Saat Melemah

Saat Melemah

Terasa perbedaan antara semangat dan lesu, sehat dan sakit, kenyang dan lapar, tangguh dan payah. Tidak selamanya manusia sehat, tangguh dan semangat. Terkadang ada lemah, payah dan sakit menyambangi. Menghinggapi hati, jiwa, badan dan perasaan. Membuat terasa lesu dan kurang semangat. Mengerjakan hal-hal baik seperti ibadah shalat atau tilawah pun melemah, menulis untuk mencurahkan pikiran dan perasaan pun tidak tuntas, seolah energi hilang diperjalanan sebelum sampai kepada tujuan.

Begitu sulit difahami kemana semangat yang seolah tidak pernah habis energi untuk melakuka sesuatu. Saya sendiri tidak mengerti, merasakan sulitnya mendeteksi penyakit melemah dan bagian mana yang mesti diperbaiki. Akhirnya menduga-duga, sementara perbuatan nyata tidak kunjung tiba.

Tidak ada cara lain selain melawan semua yang menjadi beban yang berat. Beratnya bangun disepertiga malam, mentuntaskan tulisan, menyelsaikan tilawah tepat waktu, dan mengosongkan perut. Sibuk mendeteksi apa yang membuat melemah, telah banyak habiskan waktu dan tidak mengubah keadaan. Selintas sudah dapat dirasakan ada perubahan yang tidak seperti sebelumnya. Karena itu perlahan memperbaiki apa yang mulai melemah untuk stabil kembali.

Saya merasakan beberapa pekan ini selalu ada alasan untuk menunda pekerjaan, alasan kesibukan yang lain. hingga akhirnya kebiasaan baik yang sebelumnya berjalan baik mulai tercecer. Melambat dan bahkan terlewat. Saya kebingugan waktu untuk menulis, merasa ide yang tidak menarik, tulisan yang tidak kelar dan akhirnya tidak menulis. Semakin tidak menulis dalam waktu yang lama semakin sulit menuntaskan tulisan.

Ibarat sedang berlatih menggunakan bahasa yang asing, saat tidak lagi digunakan semakin terasa asinglah, dan saat akan digunakan kembali terasa sulit memulai. Bahkan beberapa bagian ada yang terlupa. Ah merugilah sebenarnya.

Aku bukan orang yang memiliki kepandian menulis tetapi aku merasa yakin dengan menulis aku menjadi lebih sehat. Saat apa yang ada dalam benak mengalir dalam kata menjadi sebuah tulisan dan menjadi makna bagi diri sendiri rasanya itu sudah menjadi obat bagi jiwa. Seperti aku merasa percaya dengan bangun di sepertiga malam menenggakan badan untuk shalat dan mengeluarkan suara untuk tilawah memberikan ketenangan bagi jiwa. Tetapi aku pun bukan orang yang ahli ibadah. Semuanya masih seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Terjatuh, tertatih dan terus mencoba .

Waktu begitu berlalu sangat cepat, pekerjaan terasa berantakan, fokus yang tidak lagi menjadi fokus, tidak heran jika kehilangan arah dan limbung. Apalagi diperberat dengan tuntutan diri yang terlalu memaksa. Membandingkan kekurangan tulisan diri sendiri dengan orang lain. tambahlah memperberat penyakit menulis.

Menulis apa adanya, menulis sesuka hati, menulis apapun jadinya menurut apa yang ada di kepala. Menulis untuk terapi jiwa. Megeluarkan apa yang dipikir dan dirasa.

Dalam keadaan melemah pun bisa menjadi sebuah tulisan, untuk merefleksi diri, bahwa menulis tidak melulu untuk kepentingan orang lain, tetapi sesungguhnya adalah kepentingan diri sendiri. Aku perlu menulis sebagai wujud syukur atas potensi akal pikir, rasa dan hati ini, menulis sebagai pengobat bagi jiwa, menulis untuk menambah keterampilan diri, menulis utuk berbagi, dan menulis sebagai jalan ibadahku.

Menulis dan menasehati diri di pagi hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s