Saat Mampu Menahan untuk Berbuat Semaunya #Bahagia 3

 Manusia memiliki kemampuan dan kelebihan dapat berbuat sesuka hati dengan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki. Namun saat mampu menahan perbuatan sesuka hati, dan berbuat hanya karena mengharap Ridho Allah maka itulah satu kebahagiaan.

sabar2

Melanjutkan diskusi tentang bahagia, tentu setiap orang memiliki makna tersendiri akan arti bahagia. Namun mampukah bahagia tetap jadi pilihan disaat kritis lewati persoalan hidup, menghadapi kekecewaan, dan segala hal yang membuat marah. Inilah masalah hidup, bagi yang memperkokoh rasa bahagia dalam diri, persoalan serumit apapun dalam hidup tidak pernah mengalahkan rasa bahagia dalam diri.

Tidak mudah menjaga dan tetap bahagia di tengah persoalan hidup yang rumit, kompleksitas emosi manusia yang tidak pernah matang. Namun ada hal yang membuat manusia tenang saat segala sendi kehidupan hancur namun mampu dengan tenang dan penuh harapan dalam diri bahwa Allah masih tetap ada. Tempat segala harap yang tidak pernah habis.

Jika berpulang kepada Allah,  masihkah ada alasan untuk bersedih, marah, dan  kecewa? Apa yang kita miliki sesunguhnya hanya semu, apa yang kita tinggali sesungguhnya fana, apa yang kita banggakan sesungguhnya tidak ada. Manusia yang lemah, tidak pantas sombong dan angkuh.  Keberadaannya membutuhkan orang lain. keberadaan orang lain membuat hidupnya bermakna.

Saat penghinaan, ancaman dan perbuatan keji itu menimpa Muhammad SAW, Malaikat menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan yang tidak pantas dan sangat terlalu, namun Muhammad SAW tidak pernah melakukan perbuatan membalas atas kepedihan yang dialami. Saya percaya saat itu bahagia bagi Rasul bukan membalas kepedihan yang dialami dengan kepedihan pula. Namun doa yang tulus agar memahami dan bersama dalam Lindungan Allah. Kita memang buka rasul yang maksum, namun perilaku mereka menjadi cerminan dalam melihat perilaku mulia.

Ada dua hal yang saling bertarung dalam diri kita. Siapa yang diberi stimulasi yang kuat, diberi makanan yang banyak dia yang cenderung menang. Ego diri dan hati nurani, jika ego yang terus distimulasi, diberi makan dengan selalu diperturutkan kecenderungan itulah yang muncul dalam setiap tindakan, dialah pemenang dalam setiap pertarungan hidup yang dilewati. Mementingkan diri sendiri, melihat sisi buruk dari segala persoalan itulah buah dari menumbuhkembangkan egoism.

Memupuk hati nurani, cenderung kepada kemaslahatan, kepentingan orang banyak, melihat dengan sudut pandang yang positif, berbaik tanpa ada konflik, bersabar atas segala hal yang dilewati menjadi makanan bergizi bagi nurani. Jika itu yang dipupuk dan dikembangkan itulah yang tumbuh subur dalam jiwa.

Ada hal yang membuat kuat, bersabar dan tetap bahagia:

1. Allah sebagai Tujuan

Apapun yang disandarkan karena Allah tidak akan kecewa dan sia-sia. Jika bekerja karena Bos, atasan, atau orang lain dengan segenap pikiran, hati dan tenaga, kemudian apa yang sudah dikerjakan tidak dihargai malah dihinakan tentu ada rasa kecewa. Namun bagi yang sudah diniatkan bekerja karena Allah, tanggung jawab pekerjaan, dan memberikan yang terbaik, hadiah terindah adalah saat pekerjaan itu terwujud dan selesai.

Namun jika ada yang merasa kecewa atas perlakuan atasan dengan apa yang sudah kita perbuat, sabarlah. Ingat Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala yang berbuat kebaikan. QS 11:115.

2. Sabar dengan Perbuatan Baik

Perjuangan berat untuk menanamkan kebiasaan baik. Seperti pekerjaan bisa shalat tepat waktu, biasa puasa sunnah, selalu membiasakan sedekah, tilawah dan hal lain yang baik dan dianjurkan, baik pekerjaan yang berhubungan secara  vertical maupun horizontal. Konsisiten, disiplin dan terus hingga akhir. Melangkah terus ke depan tanpa mundur dan berbalik ke belakang. Sungguh pekerjaan yang mendaki dan berat. Tetapi meski begitu pasti ada ujung yang manis. Akhir kehidupan yang Indah. Kematian yang dirindukan, tempat kembali yang didambakan.

Perhitungan perjuangan manusia di bumi meski tidak diketahui dengan pasti, namun pada umumnya dilalui dengan batas waktu diusia tua renta di atas 70 tahun, sangat jarang yang centerian. Artinya tetap pasti ada ujungnya, dan tidak perlu ditunggu, akhir itu akan datang. Lalui terus dengan berbuat baik dan memperkokoh kesabaran. Kelak akan ada akhir yang membahagiakan.

Jika tidak ada kematian dan pertanggung jawaban di hadapan Tuhan, Berbuatlah sesuka hatimu.

Selamat berbahagia

Gambar: http://inikebebasanku.blogspot.com/

One thought on “Saat Mampu Menahan untuk Berbuat Semaunya #Bahagia 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s