Apakah itu Program?

Apakah itu Program?

 

Setelah menelaah beberapa refrensi tentang apaitu sesunguhnya program, maka saya tuliskan tentang program. Sembarang dan penempatan  kata program bisa diselipkan dalam berbagai kalimat, seperti:

  • Gambarnya bagus menggunakan program apa?
  • ‘Setelah beres kuliah ini apa program selanjutnya?
  • Sudah kuliah, ambil program studi apa?
  • Penelitiannya apa? Evaluasi program. Program apa yang  dievaluasi?

Kata program dalam kalimat tersebut di atas, memiliki beragam makna.  Seperti kalimat setelah beres kuliah ini, apa program selanjutnya, itu sebenarnya identik dengan sebuah rencana yang akan dilakukan. Dan ketika melakukan rencana yang dibuat tentu tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Ada pertanyaan siapa yang akan terlibat dalam rencana yang dibuat ini, kapan dan samapai kapan waktunya, butuh biaya berapa dan pertanyaan lain yang terkait dengan rencana yang akan dilakukan. (layaknya sebuah proposal)

Nah, kalau ada mahasiswa yang berniat mengevaluasi program, apakah program yang dimaksud? Saya jadi mulai kutip mengutip,  menurut Spaulding (2008)  A program is a set of specific activities designed for an intended purpose, with quantifiable goals and objectives.  Kegiatan yang disain khusus untuk tujuan dan arah yang jelas.

Sedangkan Arikunto dan Jabar (2007), program adalah suatu unit kegiatan yang merupakan realisasi atau implmetasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan dan terjadi pada suatu organisasi yang melibatkan sekolompok orang.

Merujuk pada dua pengertian program di atas, maka dapat diketahui ciri-ciri sebuah program yaitu:

  1. kegiatan yang memiliki tujuan. Banyak kegiatan disekitar kita, belum tentu itu program. Adakah tujuan dari kegiatan itu? Lanjutkan ke pertanyaan berikutnya;

 

  1. apakah kegiatan itu merupakan sebuah kebijakan? Jika ya, berarti kegiatan itu merupakan program. Kebijakan siapa? Siapa aja boleh.. maksud saya, bisa kebijakan pemerintah, kebijakan sekolah atau institusi, lembaga atau lainnya yang terorganisir. Kegiatan program merupakan implemtasi dari kebijakan pemerintah atau lembaga, tentu butuh waktu dan personal yang terlibat dalam melaksanakan program tersebut. Konsekuensinya kedua ciri tersebut melekat tambahan waktu dan personal.

 

  1. waktu implementasi program, sebetulnya baik lama maupun baru berjalan itu program jika tujuan ingin melihat efektifitas proses yang berjalan, tidak perlu menunggu selesai. Kapanpun itu evaluasi dilakukan memiliki manfaat tersendiri. Program belum selesai tidak bisa dievaluasi. Menurut saya bisa saja dievaluasi, jika tujuan untuk memperbaiki program yang sedang berjalan dalam satu unit, mengapa menunggu selesai. Kalau selesai berarti unit ini terlewat mendapat perbaikan. Misalnya kurikulum 2013 hendak dievaluasi implementasinya, dikatakan terlalu dini untuk dievaluasi. Menurut saya, evaluasi bukan hanya menggambarkan hasil dan memberi keputusan melanjutkan atau menghentikan program,  tetapi jauh lebih bermakna memperhatikan bagaimana proses yang terjadi, bagaimana pandangan setiap personal yang terlibat. Gambaran usia program yang belum lama dan yang sudah ada hasil tentu berbeda, dan tujuan mengevaluasi juga berbeda, so, no problem to evaluate something.. gunakan saja idenya Scriven evaluasi bisa dilakukan di tengah atau di akhir. Anyway, anytime sok lah..
  2. implementasi program tentu melibatkan sekelompok orang, karena muncul dari kebijakan publik, maka implemetasi dan hasil yang dari program tentu juga terkait dengan orang banyak. Jangankan urusan yang melibatkan orang banyak  Program yang merupakan kebijakan diri sendiri saja melibatkan banyak orang, karena pada hakekatnya kehidupan ini tidak dapat dilakukan sendiri, tumbuh dan berkembang membutuhkan orang lain. karena sejak lahir pun manusia tidk bisa tumbuh besar dengan sendirinya, tanpa bantuan dan dukungan sekelilingnya. Begitu pula dengan program yang dibuat.

 

Dengan begitu tidak perlu ragu untuk menumbuhkan semangat evaluasi terhadap kegiatan atau program dengan cirri-ciri di atas. Jika belum dapat mengevaluasi program, mengevaluasi diri sendiri juga menarik. Tetapi memang terkadang tidak ada habisnya.  Banyak orang terbiasa mengevaluasi diri sendiri ketika dipenghujung tahun, pergantian tahun dibarengi dengan refleksi dan membuat resolusi.

 

Resolusi mantep ditulis dan dibuat, tetapi tahapan proses hari demi hari juga penting diperhatikan, karena tidak sedikit resolusi hanya tulisan di selembar kertas tanpa jiwa. Maksudnya tidak dijalankan dengan penuh perhatian dan segenap hati. hehe.. ini pengalaman. Jika saya buka sendiri catatan yang merupakan mimpi-mimpi, saya rasanya sedang berjalan tetapi tidak sepenuhnya menjemput mimpi. Jadi pantas mimpinya masih bener-bener mimpi. Tetapi saya percaya dengan mengurai langkah dan kegiatan yang mengarah kepada pencapaian tujuan alias turunan mimpi itu bisa membantu, sehingga berjalan tidak kehilangan arah.

 

Akhirnya mengevaluasi diri pun sesuatu yang membutuhkan prinsip-prinsip kerja dalam mengevaluasi objek lainnya. Butuh ilmu..

 

Love

Santi Lisnawati

25/2/14. 05.00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s