BUKAN GURU BIASA

BUKAN GURU BIASA

(mengingat guru SD kelas satu ku)

 

Guru memberikan kesan kepada murid, tentulah bukan guru yang biasa. Sejak mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi aku selalu memiliki guru yang memberi kesan dari yang biasa saja sampai yang luar biasa. Guru di sekolah memiliki kesan yang kadang sebelum kita mengenal guru itu, ada informasi dari kakak kelas kalau guru A galak, judes, pelit nilai dan sebagainya tetapi setelah aku merasakan dan berinteraksi hampir aku tidak menemukan guru yang demikian.

Guru SD kelas satu yang mengajar ku sangat sabar, aku tidak memiliki kesan guru itu marah di kelas. Kalau aku diminta untuk membayangkan bagaimana kemarahan guru SD kelas satu di kelas, aku tidak memiliki gambaran, yang teringat hingga kini Ibu Emi guru kelas satuku, selalu tersenyum. Megajarkan huruf demi huruf dan merangkai menjadi kata, menulis di papan tulis dengan kapur tulis dan membagikan buku bacaan, isinya bacaan ini budi, ini wati, budi adik wati, ini anik, anik adik budi. Ini ayah, ayah peri ke kantor, ini ibu, ibu memasak di dapur. (begitulah adanya waktu itu).

Aku senang ketika guru mengatakan siapa yang bisa baca dengan benar boleh pulang duluan. Rasanya kalau bisa keluar lebih dulu dari kelas adalah anak pintar. Aku pikir paling baca yang seperti biasa ditulis di papn tulis. Giliran namu ku di panggil, aku diminta membaca buku yang ada di meja guru. Ibu Emi membuka lembar yang berbeda dari biasanya, aku melihat dalam bacaan itu ada gambar seorang anak yang sedang menjolok jambu. Tulisannya mulai agak rapat dari biasanya dan banyak, aku diminta membaca. Rasanya aku belum lancar betul membaca, kalau pun tahu bacaan kata itu, karena seringnya melihat bacaan itu seperti kata ‘budi’ tanpa dieja aku bisa sebut itu ‘budi’. Namun ketika masuk kata kedua aku mulai dituntun mengeja ternyata bacaannya ‘menjolok’, bacaan ketiga setelah diberi kata kunci ‘ja’, aku tebak pasti jambu. Ketika ku bilang jambu, Ibu Emi bilang ‘pinter, boleh pulang duluan’, aku cium tangannya dan Ibu Emi mengatakan ‘hati-hati ya’.

Sambil keluar kelas, aku hanya mengatakan dalam hati bahwa aku beruntung, karena sebenarnya aku belum lancar membaca, aku hanya menebak gambar. Seandainya tidak ada gambar aku belum tahu akan menebak bacaan apa. Sempat terpikir jika besok aku diminta membaca lagi dan tidak bisa menjawabnya, rasanya malu hati, akhirnya mulai ada keinginan kuat harus bisa membaca. setelah kejadian itu aku tidak ingat lagi, kesan-kesan yang terjadi saat awal masuk sekolah.

Aku hanya ingat, kalau aku tidak seperti anak tetangga yang lain yang sekolahnya diantar dan ditunggui ibunya hingga pulang. Aku hanya diantar waktu pertama sekolah dan selebihnya aku berangkat dan pulang sendiri. Meski sempat merasa ingin seperti teman yng lain diantar dan ditunggu umi. Tetapi keinginan itu cepat berganti setelah aku melihat sepertinya umi ku sibuk dengan dua adik dan pekerjaan di rumah.

Waktu aku naik kelas dua, aku sudah tidak bertemu dengan ibu Emi lagi. kata guru lain, Bu Emi pindah mengajar ke sekolah lain. aku rasanya ingin sekali bertemu, tetapi sampai aku lulus pun aku tidak tahu beliau mengajar di mana. Dimana pun Ibu berada semoga Allah selalu menyayangi, melindungi Ibu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s