang belum saya tuntaskan. Seberpa kejelasan proposal yang dibuat kita bisa rasakan sendiri. Dengan pertanyaan sederhana apa dan bagaimana, ajukan semua pertanyaan terhadap proposal yang dibuat. Jika mampu dan dengan yakin dapat dijawab dan rasional dengan bukti yang akurat kemungkinan kejelasan proposal di atas 90%.

Ada yang menjadi ulasan penting dalam mengecek sejauhmana kejelasan dan keterukuran proposal penelitian yaitu:

1. Latar belakang masalah

Menjelaskan berbagai fakta dan data terkait yang menjadi masalah serta memaparkan bagaimana semestinya itu terjadi. Das sein dan sollen. Hal yang yang semestinya dan fakta sesunguhnya jika ada kesenjangan ituah masalah.

2. Rumusan masalah

Masalah dirumuskan sesuai dengan latar yang telah dibahas. Meskipun rumusan masalah sudah faham agar lebih mudah dalam bentuk pertanyaan, namun kedalaman dan greget masalah yang diangkat itu penting.

Mikir dah.. greget gak tu masalah yang dibuat dalam proposal penelitian.

3. Kajian teoretik

Apa yang menjadi masalah dan apa yang seharusnya itu tertulis di bab pendahuluan. Selanjutnya mengkaji teori yang terkait dengan pembahasan. Semakin kaya bacaan pastinya semakin terang dan lapang apa yang dimaksud nanti dalam penelitian. Bahasan teori yang miskin membuat miskin pemahaman dan sempit pemadangan (ni ngomong taman apa penelitian…)  

4. Metodologi

Sudah menarik dan bagus latar dan masalah yang dibuat, jika tidak cara menyelesaikan atau metodologinya kurang pas, ancur tu penelitian. Beragama metodologi yang bisa digunakan dalam menyelesaikan masalah penelitian. Mulai dari kuantitatif, kualitatif, sampai pada partisipatori. Untuk dalami macam-macam metode penelitian kebet lagi dech buku metodologi.

 

Proposal ya sampai kepada apa yang dimaksud, seperti apa teorinya dan bagaimana caranya. Hal itu menggambarkan jika nanti akan dipraktekan atau turun lapangan, maka segalanya sudah jelas.

Ujian proposal penelitian sesungguhnya menguji sejauh mana kejelasan arah dan apa yang akan dilakukan dalam penelitian. Mengecek rasionalisasi dan konsitensi dari setiap komponen yang ada.

Serunya di  ujian proposl kita menggabugkan beberapa pemikiran yang kadang menurut yang satu sepakat, belum tentu sepakat bagi penguji lain. Jadi beruntung bagi mendapat masukan tetapi di antara penguji sepakat artinya jelas masukan itu dan penting, mudah untuk diselesaikan.Jika proposal oke, maka 1/3 perjalanan penelitian sudah dilewati. 2/3 lagi adalah pengumpulan data dan pelaporan.

 Image

 Gambar: pariamantoday.com

 Sesulit dan setidak jelas apapun proposal penelitian yang dibuat, masih ada jalan untuk mengubah dan memperjelas. Dibanding dengan proposal kematian yang setengah mati buatnya tetap saja ada hal yang tidak dapat dipastikan. Misteri kematian layakanya kelahiran, No one never knows, when that happened.

 

 

Tekanan Bisa Melumpuhkan dan Menghidupkan Hidup, Pilih Mana?

Manusia lahir begitu absurd, tidak pernah minta dilahirkan tetapi terlahir. Tidak pernah minta lahir di negeri ini, sudah terlahir. semua serba tidak dimengerti. Jika dapat memesan, mungkin banyak permintaan minta lahir dari orangtua yang ini, negara yang itu, wajah yang seperti ini, pokoknya ini dan itu banyak sekali (Doremooon……).

Seiring kedewasaan dan waktu yang dilalui, maka kelahiran di bumi ini adalah berkah dan kasih sayang Allah kepada manusia. Segala potensi telah dibekali untuk dapat hidup. Memang manusia lahir tidak seperti domba yang sudah ada bulu penghangat, atau sudah ada kuku tajam seperti macan, kulit yang tebal seperti kerbau yang tahan gores. Manusia begitu lemah, sensitif dan rentan. Tetapi Allah telah lebihkan manusia dari segenap ciptaan yang lain dengan akal budi yang dapat sampai kepada sebuah kebenaran.

Manusia lahir tidak membawa proposal hidup. hendak jadi apa dan apa saja yang akan dilalui tidak secara pasti diketahui. Semua digariskan dengan sangat umum ada kematian, kehidupan, kematian dan kehidupan abadi. Sebelum manusia lahir ke dunia, Allah tiupkan ruh, dan menentukan rizeki, jodoh, kematian dan takdir yang memang misteri.

Dalam alam hidup kini di dunia, dengan jatah jumlah waktu yang sama, sehari semalam 24 jam, dengan bumi yang dipijak sama dan mentari yang dinikmati sama, namun pengalaman, jalan hidup, dan nasib  berbeda.

Kehidupan sukses, bahagia dan ada pula sengsara, menderita. Meski bersekolah, sekolah bukan jaminan kesuksesan dan keberhasilan hidup. Walaupun di sekolah mengajarkan pengalaman terbaik, tetapi jika yang sekolah saja bisa mungkin tidak berhasil apalagi yang tidak sekolah. Sekolah sesungghnya ada dalam kehidupan, menjadikan pelajaran dari setiap pengalaman. Mengambil makna dari apa yang telah terjadi, dan menuntun kepada kehidupan yang lebih baik.

Dengan kesadaran proposal hidup dapat dibuat, dijalankan dan dicapai segala maksud. Belajar dari orang-orang yang telah lalu menempuh jalan yang jelas dan tegas. Jika tujuan hidup telah jelas kerikil kecil dan batu besar bukan penghalang. Tekanan hidup kadang dibutuhkan terlebih bagi yang belum menemukan arah hendak kemana dan apa yang diperbuat untuk kehidupan berikutnya.

 Image

Gambar: freedom2.jpg www.freedom-at-work.com

Tekanan hidup ibarat sebuah pegas yang ditekan, yang dapat melejitkan segala yang dimiliki, segala potensi yang ada. Dalam keadaan normal tidak banyak lompatan yang ada. Bagusnya memang tidak perlu tekanan dan tetap melesat. Tetapi rasanya tidak ada jalan yang mudah tanpa peluh dan air mata untuk sebuah pendakian yang tinggi.

Dalam tekanan dan penderitaan tidak terpuruk dan merusak hidup, namun tetap hidup di alam kekabasan jiwa. Itu sebab meski raga terpenjara namun jiwa tetap menemui kebebasan. Banyak Tokoh yang meski terpenjara tetap dapat menghasilkan karya terbaik.  Sayyid Quthb dapat menylesaikan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an saat dalam penjara,  demikian Hamka menulis dan menyelesaikan Tafsir Al Azhar dalam penjara.

 Image

Gambar: http://gedeprama.blogdetik.com/2013/09/27/burung-elang-kebebasan/

Terpenjara atau pun tidak jiwa mesti tetap terbebas dan hidup menghidupkan jiwa.

 

 

Cara Praktis dan Terukur Habibi Mensikapi Duka di Acara Mata Najwa

Menyaksikan ‘Habibi Hari Ini’ di Mata Najwa, menyiratkan bagaimana pemikiran dan sikap orang besar dalam mensikapi persoalan. Meski ada dalam sebuah keadaan yang sebenarnya patas untuk bersedih, marah dan kecewa tetapi itu tidak diutarakan dan tidak menjadi pikiran utama dalam arus pikir dan tindakan.

Najwa mengingatkan kesedihan lama, saat Habibi ditiggal istrinya, Ainun. Najwa mengatakan ‘Saya terakhir mewawancarai saat melihat Habibi begitu patah hati ditinggal Ainun’. Tetapi dengan tegas Habibi mengatakan ‘Saya tidak patah hati, saya hanya kehilangan. Sedih ya, karena separuh jiwa Saya hilang’.

 Image

Gambar: https://www.facebook.com/habibiecenter?ref=stream&hc_location=stream

Saya melihat kewajaran emosi manusia yang kehilangn ya pasti sedih, tapi bagaimana Habibi mensikapi kesedihan untuk tidak berlama-lama tinggal dalam hati dan pikiran.  Jika terus diratapi mungkin bukan hanya rasa sedih yang hadir tetapi juga kesendirian, kesepian dan kenelangsaan.

 Pikiran akan mendukung dan mereferensikan segala hal yang menjad pusat pikir. Jika berpikir negatif maka data negatif tanpa diundang akan hadir. Begitupun sebaliknya, berpikir positif segala hal yang bersifat positif akan hadir mendukung pikiran.

Cara yang jelas dan terukur dilakukan Habibi untuk mensikapi duka kehilangan, Ia mengataan bahwa, ‘Ainun tetap ada, saat saya sedih dan teringat Ainun, saya pejamkan mata, lalu Ainun dengan senyum seolah berkata, Mengapa sedih.. saya tetap ada. Itulah sebuah keyakinan yang selalu dibenamkan dalam hati dan pikiran bahwa Habibi tidak kehilangan Ainun.

Pikiran adalah anugerah Allah yang luar biasa, memanfaatkan pikiran untuk mengubah duka dan kesedihan menjadi sebuah kehangatan dan kemandirian adalah hal yang bisa terjadi.

Cara praktis dan jelas yang bisa dilakukan untuk mengubah kesedihan, lakukan terus berulang dan itulah yang akan tersimpan dan menjadi obat. Setiap orang tentu pernah memiliki pengalaman sedih, tapi saya kira dengan cara tetap berpikir positif dan mengingat hal dan kebaikan yang ada, sedih berubah menjadi kekuatan yang terus terasah, motivasi untuk terus bergerak.

Hal yang indah kini bagi saya sendiri adalah saat benar-benar merasakan makna dibalik kata yang sering dipesankan, menjadi sebuah pesan yang dalam saat saya kehilangan. Kalimat ‘Jangan sedihlah,’ dahulu saya  bingung menerjemahkan dan mengopersionalkan kata ini dalam mensikapi persoalan yang saya hadapi, kini menjadi jelas. Termasuk saat kehilangan arah, dengan pesan ini ‘Semangat dan fokus’  dahulu masih juga gagal menterjemahkan untuk diri sendiri. Karena saya tidak melakukan apa-apa untuk itu, saya malah sibuk dengan urusan lain, sementra persoalan itu hanya sampai dipikirkan dan terus dipikirkan. Itulah kesalahan yang pernah dialami.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Sementara oranglain melihat kita dari apa yang kita lakukan. Maka jangan kebanyakan mikir, iringi dengan yang mesti diperbuat.

Berapapun kesalahan dan duka yang telah lalu, hidup ke depan adalah mungkin diwujudkan dengan lebih baik. Semangat, fokus, dan brani hadapi hidup.

 

 

 

 

Ciri Hidup ya.. Berubah

Bukan hidup namanya kalau tidak berubah. Ciri hidup itu berubah, buktinya lihat saja fisik kita dari mulai bayi terus berubah sampai saat ini. perubahan dalam hidup adalah keniscayaan. Tidak perlu takut untuk berubah dan jangan pesimis tidak berubah. Secara fisik kadang orang menahan datang perubahan, merasa takut dengan perubahan, yang tadinya kulit segar, takut kerut, rambut hitam lebat takut jadi putih dan bisa dihitung. Berbagai cara dilakukan pakai anti kerut, anti penuaan dini.  Boleh-boleh saja dilakukan, tetapi ada yang mesti disadari cepat atau lambat menua itu pasti. Menerima serta menyesuiakan diri dengan masa tua adalah tugas penting hidup pada masa tua.

 Image

Gambar: الطريق الى الله

Perubaahan secar fisik tidak perlu ditunggu dan dipelajari banyak, itu alami dengan sendirinya terjadi. Menjaga dn merawat fisik sudah tentu, karena merupakan kewajiban menjaga karunia Tuhan. Ada hal yang jauh lebih penting isi kepala dan isi hati yang waktu kita lahir belum banyak isinya, itu yang mesti diperhatikan. Berubah dari yang tidak tahu menjadi tahu, berubah dari hati yang keras menjadi lembut. Tentu perilaku beriiringan dengan hati dan pikiran. 

Pengalaman hidup dan belajar membuat orang berubah. Mencerna apa yang dilakukan dan mana yang terbaik untuk dilakukan. Karena itu perubahan adalah sesuatu yang progressif. Mundur juga berubah tapi itu identik dengan kata kemunduruan. Berubah adalah maju ke depan dan bersifat positif. Berubah adalah bergerak. Betapa dinamis hidup ini dan tentu optimis dengan bergerak akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah kita duga.

Betapa bergerak itu penting.Teringat dengan tulisan Iqal, seorang pembaharu, yang lama pernah ku ingat, sebagai teman penyemangat, kalau tidak salah ini bunyinya

“Berhenti tidak ada jalan di tempat ini

Sikap lamban berarti mati

Mereka yang berhenti sejenak sekalipun pasti tergilas”

Zaman terus berubah, sikap fleksible dan adaptable menjadi kekuatan dalam mengarungi perubahan. Jangan galau hadapi masalah, bergeraklah perubahan akan datang. Jangam apatis dengan sesuatu yang baru, cobalah, perubahan akan terjadi. Berpikir positif dengan perubahan sesuatu yang positif pasti datang.”Think positive and positive thing will happen.

 Image

Gambar: rofi-al-chemy.blogspot.com

Apapun yang terjadi nikmati, bergeraklah, perubahan akan datang, dan itulah Hidup.

Seberapa Bahagia Anda? #Bahagia 5

Mulut bisa mudah berkata dengan meyakinkan bahwa kita sungguh bahagia. Namun sesungguhnya seberapa besar bahagia yang kita miliki, sejauh mana akan bertahan?  Tidak ada yang tahu. Hari ini tersenyum, belum tentu besok. Sebaliknya hari ini menangis bombay esok belum tentu. Bagaimana menikmati semua rasa dengan bahagia, berarti diperlukan bahagia yang tersimpan memiliki ruang yang kokoh dan tidak akan pernah terpeleset dengan kerikil duka, lara atau pun lainnya.

Image 

Bahagia sesunguhnya jika Tuhan telah menjadi tujuan hidup. Tidak ada satupun perintah Tuhan yang mengarah kepada kerugian diri sendiri dan orang lain. kesenangan sesaat dengan merugikan orang lain adalah bahagia semu, dan bukan dikatakan bahagia sesungguhnya. Karena ujung dari apa yang diperbuat merugikan orang lain berakhir pada terpasungnya ketenangan dan kebebasan dalam hidup.

Tuhan menjadi tujuan, terwujud dalam hubungan terhadap sesama. Masihkan merapas hak orang, masihkan iri hati dengan karunia Tuhan yang diberikan kepada orang lain. jika masih ada berarti bohong mengaku bahagia. Karena bahagia ada dalam keikhlasan, bahagia ada dalam cinta dan kasih sayang.

Jalan yang di tempuh menuju Tuhan mendaki dan terjal. Jalan diluar itu menyenangkan, meski harus berbayar, mahal pula.  Jika hati masih keras dengan  kesombongan tidak mudah menapaki jalan Tuhan. Pembenaran atas apa yang diperbuat sendiri dan meredahkan orang lain adalah buah dari keangkuhan. Jiwa yang sesungguhnya sedang hidup dalam gelisah dan tentu tidak bahagia.

Konsekuensi dari apa yang telah diperbuat baik jalan yang lurus maupun berliku kelak tersedia pilihan yang sesuai dengan apa yang diperbuat. Sesunguhnya hidup ini sedang meretas jalan menuju pilihan yang akan kita ambil. Jika tidak mudah mencapai taman nan indah di surga, tentu karena jalan ke surga diliputi hal-hal yang tidak disukai, dan tidak digemari. Sedang api neraka diliputi  dengan berbagai hal yang diliputi nafsu syahwat.

Seberapa bahagia kita? Jeda, dan masuki setiap sudut dalam diri. Seberapa dekat dengan Tuhan, seberapa banyak libatkan Tuhan dalam langkah hidup, ukur kebahagiaan diri sendiri, dan hanya diri sendiri yang merasakannya sebarapa bahagia kita.

 

Gambar:  explorequotes.com