Catatan Minggu

Setelah padat pekerjaan di luar rumah,  bukan juga luar kota. Tetapi termasuk luar rumah. Mengerjakan tugas kampus yang sekita 5 KM dari rumah, ke sekolah kira-kira 3 KM dari rumah. Dari senin sampai sabtu, terbayang minggu bisa duduk manis baca dan menulis segala yang tertinggal. Meski hampir tidak mungkin terkejar dalam hitungan hari di hari minggu untuk mengejar yang tertinggal.

Di Minggu pagi sudah disambut awa gelap dan rintikan hujan. Rumah bagai kapal pecah sementara saya biarkan. Berharap bibi datang membantu bersihkan. Anak paling kecil tidak lepas gendongan karena sedang sakit batuk flu, sedikit manja dan saya kira wajar.  Hari sudah siang bibi sepertinya tidak datang. Anak dua yang besar pergi berenang, suami mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian. Tinggal aku dan si kecil bersama isi rumah yang mirip sisa kerusuhan.  Bekas makan pring, gelas, sendok hampir memenuhi meja dapur. mainan anak-anak terserak di lantai. Habis bobok selimut dan bantal menggulung jadi gunung-gunung setelah dimainkan anak-anak.

Sementara semua ittu tetap ku biarkan, segala sesautu yang tidak membutuhkan penangan segera sementara waktu biarlah. Aku lebih mendahulukan keperluan si kecil. Mandi, sarapan dan minum obat. Akirnya kini dia bisa tidur nyenyak. Aku mestinya bisa mengerjakan dan memberesi rumah, tetapi aku khawatir energy habis. Pekerjaan membaca dan menulis terlewatkan lagi. akhirnya aku memiih duduk di depan laptop, membaca tulisan dan mulai menulis sesuka hati.

Tulisan  yang ku tulis tetaplah  bermakna bagi diriku sendiri. Tidak peduli menurut orang lain, meski  kurang berkelas dan berkualitas. Namun untuk menjadi sebuah tulisan membutuhkan hal yang sama, gerakan jemari di atas keypad. Gagasan atau pikiran yang akan ditumpahkan dalam kata-kata. Butuh waktu dan proses tentunya. Soal kualitas yang berbeda dan selera yang beda itu soal kedua. Tidak peduli dibaca orang atau tidak, saat mencoba menuangkan pikiran dalam kata dan tulisan, saat itulah jiwa tumbuh serasa mendapat makanan yang bergizi. Segenap rasa dan pikiran ku arahakan kepada kata yang tertulis. Aku dapat larut sejenak dan melupakan segala hal yang tidak menguntungkan.  Terhindar dari memikirkan sesuatu yang bukan semestinya. Karena itulah aku merasa apapun tulisan itu, adalah obat bagi diriku sendiri. Aku bisa mengobati sedih, tangis dan kesendirian dengan menulis apapun yang ku mau, kadang uraian kata berlomba dengan air mata yang terbendung. Dengan menulis, juga bisa berbagi bahagia menemukan sesuatu yang mampu memberikan energi  dan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri. Itulah mengapa menulis sesuka hati ini bermakna bagi diriku sendiri.

Tambah bergizi dan berkualitas baik tentu seiring waktu dan asupan gizi yang baik pula untuk sebuah tlisan. Membaca pengalaman sendiri dan orang lain, lewat bacaan , mendengar dan mengalami langsung adalah informasi yang tidak terbantahkan. Menengok lapak  orang lain dan membaca tulisan adalah pembelajaran tidak langsung dalam menulis.  Saya bersyukur dapat berinteraksi dengan tulisan cukup apik, bahasa yang mengalir bagai mata air, makna yang tersirat bagai energi dan kekuatan baru. Meski kadang tidak semua tulian yang dipublish adalah tulisan terbaik. Saya kira ini sah-sah saja, begitu pula saya berpendapat. Saya mengapresiasi dan kegiatan menulis dan konsistensi   dalam menulis. Kegiatan itu melibatkan keaktifan berpikir dan kedisiplinan.  Gagasan dan pemikiran yang berlimpah namun tidak terbiasa menulis, belum tentu juga jadi tulisan.  Karena itu tulisan yang ada adalah sesuatu yang berharga.

Menulis, selagi segalanya mungkin. Tidak perlu pikiran apa yang akan terjadi. Saat ini media menulis dapat dengan mudah digunakan. Teknologi dan Inetrner telah banyak membantu. Zaman dulu mengetik menggunkan mesin tik,  bayangkan betapa sulitnya proses editing. Tidak seperti sekarang  menggunakan word dimbuat mudah. Menambah dan mengurangi apa yang ada dalam tulisan. Menyebarluaskan tulisan untuk khalayak dan public satu-satunya saat itu adalah media cetak seperti koran. Sekarang sesuka hati kita bisa posting tulisan disebar  dan memungkinkan dilihat, dibaca banyak orang dan bahkan kapanpun. Jejaring  sosmed memudahkan untuk lakukan pulish. Blog pribadi dan blog keroyokan  seperti kompasiana media yang digunakan untuk ruang menumpahkan tulisan.

Menulis adalah olahraga batin, memadukan dan membuat harmoni rasa dan pikiran. Menyatukan kata menjadi sebuah makna dalam keheningan jiwa.

Advertisements

Sidang Terbuka (2)

Puncak perjalanan dalam pahit getir, suka duka, sedih dan bahagia dalam studi S3 terpecahkan dan berujung di akhir  sidang terbuka. Seolah ini adalah gerbang kebebasan berakhirnya segala penderitaan dan kegamangan yang melahirkan kejelasan dan kebahagiaan.  Saya melihat meski ada air mata saat menyampaikan kata terima kasih, air mata itu tentulah tanda kebahagiaan. Saya mengamati dan mampu merasakan bagaimana seorang perempuan dengan status bukan saja mahasiswa s3 tetapi juga ibu dari sejumlah anak, isteri yang mendampingi suami, juga pekerjaan luar yang syarat tanggung jawab membuat perjalanan studi S3 itu seperi roler coaster yang mendebarkan, mengasyikan, teriak dan tertawa dengan sendirinya. Pada akhirnya sampai di depan dan berhenti dengan lega dan menyenangkan.

Baru saja saya menyaksikan kebahagiaan yang tersirat tegas di wajah seorang rekan yang tengah menerima antrian salam ucapan selamat atas selesainya studi S3. Meski saya juga pernah hadir pada acara sidang terbuka seorang sahabat lain dengan sederhana namun tetap pada akhirnya rona kebahagian nampak pada akhir prosesi sidang terbuka itu.  Seolah pertanyaan orang kapan lulus terjawab sudah. Saya jadi bertanya-tanya apakah pertanyaan ‘kapan lulus? Dilontarkan kepada mahasiswa yang sudah lama belum lulus-lulus, identik dengan perasaan seorang jomblo yang ditanya “kapan nikah? Karena saya tidak mengalami lama menjomblo, tetapi saya bisa merasakan keriasauan hati seorang sahabat yang menghitung umur dan belum menemukan tambatan hati.  Meski tidak terucap dan terkesan saya bahagia, dalam lubuk hati yang paling dalam entahlah.

Saya sedang merasakan dan menikmati pertanyaan orang kapan lulus?  Kadang saya bersemangat untuk segera tuntasakan kegamangan ini. Namun saya juga kadang tidak berdaya mengatur segala jadwal dan tanggung jawab yang lainnya. Entahlah saya belum bisa menjawab. Terkadang habis energi untuk melakukan  sesuatu yang tidak saya lakukan. Teramat aneh memang.

Saya kira kenyamanan membuat saya terlalu lamban. Bahaya memang jika orang ada dalam zona nyaman. Semua berjalan lambat dan bahkan mati tidak berkembang. Saya merasakan zona nyaman itu, menikmati segala yang ada, tanpa merasa perlu menambah dengan dan mengejar yang lain. Padahal ada pekerjaan yang saya sudah mulai dan tentu harus diakhiri. Tidak ada hasil jika tidak sampai pada akhir. Saya menyadari betul perlahan dan pasti, waktu terus bejalan, kesempatan datang dan pergi terabaikan.  Pekerjaan terhambat karena saya menghambat pekerjaan sendiri. Pekerjaan baru tertunda karena saya mencintai betul pekerjaan lama.

Memang hidup itu harus dinamis, karena itulah ciri hidup. Berani dan hadapi apapun yang terjadi. Tidak perlu dikhawatirkan segala sesuatu yang belum terjadi. Mengambil peran dengan melakukan yang dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, tidak ada kekhawatiran dan keraguan. Manusia terkadang gagal dan salah itu hal biasa. Tidak perlu peduli dengan apa kata orang. Orang berhak  bicara apapun, hidup kita yang menikmati.

Beberapa orang yang terbilang selesai dengan cepat dalam studi adalah orang yang fokus dengan kuliahnya. Di tengah orang sibuk melakukan hal-hal lain, orang ini fokus dan juga sibuk sendiri melakukan hal-hal yang mesti dilakukan. Terbukti dia sampai pada apa yang menjadi pilihan. Kadang kita membutuhkan ruang sendiri untuk melihat apa sesungguhnya yang dibutuhkan diri ini. Hidup dengan mengikuti irama yang dibuat oleh orang lain terasa melelahkan. Menari dengan irama yang dibuat sendiri, tersearah apa pun jadinya tetaplah indah dan bahagia.

Meski dalam waktu yang cukup lama, dengan segala pengorbanan dan air mata rekan kerja ini telah menyelesaikan studinya. Hitungan rupiah yang diperkirakan sejak masuk hingga keluar dalam waktu hampir selama 7 tahun, cukup fantastis. Meski begitu Tuhan tetap memberikan jalan keluar. Seandainya tidak studi, rupiah sebanyak itu belum tentu didapatkan dan terkumpul sebanyak itu. Anugerah Allah yang patut disyukuri.  Dalam ruang sesempit apapun, tetaplah syukur mengalir. Tidak ada hidup ini berlangsung tanpa kehendak-Nya.

Saya menyadari benar atas anugerah Allah yang tiada terkira. Memberikan nilai positif pada apapun yang terjadi, tidak berlebihan jika saya menggangap apa yang yang dialami oleh siapapun termasuk saya dalam menjalani studi adalah pelajaran yang teramat berharga. Studi bukan hanya sampai pada level-levelan  S1, S2, atau S3. Studi adalah pekerjaan wajib sepanjang masa. Jika saya mewajibkan untuk terus mempelajari apa-apa yang mesti saya pelajari untuk level S itu, tentu tidak berlama-lama menyelesaikannya. Ternyata dalam hidup ini banyak yang mesti dipelajari. Bahkan jauh lebih indah dari yang semestinya. Saya yakin ada hal lain dan pelajaran lain yang dialami sebagian kawan yang memanfaatkan waktu lebih banyak dalam menyelsaikan studi. Namun demikian diantara mereka ada yang telah sampai.

Selamat kawan. pekerjaan belajar sesungguhnya belum selesai.

Sidang Terbuka (1)

Siapapun sepertinya akan tertarik pada pribadi yang memancarkan pesona. Meski tidak pernah mengenal namun saat seseorang mampu memancarkan pesona kesederhanaan, kecerdasan dan keindahan saat berinteraksi dan mampu memberikan sebuah harapan, penjelasan dari kekusutan yang dihadapi, saat itu orang  mulai menaruh perhatian. Pesona telah memancar, aura baik menyampaikan gelombangnya. Seolah tidak ada yang cela dan buruk. Padahal dalam mengenal pribadi manusia secara utuh tidak ada yang selalu baik, begitu pula  tidak ada yang selalu jahat. Nuansa keragaman yang ada dalam diri manusia tetaplah bisa memikat hati dengan berbagai kelebihan dan kekurangan.

Jumat selepas istirahat dan shalat jumat, tepatnya pukul 2 siang. Pintu masuk ruang auditorium di universitas ternama di tanah air ini, penuh berjejer orang mengantri untuk memasuki ruang. Iringan hujan yang turun dan lebatnya pepohonan seakan simfoni keteduhan dan ketenangan yang menyambut   salah seorang rekan kerja di kampus. yang akan mengukuhkan dan mengakhiri pergulatannya dalam meraih gelar doktor. Ruang ini pernah menjadi tempat saya belajar kerumitan memahami persamaan dan logika penelitian dengan program terbaru. Salah seorang dosen luar yang mengajar di tempat saya kuliah ahli statistik, tetapi hobi kualitatif. Dosen ini juga lebih suka mengundang mahasiswa untuk belajar di tempat beliau bertugas. Tempat yang cukup nyaman juga sebagai suasana baru yang berbeda. Sepertinya bagi semua mahasiswa terasa menyenangkan. Bisa  menikmati sesuatu yang berbeda.  Begitu pula saya sangat menikmati. Lingkungan asri,  pemadangan yang hijau nan apik, oksigen yang masih jernih dan melimpah. Saya betah duduk berlama-lama di taman menikmati bacaan dan makanan yang dibeli di station kereta. Tempat ini mengingatkan bahwa belajar di kelas tidk cukup memadai untuk memahami perkara baru yang tidak pernah diselami sebelumnya, kegiatan di luar kelas, bertanya dan konsultasi hal yang tidak dipahami di luar kegiatan kuliah, mengasilkan angka maksimal saat itu.

 

Hampir seratus orang memenuhi ruang kelas yang pernah ditempati untuk ruang kuliah, kini berfungsi sebagai auditorium. Saya menunggu prosesi pembukaan sidang terbuka. Seperti biasa, pada acara-acara seperti ini, di awal serasa mencekam, delapan orang dengan pakaian khas dan wajah terlihat penuh ambisi dan ego yang tersirat seakan siap menunjukkan keakuannya. Puluhan pasang mata menatap penuh tanya, seperti apa kelak sidang terbuka yang akan berjalan itu. Setelah pemaparan singkat hasil penelitian yang merupakan disertasi tentang manajemen keuangan berlalu. Giliran para penguji mengujukan pertanyaaan dan sanggahan sesuai dengan  keahlian. Kejelian dan ketelitian penguji dalam melihat  hasil penelitian itu kadang diluar dugaan. Sungguh ini bidang yang tidak banyak  saya mengerti dengan istilah khas dalam dunia ekonomi dan perdagangan. judul “friksi perdagangan dan asset pricing di bursa saham”  saya menikmati dengan ketidak mengertian. Saat penguji bertanya dan menjawab telah disampaikan, saya tidak banyak mengerti pula. Saya hanya menangkap ekspresi wajah penanya dan penjawab, melihat keteraturan, intonasi dan kelancaran pengungkapan kata-kata. Melihat respon balik penanya serta ekspersi penjawab setelah menyampakan jawaban, seakan saya mengetahui mana yang pertanyaan yang sulit dan mana jawaban yang kurang memuaskan.

Sekitar enam puluh menit acara berlangsung tiba pada sambutan promotor yang menjelaskan apa sebenarnya yang diteleti oleh mahasiswa bimbingannya. Ini kesempatan yang ditunggu bagi puluhan orang yang tidak memahami banyak tentang manajemen keuangan. Begitu pun saya, bersiap menerima penjelasan apa sebenarnya friksi perdagangan dan asset pricing itu. Dengan  bahasa yang sederhana, wajah yang enak dilihat, promotor yang nampak muda belia telah memberikan penjelasan yang mengesankan. Saya kira dengan penjelasannya tidak saja dimengerti oleh lapisan akademisi yang tidak mengetahui banyak tentang manajemen ekonomi, namun juga staff adminstrasi atau karyawan yang tidak kuliah ekonomi pun bisa mengerti.  Penjelasan yang baik bagi audience adalah mana kala penjelasan itu dapat dimengerti oleh lapisan kemampuan yang paling bawah. Mampu membuat sesuatu yang rumit dijelaskan menjadi hal yang mudah dimengerti dan difahami.

 

Menarik cerita tentang perilaku seorang guru besar yang akan berceramah mejelsakan konsep pada audience. Dia kan menjelaskan konsep tersebut kepada orang rumah yang paling bawah tingkat pemahaman tentang itu. Beliau menjelaskan konsep itu kepada seorang pembantu. Jika pembantu rumah itu mengerti, artinya konsep yang dijelaskan itu akan mudah dipahami oleh siapapun. Saya kira ini adalah kebaikan yang luar biasa memberikan penjelasan tanpa kerumitan dan tanpa menghilangkan substansi permasalahan. Sederhana, lugas dan jelas.

 

Penjelsan sederhana dan contoh kongkrit tidak menutup keintelektualan seseorang. Kerumitan tidak identik dengan kecerdasan orang. Saya melihat kecerdasan promotor itu dalam melihat kemampuan beragam audience dan menjelsakan dengan penjelasan yang mudah dimengerti. Dalam perjalanan pulang, ternyata tidak hanya saya yang menyimpan apresiasi atas penjelasan promotor itu. Dalam obrolan panjang saya menyimak seorang sahabat begitu amat menyukai dan terkesan. Muda, Pinter dan ganteng itu kesannya.

Menurut saya bagi laki-laki kegantengan dan muda bisa tertutupi oleh kecerdasan yang dimiliki. Cerdas dan pribadi yang baik ikon sexy para lelaki.  Ganteng berubah jadi culun saat bicara tidak nyambung. Tetapi saya juga belum yakin betul dengan itu, karena ada pula hal lain yang menjadi pesona lelaki yang memikat hati perempuan. Kalau menurut Budos cinta, yang memikat hati perempuan  dari para lelaki itu  sebenarnya bukan kecerdasan tetapi kartu Gold yang ada di dompet. Aha! Pesona kartu itu membuat leluasa duduk manis di resto mahal tanpa harus menghitung berapa harga. Kartu Gold itu juga bisa membuat leluasa menenteng segala barang bermerk tanpa pusing berapa yang sudah dihabiskan. Tidak peduli  semenawan apa lelaki  itu, kartu Gold telah menutupi segala kekurangannya. Ya, bisa-bisa saja, semua itu bergantung dan memiliki segmen tersendiri degan perspektif yang berbeda.

Pada akhirnya pribadi yang tumbuh dengan matang dan kuat akan memeiliki segenap pesona tiada pudar.

Kaya yang sesungguhnya

Kaya yang sesungguhnya

 

Anak-anak yang turun dari kendaraan berlari menuju pintu sekolah. Anak-anak yang terlihat sehat, kulit dan badan yang bersih nampak mereka terawat dan tercukupi gizi. Tas dan sepatu yang digunakan memiliki brand yang berkelas. Dari kendaraan yang ditumpangi pun ada kelas tersendiri. Anak-anak yang beruntung dengan kecukapan dan kelebihan harta yang dimiliki orangtuanya. Pagi sekitar pukul 07.00  tiba di sekolah untuk mengawasi mahsiswa yang praktik mengajar. Halaman depan sekolah sudah penuh dengan mobil kinclong yang parkir berderet dengan berbagai merk. Sudah penuh parker, tetapi tidak untuk saya, masih ada ruang cukup luas, karena saya hanya membawa motor. Tetapi saya bersyukur kendaraaan yang cocok tanpa macet dan nyaman asal tidak hujan ya kuda mesin itulah.

Sekolah ini bisa dibilang menengah ke atas. Rasanya biaya mahsiswa saya kuliah dengan SPP siswa yang bersekolah di sini bisa 1 berbanding 6. Siswa itu bayar untuk sebulan, bisa untuk mahasiswa bayar SPP kuliah  satu semester. Belum lagi bianya awal masuk sepertinya bisa terbeli motor baru 3 (hehe.. pembandingnya gak kira-kira) Namun  meski mahal jumlah murid tetap saja banyak. Orang Indonesia itu memang multistage, multistrata, yang kadang sangat kontras satu dengan yang lain.

Kalau saya mengunjungi anak-anak di pingiran rel kereta api  di sepanjang jalan Bondes dan piggiran sungai Cipakancilan pemandangan yang berbalik dengan dunia anak tadi. Mereka Nampak kurus, hitam, rambut kering terbakar matahari, mata kuning dengan tatapan yang terlihat lelah. Mereka itu anak-anak yang bekerja entah demi siapa, yang mestinya bersekolah, mereka putus sekolah bukan saja lantaran tidak ada biaya tetapi motivasi orangtua juga yang setengah hati membawa anaknya untuk hidup lebih baik. Mereka berpikir pendek, hidup sekarang butuh makan ya cari uang. Tidak ada keterampilan yang dimiliki maka mengamen dan mengemis uang recehan di jalanan adalah pilihan.

Manusia kadang hidup berlebihan kala rezeki datang melimpah ruah. Serasa balas dendam dengan segala apa yang  belum kesampaian dimiliki. Saat waktunya tiba sepertinya tidak ada hari lagi untuk segera memenuhi kepuasannya. Padahal kumpulan materi tidak akan pernah terpuaskan dan cukup jika diri sendiri menghentikannya. Saya sangat mengharai dan hormat setinggi-tingginya kepada orang yang berlebih namun tetap rendah hati. memikirkan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung yang ada di bawahnya.  Jika dulu pernah miskin dan kini menjadi kaya raya, tidak lantas membautnya tidak berpijak, lupa asal-usul dimana mula. Menengok kembali kehidupan yang perna dialami. Membantu orang-orang yang dulu jangankan menolong orang itu, menolong diri saja masih sulit.  Saat diberi kemampuan untuk membantu dan menolong orang lain, itulah waktu yang tepat untuk menjadi orang yang kaya sesungguhnya.

Sebenarnya orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta benda. Namun orang yang kaya adalah orang yang mampu berbagi sebanyak-banyaknya yang mungkin bisa dilakukan dengan harta benda yang dimiliki. Orang yang kaya adalah orang yang paling banyak sedekah. Tidak peduli seberapa jumlah asset yang dimiliki. Namun jika  tidak memiliki kemampuan untuk bersedekah sesungguhnya  adalah kerdil dan miskin.

Kelembutan hati, kerendahan hati dan tetap berbagi menciptakan surga dalam dunianya sendiri.

Memasuki Pintu Psikologi menuju Psikologi Islami

 

Psikologi ilmu yang mempelajari pikiran dan perilaku manusia terkait dengan lingkungan. Perilaku manusia sebagai objek material dalam psikologi, bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan, inilah yang menjadi amatan dalam psikologi.  Lingkungan tempat manusia tinggal memiliki kotribusi terhadap perilaku. Psikologi sebelum menjadi ilmu tersendiri pada  mulanya bersangkut paut bahasan dengan filsafat terkait dengan filsafat manusia. Struktur manusia menjadi pemikiran mendalam yang dibahas dalam filsafat.

Filsafat membahas berbagai aspek dan bidang ilmu, karena itu segala pangkal ilmu berjumpa dalam filsafat.  Filsafat mempelajari tentang jiwa, karena memang jiwa itu abstrak. Siapa yang mampu memahami  jiwa yang abstrak. Tidak ada wujud nyata, secara empiris tidak dapat dibuktikan. Karena itu pula dalam waktu yang panjang jiwa sebagai bahasan dalam psikologi berpadu dengan filsafat. Kajian pemikiran  tentang jiwa dalam filsafat memberikan warna dalam perkembangan psikologi selanjutnya.

Pendekatan filsafat yang non empiris dan logic argumentative membuat ruang sempit bagi perkembangan psikologi. Karena itu abad 19 psikologi mulai berdiri sendiri, ketika Wilhelm Wundt (1248-1339H/1832-1920M) mendirikan laboratorium sebagai wahana eksperimen dan menganalisis perilaku manusia dan binatang. Titik inilah dianggap pijakan awal kelahiran psikologi.

Psikologi terus berkembang melahirkan tokoh-tokoh psikologi, teori-teori serta aliran yang mewarnai sepanjang perjalanan psikologi hingga kini. Amatan dan percobaan yang dilakukan, menghasilkan sumbangan dalam menjelaskan perilaku manusia.

Hasil temuan psikologi yang lahir di dunia barat, terkait dengan amatan perilaku berdasarkan yang terjadi di lingkungan setempat, memungkinkan ada hal-hal yang berbeda yang tidak tepat jika diterapkan di lingkungan lain yang berbeda. Barat dan Timur memiliki kultur dan budaya yang berbeda. Perkembangan psikologi akan menemukan perkembangan yang lebih beragam dan mewarnai dunia perilaku manusia di setiap belahan bumi.

Bukan saja geografis dan budaya yang berbeda, bahkan agama atau keyakinan bisa saja berbeda. Dalam agama Islam, perilaku merupakan manipestasi atau gambaran dari sebuah keyakinan. Agama Nampak dalam wajah keseharian. Bagaimana bertindak dan berlaku adalah upaya dan usaha keras dalam merepresentasikan sebuah keyakinan. Artinya meski tidak mencerminkan untuh namun bagian dari keyakinan itu hadir.

Ada keuntungan lebih bagi Islam dalam tuntunan perilaku, karena rujukan, petunjuk sepanjang masa  ada dalam Quran dan hadits. Secara subtantif bahasan tentang manusia dan kehidupan yang bahagia ada dalam Qur’an dan hadits.  Teladan dan perilaku manusia terbaik sepanjang masa ada pada zaman Rasulullah. Menggali dan memaknai peristiwa, sejarah dan perilaku terdahulu untuk dijadikan sebuah butir hikmah dan pembelajaran dalam memperbaiki perilaku  sangat mungkin dilakukan.

Perkembangan psikologi dengan cabang-cabangnya memungkinkan untuk terus berkembangan dan melengkapi kebutuhan manusia. Melalui pendekatan Indigenous Psycoholgy dan juga Psikologi Islami mampu menjelaskan perilaku yang sesuai dengan wajah pribumi dan juga keyakinan yang dimiliki.

 

 

Kepangkatan Dosen

 

Beberapa hari ini seperti berpacu dengan waktu, melelahkan memang. Tidak seperti berpacu dengan melodi, penuh dengan irama lagu dan kegembiraan. Kamar saya penuh dengan kertas berserak, isinya bukti-bukti telah melaksankan pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian. Semua dikelompokkan dan disusun berdasarkan urutan waktu. Terhitung sejak 2006 hingga kini 2014. Maksud hati hendak mengurus kepangkatan, tidak peduli mau pangkat apa, yang pasti berkas berserak ini dihimpun dan diserahkan untuk dilakukan penilaian.

Mendengar salah seorang dosen yang mengatakan bahwa kalau dosen harus memiliki kepangkatan, saya pikir ada benarnya, karena ada bagian penting  dalam setiap proses tahap demi tahap yang ada dalam kepangkatan dosen. Sejumlah poin mesti terkumpul melalui keempat aspek di atas, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian dan penunjang tri dharma perguruan tinggi. Saya tidak faham betul berapa jumlah poin yang harus terkumpul setiap tahap dan jenjang dalam kepangkatan, tetapi ada hal penting bagi saya bahwa aktivitas dosen bukanlah mengajar semata.

Ada aspek lain yang mesti dilakoni dosen selain mengajar. Mengajar hanya bagian kecil dari beberapa unsur dalam pendidikan dan pengajaran. Unsur pengajaran paling mudah dipenuhi oleh setiap dosen, namun saat mengisi kolom penelitian sangat sedikit yang bisa mengisi lembar itu dengan meriah, banyak karya ilmiah baik buku, jurnal dan artikel lain yang merupakan hasil penelitian. Saya pun merasa kurang puas dengan lembar yang satu ini. namun demikian rasanya tidak terlalu parah karena ada yang bisa saya isikan setiap komponennya, hanya tidak melimpah apalagi berlebih.

Pengalaman ini sangat membantu dalam megevaluasi diri sendiri sebagai dosen. Pengembangan bidang ilmu yang dimiliki dan bukti dengan ilmu itu mampu berbagi tidak hanya dalam bentuk lisan di kelas, namun juga tulisan yang berbunyi pada lembar-lembar buku, atau lembr-lembar jurnal terakreditasi itulah sebenarnya tanda bahwa ilmu yang dimiliki telah menembus ruang kelas dan sampai kepada khalayak.

Tidak penting seberapa poin yang terkumpul dan apa pangkat yang di dapat. Saat mampu menjadi dosen yang sebenarnya, yang mampu melakukan pengajaran, penelitian dan pengabdian maka imbalan kebahagiaan telah didapat. Bahagia dapat memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain. melakukan dengan ikhlas sebagai investasi kebaikan yang terhimpun dalam catatan-catatan malaikat yang setia mencatat setiap amal yang diperbuat. Niat murahan jika mengurus kepangkatan hanya mengejar sejumlah koin recehan, atau pangkat dan gelar semu. Koin dan poin tidak perlu dikejar karena itu bagian dari dampak atau konsekuensi usaha, tanpa diharap pun akan terjadi dengan sendirinya. Namun meluruskan tekad, menjadikan sesuatu yang bermakna, menjadikan usaha sebagai amalan yang baik adalah hal penting.

Proses pengurusan ini tidak hanya samapai pada pengumpulan berkas dan penilaian sejawat, namun masih ada prosedur yang melibatkan banyak pihak untuk sampai pada sebuah keputusan. Jika dari perguruan tinggi swasta, penting divalidasi oleh ketua Kopertais, dan ada lintas Departemen dalam penilaian dan validasi berkas, melalui Kementrian Agama, kemudian terkhir keputusan ada pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini berkas saya sudah baru sampai di Kopertais, butuh berhari-hari untuk dapat surat pengesahan dari Kopertais. Saya memahami segalanya memang butuh waktu dan proses. Bagi saya paling tidak tahap pengerjaan pengumpulan berkas sudah selesai. Selanjutnya, memikirkan proses dan tahapan yang lebih baik untuk perbaikan diri sendiri. Semester ini masih saja tidak seimbang, kebanyakan mengajar ketimbang unsur lainnya. Hmmm… semangat.