Adaptasi Mahasiswa pada Praktik Megajar di Sekolah

Adaptasi Mahasiswa pada Praktik Megajar di Sekolah

gambar ngajar

Kritikan dan saran berbagai pihak adalah sebuah masukan berharga baik bagi pribadi maupun lembaga. Bertahun-tahun saya mendamping mahasiswa yang melaksanakan praktik mengajar di sekolah.  Setiap kali ada kesempatan saya berbicara dengan kepala sekolah mapun yang mengurus teknis mahasiswa di lapangan seperti bagian kurikulum. Pembicaraan tiada lain menanyakan perkembangan mahasiswa dalam melaksanakan praktik mengajar. Tentu pendapat yang bervariatif setiap tahunnya. Awalnya saya tidak perduli dengan masukan itu, karena pastinya juga seperti biasa, kalau bagus yang memang mahasiswanya tergolong akif dan cerdas di kelas.  Kalau buruk pun memang sudah tergambar di kelas. Sebagian besar mahasiswa yang praktik mengajar, saya pernah mengajar mereka, secara umum saya masih ingat bagaimana kemampuan mereka di kelas.

Pembicaraan  dengan kepala sekolah tempat mahasiswa praktik mengajar, membuat saya ingin menuliskan ini sebagai masukan bagi semua aspek yang terlibat di dalamnya. Terutama pembimbing dan lembaga/program studi. Pada dasarnya memang kemamapuan yang baik dan yang kurang bukan dari kemampan mahasiswa semata, namun juga ada keterlibatan berbagai pihak. Menjadi seorang guru yang hebat idealnya memiliki kemampuan yang baik, paling tidak menengah ke atas. Guru yang bukan saja mampu mengajarkan materi namun juga guru yang memotivasi dan menginspirasi. Sejauh system di Negara ini belum memiliki  arah kebijakan yang jelas tentang tenaga kependidikan, maka siapapun bisa jadi guru asal bisa mengajar. Karena itu pula, di perguruan tinggi negeri sebelum ada sertifikasi juruasan keguruan seperti FKIP adalah the second choice. Walhasil warga lapisan kedua yang memasuki dunia guru. Bisa dibayangkan bagaimana swasta yang menerima mahasiswa apa adanya tanpa saringan dan tawar-tawar kemampuan.

Sejauh yang saya ketahui, kampus tempat saya bekerja tidak secara serius melakukan penyaringan pada mahasisa yang masuk. Jika pun ada tes masuk di perguruan tinggi, hasil tes tersebut belum banyak diamnfaatkan oleh berbagai pihak. Spektrum kemampuan mahasiswa yang masuk di program studi tidak tergambarkan. Karena itu pula tidak ada program khusus bagi yang belum memenuhi standar kemampuan, sejenis matrikulasi sebagai pijakan awal bagi mahasiswa yang akan memasuki program studi yang dipilih. Namun demikian ada remedial sebagai treatmen kegagalan dalam mencapai hasil, itu pun kegiatan yang kurang terstruktur, tidak ada diagnosa sebagai bahan pijakan dalam meberikan remedial.

Pengalaman membimbing mahasiswa, saya melihat daya adaptasi terhadap masalah yang dihadapi mahasiswa di lapangan berkaitan dengan kemampuan mahasiswa di kelas. Bagi mahasiswa yang aktif, cepat tanggap, kreatif dan bersemangat akan sangat mudah menyerap harapan-harapan yang diberikan guru pamong. Namun bagi mahasiswa pasif dan tidak ‘berenergi’ sering terjadi miskomunikasi yang pada akhirnya membuat interpretasi masing-masing yang tidak menguntungkan bagi kedua pihak. Pihak sekolah yaitu guru pamong, guru yang mendampingi/membimbing mahasiswa serta mahasisa yang bersangkutan. Relasi yang kurang harmoni diliputi rasa takut, sungkan dan anggapan kurang menyenangkan orang yang dihadapi, tidak memberikan efek positif pada perubahan mengajar. Biasanya mahsiswa perempuan lebih peka atau sensitive dengan tangkapan emosional pada relasi yang berlangsung.

Setiap kali berkesempatan berkumpul dengan mahasiswa dan mendengarkan kesan dan pengalaman mereka mengajar pada beberapa mahasiswa diliputi kegelisahan karena merasa kurang nyaman hubungan dengan pembimbing. Namun saya bisa menangkap sejauh mana usaha yang dilakukan mahasiswa dalam praktik mengajar. Umumnya mahasiswa sendiri yang sulit mengadaptasi apa yang dikehendaki pembimbing. Daya juang untuk mencari jalan keluar pun relative terbatas, karena kebanyakan mahasiswa membagi waktu belajar dengan kegiatan yang lain  seperti bekerja. kemampuan interpersonal, tidak banyak di dapat hanya berdiam duduk di bangku kuliah, begitu pula keluasan wawasan yang dimiliki. Diperlukan pengalaman dan latihan, karena itu sebelum praktik mengajar terstruktur, program yang sangat bagus, jika program studi memberikan program praktik mengajar mandiri.

Praktek Mengajar Mandiri

Praktik mengajar mandiri adalah inisiatif mahasiswa sendiri untuk melakukan praktek mengajar di tempat yang mereka pilih sendiri. Setidaknya kegiatan ini memberikan wawasan dan pengalaman awal tentang mengajar, khususnya bagi mahasiswa yang belum pernah merasakan mengajar. Sejauh yang saya ketahui ada program studi yang telah memiliki dan menjalankan program ini. meski demikian memang pada prakteknya saat praktek mengajar terstruktur ada mahasiswa yang merasa kesulitan dan berat menghadapi dan mengadaptasi keadaan.

Hal ini disadari karena mahasiswa yang memasuki kuliah memiliki kemampuan yang beragam. Apapun keadaan mereka tentu di terima, karena perguruan tinggi memang berambisi untuk terus meningkatkan jumlah mahasiswa, karena hal ini dilakukan minimal dapat menutupi operasional, break event point/ BEP.

Membawa Mahasiwa ke dalam Dunia Sekolah

Setiap mata kuliah yang bersifat kekhususan program studi sebaiknya dikoneksikan dengan kegiatan di lapangan. Mata kuliah pengembangan media, selaian mahasiswa menghasilkan produk media, mahasiswa juga turun ke lapangan atau elakukan obserasi di sekolah tetang penggunaan media pembelajaran oleh guru. Begitu pula dengan mata kuliah kekhususan lainnya seperti strategi  dan metode pembelajaran, evaluasi pembelajaran, perencanaan pembelajaran.

Diperlukan inovasi-inovasi dalam pengembangan kurikulum yang tidak hanya secara teknik mahsiswa dapat melakukannya namun juga secara filosofis dan substantive dapat memahami konsep dan pengembangannya.

Sampai saat ini saya menikmati apa adanya, dengan kemampuan mahasiswa yang juga apa adanya. Satu hal yang membuat saya tetap bersemangat mendampingi mereka, karena mahsiswa pun menyadari bahwa mereka sesungguhnya sedang proses belajar, dan terus belajar tanpa henti. Terlepas dari upaya mereka yang beragam, namun setidaknya sebuah kesadaran yang tersimpan, suatu saat akan terletuskan untuk memompa diri kearah perkembangan yang mereka harapkan.

 

Semangat, selamat ujian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s