Sidang Terbuka (2)

Puncak perjalanan dalam pahit getir, suka duka, sedih dan bahagia dalam studi S3 terpecahkan dan berujung di akhir  sidang terbuka. Seolah ini adalah gerbang kebebasan berakhirnya segala penderitaan dan kegamangan yang melahirkan kejelasan dan kebahagiaan.  Saya melihat meski ada air mata saat menyampaikan kata terima kasih, air mata itu tentulah tanda kebahagiaan. Saya mengamati dan mampu merasakan bagaimana seorang perempuan dengan status bukan saja mahasiswa s3 tetapi juga ibu dari sejumlah anak, isteri yang mendampingi suami, juga pekerjaan luar yang syarat tanggung jawab membuat perjalanan studi S3 itu seperi roler coaster yang mendebarkan, mengasyikan, teriak dan tertawa dengan sendirinya. Pada akhirnya sampai di depan dan berhenti dengan lega dan menyenangkan.

Baru saja saya menyaksikan kebahagiaan yang tersirat tegas di wajah seorang rekan yang tengah menerima antrian salam ucapan selamat atas selesainya studi S3. Meski saya juga pernah hadir pada acara sidang terbuka seorang sahabat lain dengan sederhana namun tetap pada akhirnya rona kebahagian nampak pada akhir prosesi sidang terbuka itu.  Seolah pertanyaan orang kapan lulus terjawab sudah. Saya jadi bertanya-tanya apakah pertanyaan ‘kapan lulus? Dilontarkan kepada mahasiswa yang sudah lama belum lulus-lulus, identik dengan perasaan seorang jomblo yang ditanya “kapan nikah? Karena saya tidak mengalami lama menjomblo, tetapi saya bisa merasakan keriasauan hati seorang sahabat yang menghitung umur dan belum menemukan tambatan hati.  Meski tidak terucap dan terkesan saya bahagia, dalam lubuk hati yang paling dalam entahlah.

Saya sedang merasakan dan menikmati pertanyaan orang kapan lulus?  Kadang saya bersemangat untuk segera tuntasakan kegamangan ini. Namun saya juga kadang tidak berdaya mengatur segala jadwal dan tanggung jawab yang lainnya. Entahlah saya belum bisa menjawab. Terkadang habis energi untuk melakukan  sesuatu yang tidak saya lakukan. Teramat aneh memang.

Saya kira kenyamanan membuat saya terlalu lamban. Bahaya memang jika orang ada dalam zona nyaman. Semua berjalan lambat dan bahkan mati tidak berkembang. Saya merasakan zona nyaman itu, menikmati segala yang ada, tanpa merasa perlu menambah dengan dan mengejar yang lain. Padahal ada pekerjaan yang saya sudah mulai dan tentu harus diakhiri. Tidak ada hasil jika tidak sampai pada akhir. Saya menyadari betul perlahan dan pasti, waktu terus bejalan, kesempatan datang dan pergi terabaikan.  Pekerjaan terhambat karena saya menghambat pekerjaan sendiri. Pekerjaan baru tertunda karena saya mencintai betul pekerjaan lama.

Memang hidup itu harus dinamis, karena itulah ciri hidup. Berani dan hadapi apapun yang terjadi. Tidak perlu dikhawatirkan segala sesuatu yang belum terjadi. Mengambil peran dengan melakukan yang dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, tidak ada kekhawatiran dan keraguan. Manusia terkadang gagal dan salah itu hal biasa. Tidak perlu peduli dengan apa kata orang. Orang berhak  bicara apapun, hidup kita yang menikmati.

Beberapa orang yang terbilang selesai dengan cepat dalam studi adalah orang yang fokus dengan kuliahnya. Di tengah orang sibuk melakukan hal-hal lain, orang ini fokus dan juga sibuk sendiri melakukan hal-hal yang mesti dilakukan. Terbukti dia sampai pada apa yang menjadi pilihan. Kadang kita membutuhkan ruang sendiri untuk melihat apa sesungguhnya yang dibutuhkan diri ini. Hidup dengan mengikuti irama yang dibuat oleh orang lain terasa melelahkan. Menari dengan irama yang dibuat sendiri, tersearah apa pun jadinya tetaplah indah dan bahagia.

Meski dalam waktu yang cukup lama, dengan segala pengorbanan dan air mata rekan kerja ini telah menyelesaikan studinya. Hitungan rupiah yang diperkirakan sejak masuk hingga keluar dalam waktu hampir selama 7 tahun, cukup fantastis. Meski begitu Tuhan tetap memberikan jalan keluar. Seandainya tidak studi, rupiah sebanyak itu belum tentu didapatkan dan terkumpul sebanyak itu. Anugerah Allah yang patut disyukuri.  Dalam ruang sesempit apapun, tetaplah syukur mengalir. Tidak ada hidup ini berlangsung tanpa kehendak-Nya.

Saya menyadari benar atas anugerah Allah yang tiada terkira. Memberikan nilai positif pada apapun yang terjadi, tidak berlebihan jika saya menggangap apa yang yang dialami oleh siapapun termasuk saya dalam menjalani studi adalah pelajaran yang teramat berharga. Studi bukan hanya sampai pada level-levelan  S1, S2, atau S3. Studi adalah pekerjaan wajib sepanjang masa. Jika saya mewajibkan untuk terus mempelajari apa-apa yang mesti saya pelajari untuk level S itu, tentu tidak berlama-lama menyelesaikannya. Ternyata dalam hidup ini banyak yang mesti dipelajari. Bahkan jauh lebih indah dari yang semestinya. Saya yakin ada hal lain dan pelajaran lain yang dialami sebagian kawan yang memanfaatkan waktu lebih banyak dalam menyelsaikan studi. Namun demikian diantara mereka ada yang telah sampai.

Selamat kawan. pekerjaan belajar sesungguhnya belum selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s