Mengapa Studi S3 Lambat?

Mengapa Studi S3 Lambat?

 

Ini nasib kuliah terlalu lama menurut ukuran saya, mestinya paling lama 3 tahun bisa selesai doktor, tetapi kini sudah 7 semester baru 1/3 tugas akhir dijalankan.  Mestinya kuliah itu tidak perlu pakai lama, tetapi koq temen-temen saya dan juga saya kecenderungan melewati batas 3 tahun itu hampi 95% karena dari 40 teman yang ada baru satu orang yang selesai.  Selebihnya, ada satu orang yang akan segera sidang terbuka, satu orang sidang tertutup,  beberapa yang sudah seminar proposal dan selebihnya sedang menulis proposal dan ada juga yang masih gonta-ganti judul. (hehe.. excuse..aja)

Saya sebenarnya sempat stress dengan penyelesaian studi ini. tetapi rasanya daripada strees malah tidak bisa mikir bener, lebih baik gunakan stress sebagi alat untuk bergerak lebih maju. Mengurai, memaklumi dan mentoleransi atas apa yang sudah dilewati, mengidentifikasi kesulitan untuk bisa diatasi jauh lebih penting dari pada memikirkan lama atau tidak. Sebenarnya mentoleransi dan memaklumi ‘keterbelakangan’ adalah hal yang kurang baik. Membenarkan ‘kemunduran diri’ berarti mempersilahkan terus mundur, tenang-tenang dan merasa nyaman karena yang senasib masih banyak. Hidup dalam zona nyaman adalah stagnasi dan ketertinggalan.

 

Kemajuan akan didapat manakala berusaha untuk melongok ketertinggalan dan kemudian bergerak, berjalan, berlari dan bahkan melompat untuk mengejar ketertinggalan dan setelah itu teruslah berjalan. Pertanyaannya siapa yang hendak dikejar? Apa standar bahwa ini sudah sampai pada yang dimaksud. Ini bahasa orang pengukuran, dalam hal tidak perlu digunakan secara ketat. Siapa yang bisa mengukur gerak, jalan, lari dan lompatan dalam mengejar ketertinggalan. Ini bahasa analogi yang dapat diterjerjemahkan oleh setiap orang secara subyektif. Dalam memaknai konteks  ini adalah terus berusaha, melakukan apa yang dapat dilakukan.

 

Tidak sedikit masalah dan rintangan yang dihadapi, masalah adalah sebuah kewajaran hidup. karena itu yang tidak ingin memiliki masalah adalah tidak wajar. Dengan masalah kita tumbuh dan berkembang. Setiap masalah mengajarkan hal baru dalam hidup. dengan begitu pula selalu ada kepandaian baru dibalik masalah yang dihadapi. Makin bertambah umur artinya semakin banyak pengalaman dan pelajaran hidup. tidak heran dengan begitu makin tua makin mempesona. Kematangan dan ketenangan ada pada masa itu. Bagi yang hidup kini tidak punya masalah, carilah masalah, sikapi masalah sebagai pelajaran dalam hidup, agar hidup makin hidup.

Saya hendak menceritakan, masalah yang umum dihadapi mahasiswa perempuan kuliah s3. Karena saya melihat beberapa teman perempuan mengalami kemandekan studi, dengan beragam alasan. Perempuan yang ambil s3 jarang yang single role, rerata kuliah jadi mahasiswa s3 dan mengambil peran yang lain, ada yang bekerja di instansi atau bisnis sendiri dan berumah tangga. jadi bukan saja sebagai mahasiswa tetapi juga ada label tambahan emak, isteri, dan juga pegawai. Kebayang kan peran itu membutuhkan waktu dan space tersendiri. Dalam keadaan dan tuntutan yang sama dalam satu waktu, status sosial keluarga tentu tidak bisa diabaikan.

 

Saya lebih bahagia dan tenang dengan mengurus bayi, dan meninggalkan pekerjaan yang diluar. Meski segala konsekuensinya mesti ditanggung. Tetapi pilihan yang diambil tentu merupakan keputusan yang menjadi pertimbangan matang. Anak-anak terus tumbuh dan berkembang, masa bayi dan anak-anak tidaklah lama. Seorang ibu tentu tidak ingin kehilangan masa yang singkat merawat dan menyaksikan tumbuh kembang anaknya. Instansi tempat bekerja tidak akan bubar hanya karena mundurnya satu orang pegawai. Banyak yang dapat menggantikan. Tetapi ibu di rumah tidak bisa tergantikan oleh siapapun.

Ada sesuatu yang dilepaskan dan yang terlepas itu memiliki bargaining position yang lemah. Tidak rugi kehilangan sesuatu jika memperjuangkan untuk mendapatkan sesuatu yang besar. Ini bicarakan soal keterlambatan studi jadi kemana-mana ya.. sebenarnya tentu repot dan tidak repot itu bukan hal yang penting, tetapi sejauh mana seseorang bisa mensikapi kepadatan aktivitas itu hal yang perlu dilihat. Arena tidak sedikit orang yang dengan segudang aktivitas tetap saja bisa tuntaskan segala pekerjaannya. Jadi gubernur, ibu rumah tangga dan juga kuliah S3, everthing is oke. Persoalannya adalah bagaimana membagi dan memfungsikan peran dengan seimbang. Kebanyakan yang membuat masalah itu adalah karena ketidakseimbangan. Sehingga kelebihan di satu pihak dan kekurangan disisi lain.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat sesuatu lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan tugas. Ada banyak pilihan dalam satu waktu, namun ada keerbatasan yang dibuat dalam waktu bersamaan. Maka:

1. Tentukan prioritas

Banyak yang mesti dikerjakan dan dijalankan? Urutkan mana yang mendesak dan penting itulah yang menjadi prioritas utama. Jika sudah dipilih maka fokuslah. Agar apa yang dilakukan bisa tuntas dengan baik dan memuaskan. Saya sekarang bingung priotitas saya apa ya… (selesaikan kuliah lah) kenapa lambat menyelesaikan kuliah? itu karena konsekuensi pilihan, saya memilih mengandung, melahirkan generasi baru dan merawat calon pemimpin masa depan, pembela kebenaran, penegak keadilan, asset bangsa, agama dan Negara (ups..panjang amat). Tentu butuh waktu dan perhatian tercurah untuk pilihan yang saya buat. Mengurus bayi itu tidak lama, asi ekslusif 6 bulan, tumbuh gigi 4-6 bulan dan bisa jalan 10-12 bulan, bisa diajak ngobrol dan jalan bareng 2 tahun. Kapan fokus nulisnya… hehe.. Bener, mengurus bayi itu menggemaskan, mengasyikan dan menyenangkan.  Jika semua dikerjakan sendiri, tentu kerepotan dan bisa tidak asyik nantinya.. karena itulah perlu kerjasama.

2. Sinergi

Ada peran yang tidak bisa digantikan dan ada yang bisa diwakilkan. Itulah butuhnya kerja sama dan mencari bala bantuan. Menyusui bayi, saat asi ekslusif tentu tidak bisa diwakilkan, susu formula tidak sebanding dan skebaikan nutrisi pada ASI. Itu tugas pokok ibu menyusui, namun untuk lainnya ganti popok bisa orang rumah lainya yang bantu. Begitu pula nulis disertasi, it’s my task, kudu baca, menelaah dan menuliskan. Tetapi untuk mencari sumber atau refrensi bisa minta bantu dengan orang yang memiliki bidang ilmu yang sama atau orang yang memiliki koleksi buku pas dengan yang dibutuhkan. Ini bisa menghemat badget juga waktu. (saya beruntung dapat keberkahan ini, alhamdulillah).  Saling membantu, tolong menolong dalam kebaikan itu ruh kehidupan.

3. Woles

Semua sudah diatur, dipersiapkan, diusahakan, dan dijalankan akhirnya kudu sabar. Tenang dan nikmati proses. Selama proses dijalankan dengan baik dan benar, pada hakekatnya tidak ada kegagalan, yang ada adalah istilah penundaan hasil. Sabar sebentar untuk menanti berkah yang melimpah. Tentu tiada ada kesabaran dan ketenangan tanpa melibatkan Tuhan dalam semua perkara. Bisa terima dan tenang karena kita percaya Tuhan sedang berikan yang terbaik.

 

Akhirnya, tulisan ini sebenarnya adalah nasehat untuk diri sendiri. Saat hening dan menengok diri, berpadu dengan pikir dan rasa, menuangkan lewat kata, menjadi secercah semangat jiwa menapaki setiap nafas hidup. Entah apa yang ada dalam hati dan pikir terkadang begitu lembut menyapa jiwa dan tidak terasa menitikan air mata.

 

Love

Santi Lisnawati

26/2/14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s