Kaya yang sesungguhnya

Kaya yang sesungguhnya

 

Anak-anak yang turun dari kendaraan berlari menuju pintu sekolah. Anak-anak yang terlihat sehat, kulit dan badan yang bersih nampak mereka terawat dan tercukupi gizi. Tas dan sepatu yang digunakan memiliki brand yang berkelas. Dari kendaraan yang ditumpangi pun ada kelas tersendiri. Anak-anak yang beruntung dengan kecukapan dan kelebihan harta yang dimiliki orangtuanya. Pagi sekitar pukul 07.00  tiba di sekolah untuk mengawasi mahsiswa yang praktik mengajar. Halaman depan sekolah sudah penuh dengan mobil kinclong yang parkir berderet dengan berbagai merk. Sudah penuh parker, tetapi tidak untuk saya, masih ada ruang cukup luas, karena saya hanya membawa motor. Tetapi saya bersyukur kendaraaan yang cocok tanpa macet dan nyaman asal tidak hujan ya kuda mesin itulah.

Sekolah ini bisa dibilang menengah ke atas. Rasanya biaya mahsiswa saya kuliah dengan SPP siswa yang bersekolah di sini bisa 1 berbanding 6. Siswa itu bayar untuk sebulan, bisa untuk mahasiswa bayar SPP kuliah  satu semester. Belum lagi bianya awal masuk sepertinya bisa terbeli motor baru 3 (hehe.. pembandingnya gak kira-kira) Namun  meski mahal jumlah murid tetap saja banyak. Orang Indonesia itu memang multistage, multistrata, yang kadang sangat kontras satu dengan yang lain.

Kalau saya mengunjungi anak-anak di pingiran rel kereta api  di sepanjang jalan Bondes dan piggiran sungai Cipakancilan pemandangan yang berbalik dengan dunia anak tadi. Mereka Nampak kurus, hitam, rambut kering terbakar matahari, mata kuning dengan tatapan yang terlihat lelah. Mereka itu anak-anak yang bekerja entah demi siapa, yang mestinya bersekolah, mereka putus sekolah bukan saja lantaran tidak ada biaya tetapi motivasi orangtua juga yang setengah hati membawa anaknya untuk hidup lebih baik. Mereka berpikir pendek, hidup sekarang butuh makan ya cari uang. Tidak ada keterampilan yang dimiliki maka mengamen dan mengemis uang recehan di jalanan adalah pilihan.

Manusia kadang hidup berlebihan kala rezeki datang melimpah ruah. Serasa balas dendam dengan segala apa yang  belum kesampaian dimiliki. Saat waktunya tiba sepertinya tidak ada hari lagi untuk segera memenuhi kepuasannya. Padahal kumpulan materi tidak akan pernah terpuaskan dan cukup jika diri sendiri menghentikannya. Saya sangat mengharai dan hormat setinggi-tingginya kepada orang yang berlebih namun tetap rendah hati. memikirkan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung yang ada di bawahnya.  Jika dulu pernah miskin dan kini menjadi kaya raya, tidak lantas membautnya tidak berpijak, lupa asal-usul dimana mula. Menengok kembali kehidupan yang perna dialami. Membantu orang-orang yang dulu jangankan menolong orang itu, menolong diri saja masih sulit.  Saat diberi kemampuan untuk membantu dan menolong orang lain, itulah waktu yang tepat untuk menjadi orang yang kaya sesungguhnya.

Sebenarnya orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta benda. Namun orang yang kaya adalah orang yang mampu berbagi sebanyak-banyaknya yang mungkin bisa dilakukan dengan harta benda yang dimiliki. Orang yang kaya adalah orang yang paling banyak sedekah. Tidak peduli seberapa jumlah asset yang dimiliki. Namun jika  tidak memiliki kemampuan untuk bersedekah sesungguhnya  adalah kerdil dan miskin.

Kelembutan hati, kerendahan hati dan tetap berbagi menciptakan surga dalam dunianya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s