Kelaparan dan Ketakutan

Kelaparan dan Ketakutan

 

Entah apa yang ada dibenak Maslow ketika menempatkan kebutuhan manusia itu laksana sebuah tingkatan yang tahap demi tahap dan tidak semua dengan sama sampai di atasnya. Kebutuhan manusia yang paling banyak dan dianggap mendasar adalah kebutuhan fisik-biologis. Sepertinya orang yang masih berjuang dengan rasa lapar tidak bisa tergerak untuk melakukan penghargaan terhadap diri dan orang lain apalagi aktualisasi diri. Manusia tergerak melakukan sesuatu karena kebutuhan. Kebutuahan dibuat berjenjang, entah kapan waktunya bisa sampai saat orang butuh untuk aktualisasi, yang merupakan puncak tertinggi kebutuhan bagi maslow.

Terkadang ajaran Maslow digunakan untuk merasuk pada anggapan ‘jangan dulu bicara keimanan dan ibadah  jika perut orang masih lapar’. Sepintas ada benarnya, namun siapa yang jamin dalam keadaan kenyang cahaya dan kebenaran ilmu dari Allah akan masuk. Perut kenyang malah tertidur dan malas. Siapa yang mengira orang yang kecukupan materi dan harta yang berlimpah tidak berperilaku seperti orang kelaparan.  Ada yang terlupa bahwa sesungguhnya keyakinan terkuat dan ibadah yang dilakukan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Saat ibadah menjadi dasar perilaku, segala kebaikan apapun dilakukan Allah melihat dan tidak akan dilupakan. Apalagi hanya sekedar lapar, bukan masalah besar. Bukankah orang yang berpuasa sesungguhnya sedang berlapar-lapar.  Banyak efisiensi saat orang berpuasa, niat karena ibadah telah mampu menjadikan rasa lapar sesuatu yang bermakna. Balasan kebaikan bagi orang yang berpuasa. Kebaikan yang datang dari Tuhan adalah kebaikan yang luas nilainya, tidak hanya untuk kehidupan di dunia namun juga untuk kehidupan diakhirat.

Indikator kemiskinan sesungguhnya bukan dari kekurangan materi. Tetapi kekurangan amal ibadah.  Banyak kerusakan akibat dari mengira materi adalah segalanya. Mengira dengan materi yang cukup akan mendapat kehidupan yang baik. Justru sebaliknya, materi yang dimiliki seperti saat dahaga meneguk air laut, tidak pernah ada yang merasa cukup, tanpa kesadaran bahwa segala yang dimiliki sebagai alat untuk beribadah. Mereka kelaparan bukan dengan nasi satu piring, tetapi kelaparan dengan jumlah mobil yang masih kurang, merek mobil yang masih belum lengkap, kelaparan ini telah menggelapkan hati, tidak peduli hak milik orang lain. Inilah rasa yang tidak terpuaskan, dengan terus mencari kepuasan di atasnya.

Ibadah dengan keikhlasan telah hilang dalam daftar hidup,  yang ada hanya topeng untuk memenuhi syahwat materi. Tidak heran jika kelakuan seperti orang lapar dan ketakutan, karena tidak menggunakan hati untuk mensyukuri apa yang dimiliki. Ini pula yang Allah firmankan dalam QS 16:112.

“dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.

Kelaparan dan ketakutan laksana pakaian yang senantiasa melekat kepada orang yang mengingkari nikmat Allah. Padahal rezeki melimpah ruah. Justru malah rasa lapar terus menghantui, merasa kurang dan kurang banyak lagi. perilku-perilaku orang lapar menghinggapi, bukan hanya kelaparan saja tetapi juga ketakutan. Merasa takut dengan harta yang ada diambil orang, takut tidak kebagian harta dan ketakutan lain yang membuat hidup tidak nyaman meski segala materi tercukupi. Karena tidak berbuat kebaikan, tidak ibadah, kufur terhadap nikmat yang telah Tuhan berikan, maka akibatnya adalah perasaan yang tidak bahagia merasa kurang, gelisah dan tidak tenang.

Bagaimana akan sampai pada kebermanfaatan sebagai manusia terbaik. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Dengan diri sendiri saja masih terus berkecamuk dan berseteru tanpa ada selesai dan cukup.  Sibuk dengan menutupi rasa kelaparan dan ketakutannya. Inilah sesungguhnya kemiskinan. Orang yang tidak mampu berbuat yang tebaik bagi orang lain bahkan bagi dirinya sendiri. Orang yang kaya bukan lagi orang yang banyak memiliki harta benda, tetapi orang yang kaya adalah orang yang mampu berbagi dikala sempit maupun lapang.

 

Mengobati perasaan ketidakpuasan dan kekurangan bukan dengan materi tetapi dengan keimanan dan kebaikan. Allah yang menciptakan manusia mengetahui segala kebutuhan manusia, karena itu beruntunglah beragama yang dengannya telah menyempurnakan kebutuhan manusia. Agama yang Allah berikan kepada manusia, agama yang lurus sebagaimana QS 30:30.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Agama Allah, agama tauhid. Allah yang telah menciptkan manusia sesuai dengan fitrahnya dan tidak bertentangan dengan fitrah Allah. Selain dari fitrah itu adalah ketidakwajaran. Diluar kewajaran akan nada Ketidakseimbangan pada jiwa yang berakibat kehancuran.

Kelaparan dan ketakutan tidak sepantasnya menghinggapi pada diri yang memiliki keyakinan kuat dalam ikatan aqidah  dan terus berbuat kebaikan.

 

 

 

 

52 thoughts on “Kelaparan dan Ketakutan

  1. setelah saya membaca artikel diatas, dapat saya simpulkan bahwa dizaman sekarang ini banyak orang yang beranggapan bahwa kebutuhan utama manusia adalah kebutuhan biologis. padahal keimananlah yang lebih penting. belum lagi kebanyakan orang bilang bahwa harta adalah segalanya, padahal orang yang banyak harta tidak menjamin seseorang itu bahagia dunia dan akhirat. banyak orang yang banyak harta tetapi dia selalu merasa lapar. lapar disini maksudnya dia selalu ingin memiliki lebih banyak yang ia punya saat ini. tidak pernah merasa cukup. hal ini bisa dikatakan orang tersebut kufur terhadap nikmat Allah. terkadang orang yang bergelimang harta juga selalu merasa ketakutan dalam hidupnya. misalnya saja ia takut harta yang dimilkinya saat ini akan hilang. tidurnya tidak tenang, bahkan ibadahnya sekalipun tidak akan khusyu karena difikirannya selalu mengkhawatirkan harta bendanya. ada juga orang yang banyak harta tetapi tidak pernah peduli terhadap kelaparan yang diderita tetangganya. mereka terlalu sibuk dan acuh memikirkan hartanya sendiri. alangkah baiknya orang yang banyak harta itu bisa berbagi sesama keluarga dan tetangganya. pasti hidupnya akan damai dan tentram tanpa dibayangi rasa takut karena ia merasa bahwa apa yang dirinya punya saat ini adalah titipan Allah sementara. oleh karena itu marilah kita tanamkan sifat Qona’ah dalam diri kita yaitu selalu merasa cukup atas nikmat yang Allah berikan dan mensyukuri nikmat yang ada, dengan begitu kita akan terjauh dari rasa kelaparan dan ketakutan.

  2. Nama: Robiatul Adawiyah
    NPM: 12214210425

    Assaalamualaikum
    syukur alhamdulillah, luar biasa sekali setelah membaca artikel ini saya memahami bahwa kemiskinan dan kelaparan ith bukan hanya di cerminkan dalan keadaan fisik melainkan kurangnya keimanan dan rasa syukur terhadap segala nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka..
    anggapan bahwa kekayaan materi yang banyak dapat menjamin kita untuk lebih banyak tidak lah salah sepenuhnya, namun tidak sedikit orang yang berkecukupun secara materi terlupa akan kewajibannya untuk membantu saudaranya yang kekurangan..
    apabila hal ini terjadi maka sia-sia lah harta benda yang banyak tanpa diiringi dengan amal yang banyak pula.

    tulisan ini benar-benar menarik untuk dijadikan bahan renungan Dan diskusi, semoga kita bisa memetik pelajaran dari artikel ini

    wassalamualaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s