Memahami Pemikiran Barat dan Timur

 

Di suatu ruangan Dekanat di Fakultas, saya berbicang dengan seorang teman yang sama-sama sedang mnghadapi laptop dan buku berserak mengerjakan tugas studi yang belum berakhir.

Bertukar cerita dari bacaan yang pernah dibaca, mulai dari isi buku hingga personal pengarang. Saya bercerita baca buku yang lumayan tebal, padahal awalnya sederhana, wawancara dengan nara sumber tentang perjalanan studinya. Tetapi sepertinya karena keduanya adalah penulis hebat, pertanyaan yang singkat dan mendalam mendapat uraian yang rinci, kaya pengalaman dan pemikiran. akhirnya jadilah buku tebal yang saya baca itu judulnya “Rihlah Ilmiah”.

Buat saya idenya menarik memahami perbedaan pemikiran barat dan timur, ketika saya dengar dalam acar seminar pun saya melihat pemahaman kematangannya dalam menilai bagaimana barat dan timur (timur maksudnya islam). Dengan penuh apresiasi dia tidak menghakimi, justru menyampaikan pesan yang damai bahwa itu mereka, dan kita seperti ini, tidak perlu salahkan mereka, karena mereka tidak faham. Justru ini menjadi kesempatan bagi kita untuk tunjukkan pemikiran dan sikap kita, yang bisa menjadi alternative bagi mereka. That’s right, I agree Wan.

Teman saya kurang tertarik dengan tulisan yang say abaca katanya belit-belit dan sulit difahami. Lalu dia cerita bahwa ada buku kalau dengan pemikiran semacam itu. Penulisnya ganteng dan cerdas, katanya. Teman saya begitu mengaguminya, Sambungnya ‘saya pernah hadiri seminar pembicaranya dia, ada orang yang ganteng dan cerdas begitu, dia anak Kyai dari Gontor’. Kemudian Saya diunjukkan buku yang dimaksud itu dan langsung halaman wajah penulisnya. ‘Ganteng kan’, ujarnya. Tetapi saya melihatnya biasa saja.

Ganteng menurut saya bukan wajah yang utama tetapi seluruh pemikiran, keberanian dan sikap dalam menunjukkan sebuah kebenaran. Mungkin karena saya hanya lihat wajah, dan sedang kerjakan tugas lain, saya tidak tertarik untuk membaca buku itu lanjut, perbicangan tentang buku itu berlalu.

Waktu mengantarkan saya kepada keadaan selanjutnya yang tidak pernah diduga. Saya punya teman dalam perjalanan Bogor – Rawa mangun, saya tertawa sendiri dengan selingan yang menggelitik, sebuah buku judulnya ‘Misykat’.

Jejeran nama Filosof yang disebut dalam bahasannya, memutar kembali kenangan saya akan pelajaran filsafat yang pernah saya ikuti (nimbrung di kelas dosen filsafat yang sedang ngajar filsafat di S1). Membaca buku kecil biografi filusof, aneh sulit saya cerna pemikiran, saya justru tertarik dengan konsistensi perilaku mereka dan ketekunan dengan ilmu. Kant yang sangat konsisten dengan menulis dan jalan sore, hingga orang lain bisa mengetahui jika Kant lewat berjalan di sore hari, itu tandanya sudah jam 4. Begitu disiplinnya mereka. Tentu ada yang saya tidak tertarik dengan perilaku Kant moral yang bertentangan dengan batin.

Dosen saya bilang, ‘ilmu dan kebenaran yang kita ambil, bukan perilaku personal’. Maksudnya peduli amat dengan perilaku dan moral mereka yang bersifat personal, kalau pemikirannya benar, itulah ilmu. Sementara, saya iya setuju. Karena mau bagaimana, mereka yang dengan cara pandang dan faham mereka. Tetapi dalam benak jika ada personal yang baik, pemikiran baik dan ilmu yang benar, mengapa tidak. Jika ada itu tentu lebih bagus. Dan saya percaya itu ada, bagaimana para ilmuan dan pemikir muslim, itulah gambaran yang utuh. Hanya keterbatasan saya mempelajarinya sehingga belum banyak warna dalam alam fikiran ini.

Saya melanjutkan bacaan buku kecil, yang dikira teman duduk sebelah di bis saya sedang membaca novel, Tulisan yang memang ringan namun syarat dengan filosofis dan makna yang mendalam. Tidak salah orang-orang memberikan endorsmen dalam buku ini.

Menarik isi dari pengalaman dan pemikiran penulis ini. Latarbelakang pendidikan agama mampu membingkai pemahaman filsafat dan pemikiran barat dengan tetap di tempatnya. Tidak terbawa cara pandang barat meski dia belajar theology di sana. Justru hal ini menjadi sebuah kekutan dalam mengutarakan berbagai pemikiran filosof dan pemikiran barat dengan caranya yang tidak lepas dari bagaimana seorang muslim memandang pemikiran oranglain yang terkadang memang hanya cocok untuk orang lain.

Sesuatu yang kadang dipaksan bagi orang-orang muda untuk mengadopsi entah meniru sesuatu yang bukan dirinya (muslim maksdnya). Entah mungkin karena tidak paham dirinya dan memahami orang lain dengan sepintas lalu menjadi orang yang akhirnya tidak jelas dan malah terkesan ‘linglung’.

Tidak sama konsep tuhan bagi orang barat dan muslim. Pembicaraan tuhan bagi mereka tidak pernah tuntas, begitu pun agama, memiliki makna yang berbeda pula. Jadi jangan pula diambil kesimpulan mentah-mentah pembahasan tuhan maupun agama yang mereka uraikan, apalagi mengadopsinya karena sudah pasti tidak cocok.

Timur dan barat sudah jelas beda. Saya suka dengan ungkapan orang india yang ditulis di buku itu, seorang teknisi yang membetulkan mesin copian yang rusak. Meski cerita sederhana ada makna yang diuangkakannya. ‘Wisdom always come from the East’.

Ajaran timur dan ajaran agama yang sesungguhnya lebih luhur dan malampau segala fisik dan material. Tidak akan sampai jika hanya gunakan rasional, tetapi ada cara yang lain untuk melihat yang sesungguhnya ajaran itu yaitu dengan keimanan.

Saya percaya kebenaran islam, ada alasan yang jelas agama yang diajarkan muhamad, ada hadis dengan tingkat keshahihannya dapat dipertanggung jawabkan. Dengan sanad yang bersambung kepada nabi Muhammad dan perawi dengan kualitas yang dinilai khalayak akan kebenarannya tentu dipertanggung jawabkan. Matan yang syarat dengan ilmu dan kebenaran. tidak mungkin jika itu semua sebuah kebohongan, dan tidak mungkin pula kebohongan dilakukan secara masal. Jika itu sebuah kebohongan tentu bagian dari sahabat dan pengikutnya ada yang mengguggat. Namun itu tidak kita temukan. Karena itu meski saat ini muslim tidak pernah bertemu dengan Muhammad, kita meyakini sepenuhnya akan kebenaran ajaran islam. Artinya ada keimanan saat muslim menggali ajaran islam disamping rasional.

Saya tidak ingin terlewatkan setiap bahasan dalam buku ini, ada beberapa bagian yang belum selesai dibaca. Namun saya tidak sabar ingin menuliskan perasaan dan pikiran akan kekaguman saya dengan agama yang saya anut.

Saya bersyukur lahir di timur dan beragam islam. Seandainya lahir di barat mengkin jadi atheis. (hehe.. nau’dzubillah). Agama yang mereka anut sepertinya tidak dapat diandalkan. Tidak heran jika berkembang terus agama dan mereka menjauh dari gereja. Rasional dan kritis mereka menuntun untuk menjauh dari agama mereka, karena agama terlalu sempit, dan bahkan agama ditanggalkan saja. Tidak usah beragama yang penting humanis. Sepertinya ini menjadi pakaian yang longgar bagi mereka. Pantas jika ada keraguan dengan agama mereka anut.

Penulis buku ini mampu hantarkan pemahaman barat dan timur dengan ringan padahal bahsan yang berat. Saya lihat foto penulis ternyata sepanjang perjalanan dalam bis aku membaca buku di tulis oleh pengarang yang dikagumi teman waktu itu. Waktu itu saya tidak tertarik membaca, karena awal kenal lewat teman hanya lihat wajah penulis, dan tidak juga baca isinya karena kayaknya kurang menarik. Jadi pelajaran don’t judge book by the cover. Tetapi kalau soal ganteng yang dibahas teman waktu itu, tentu ganteng yang di rumah lah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s