Saat Magrib

 

Tidak mudah mengajarkan anak kebiasaan dalam menjalankan ibadah seperti shalat, namun tidak pula sulit untuk mengajarkannya. Pendidikan di rumah dan di sekolah yang saling mendukung dapat mengarahkan kepada kemampuan anak dalam mengerjakan ritual ibadah yang diajarkan agama dan tentu juga pemaknaan atas apa yang dilakukan.

Setiap waktu shalat tiba, tidak hanya cukup suara azan yang mengingatkan tetapi juga contoh orangtua dan ajakan kepada anak untuk melaksanakannya bersama menjadi sebuah pembelajaran. Karena kalau hanya pake omong sementara orangtua tidak memberi contoh dan terlibat sangat kecil kemungkinan bisa dilakukan anak. Anak bisa berbalik katakan ‘bisanya nyuruh’ padahal kadang orangtua juga punya alasan sendiri, ‘sudah tahu orangtua begini, anak mah jangan’. Pembelajaran yang sulit berhasil mengajarkan dengan tanpa keteladanan.

Ada pula yang orangtuanya hanya shalat sendiri sementara anak-anaknya dibiarkan saja. Karena menganggap bahwa anaknya sudah besar sehingga bukan tanggung jawab orangtua lagi. Karena memang anaknya sulit untuk mentaati apa yang diminta orangtuanya, sehingga orangtua merasa malas dan bosan juga untuk mengingatkan. Padahal pendidikan adalah syarat dengan kesabaran.

Berapa banyak rumah-rumah yang saat azan Magrib tiba, anak-anak masih asyik menonton televisi karena berbagai alasan, seperti nanggung acara yang sedang ditonton, dan nunggu iklan. Ritual ibadah magrib menjadi selingan, bahkan dilakukan dengan terges-gesa, karena masih fokus dengan tontonan. Keranjingan dengan serial TV, begitu banyak waktu habis dengan melihat layar.

Kedisiplinan seluruh anggota keluarga menjadi keberhasilan dalam menanamkan kebiasaan baik di rumah, seperti shalat magrib tepat waktu, membaca Quran maupun membaca buku. Diperlukan bimbingan orang dewasa atau orangtua untuk membimbing anak-anak mereka agar jeda dari layar saat magrib tiba. Membimbing anak-anak membaca Quran, atau mengarahkan mereka untuk pergi ke tempat mengaji.

Namun sayang, kadang tidak sedikit orang tua yaitu ibu yang saat magrib tiba masih dalam perjalanan pulang kerja.Tuntutan pekerjaan sebagai ibu bekerja di luar rumah memiliki tanggung jawab yang berbeda. Padahal menjadi ibu rumahan yang bekerja penuh di rumah dan mengurus anak-anak pun tidak pernah kehabisan pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak kalah besarnya. Justru berbahagialah ketika orangtua terutama ibu memiliki waktu penuh dalam mengurus, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Ibu rumah tangga bisa menjadi karir professional yang menjajikan kebahagiaan. Bukan saja di dunia saat melihat anak-anak mereka berhasil dalam kehidupannya, tentu di akhirat pun karena ibu memahami, mengerti bahwa kebahagiaan yang diciptakan bagi anak bukan saja di dunia namun juga di akhirat.

Bersyukur bagi anak-anak yang juga belajar agama tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah dan pengajian. Tiba di rumah orangtua tinggal mengajaknya shalat melakukan apa yang diajarkan di sekolah.

Saat shalat berdua dengan anak, saya kadang membiarkan anak menjadi imam shalat, meski menjadi syarat seorang imam shalat belum penuh, tetapi ini upaya pembelajaran bagi anak. Dengan begitu saya bisa mendengarkan bacaan shalatnya. Terkadang diluar dugaan saat menjadi imam shalat bacaan surat setelah alfatihah mereka begitu asing, saya sendiri lupa tepatnya surat apa dan ayat berepa. Ternyata itu hafalan Quran mereka di sekolah. Dibacanya dengan tenang dan tartil. Kalau sudah begitu terharu, usai shalat dua jempol dan peluk cium untuk imam shalat. Sambil mengatakan bacaan shalatnya keren.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s