Catatan Minggu

Setelah padat pekerjaan di luar rumah,  bukan juga luar kota. Tetapi termasuk luar rumah. Mengerjakan tugas kampus yang sekita 5 KM dari rumah, ke sekolah kira-kira 3 KM dari rumah. Dari senin sampai sabtu, terbayang minggu bisa duduk manis baca dan menulis segala yang tertinggal. Meski hampir tidak mungkin terkejar dalam hitungan hari di hari minggu untuk mengejar yang tertinggal.

Di Minggu pagi sudah disambut awa gelap dan rintikan hujan. Rumah bagai kapal pecah sementara saya biarkan. Berharap bibi datang membantu bersihkan. Anak paling kecil tidak lepas gendongan karena sedang sakit batuk flu, sedikit manja dan saya kira wajar.  Hari sudah siang bibi sepertinya tidak datang. Anak dua yang besar pergi berenang, suami mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian. Tinggal aku dan si kecil bersama isi rumah yang mirip sisa kerusuhan.  Bekas makan pring, gelas, sendok hampir memenuhi meja dapur. mainan anak-anak terserak di lantai. Habis bobok selimut dan bantal menggulung jadi gunung-gunung setelah dimainkan anak-anak.

Sementara semua ittu tetap ku biarkan, segala sesautu yang tidak membutuhkan penangan segera sementara waktu biarlah. Aku lebih mendahulukan keperluan si kecil. Mandi, sarapan dan minum obat. Akirnya kini dia bisa tidur nyenyak. Aku mestinya bisa mengerjakan dan memberesi rumah, tetapi aku khawatir energy habis. Pekerjaan membaca dan menulis terlewatkan lagi. akhirnya aku memiih duduk di depan laptop, membaca tulisan dan mulai menulis sesuka hati.

Tulisan  yang ku tulis tetaplah  bermakna bagi diriku sendiri. Tidak peduli menurut orang lain, meski  kurang berkelas dan berkualitas. Namun untuk menjadi sebuah tulisan membutuhkan hal yang sama, gerakan jemari di atas keypad. Gagasan atau pikiran yang akan ditumpahkan dalam kata-kata. Butuh waktu dan proses tentunya. Soal kualitas yang berbeda dan selera yang beda itu soal kedua. Tidak peduli dibaca orang atau tidak, saat mencoba menuangkan pikiran dalam kata dan tulisan, saat itulah jiwa tumbuh serasa mendapat makanan yang bergizi. Segenap rasa dan pikiran ku arahakan kepada kata yang tertulis. Aku dapat larut sejenak dan melupakan segala hal yang tidak menguntungkan.  Terhindar dari memikirkan sesuatu yang bukan semestinya. Karena itulah aku merasa apapun tulisan itu, adalah obat bagi diriku sendiri. Aku bisa mengobati sedih, tangis dan kesendirian dengan menulis apapun yang ku mau, kadang uraian kata berlomba dengan air mata yang terbendung. Dengan menulis, juga bisa berbagi bahagia menemukan sesuatu yang mampu memberikan energi  dan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri. Itulah mengapa menulis sesuka hati ini bermakna bagi diriku sendiri.

Tambah bergizi dan berkualitas baik tentu seiring waktu dan asupan gizi yang baik pula untuk sebuah tlisan. Membaca pengalaman sendiri dan orang lain, lewat bacaan , mendengar dan mengalami langsung adalah informasi yang tidak terbantahkan. Menengok lapak  orang lain dan membaca tulisan adalah pembelajaran tidak langsung dalam menulis.  Saya bersyukur dapat berinteraksi dengan tulisan cukup apik, bahasa yang mengalir bagai mata air, makna yang tersirat bagai energi dan kekuatan baru. Meski kadang tidak semua tulian yang dipublish adalah tulisan terbaik. Saya kira ini sah-sah saja, begitu pula saya berpendapat. Saya mengapresiasi dan kegiatan menulis dan konsistensi   dalam menulis. Kegiatan itu melibatkan keaktifan berpikir dan kedisiplinan.  Gagasan dan pemikiran yang berlimpah namun tidak terbiasa menulis, belum tentu juga jadi tulisan.  Karena itu tulisan yang ada adalah sesuatu yang berharga.

Menulis, selagi segalanya mungkin. Tidak perlu pikiran apa yang akan terjadi. Saat ini media menulis dapat dengan mudah digunakan. Teknologi dan Inetrner telah banyak membantu. Zaman dulu mengetik menggunkan mesin tik,  bayangkan betapa sulitnya proses editing. Tidak seperti sekarang  menggunakan word dimbuat mudah. Menambah dan mengurangi apa yang ada dalam tulisan. Menyebarluaskan tulisan untuk khalayak dan public satu-satunya saat itu adalah media cetak seperti koran. Sekarang sesuka hati kita bisa posting tulisan disebar  dan memungkinkan dilihat, dibaca banyak orang dan bahkan kapanpun. Jejaring  sosmed memudahkan untuk lakukan pulish. Blog pribadi dan blog keroyokan  seperti kompasiana media yang digunakan untuk ruang menumpahkan tulisan.

Menulis adalah olahraga batin, memadukan dan membuat harmoni rasa dan pikiran. Menyatukan kata menjadi sebuah makna dalam keheningan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s