Tekanan Bisa Melumpuhkan dan Menghidupkan Hidup, Pilih Mana?

Manusia lahir begitu absurd, tidak pernah minta dilahirkan tetapi terlahir. Tidak pernah minta lahir di negeri ini, sudah terlahir. semua serba tidak dimengerti. Jika dapat memesan, mungkin banyak permintaan minta lahir dari orangtua yang ini, negara yang itu, wajah yang seperti ini, pokoknya ini dan itu banyak sekali (Doremooon……).

Seiring kedewasaan dan waktu yang dilalui, maka kelahiran di bumi ini adalah berkah dan kasih sayang Allah kepada manusia. Segala potensi telah dibekali untuk dapat hidup. Memang manusia lahir tidak seperti domba yang sudah ada bulu penghangat, atau sudah ada kuku tajam seperti macan, kulit yang tebal seperti kerbau yang tahan gores. Manusia begitu lemah, sensitif dan rentan. Tetapi Allah telah lebihkan manusia dari segenap ciptaan yang lain dengan akal budi yang dapat sampai kepada sebuah kebenaran.

Manusia lahir tidak membawa proposal hidup. hendak jadi apa dan apa saja yang akan dilalui tidak secara pasti diketahui. Semua digariskan dengan sangat umum ada kematian, kehidupan, kematian dan kehidupan abadi. Sebelum manusia lahir ke dunia, Allah tiupkan ruh, dan menentukan rizeki, jodoh, kematian dan takdir yang memang misteri.

Dalam alam hidup kini di dunia, dengan jatah jumlah waktu yang sama, sehari semalam 24 jam, dengan bumi yang dipijak sama dan mentari yang dinikmati sama, namun pengalaman, jalan hidup, dan nasib  berbeda.

Kehidupan sukses, bahagia dan ada pula sengsara, menderita. Meski bersekolah, sekolah bukan jaminan kesuksesan dan keberhasilan hidup. Walaupun di sekolah mengajarkan pengalaman terbaik, tetapi jika yang sekolah saja bisa mungkin tidak berhasil apalagi yang tidak sekolah. Sekolah sesungghnya ada dalam kehidupan, menjadikan pelajaran dari setiap pengalaman. Mengambil makna dari apa yang telah terjadi, dan menuntun kepada kehidupan yang lebih baik.

Dengan kesadaran proposal hidup dapat dibuat, dijalankan dan dicapai segala maksud. Belajar dari orang-orang yang telah lalu menempuh jalan yang jelas dan tegas. Jika tujuan hidup telah jelas kerikil kecil dan batu besar bukan penghalang. Tekanan hidup kadang dibutuhkan terlebih bagi yang belum menemukan arah hendak kemana dan apa yang diperbuat untuk kehidupan berikutnya.

 Image

Gambar: freedom2.jpg www.freedom-at-work.com

Tekanan hidup ibarat sebuah pegas yang ditekan, yang dapat melejitkan segala yang dimiliki, segala potensi yang ada. Dalam keadaan normal tidak banyak lompatan yang ada. Bagusnya memang tidak perlu tekanan dan tetap melesat. Tetapi rasanya tidak ada jalan yang mudah tanpa peluh dan air mata untuk sebuah pendakian yang tinggi.

Dalam tekanan dan penderitaan tidak terpuruk dan merusak hidup, namun tetap hidup di alam kekabasan jiwa. Itu sebab meski raga terpenjara namun jiwa tetap menemui kebebasan. Banyak Tokoh yang meski terpenjara tetap dapat menghasilkan karya terbaik.  Sayyid Quthb dapat menylesaikan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an saat dalam penjara,  demikian Hamka menulis dan menyelesaikan Tafsir Al Azhar dalam penjara.

 Image

Gambar: http://gedeprama.blogdetik.com/2013/09/27/burung-elang-kebebasan/

Terpenjara atau pun tidak jiwa mesti tetap terbebas dan hidup menghidupkan jiwa.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s