Memahami Pemikiran Barat dan Timur

 

Di suatu ruangan Dekanat di Fakultas, saya berbicang dengan seorang teman yang sama-sama sedang mnghadapi laptop dan buku berserak mengerjakan tugas studi yang belum berakhir.

Bertukar cerita dari bacaan yang pernah dibaca, mulai dari isi buku hingga personal pengarang. Saya bercerita baca buku yang lumayan tebal, padahal awalnya sederhana, wawancara dengan nara sumber tentang perjalanan studinya. Tetapi sepertinya karena keduanya adalah penulis hebat, pertanyaan yang singkat dan mendalam mendapat uraian yang rinci, kaya pengalaman dan pemikiran. akhirnya jadilah buku tebal yang saya baca itu judulnya “Rihlah Ilmiah”.

Buat saya idenya menarik memahami perbedaan pemikiran barat dan timur, ketika saya dengar dalam acar seminar pun saya melihat pemahaman kematangannya dalam menilai bagaimana barat dan timur (timur maksudnya islam). Dengan penuh apresiasi dia tidak menghakimi, justru menyampaikan pesan yang damai bahwa itu mereka, dan kita seperti ini, tidak perlu salahkan mereka, karena mereka tidak faham. Justru ini menjadi kesempatan bagi kita untuk tunjukkan pemikiran dan sikap kita, yang bisa menjadi alternative bagi mereka. That’s right, I agree Wan.

Teman saya kurang tertarik dengan tulisan yang say abaca katanya belit-belit dan sulit difahami. Lalu dia cerita bahwa ada buku kalau dengan pemikiran semacam itu. Penulisnya ganteng dan cerdas, katanya. Teman saya begitu mengaguminya, Sambungnya ‘saya pernah hadiri seminar pembicaranya dia, ada orang yang ganteng dan cerdas begitu, dia anak Kyai dari Gontor’. Kemudian Saya diunjukkan buku yang dimaksud itu dan langsung halaman wajah penulisnya. ‘Ganteng kan’, ujarnya. Tetapi saya melihatnya biasa saja.

Ganteng menurut saya bukan wajah yang utama tetapi seluruh pemikiran, keberanian dan sikap dalam menunjukkan sebuah kebenaran. Mungkin karena saya hanya lihat wajah, dan sedang kerjakan tugas lain, saya tidak tertarik untuk membaca buku itu lanjut, perbicangan tentang buku itu berlalu.

Waktu mengantarkan saya kepada keadaan selanjutnya yang tidak pernah diduga. Saya punya teman dalam perjalanan Bogor – Rawa mangun, saya tertawa sendiri dengan selingan yang menggelitik, sebuah buku judulnya ‘Misykat’.

Jejeran nama Filosof yang disebut dalam bahasannya, memutar kembali kenangan saya akan pelajaran filsafat yang pernah saya ikuti (nimbrung di kelas dosen filsafat yang sedang ngajar filsafat di S1). Membaca buku kecil biografi filusof, aneh sulit saya cerna pemikiran, saya justru tertarik dengan konsistensi perilaku mereka dan ketekunan dengan ilmu. Kant yang sangat konsisten dengan menulis dan jalan sore, hingga orang lain bisa mengetahui jika Kant lewat berjalan di sore hari, itu tandanya sudah jam 4. Begitu disiplinnya mereka. Tentu ada yang saya tidak tertarik dengan perilaku Kant moral yang bertentangan dengan batin.

Dosen saya bilang, ‘ilmu dan kebenaran yang kita ambil, bukan perilaku personal’. Maksudnya peduli amat dengan perilaku dan moral mereka yang bersifat personal, kalau pemikirannya benar, itulah ilmu. Sementara, saya iya setuju. Karena mau bagaimana, mereka yang dengan cara pandang dan faham mereka. Tetapi dalam benak jika ada personal yang baik, pemikiran baik dan ilmu yang benar, mengapa tidak. Jika ada itu tentu lebih bagus. Dan saya percaya itu ada, bagaimana para ilmuan dan pemikir muslim, itulah gambaran yang utuh. Hanya keterbatasan saya mempelajarinya sehingga belum banyak warna dalam alam fikiran ini.

Saya melanjutkan bacaan buku kecil, yang dikira teman duduk sebelah di bis saya sedang membaca novel, Tulisan yang memang ringan namun syarat dengan filosofis dan makna yang mendalam. Tidak salah orang-orang memberikan endorsmen dalam buku ini.

Menarik isi dari pengalaman dan pemikiran penulis ini. Latarbelakang pendidikan agama mampu membingkai pemahaman filsafat dan pemikiran barat dengan tetap di tempatnya. Tidak terbawa cara pandang barat meski dia belajar theology di sana. Justru hal ini menjadi sebuah kekutan dalam mengutarakan berbagai pemikiran filosof dan pemikiran barat dengan caranya yang tidak lepas dari bagaimana seorang muslim memandang pemikiran oranglain yang terkadang memang hanya cocok untuk orang lain.

Sesuatu yang kadang dipaksan bagi orang-orang muda untuk mengadopsi entah meniru sesuatu yang bukan dirinya (muslim maksdnya). Entah mungkin karena tidak paham dirinya dan memahami orang lain dengan sepintas lalu menjadi orang yang akhirnya tidak jelas dan malah terkesan ‘linglung’.

Tidak sama konsep tuhan bagi orang barat dan muslim. Pembicaraan tuhan bagi mereka tidak pernah tuntas, begitu pun agama, memiliki makna yang berbeda pula. Jadi jangan pula diambil kesimpulan mentah-mentah pembahasan tuhan maupun agama yang mereka uraikan, apalagi mengadopsinya karena sudah pasti tidak cocok.

Timur dan barat sudah jelas beda. Saya suka dengan ungkapan orang india yang ditulis di buku itu, seorang teknisi yang membetulkan mesin copian yang rusak. Meski cerita sederhana ada makna yang diuangkakannya. ‘Wisdom always come from the East’.

Ajaran timur dan ajaran agama yang sesungguhnya lebih luhur dan malampau segala fisik dan material. Tidak akan sampai jika hanya gunakan rasional, tetapi ada cara yang lain untuk melihat yang sesungguhnya ajaran itu yaitu dengan keimanan.

Saya percaya kebenaran islam, ada alasan yang jelas agama yang diajarkan muhamad, ada hadis dengan tingkat keshahihannya dapat dipertanggung jawabkan. Dengan sanad yang bersambung kepada nabi Muhammad dan perawi dengan kualitas yang dinilai khalayak akan kebenarannya tentu dipertanggung jawabkan. Matan yang syarat dengan ilmu dan kebenaran. tidak mungkin jika itu semua sebuah kebohongan, dan tidak mungkin pula kebohongan dilakukan secara masal. Jika itu sebuah kebohongan tentu bagian dari sahabat dan pengikutnya ada yang mengguggat. Namun itu tidak kita temukan. Karena itu meski saat ini muslim tidak pernah bertemu dengan Muhammad, kita meyakini sepenuhnya akan kebenaran ajaran islam. Artinya ada keimanan saat muslim menggali ajaran islam disamping rasional.

Saya tidak ingin terlewatkan setiap bahasan dalam buku ini, ada beberapa bagian yang belum selesai dibaca. Namun saya tidak sabar ingin menuliskan perasaan dan pikiran akan kekaguman saya dengan agama yang saya anut.

Saya bersyukur lahir di timur dan beragam islam. Seandainya lahir di barat mengkin jadi atheis. (hehe.. nau’dzubillah). Agama yang mereka anut sepertinya tidak dapat diandalkan. Tidak heran jika berkembang terus agama dan mereka menjauh dari gereja. Rasional dan kritis mereka menuntun untuk menjauh dari agama mereka, karena agama terlalu sempit, dan bahkan agama ditanggalkan saja. Tidak usah beragama yang penting humanis. Sepertinya ini menjadi pakaian yang longgar bagi mereka. Pantas jika ada keraguan dengan agama mereka anut.

Penulis buku ini mampu hantarkan pemahaman barat dan timur dengan ringan padahal bahsan yang berat. Saya lihat foto penulis ternyata sepanjang perjalanan dalam bis aku membaca buku di tulis oleh pengarang yang dikagumi teman waktu itu. Waktu itu saya tidak tertarik membaca, karena awal kenal lewat teman hanya lihat wajah penulis, dan tidak juga baca isinya karena kayaknya kurang menarik. Jadi pelajaran don’t judge book by the cover. Tetapi kalau soal ganteng yang dibahas teman waktu itu, tentu ganteng yang di rumah lah.

 

Advertisements

ORANGTUA YANG AKAN MENUA DAN RENTA

ORANGTUA YANG AKAN MENUA DAN RENTA

(Mengenang bacaan shalat Dinda, saat shalat Magrib bersama)

 

‘Dinda mau jadi imam shalat’, pintanya kepadaku. Ok, mama yang iqomat, dengan semangat saya lantukan lafaz iqomah. Setelah siap, Dinda mulai takbir menjadi imam shalat magrib. Tidak ada yang istimewa semuanya seperti biasa, karena ini bukan lah pertama kali dia menjadi imam shalat ketika kami berdua shalat. Dia terbiasa baca surat-surat pendek, baca dengan suara nyaring dan bahkan kelewat nyaring, doa iftitah, I’tidal, ruku dan sujud pun dibaca nyaring. Namun seiring waktu dan belajar kini dia sudah faham bagian mana yang mesti nyaring dn tidak.

Meski begitu teryata ada saja kejutan baru, dia membaca potongan ayat dalam Quran yang saya sendiri tidak mengtahui secara pasti ayat dan surat apa yang dibacanya. Setelah shalat saya tanya Dinda, ‘tadi baca surat apaa? ‘tidak tahu, harus lihat buku hafalan, tidak ingat surat apa.’ Ternyata buku hafalannya juga tidak di rumah, dia simpan di loker kelasnya.

Tetapi dari isinya tidak asing, justru saat shalat hati ini mengartikan makna ayat yan dibacanya. Luar biasa dalam ayat yang ia baca, surat Al Isra ayat 23-24, inilah bacaannya;

*4Ó|Ós%ury7•/u‘žwr&(#ÿr߉ç7÷ès?HwÎ)çn$­ƒÎ)Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur$·Z»|¡ômÎ)4$¨BÎ)£`tóè=ö7tƒx8y‰YÏãuŽy9Å6ø9$#!$yJèd߉tnr&÷rr&$yJèdŸxÏ.Ÿxsù@à)s?!$yJçl°;7e$é&Ÿwur$yJèdöpk÷]s?@è%ur$yJßg©9Zwöqs%$VJƒÌŸ2ÇËÌÈ   ôÙÏÿ÷z$#ur$yJßgs9yy$uZy_ÉeA—%!$#z`ÏBÏpyJôm§9$#@è%urÉb>§‘$yJßg÷Hxqö‘$#$yJx.’ÎT$u‹­/u‘#ZŽÉó|¹ÇËÍÈ

23. dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia[850].

24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

 

Saat mendengar ayat yang dibacanya begitu hati ini tersentuh, berisi pesan tauhid yang kuat sebagai landasan dalam kehidupan. Inilah pesan utama bagi manusia di dunia ini. Kebebasan akan dicapai dengan memerdekakan diri, tauhid sebagai symbol kebebasan manusia atas belenggu kehidupan. Tidak ada yang lain kecuali Allah. Tidak ada takut, tidak ada sedih, tidak ada ragu dan khawatir atas apapun yang terjadi, selama Allah menjadi tujuan hidup.

Pesan kedua adalah bagaimana memperlakukan orang yang terdekat dengan diri kita yaitu orangtua, berbuat baik kepada orangtua, berkata lembut, sopan dan santun dan berdoa untuk kedua orangtua. Memuliakan orangtua beriring dengan perintah tauhid. Selama mendengar ayat itu dalam shalat, saya berbisik dalam hati, semoga anak-anak mampu menjalankan isi kandungan ayat ini.

Tua adalah masa yang sangat lemah, bahkan terkadang segala penyakit datang menemani masa tua. Orang muda atau anak-anak terkadang tidak sabar melihat keadaan orangtua yang melemah dan menua. Lambat mendengar, lambat berjalan, lambat bicara dan melamat segala aktivitasnya bisa jadi mundur 10 x dari orang muda.

Meski orang muda faham apa yang semestinya dilakukan terhadap orangtua, namun kadang kesadaran itu tergerus oleh kesibukan dan keterlenaan yang larut dalam urusan selain orangtua.

Orangtua yang renta, lemah dan sakit seolah dianggap penghalang ruang dan gerakya untuk melakukan sesuatu diluar sana. Padahal jika faham dan sadar sepenuhnya tidaklah anak menjadi besar dan memiliki kemampuan hingga saat ini, jika tidak pengorbanan besar dan kasih sayang orangtuanya.

Hati in selalu basah jika menceritakan tentang pengorbanan dan kasih sayang orangtua. saya merasa tidak begitu mampu dan dapat dengan pantas berbalas budi. Banyaknya diri ini diberi bukan memberi. Hingga dewasa kini pun orangtua tetap pikirkan dan perhatikan kehidupan anak dan cucunya.

Tidak akan pernah terbanyar pengorbanan orang tua meski dengan gunung emas maupun lautan mutiara. Sadar kelak yang kita perlukan bersama adalah bukan harta, tetapi pribadi baik yang tumbuh dalam kebaikan dan doa. Anak yang baik yang mendoakan. Tentu tidak bisa pula beri seuatu yang baik kepada orang lain, jika diri sendiri saja tidak begitu baik. Karena itu Rasulullah mensatukan dengan kata anak sholeh yang mendoakan sebagai amal kebaikan yang terus mengalir kepada kedua orangtua.

Saya selalu rindu kepada orangtua, dalam sendiri di kesunyian, dalam sujud di keheningan, saya tidak akan dapat tahan air mata, yang menjadi wakil kata dalam doa. Semoga Allah berikan kebahagiaan orangtua di dunia dan akhirat.

“Ya Allah ampuni dosaku dan dosa kedua orangtuaku, sayangi mereka sebagaimana mereka sayangi aku sejak kecil”

 

Saat Magrib

 

Tidak mudah mengajarkan anak kebiasaan dalam menjalankan ibadah seperti shalat, namun tidak pula sulit untuk mengajarkannya. Pendidikan di rumah dan di sekolah yang saling mendukung dapat mengarahkan kepada kemampuan anak dalam mengerjakan ritual ibadah yang diajarkan agama dan tentu juga pemaknaan atas apa yang dilakukan.

Setiap waktu shalat tiba, tidak hanya cukup suara azan yang mengingatkan tetapi juga contoh orangtua dan ajakan kepada anak untuk melaksanakannya bersama menjadi sebuah pembelajaran. Karena kalau hanya pake omong sementara orangtua tidak memberi contoh dan terlibat sangat kecil kemungkinan bisa dilakukan anak. Anak bisa berbalik katakan ‘bisanya nyuruh’ padahal kadang orangtua juga punya alasan sendiri, ‘sudah tahu orangtua begini, anak mah jangan’. Pembelajaran yang sulit berhasil mengajarkan dengan tanpa keteladanan.

Ada pula yang orangtuanya hanya shalat sendiri sementara anak-anaknya dibiarkan saja. Karena menganggap bahwa anaknya sudah besar sehingga bukan tanggung jawab orangtua lagi. Karena memang anaknya sulit untuk mentaati apa yang diminta orangtuanya, sehingga orangtua merasa malas dan bosan juga untuk mengingatkan. Padahal pendidikan adalah syarat dengan kesabaran.

Berapa banyak rumah-rumah yang saat azan Magrib tiba, anak-anak masih asyik menonton televisi karena berbagai alasan, seperti nanggung acara yang sedang ditonton, dan nunggu iklan. Ritual ibadah magrib menjadi selingan, bahkan dilakukan dengan terges-gesa, karena masih fokus dengan tontonan. Keranjingan dengan serial TV, begitu banyak waktu habis dengan melihat layar.

Kedisiplinan seluruh anggota keluarga menjadi keberhasilan dalam menanamkan kebiasaan baik di rumah, seperti shalat magrib tepat waktu, membaca Quran maupun membaca buku. Diperlukan bimbingan orang dewasa atau orangtua untuk membimbing anak-anak mereka agar jeda dari layar saat magrib tiba. Membimbing anak-anak membaca Quran, atau mengarahkan mereka untuk pergi ke tempat mengaji.

Namun sayang, kadang tidak sedikit orang tua yaitu ibu yang saat magrib tiba masih dalam perjalanan pulang kerja.Tuntutan pekerjaan sebagai ibu bekerja di luar rumah memiliki tanggung jawab yang berbeda. Padahal menjadi ibu rumahan yang bekerja penuh di rumah dan mengurus anak-anak pun tidak pernah kehabisan pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak kalah besarnya. Justru berbahagialah ketika orangtua terutama ibu memiliki waktu penuh dalam mengurus, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Ibu rumah tangga bisa menjadi karir professional yang menjajikan kebahagiaan. Bukan saja di dunia saat melihat anak-anak mereka berhasil dalam kehidupannya, tentu di akhirat pun karena ibu memahami, mengerti bahwa kebahagiaan yang diciptakan bagi anak bukan saja di dunia namun juga di akhirat.

Bersyukur bagi anak-anak yang juga belajar agama tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah dan pengajian. Tiba di rumah orangtua tinggal mengajaknya shalat melakukan apa yang diajarkan di sekolah.

Saat shalat berdua dengan anak, saya kadang membiarkan anak menjadi imam shalat, meski menjadi syarat seorang imam shalat belum penuh, tetapi ini upaya pembelajaran bagi anak. Dengan begitu saya bisa mendengarkan bacaan shalatnya. Terkadang diluar dugaan saat menjadi imam shalat bacaan surat setelah alfatihah mereka begitu asing, saya sendiri lupa tepatnya surat apa dan ayat berepa. Ternyata itu hafalan Quran mereka di sekolah. Dibacanya dengan tenang dan tartil. Kalau sudah begitu terharu, usai shalat dua jempol dan peluk cium untuk imam shalat. Sambil mengatakan bacaan shalatnya keren.

 

Saat Melemah

Saat Melemah

Terasa perbedaan antara semangat dan lesu, sehat dan sakit, kenyang dan lapar, tangguh dan payah. Tidak selamanya manusia sehat, tangguh dan semangat. Terkadang ada lemah, payah dan sakit menyambangi. Menghinggapi hati, jiwa, badan dan perasaan. Membuat terasa lesu dan kurang semangat. Mengerjakan hal-hal baik seperti ibadah shalat atau tilawah pun melemah, menulis untuk mencurahkan pikiran dan perasaan pun tidak tuntas, seolah energi hilang diperjalanan sebelum sampai kepada tujuan.

Begitu sulit difahami kemana semangat yang seolah tidak pernah habis energi untuk melakuka sesuatu. Saya sendiri tidak mengerti, merasakan sulitnya mendeteksi penyakit melemah dan bagian mana yang mesti diperbaiki. Akhirnya menduga-duga, sementara perbuatan nyata tidak kunjung tiba.

Tidak ada cara lain selain melawan semua yang menjadi beban yang berat. Beratnya bangun disepertiga malam, mentuntaskan tulisan, menyelsaikan tilawah tepat waktu, dan mengosongkan perut. Sibuk mendeteksi apa yang membuat melemah, telah banyak habiskan waktu dan tidak mengubah keadaan. Selintas sudah dapat dirasakan ada perubahan yang tidak seperti sebelumnya. Karena itu perlahan memperbaiki apa yang mulai melemah untuk stabil kembali.

Saya merasakan beberapa pekan ini selalu ada alasan untuk menunda pekerjaan, alasan kesibukan yang lain. hingga akhirnya kebiasaan baik yang sebelumnya berjalan baik mulai tercecer. Melambat dan bahkan terlewat. Saya kebingugan waktu untuk menulis, merasa ide yang tidak menarik, tulisan yang tidak kelar dan akhirnya tidak menulis. Semakin tidak menulis dalam waktu yang lama semakin sulit menuntaskan tulisan.

Ibarat sedang berlatih menggunakan bahasa yang asing, saat tidak lagi digunakan semakin terasa asinglah, dan saat akan digunakan kembali terasa sulit memulai. Bahkan beberapa bagian ada yang terlupa. Ah merugilah sebenarnya.

Aku bukan orang yang memiliki kepandian menulis tetapi aku merasa yakin dengan menulis aku menjadi lebih sehat. Saat apa yang ada dalam benak mengalir dalam kata menjadi sebuah tulisan dan menjadi makna bagi diri sendiri rasanya itu sudah menjadi obat bagi jiwa. Seperti aku merasa percaya dengan bangun di sepertiga malam menenggakan badan untuk shalat dan mengeluarkan suara untuk tilawah memberikan ketenangan bagi jiwa. Tetapi aku pun bukan orang yang ahli ibadah. Semuanya masih seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Terjatuh, tertatih dan terus mencoba .

Waktu begitu berlalu sangat cepat, pekerjaan terasa berantakan, fokus yang tidak lagi menjadi fokus, tidak heran jika kehilangan arah dan limbung. Apalagi diperberat dengan tuntutan diri yang terlalu memaksa. Membandingkan kekurangan tulisan diri sendiri dengan orang lain. tambahlah memperberat penyakit menulis.

Menulis apa adanya, menulis sesuka hati, menulis apapun jadinya menurut apa yang ada di kepala. Menulis untuk terapi jiwa. Megeluarkan apa yang dipikir dan dirasa.

Dalam keadaan melemah pun bisa menjadi sebuah tulisan, untuk merefleksi diri, bahwa menulis tidak melulu untuk kepentingan orang lain, tetapi sesungguhnya adalah kepentingan diri sendiri. Aku perlu menulis sebagai wujud syukur atas potensi akal pikir, rasa dan hati ini, menulis sebagai pengobat bagi jiwa, menulis untuk menambah keterampilan diri, menulis utuk berbagi, dan menulis sebagai jalan ibadahku.

Menulis dan menasehati diri di pagi hari.

Seberapa Besar Cintamu?

Takwa tidak dapat diwarisi dari seorang Ayah yang beriman. Jika semua kebutuhan hidup Ayah begitu peduli dan baik hati, memberikan semua keperluan anaknya, namun untuk yang satu ini Ayah tidak dapat mewariskan meski ayah memiliki keimanan yang tangguh dan ketakwaan yang tebal.

Setiap kita memiliki tanggung jawab masing-masing untuk perkara apa yang kita buat di dunia ini. setiap yang terkena hukum taklifi, anak yang mulai beranjak baligh sudah memiliki taggug jawab sendiri, hendak apa yang dibuat itulah yang dipertanggung jawabkan.

Meski ayah dan anak memiliki hubungan sedarah dan emosional yang kuat, namun ada suatu masa yang kita tidak bisa lagi saling menolong. Meski ayah sayang anak, namun tidak bisa pedulikan lagi. sebaliknya anak sayang pada ayah tetapi tidak bisa juga perhatikan dan bantu.

Kapankah masa itu datang? Sudah dekat atau masih jauhkan? Tidak ada satu pun yang mengetahui kapan masa itu terjadi. Kita hanya diberi suatu gambaran bahwa masa itu begitu mengerikan, tidak lagi kita bisa saling bantu membantu. Namun sejak kita hidup di dunia ini, ada peringatan yang untuk waspada dan ingatlah akan hal ini, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Luqman ayat 33.

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Jangan sedih jika sendiri, jangan juga sedih saat perlu merasa tidak ada yang bantu. Pikiran itu hanya menyempitkan diri. Tidak ada sedih dan tidak ada keterlantaran semua yang hidup telah memiliki jalan dan bagian yang menjadi ukuran bagi dirinya.

Tidakkah percaya akan segala kebaikan yang telah diberikan dalam hidup. Sejak ketidakberdayaan lahir dan tidak berdaya hadapi masalah tetaplah selalu masih ada orang yang mencintai kita. Kasih sayangNya menggerakkan tangan dan hati sesama untuk saling peduli dan berbagi. Percayalah akan cinta dan kasih sayang Allah kepada kita, yang dapat mengundang kecintaan seluruh peghuni langit dan bumi.

Abu Hurairah ra, berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya jika Allah ta’ala cinta pada seorang hamba-Nya, Dia memanggil Jibril dan berfirman: “Sesungguhnya Allah mengasihi Fulan, maka engkau harus mengasihinya.” Lalu Jibril mengasihi hamba itu dan dia berseru di langit: ‘Sesugguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintalah kalian semua padanya.; Maka dia dicintai oleh semua penduduk langit, kemudian ia disambut baik oleh penduduk bumi” (Diriwayatkan oleh Bukhori)

Seberapa besar cinta kita kepada Allah? Masihkan cinta kepada harta dan anak-anak melebihi cinta kepada Allah? Seberapa banyak berbuat karena Allah? Inilah ukuran seberapa besar Allah akan mencintai kita. Allah akan mengikuti dan berbuat lebih dari apa yang kita lakukan untuk-Nya. Jika kita berjalan mendekat-Nya, Allah berari mendekati kita.

Tidak perlu lagi keppo dan sedih karena cinta yang putus, tetapi bersyukurlah, itu pertanda Allah rindu tangisan hamba yang menyadari kekhilafan. Perbaharui diri dan perbaiki hubungan dengan sesama, karunia Allah luas terhampar dimana pun kita berada.

 

 

 

 

Adil kepada Anak

Adil kepada Anak

 

Anas mengemukakan sebuah riwayat, bahwa ada seorang laki-laki tengah duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, lalu datanglah anak laki-laki orang tersebut. Kemudian orang itu mencium anaknya dan mendudukannya dipangkuannya.

Kemudian datanglah anak perempuannya, lalu diambilnya dan didudukkan disebelahnya. Melihat hal ini, Rasulullah kemudian bersabda:”kamu tidak adil kepada mereka berdua.”

Adil adalah mendapatkan hak yang sepatutnya didapat. Anak laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan perlakuan yang adil dari orangtua. anak berhak mendapatkan kasih sayang, ciuman kasih sayang dari orangtua dan perlakuan adil lainnya dari orangtua.

Saat Rasulullah melihat orangtua yang kedatangan anak laki-laki kemudian dicium dan didudukan di pangkuannya, sedangkan saat anak perempuannya datang, hanya diambilnya dan didudukan di sebelahnya. Perilaku orangtua ini ditegur oleh Rasulullah dengan mengatakan bahwa, Orang itu tidak adil kepada kedua anak tersebut.

Perlakuan yang sama dan tidak membedakan karena mereka juga sama sebagai anak. Terasa kurang nyaman diperlakukan tidak adil, ada rasa sedih dan bahkan bisa berupa kecemburuan. Suasana yang tidak lagi menjadi indah jika di antara sesama anak saling cemburu, curiga, dan bahkan cenderung perilaku negatif yang muncul jika orangtua tidak hati-hati dalam berlaku adil kepada anak.

Kisah Nabi Yusuf as sewaktu kecil, amat disayang oleh Ayahnya. Kesayangan dan kecintaan Nabi Yakub as, kepada Yusuf membuat iri hati dan cemburu anak-anak yang lain. Namun ketidakmengertian anak-anak yang lain, seolah mereka tidak diperlkakukan dengan adil yang terus tumbuh, maka perilaku negatif yang lain mengikutinya. Membuat jebakan dan menghilangkan Yusuf dari keluarga direncanakan dan dilakukan saudara-saudara yang lainnya.

Tentu kita tidak ingin karena anak-anak tidak faham dan salah mengartikan dari perlakuan orangtua terhadap mereka, membuat anak-anak merasa diperlakukan tidak adil. Berlaku adilah sebagai sebuah kebaikan bagi anak-anak.

Bermain dengan Anak

Rasulullah Saw pernah berangat shalat ke mesjid menggendong cucunya, Ummah binti Zaenab putri Rasulullah Saw. Jika Rasul sujud, diletakkan cucu yang digendongnya itu, dan jika bangun digendong kembali.

Membawa anak kecil ke masjid dan shalat sambil menggendong anak, jika sujud barulah diletakkan. Inilah yang pernah dilakukan Rasulullah Saw. Membiarkan anak tumbuh layaknya anak-anak. Meski di mesjid tempat ibadah dengan penuh kekhusuan dan ketenangan namun bukan berarti tidak boleh membawa anak.

Bukan saja menggendong dan mengajak anak shalat di mesjid, Rasulullah saw pun sering bermain dengan Hasan dan Husain. Beliau meletakkan mereka berdua di atas punggung beliau, sementara beliau berjalan merangkak di atas kedua kaki dan kedua tangannya. Beliau mengatakan bahwa; “Sebaik-baik onta adalah onta kalian ini. Dan sebaik-baik tumpangan adalah kalian berdua”

Rasulullah menjadikan punggungnya untuk duduk kedua cucunya dan beliau berjalan merangkak. Anak-anak tentu saja merasa senang bermain, anak-anak gembira, dan bermain sangat baik bagi perkembangan anak.

Bermain adalah hal penting bagi anak. Dengan bermain anak melepaskan segala ketegangan, mengeluarkan energi yang bertumpuk menjadi sebuah kesenangan dan kegembiraan. Bermain penting bagi anak namun tidak melalaikan belajar dan belajar pun penting bagi anak dan tidak melupakan bermain. Belajar dan bermain dua hal yang tidak terpisahkan bagi diri anak.

Al Ghazali berkata: seorang anak mesti diberi izin bermain setelah menghafal AlQurannya. Jika anak dilarang bermain, sementara orangta terus memaksanya untuk belajar, maka hal itu akan mematikan hati anak, menghilangkan kecerdasannya, dan membuat bosan kehidupannya, sehingga berusaha mencari cara untuk terbebas dari kebosannanya itu.

Artinya kebutuhan bermain menjadi relaksasi bagi kepenatan anak, padahal begitu pula setiap orang butuh relaksasi dari segala kepenatan yang setiap saat bisa saja mendera. Ada kebutuhan yang sama bagi anak maupun orang dewasa akan bermain. Karena itu bermain bersama anak adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Bermain dengan anak tidak melulu pergi ke tempat khusus bermain yang berada di luar rumah. Orangtua dapat menciptakannya sendiri di rumah. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah pun bisa menjadi wahana bermain bagi anak. Mencuci kendaraan, memasak di dapur dan membereskan rumah bisa juga dilakukan sambil bermain dengan anak. Namun tentu saja perlu hati-hati, jika tidak disesuaikan dengan anak dan keamanan bagi anak bisa mencelakakan.

Biarkan anak bermain dengan benda dan lingkungan aman yang ada di rumah. Tidak peduli rumah menjadi mirip kapal pecah atau apapun, dinding rumah penuh dengan coretan selama anak dapat menikmati dengan keiatan itu, senang dan gembira. Persoalan berantakan bisa dirapihkan kembali, dinding yang kotor bisa dicat kembali. Hati anak yang kering, tanpa keceriaan, dan penuh kekerasan menjadi bekasan yang kelabu bagi anak. Senyum, tawa, riang, celoteh dan aktivitas anak membuat dunia terasa turut tersenyum.

 

Love u baby