Memasuki Pintu Psikologi menuju Psikologi Islami

 

Psikologi ilmu yang mempelajari pikiran dan perilaku manusia terkait dengan lingkungan. Perilaku manusia sebagai objek material dalam psikologi, bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan, inilah yang menjadi amatan dalam psikologi.  Lingkungan tempat manusia tinggal memiliki kotribusi terhadap perilaku. Psikologi sebelum menjadi ilmu tersendiri pada  mulanya bersangkut paut bahasan dengan filsafat terkait dengan filsafat manusia. Struktur manusia menjadi pemikiran mendalam yang dibahas dalam filsafat.

Filsafat membahas berbagai aspek dan bidang ilmu, karena itu segala pangkal ilmu berjumpa dalam filsafat.  Filsafat mempelajari tentang jiwa, karena memang jiwa itu abstrak. Siapa yang mampu memahami  jiwa yang abstrak. Tidak ada wujud nyata, secara empiris tidak dapat dibuktikan. Karena itu pula dalam waktu yang panjang jiwa sebagai bahasan dalam psikologi berpadu dengan filsafat. Kajian pemikiran  tentang jiwa dalam filsafat memberikan warna dalam perkembangan psikologi selanjutnya.

Pendekatan filsafat yang non empiris dan logic argumentative membuat ruang sempit bagi perkembangan psikologi. Karena itu abad 19 psikologi mulai berdiri sendiri, ketika Wilhelm Wundt (1248-1339H/1832-1920M) mendirikan laboratorium sebagai wahana eksperimen dan menganalisis perilaku manusia dan binatang. Titik inilah dianggap pijakan awal kelahiran psikologi.

Psikologi terus berkembang melahirkan tokoh-tokoh psikologi, teori-teori serta aliran yang mewarnai sepanjang perjalanan psikologi hingga kini. Amatan dan percobaan yang dilakukan, menghasilkan sumbangan dalam menjelaskan perilaku manusia.

Hasil temuan psikologi yang lahir di dunia barat, terkait dengan amatan perilaku berdasarkan yang terjadi di lingkungan setempat, memungkinkan ada hal-hal yang berbeda yang tidak tepat jika diterapkan di lingkungan lain yang berbeda. Barat dan Timur memiliki kultur dan budaya yang berbeda. Perkembangan psikologi akan menemukan perkembangan yang lebih beragam dan mewarnai dunia perilaku manusia di setiap belahan bumi.

Bukan saja geografis dan budaya yang berbeda, bahkan agama atau keyakinan bisa saja berbeda. Dalam agama Islam, perilaku merupakan manipestasi atau gambaran dari sebuah keyakinan. Agama Nampak dalam wajah keseharian. Bagaimana bertindak dan berlaku adalah upaya dan usaha keras dalam merepresentasikan sebuah keyakinan. Artinya meski tidak mencerminkan untuh namun bagian dari keyakinan itu hadir.

Ada keuntungan lebih bagi Islam dalam tuntunan perilaku, karena rujukan, petunjuk sepanjang masa  ada dalam Quran dan hadits. Secara subtantif bahasan tentang manusia dan kehidupan yang bahagia ada dalam Qur’an dan hadits.  Teladan dan perilaku manusia terbaik sepanjang masa ada pada zaman Rasulullah. Menggali dan memaknai peristiwa, sejarah dan perilaku terdahulu untuk dijadikan sebuah butir hikmah dan pembelajaran dalam memperbaiki perilaku  sangat mungkin dilakukan.

Perkembangan psikologi dengan cabang-cabangnya memungkinkan untuk terus berkembangan dan melengkapi kebutuhan manusia. Melalui pendekatan Indigenous Psycoholgy dan juga Psikologi Islami mampu menjelaskan perilaku yang sesuai dengan wajah pribumi dan juga keyakinan yang dimiliki.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s