Bertemu Saudara

Bertemu Saudara

 

           Tidak pernah terpikir dapat bertemu saudara muslim jauh dengan jumlah yang banyak. Mereka datang dari Negara tetangga untuk mencari ilmu, aku mendapat giliran untuk berbagi. Ini kali pertama aku mengajar dengan jumlah jam yang sangat padat sembilan jam perhari, selama 4 hari berturut-turut. Mulai jam delapan hingga jam 6-an. Tidak pernah aku mendapati mereka telat datang, saudaraku ini sepertinya sudah sangat disiplin waktu, sepuluh menit sebelum dimulai perkuliahan mereka sudah siap duduk di kelas. Tentu aku akan datang lebih pagi dari mereka, karena aku lebih dekat untuk sampai di kelas. Jam 07.30 aku sudah siap di ruang kelas.

Berbeda budaya, bangsa dan bahasa. Perbedaan ini menjadi ilmu yang berharga. Budaya disiplin waktu yang kuat. Karena mereka terbiasa hidup dengan waktu yang teratur. Tidak bisa bersantai-santai. Salah seorang mahasiswa mengatakan bahwa hari-hari mereka di Singapura adalah kerja, kerja dan kerja. Biaya hidup cukup mahal. Mereka mengerjakan pekerjaan bukan saja pekerjaan utama, namun juga ada bekerja part time. Mengadalakan satu pekerjaan pokok, membuat tidak leluasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka juga mengatakan, kami sangat diatur waktu, melakukan sesuatu dengan segera, dan cenderung tergesa-gesa dan begitu sibuk. Bekerja dan disiplin waktu jika tidak, khawatir bisa dipecat.

Hiruk pikuk Negara industri dengan deru kendaraan menjadi sahabat dalam menjalani hari yang seakan terus hidup selamanya. Namun tidak begitu dengan sadaraku yang begitu semangat menimba ilmu agama. Mereka tidak mengenal usia, aku bersama mereka belajar dari yang muda sekitar usia 20an hingga yang tua yang hampir mendekati 60an. Mereka semua bekerja ada yang sebagai tenaga farmasi, teknisi, pegawai administrasi, manager perusahaan, kepala sekolah, dan guru.

Disela kesibukan mereka bekerja, mereka mengikuti pengajian di sebuah collage. Setiap akhir pekan dan part time mereka belajar, termasuk kedatangan mereka ke kampus ibnu khaldun merupakan penambahan mata kuliah untuk bidang pendidikan agama islam.

Salah satu kompetensi dalam program studi pendidikan agama islam adalah mereka perlu menguasai bidang pendidikan. memahami pendidikan artinya mereka perlu memahami perilaku peserta didik pada setiap fase perkembangan. Karena itu pula mereka belajar psikologi perkembangan sebagai wawasan awal.

            Tidak menarik dan menjenuhkan kiranya jika mata kuliah itu hanya disampaikan lewat ceramah. Terlebih bahasa sangat bermasalah. Aku kurang terbiasa dengan bahasa melayu. Bahasa Arab dan Inggris pun pasif. Rasaya jam pertama perkuliahan aku mengalami frustasi bahasa. Bahasa Indonesia tidak sama persis dengan bahasa melayu, ada banyak istilah yang tidak difahami. Akhirnya aku mengubah strategi belajar dengan lebih banyak mengeksplorasi kemampuan dan pemahaman mereka tentang psikologi perkembangan. Beruntung aku sudah menyiapkan modul sebagai bahan pembelajaran. Sehingga secara garis besar yang akan dikerjakan dan dibahas ada dalam modul.

            Membahas topik-toik dalam psikologi perkembangan secara berkelompok menjadi kegiatan pembelajaran di kelas. Aku salut dengan kerja dan usaha mereka. Dalam waktu semalam mereka mampu menjelajah tema yang dibahas dengan luas dengan tidak berkutat dalam modul. Memang aku pun menyediakan banyak buku referensi di dalam kelas yang dapat mereka baca dan bawa pulang. Namun mereka juga memperkaya dengan sumber dari internet dan pengalaman mereka sehari-hari. Sungguh luar biasa, aku suka dengan paparan yang mereka sampaikan selain pemahaman yang baik dari mereka juga bahasa yang digunakan Ingris dan Melayu menjadi satu sangat terdenga asyik.

            Pengalaman lapangan adahal hal yang penting. Jauh sebelum mereka sampai ke Indonesia, aku sudah mengurus perizinan observasi untuk mengamati perkembangan anak pra sekolah dan anak remaja. Hari ketiga perkuliahan, aku membawa mereka ke kedua tempat itu. Namun karena jumlah mereka yang cukup banyak orang akhirnya dibagi dua, sebagian ke prasekolah dan sebagian lagi ke madrasah untuk mengobservasi dan mengambil data tentang perkembangan remaja.

            Acara welcome, closing seremonial aku serahkan ke mahasiswa. mereka diskusi dan tanya jawab dengan pihak sekolah, mengobservasi kelas dan memberikan angket untuk anak remaja. Sambutan pihak sekolah yang ramah dan hangat, seperti meyambut saudara jauh yang baru tiba. Mahasiswa pun merasa senang bukan saja dengan penyambutan pihak sekolah, namun juga perkembangan agama yang menyenangkan.

Muslim di Negara mereka minoritas, mereka begitu semangat dengan memperkuat keagamaan mereka. Kawin campur melayu, cina dan mungkin beda agama akan sangat mungkin. Penanaman agama dan meningkatkan kualitas keagamaan menjadi hal yang penting. Berharap generasi mereka memiliki kejayaan dan menjadi generasi yang kokoh agamanya yaitu generasi yang sholeh dan sholehah.

Pendidikan menjadi alat dalam menjawab tantangan kehidupan. Perlahan dan pasti akan dapat merubahnya menjadi lebih baik dan lebih baik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s