Niat Shalat dan Iming-Iming Hadiah

Motivasi dan niat orang melakukan sesuatu sangat beragam. Begitu pula dengan melakukan ajaran agama meski ibadah sejatinya hanya karena Allah namun diperjalanan terkadang niat orang bukan saja hanya karena itu. Ada udang dibalik bakwan. Ada iming-iming hadiah yang dituju. Namun sesungguhnya yang mengetahui niat  yang ada dalam hati adalah Allah. Cerminan niat dapat terlihat dari perilaku dan sejauhmana mensikapi persoalan  dan tantangan yang datang.

Di Bengkulu, ada banyak orang yang tiba-tiba rajin mendatangi masjid at-taqwa, pada saat zuhur.  Mereka shalat zuhur berjamaah, datang dari beragai perkantoran dan beragam masyarakat. Tidak seperti biasanya, karena memang kali ini ada janji hadiah dari Wali kota bagi yang shalat zuhur berjamaah selama 40 hari berturut-turut. Tidak semua yang shalat di mesjid at-taqwa itu hanya niat karena ingin mendapat hadiah innova atau umroh semata. Tetapi tidak juga ketahui secara pasti niat seseorang. Namun terlihat sejak dibuka pendaftaran shalat zuhur 40 hari tanpa absen,  orang ramai dan turut dalam memenuhi persyaratan dan ketentuan itu. Walaupun sedang haid perempuan tetep ke masjid, meski tidak shalat katanya bisa nunggu sandal. Karena  jika kosong, atau absen maka hitungan kembali lagi ke awal. Sungguh ritul ibadah ini layaknya sebuah permainan.

shalat n innova

kompas.com/Firmansyah. Suasana di dalam Masjid At-Taqwa Kota Bengkulu sebelum shalat jamaah Zuhur dimulai.

 

Syarat dan ketentuan diberlakukan. Tidak heran meski shalat berjamah sudah dimulai, Imam mulai takbir, ada jamaah shalat yang niatan shalat karena hadiah  belum mengumpulkan persyartan, tentu lebih mendahulukan mengumpulkan peryartan agar berpeluang mendapat hadiah. Inilah cerminan dari niat, meski niat hanya dalam hati hanya Allah dan yang bersangkutan yang tahu, namun niat merupakan arahan, kompas dalam sebuah tingkahlaku yang ditunjukkan. Kecenderungan perilaku, mencerminkan arah atau tujuan perilaku tersebut.  Esensi ibadah dapat kehilangan makna saat ibdah hanya gerak dan duniawi semata. Lebih suka hadiah materi ketimbang cahaya bagai matahari dari Allah. Itulah cerminan sebuah niat.

Walikota yang prihatin dengan sepinya masjid, dan melakukan cara  memberikan hadiah agar masjid penuh dengan orang yang sahlat, tercapai sudah, karena banyak orang yang berdatangan dan memenuhi masjid untuk shalat zuhur bejamaah. Namun sesungguhnya shalat bukanlah seperti keramaian orang yang senam pagi di lapangan,  dimotivasi hadiah ramai berdatangan. Shalat memiliki hubungan vertical, yang meski memiliki dampak bagi pelakunya.  Apa artinya ramai jika ruhnya kosong. Mendapatkan hadiah Materi yang tertanam dibenaknya, bukan  wujud rasa syukur dan mohon  ampunan dan kasih sayang Allah.  Departemen Agama, seyogyanya bekerja keras, memberikan penyuluhan agar masyakat dapat tercerahkan. Saat jamah berkumpul sahalat dan memenuhi ruang masjid, membetulkan niat dan mencerahkan makna ibadah mungkin menjadi sebuh langkah  membuat nikmat nasi yang sudah jadi bubur.

Sebagai seorang beragama, Saya  percaya Wali Kota memahami esensi shalat dan niatan shalat.  Namun keperihatinan  beliu akan mesjid yang  sepi jamaah dan jarangnya orang yang shalat, membuat sebuah motivasi yang saya kira sebuah tindakan semu. Bagai buih, yang terlihat bagus dan banyak  namun mudah hilang.  Efek dari ini ada motivasi berbuat, yang hanya karena materi, maka memungkin keruskan mental, sehingga membuat  masyartakat dibodohkan.

Namun sesungguhnya dari kejadian ini begitu banyak terdapat pelajaran berharga, alih-alih menyalahakan, sebaiknya melihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan masyarakat muslim  sesungguhnya. Sadar kejadian ini adalah menjadi cerminan bagaimana ummat mensikapi sebuah ajaran agama. Materi lebih menggiurkan ketimbang ampunan dan kasih sayang Allah. Kesadaran agama bahwa Allah adalah penjamin rezeki dan janji Allah akan sebuah kebaikan belum terinternalisasi.

 Target jangka pendek lebih menarik dari pada masa yang panjang. Kehidupan di dunia lebih menarik dari kehidupan akhirat. Padahal akhirat itu lebih baik. QS. 87:17. Namun sungguh menyadarkan dan mengambil peran untuk jangka panjang tidak banyak orang melakukan. Karena itulah aktivitas mengingatkan, mengajak kepada yang benar (Dakwah), tidak pernah berhenti. Dengan berbagai sisi pengetahuan dan  bidang  ilmu, memberikan pencerahan bagi banyak orang. Dengan kejadian ini diketahui bahwa pengetahuan dan pemahaman agama masyarakat pada umumnya dalam menajalankaan ajaran agama masih sebatas ritual yang lepas dari kebermaknaan. Mudah dipermainkan dan dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan. Ini menjadi gambaran bagaimana sebaiknya pemerintah menata kehidupan agama. Ulama dan umaro bertangung jawab membuat masyarakat tercerahkan.

Mengubah sesuatu dengan cara instan dan mengedepankan jangka pendek berakhir dengan kesunyian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s