Rezeki dan Kebutuhan Biologis

Manusia hidup dengan berbagai kebutuhan. Kebutuhan dasar adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Pergeseran nilai dan perkembangan zaman kebutuhan kadang menjadi sesuatu yang tidak dapat sama dalam jenis, ukuran dan jumlah. Kebutuhan juga tersamarkan dengan keinginan yang terbalut nafsu. Namun pada dasarnya kebutuhan dengan memahami fungsi dan struktur tubuh jelaslah apa yang dibutuhkan manusia.

Beberapa kali mendengar curhatan seoarang kawan perempuan yang tidak dapat lagi hidup bersama suami lantaran kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kata yang cukup mengagetkan bahwa, “kalau kebutuhan materi yang kurang, kita bisa cari dan kerja sama-sama, tetapi kalau kebutuhan ‘bathin’ tidak terpenuhi lantaran suami ‘tidak berdaya’ mau cari kemana?

Kegelisahan karena kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan lingkungan hidup yang terus menuntun kepada kesenangan, tentu kondisi itu sangat memprihatinkan. Upaya untuk memperbaiki dan mengobati agar fungsi kembali tentu sudah ditempuh. Namun ibarat penyakit yang datang, belum tentu obat dan cara yang telah banyak ditempuh mengenai tepat sasaran penyakit dan menjadi sembuh. Kesabaran dan ikhtiar menjadi kawan setia dalam membenahi itu semua.

Berbeda dengan satu kawan perempuan juga yang mengalami nasib serupa, namun apa yang dilakukannya menjai sesuatu yang tidak saja bermanfaat bagi dirinya sendiri namun juga bagi keluarga. Memahami kondisi pasangan yang mengalami disfungsi, upaya pengobatan terus dijalani meski lama namun belum kunjung normal.

Tidak terlalu memfokuskan segala pikiran pada masalah pasangan. Membuat kesibukan kerja yang datang seoalah tidak ingin dia lewatkan. Workholic menjadi julukan seolah terpaksa. Namun dia merasa bahagia dengan hasil kerja yang bisa memberikan kecukupan bagi anak-anaknya di rumah dan bahkan pasangannya juga. Meski terkadang titik lemah dan terpuruk hadir, di antara sela pekerjaan yang padat dan masalah dalam keluarga. Namun kekuatan hati untuk tetap bersikap dan berfikir positif beberapa kali menyelamatkan keretakan yang hampir terjadi. Pada akhirnya penerimaan diri akan kondisi yang ada, berharap menjadi nilai bermakna bagi diri membuatnya kembali tenang dan optimis menjalani hidup dan masalah yang datang.

Sesungguhnya kemampuan melihat persoalan secara positif dengan sudut pandang yang berbeda dan beragam membuat kemungkinan kebahagiaan yang lebih banyak. Begitu pula dengan yang dianggap tidak mengalami persoalan serupa di atas, kemampuan mensyukuri dengan baik, melahirkan kebahagian. Saya mencermati isi doa yang dibaca saat pasangan melakukan hubungan. Isi doa tersebut yaitu:

Ibnu Abbas ra berkata: “Nabi Saw bersabda: ‘bila seorang hendak bersetubuh dengan isterinya membaca: ‘bismillah, ya Allah, singkirkan setan dariku, dan jauhkan setan dari rizki yang Engkau berikan kepadaku.’ … (HR. Bukhori)

Terdapat aktivitas yang tidak hanya memenuhi kebutuhan bilogis semata tetapi ada nilai pemahaman bahwa apa yang dilakukan merupakan bagian rezeki yang Allah berikan. Bukan sekedar tetapi sesuatu yang tidak ternilai. Bukan bermaksud membandingkan penderitaan orang lain dengan kebahagiaan yang dimiliki, namun ini bermaksud memberikan kesadaran bagi orang yang memiliki faham meterialis, bahwa sesungguhnya apa yang didapat terdapat materi yang luarbiasa. Berapa uang yang dihabiskan oleh orang yang ingin kembali normal dan berfungsi, berapa waktu dan tenaga yang tercurah, tentu sesuatu yang jika dibayangkan terjadi, belum tentu sanggup melewatinya.

Kesanggupan bersyukur dan menerima keadaan apapun yang dihadapi, sesungguhnya sedang mengundang kebaikan yang lainnya datang menghampiri. Segalanya atas Kuasa Tuhan, percaya dan keyakinan yang kuat kepada Allah, jauh lebih baik dalam mensikapi persoalan. Bukankah Allah akan menambah rezeki, jika kita mensyukuri apa yang ada. Dan jika kita mengingkari sesungguhnya siksa Allah teramat pedih.

Keputusan apapun yang diambil oleh kawan dalam menghadapi persoalan, itu adalah hak pribadi masing-masing. Saya menghargai keputusan yang ditempuh. Namun jika saya boleh mengutarakan pendapat, tentu sah-sah saja. Maka sebaiknya saya menyarankan:

Hadapi persoalan dengan tidak menambah persoalan baru. Segala penyakit pasti ada obatnya. Lakukan pengobatan baik yang terkait dengan psikologis mampun yang fisik. Sertai kesabaran dalam menjalaninya. Tidak ada kebaikan yang terbuang sia-sia, akan ada sesuatu yang positif jika dijalani dengan pikiran positif. Keputusan berpisah sesungguhnya bukan penyelesaian masalah. Ada masalah baru yang datang dengan menyingkirkan masalah lama. Masalah lama pun tidak menutup kemungkinan juga datang dan menimbulkan masalah.

Sudah menjadi pilihan dan menerima. Saat berkomitmen hidup bersama, memberikan pilihan kepada pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangan artinya telah menerima sepenuhnya. Meski ada banyak yang lebih macho, ganteng, dan kaya kita telah memilih pasangan   yang menjadi pendamping kini. Hubungan yang dijalani dengan kasih sayang dan empatis tidak sepantasnya meninggalkan saat pasangan terjatuh.

Nikmati Masalah sebagai bagian dalam hidup. Tidak ada manusia hidup tanpa masalah. Masalah adalah teman hidup, kalau dipikir rasanya terlalu ya.. karena tidak ada orang yang hidup ingin bermasalah. Tetapi faktanya masalah selalu ada. Karena itu yang terpenting adalah bagaimana cara mensikapi masalah agar tidak bermasalah. Kesulitan dan hambatan yang datang bisa dibilang bukan masalah. Masalah pasangan hanya dibicarakan dengan pasangan, jangan sampai dimanfaatkan orang lain. bisa-bisa jadi masbuloh- masalah buat loh, yang membuat orang lain turut campur.

Pilihan dan Keputusan telah dibuat. Selanjutnya menikmati konsekuensi, dan percaya segalanya akan membaik.

Kept positive thinking

Salam,

Santi Lisnawati

Suara Hari ini untuk Calon Wakil Rakyat

Hari ini tiba pemungutan suara dan penentuan kelak siapa yang menjadi wakil rakyat. Sesaat lagi akan terlihat siapa yang mendapat suara banyak. Mungkin pagi ini hati mereka yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, telah lelah menunggu 9 April dengan segala usaha, upaya, solsialisasi, dukungan bantuan dan janji-janji yang telah lepas dari mulut disampaikan kepada rakyat. Tiba penentuan seberapa besar suara yang mengarah dan memilihnya.

Subuh ini juga mungkin banyak yang dimanfaat oleh para wakil rakyat dengan semaksimal mungkin untuk mendapat hati dan suara rakyat. Konon serangan fajar menjadi senjata pamungkas untuk membeli suara. Jika kebanyakan orang melakukan serangan fajar bisa dibayangkan hal itu bukan cara yang efektif. Orang akan membandingkan jumlah uang yang didapat. Pada akhirnya belum tentu dengan melakukan serangan fajar akan seutuhnya memberikan suara kepada orang yang memberi.

Siapa yang bisa mengawal sampai biliki suara dan memastikan bahwa Anda yang dipilih. Tidak ada dan tidak boleh memkasa. Serangan fajar dan penerima serangan fajar sama meruginya. Lebih baik shalat fajar sajalah, lebih utama dari dunia dan isinya. Tidak ada artinya kursi dan uang recehan tidak benar juga adanya. Namun alangkah baiknya kursi yang didapat dengan cara-cara yang baik. Dan uang yang diberikan bukan karena maksud membeli suara. Tengoklah sekitar, pasti banyak orang yang membutuhkan, anak yang terlantar sekolah, orang miskin yang kesulitan hidup, berbuat baiklah, agar kebaikan datang bukan hanya pada tanggal 9 April ini.

Jangan pernah energi terbuang percuma. Niat yang salah, mendatangkan kecewa dan perilaku yang tidak terarah. Menghalalkan segala cara akan terus menjadi semboyan praktis dalam melakukan segala hal. Padahal kerugian bukan saja pada orang lain, perlahan dan pasti akan menghancurkan hidup sendiri.

Banyak sudah yang dikorbankan, jika pagi ini para calon wakil rakyat menghitung berapa jumlah materi yang telah dihabiskan untuk mensukseskan diri sebagai calon wakil rakyat, jadikanlah sedekah yang akan menghalangi datangnya kedukaan, penyakit dan musibah yang datang. Janganlah berpikir berapa yang akan saya dapatkan kelak?

Persiapkan mental bahwa kemenangan dan kegagalan adalah proses kehidupan. Jika Anda menang dan mendapatkan suara yang banyak, luruskan niat sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya. rakyat membutuhkan wakil yang peduli dan memperhatikan kebutuhan rakyat. Bukan kepentingan golongan.

Andai kegagalan itu menyapa Anda, padahal telah banyak harta benda, waktu dan tenaga yang dikorbankan, rilekslah sejenak. Jangan memperparah keadaan dengan mengorek-ngorek apa yang telah dilakukan. Telan saja. Jika mencoba membuka lembar ke belakang, tentu akan berpikir mana balasan mereka setelah dibantu, ternyata mereka tidak memberikan suaranya. Padahal sudah dibantu ini dan itu. Ini dan itu adalah penyakit yang berkepanjangan jika terus dipikirkan. Bukan tidak mustahil jika ini dan itu masih ada akan diambil kembali karena tidak signifikan dengan hasil yang diterima. Padahal tahukah jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain kemudian kita mengambilnya kembali itu sangat menjijikan.

Ibnu Abbas ra berkata: “Nabi saw bersabda: “orang yang menarik kembali pemberiannya bagaikan anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya (HR. Bukhari)

Jangan menambah jijik peristiwa dan keadaan. Karena itu perbaiki niat dan persiapkan mental Anda. Apapun yang terjadi adalah proses kehidupan yang berarti dalam perjalanan hidup.

Selamat Memberikan Suara

 

Mengingat dan Melupakan

 

Dalam keseharian ada banyak informasi yang semuanya belum tentu masuk dalam rekaman memori dan tersimpan dengan baik. Mengingat sesuatu yang baru saja disebutkan seringkali tidak mudah. Bahkan terkadang baru saja melakukan sesuatu, seperti menyimpan kunci, dan bermaksud mengambil kunci kembali, sudah tidak ingat lagi terakhir menyimpan. Berkenalan dan mengingat nama orang pun bisa menjadi lupa, padahal kenalan itu belum beranjak jauh dari kita. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemanakah fikiran kita saat menyimpan kunci, atau saat kenalan baru menyebutkan namanya?

Megingat dan melupakan adalah pekerjaan yang melibatkan kerja otak. Megingat menjadi mudah saat menghubung-hubungkan apa yang diingat dengan hal lain yang dengan mudahnya kita dapat mengingat. Mengingat dengan cara membuat singkatan dengan kata yang akrab dengan keseharian. Mengingat dengan cara berinteraksi secara intens, dan tentu masih banyak cara untuk mengingat. Mengigat atau menghafal adalah tahapan dasar kerja kognitif. Bagaimana mengingat kembali informasi yang pernah didapat. Interaksi dan proses informasi yang terjadi dalam fikiran memungkinkan sejauhmana kemampuan dan kebertahanan waktu dalam mengingat sesuatu. Informasi masuk dalam long term memory.

Mengingat sesuatu dapat berjangka waktu dan bertahan lama dalam ingatan saat interaksi antara korteks dan limbik bekerja sama dengan baik. Tanpa perlu mengulang dan bekerja keras megingat sesuatu, informasi yang melibatkan emosi bertahan lama dalam ingatan. Bahkan seumur hidup tidak akan pernah terlupakan, seperti mengingat wajah guru waktu pertama kali masuk sekolah. Atau saat pertama kali jatuh hati, sepertinya semua orang mampu mengingatnya, kecuali terjadi kelainan atau kerusakan otak.

Aspek lain yang turut berperan adalah interaksi dan intensitas dalam interaksi. Intensitas interaksi memungkinkan untuk mudah mengingat dan menghafal. Seringnya bertemu dengan seseorang hanya mendengar bunyi sepatunya atau minyak wangi yang digunakannya kita sudah bisa hafal siapa orang yang dimaksud. Kita bisa hafal dimana jalan yang berlubang, karena seringnya melewati jalan tersebut.

Meskipun demikian ada juga mahasiswa yang sering berinteraksi dan selalu hadir di kelas mengikuti perkuliahan, belum tentu ingat apa yang sudah disampaikan dosen. Hal ini bisa dikarenakan wujud fisik hadir selalu namun pikiran menjelajah kemana-mana yang tidak memiliki hubungan dengan informasi dalam perkuliahan.

Bagaimana cara melupakan sesuatu yang pernah lekat dalam ingatan? Jawabnya singkat tidak perlu dipikirkan kembali. Semakin berusaha keras melupakan maka pastinya semakin ingat. Karena pikiran intens mencari cara melupakan, tetapi yang dilupakan hadir dalam pikiran.

Mengingat yang baik dan melupakan yang tidak menyenangkan. So, ingat yang baik-baik saja.

 

 

Menikmati secara Positif Rasa Sakit

Menikmati secara Positif Rasa Sakit

 

Saat melihat agenda kegiatan ke depan dengan berbaagai pekerjaan yang harus dikerjakan, rasanya ingin sehat terus dan pekerjaan bisa selesai. Namun apa daya dan siapa yang menginginkan terhenti sejenak atau mengerjakan pekerjaan dengan gerak yang lambat sambil merasakan rasa sakit.

Sakit memang tidak diminta namun terkadang ada sebab yang mudah untuk menjadi sakit. Lengah terhadap kebutuhan jasad dan ruh. Tidak memperhatikan kebutuhan fisik, seperti istirhat dan ntrisi yang baik. Bagaimana cara berpikir pun dapat menjadi sebab, pikiran terkadang mendahului dan membuat rasionalisasi kemungkinan sakit, sesuai dengan apa yang dipikirkan, maka apa yang dikhawatirkan terjadi, sakit pun datang.

Saat pekerjaan yang padat melelahkan, semua pekerjaaan bertumpuk dan mesti diurai dan diselesaikan, butuh pikiran dan nutrisi yang baik untuk menjaga tubuh agar tetap fit dan pikiran tetap positif. Namun adakalanya kelemahan dan kelengahan memperhatikan diri terlewatkan. Seperti terlewat jadwal sarapan, atau terlewat jadwal makan siang, dan lupa memenuhui kebutuhan minum.

Merasa diri kurang asupan nutrisi yang baik, lalu melihat di sekitar ada banyak orang terkana flu. Ada ras khawaatir badan letih mudah terkena penyakit. Maka di atas 50% pikiran dan kondisi yang ada membuat kejadian itu dapat terbukti.

Ketika khawatir terjadi sesuatu seperti sakit, manusia memiliki cara untuk mengantisipasi. Melakukan cara antisipasi dengan memulihkan tubuh dan memberikan nutrisi yang baik. Seingga rasa sakit yang dirasakan berkurang atau bahkan menghilang. Namun bisa juga jika tidak cukup waktu istirahat sakit tetap menempel dan bekerja tetap dijalankan. Jadilah penyakit awet dan pekerjaan bisa dikerjakan dengan kurang maksimal. Ini terjadi saat begitu sulit memenuhi kebutuhan diri dan keberanian menolak pekerjaan yang datang.

Sakit kadang tidak kunjung sembuh, padahal sudah cukup istirahat dan nutrisi, maka ada baiknya melihat ke dalam diri. Lupakan sejenak gambaran pekerjaan dan taret-target waktu yang tertulis. Pekerjaan-pekerjaan yang deadline, Selama bisa negosiasi dan bisa diwakili oleh yang lain tidak ada yang terlalu penting selain memperhatikan kesehatan diri dan kembali melihat ke dalam diri.

Terima dan nikmati sakit dengan positif. Ini saran bagus yang bisa jalankan. Menerima keadaan sebenarnya sedang tidak sehat, akan membuat gerak yang terpilih, tidak akan membuang energi dengan yang tidak penting. Lebih bagus tidur, istirahat. Saat terasa lebih baik maka dapat memulai kerjakan apa yang bisa dilakukan. Satu hal yang membuat rasa sakit apapun terasa begitu nikmat, saat mampu melihat ke dalam diri yaitu menyadari bahwa apapun yang menimpa pada diri ini baik rasa sakit yang payah atau duri yang menacap sekalipun itu adalah proses dalam membersihakn diri dari segala debu dalam jiwa, salah dan dosa.

Aisayah ra berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menghapus dosanya dengan musibah itu, walaupun hanya duri yang mengenainya. (HR. Bukhori)

Melihat ke dalam diri, tidak ada manusia yang suci terbebas dari dosa. Inilah tanda kasih sayang bahwa Allah menginginkan diri atau jiwa hambanya yang bersih. Jika menyadari akan hal ini tentu tidak sepantasnya mengeluh, marah dan menyalahkan orang lain atas rasa sakit yang diderita. Senyum dan meringis karena sakit yang begitu indah.

Besarnya penderitaan atau bala sebanding dengan besarnya pahala. Rasul perah sakit panas yang luar biasa seperti diderita oleh dua orang yang sakit panas. Dan Abdullah bin Masud mengatakan bahwa Rasul mendaptkan pahala dua kali lipat. Rasul pun membenarkan. Besarnya bala sebanding dengan besarnya pahala. Namun jangan pula saat sakit meminta untuk sakit yang lebih parah. Karena bagaimana pun tidak sepantasnya menganiaya termasuk terhadap diri sendiri. Memelihara dan menjaga hak-hak tubuh menjadi tanggung jawab diri sendiri.

 

Manusia memiliki kesatuan dimensi jasad dan jiwa. karena itu sakit bisa saja yang mengenai fisik seperti terluka atau terkena duri. Namun juga sakit yang mengenai psikis atau jiwa seperti keresahan dan kesedihan. Kesedihan mendalam saat kehilangan orang yang dicintai, atau keresahan yang terasa saat secara tidak sengaja melukai hati orang lain. Sesungguhnya inilah bagian dari cara kestabilan jiwa. Jika menyadari dan menikmati secara positif apa yang telah menimpa diri, akan menikmati keadaan dengan lebih baik.

 

Salam Sehat & Bahagia

04.04.14 # 05.53