ORANGTUA YANG AKAN MENUA DAN RENTA

ORANGTUA YANG AKAN MENUA DAN RENTA

(Mengenang bacaan shalat Dinda, saat shalat Magrib bersama)

 

‘Dinda mau jadi imam shalat’, pintanya kepadaku. Ok, mama yang iqomat, dengan semangat saya lantukan lafaz iqomah. Setelah siap, Dinda mulai takbir menjadi imam shalat magrib. Tidak ada yang istimewa semuanya seperti biasa, karena ini bukan lah pertama kali dia menjadi imam shalat ketika kami berdua shalat. Dia terbiasa baca surat-surat pendek, baca dengan suara nyaring dan bahkan kelewat nyaring, doa iftitah, I’tidal, ruku dan sujud pun dibaca nyaring. Namun seiring waktu dan belajar kini dia sudah faham bagian mana yang mesti nyaring dn tidak.

Meski begitu teryata ada saja kejutan baru, dia membaca potongan ayat dalam Quran yang saya sendiri tidak mengtahui secara pasti ayat dan surat apa yang dibacanya. Setelah shalat saya tanya Dinda, ‘tadi baca surat apaa? ‘tidak tahu, harus lihat buku hafalan, tidak ingat surat apa.’ Ternyata buku hafalannya juga tidak di rumah, dia simpan di loker kelasnya.

Tetapi dari isinya tidak asing, justru saat shalat hati ini mengartikan makna ayat yan dibacanya. Luar biasa dalam ayat yang ia baca, surat Al Isra ayat 23-24, inilah bacaannya;

*4Ó|Ós%ury7•/u‘žwr&(#ÿr߉ç7÷ès?HwÎ)çn$­ƒÎ)Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur$·Z»|¡ômÎ)4$¨BÎ)£`tóè=ö7tƒx8y‰YÏãuŽy9Å6ø9$#!$yJèd߉tnr&÷rr&$yJèdŸxÏ.Ÿxsù@à)s?!$yJçl°;7e$é&Ÿwur$yJèdöpk÷]s?@è%ur$yJßg©9Zwöqs%$VJƒÌŸ2ÇËÌÈ   ôÙÏÿ÷z$#ur$yJßgs9yy$uZy_ÉeA—%!$#z`ÏBÏpyJôm§9$#@è%urÉb>§‘$yJßg÷Hxqö‘$#$yJx.’ÎT$u‹­/u‘#ZŽÉó|¹ÇËÍÈ

23. dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia[850].

24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

 

Saat mendengar ayat yang dibacanya begitu hati ini tersentuh, berisi pesan tauhid yang kuat sebagai landasan dalam kehidupan. Inilah pesan utama bagi manusia di dunia ini. Kebebasan akan dicapai dengan memerdekakan diri, tauhid sebagai symbol kebebasan manusia atas belenggu kehidupan. Tidak ada yang lain kecuali Allah. Tidak ada takut, tidak ada sedih, tidak ada ragu dan khawatir atas apapun yang terjadi, selama Allah menjadi tujuan hidup.

Pesan kedua adalah bagaimana memperlakukan orang yang terdekat dengan diri kita yaitu orangtua, berbuat baik kepada orangtua, berkata lembut, sopan dan santun dan berdoa untuk kedua orangtua. Memuliakan orangtua beriring dengan perintah tauhid. Selama mendengar ayat itu dalam shalat, saya berbisik dalam hati, semoga anak-anak mampu menjalankan isi kandungan ayat ini.

Tua adalah masa yang sangat lemah, bahkan terkadang segala penyakit datang menemani masa tua. Orang muda atau anak-anak terkadang tidak sabar melihat keadaan orangtua yang melemah dan menua. Lambat mendengar, lambat berjalan, lambat bicara dan melamat segala aktivitasnya bisa jadi mundur 10 x dari orang muda.

Meski orang muda faham apa yang semestinya dilakukan terhadap orangtua, namun kadang kesadaran itu tergerus oleh kesibukan dan keterlenaan yang larut dalam urusan selain orangtua.

Orangtua yang renta, lemah dan sakit seolah dianggap penghalang ruang dan gerakya untuk melakukan sesuatu diluar sana. Padahal jika faham dan sadar sepenuhnya tidaklah anak menjadi besar dan memiliki kemampuan hingga saat ini, jika tidak pengorbanan besar dan kasih sayang orangtuanya.

Hati in selalu basah jika menceritakan tentang pengorbanan dan kasih sayang orangtua. saya merasa tidak begitu mampu dan dapat dengan pantas berbalas budi. Banyaknya diri ini diberi bukan memberi. Hingga dewasa kini pun orangtua tetap pikirkan dan perhatikan kehidupan anak dan cucunya.

Tidak akan pernah terbanyar pengorbanan orang tua meski dengan gunung emas maupun lautan mutiara. Sadar kelak yang kita perlukan bersama adalah bukan harta, tetapi pribadi baik yang tumbuh dalam kebaikan dan doa. Anak yang baik yang mendoakan. Tentu tidak bisa pula beri seuatu yang baik kepada orang lain, jika diri sendiri saja tidak begitu baik. Karena itu Rasulullah mensatukan dengan kata anak sholeh yang mendoakan sebagai amal kebaikan yang terus mengalir kepada kedua orangtua.

Saya selalu rindu kepada orangtua, dalam sendiri di kesunyian, dalam sujud di keheningan, saya tidak akan dapat tahan air mata, yang menjadi wakil kata dalam doa. Semoga Allah berikan kebahagiaan orangtua di dunia dan akhirat.

“Ya Allah ampuni dosaku dan dosa kedua orangtuaku, sayangi mereka sebagaimana mereka sayangi aku sejak kecil”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s