Instrumen Penelitian: Penting lebih dari sekedar analisis data

 

Ini judul tulisan yang pastinya akrab dengan mahasiswa yang sedang kerjakan tugas akhir penelitian. Karena penelitian tentu memerlukan alat untuk mengumpulkan data penelitian. Alat untuk mengumpulkan data penelitian itulah dinamakan instrument.

Bagaimana cara menyususn instrument? Tidak terlalu sulit tetapi juga tidak mudah. Artinya dibutuhkan pengetahuan tentang keseluruhan apa yang akan dilakukan dalam penelitian. Misalnya jika ingin mengetahui bagaimana kemampuan anak membaca Quran, tentu kita butuh mengumpulkan data tentang bagaimana kemampuan anak membaca quran. Dengan cara apa data itu didapat. Untuk mengetahui kemampuanya, bisa kita gunakan tes. tes itulah sebagai alat pengumpul data.

Bagaimana cara membuat alat tes kemampuan baca Quran? Tentu kita harus faham lebih dahalu apa batasan atau keriteria seseorang bisa baca Quran. Tentu bacaan yang dibacanya benar, artinya dia mengenal huruf dan cara melafadzkan huruf istilahnya makhroj. Saat baca juga faham tanda baca dan hukum bacaannya, maksudnya tajwid. Buatlah bacaan Quran atau kutip saja ayat AlQuran yang akan dibaca oleh responden yang isinya mengandung keriteria tadi, ada keragaman huruf dan unsur tajwid yang lengkap dalam bacaan tersebut.

Bagaimana menilainya? Buat kriteria penilaian jika makhroj benar berapa skor tertinggi yang akan diberikan, berapa jika sedang dan berapa jika butuh perbaikan. begitu pula dengan tajwidnya. Berikan angkanya agar mudah melakukan kuantifikasi jika data penelitian itu perlu dikuantifikasi. Bisa juga deskriptif verbal dari setiap responden yang menunjukkan kemampuannya. Tergantung jenis penelitian apa yang sedang dilakukan. Apakah data perlu untuk dikuantifikasi atau tidak.

Banyak alat pengumpul data yang bisa dibuat, terantung dari apa yang diperlukan, bisa berupa angket/kuesioner, wawacara, dokumentasi dan kelompok fokus. Pengalaman saat membimbing mahasiswa, mereka kebingungan saat membuat instrument pada tahap merumuskan indikator. Indikator adalah kata kerja opersional yang menunjukkan sejumlah ciri dari variebel penelitian.

Tahapan sederhana membuat instrument adalah:

Variabel >>> konseptual dai variabel >>> operasional variabel >>> indikator >>> butir

Indikator ini merupakan intisari dari berbagai konsep yang dibahas pada kerangka teoritik. Artinya fahami betul apa definisi konseptual dari variabel penelitian yang sedang diteliti, dan bagaimana rumusan operasionalnya. Misalnya motivasi belajar. Secara konsep motivasi belajar itu apa? Dari berbagai pendapat tentang motivasi belajar, kemudian sarikan berdasarkan berbagai pendapat itu rumusan definisi konsep dari motivasi belajar dengan bahasa sendiri lebih mudah dicerna. Kemudian turunkan dalam bentuk operasionalnya dan buat definisi operasionalnya. Dari definisi operasionalnya akn trlihat sejumlah indikator. Kira-kira kalau melihat seseorang memiliki motivasi belajar itu cirinya apa, apa yang digerakan sehingga terlihat perilaku bahwa seseorang itu memiliki motivasi belajar. Ingat perilaku yang ditunnjukkan itu yang mencirikan motivasi belajar.

Siswa yang memiliki motivasi belajar yang baik itu tentu tidak melalaikan tugas, apalagi sampai tidak mengumpulkan tugas. Artinya motivasi belajar yang baik itu cirinya mengerjakan tugas tepat waktu. Bahkan mungkin in time. Belum waktunya dikumpulkan dia sudah beres kerjakan dan benar. Kalau cepet dan salah, itu namanya asal-asalan. Tentu bukan seperti itu yang diharapkan.

Ciri lain di kelas pastinya perhatian dengan apa yang disampaikan guru. Kalau guru jelaskan dia juga ikut jelaskan alias ngobrol dengan teman sebelah, bagaimana bisa memahami apa yang dimaksud oleh guru? Presensi di kelas pun jadi ukuran, apakah dia hadir tepat waktu atau sering datang terlambat? Atau duduk paling belakang? Artinya perilaku itu menunjukkan adanya motivasi belajar yang berbeda. Membuat indikator motivasi belajar adalah menumukan ciri-ciri motivasi belajar. Kecenderungan jawaban siswa nantinya akan menunjukkan memiliki motivasi belajar yang baik atau tidak bergantung dari respon yang mereka buat.

Ada ungkapan bahwa, salah analisis dalam penelitian dapat mudah diperbaiki tanpa harus ke lapangan, tetapi jika instrument salah maka kita akan dapat data yang salah, tentu akibatnya lebih fatal, apa artinya penelitian mendapatkan data yang bukan peruntukkannya. Tentu resiko mengulang dalam membuat instrumen dan kembali lagi ke lapangan mengumpulkan data itu cara satu-satunya untuk perbaikinya. Karena itu sebelum ke lapangan perhatian betul instrument yang sedang dibuat, dengan melakukan validasi pakar dan juga ujicoba. (ada caranya juga bagaimana melakukan validasi dan ujicoba instrument)

Saya kadang sedkit aneh ada yang baru selesai bahas teoritik langsung ke lapangan, intrumen belum dikonsultasikan sudah pergi ke lapangan, dan langsung menyerahkan hasil pengolahan data. Its problem. Pembimbing tetep akan periksa instrument, jika ada yang belum tepat, mesti dibetulkan dan instrument yang betul itulah yang digunakan. So yang sudah dapat dari lapangan bagaimana? Sepertinya useless and waste time. So ikuti prosedur penelitian step by step.

Saya tulis ini sedang mengenang tidak mudahnya merumuskan indikator dan menuliskan butir, dengan aturan-aturan dalam penulisan butir instrument. Bisa dilihat buku yang ditulis Azwar . dalam membuatnya tentu tidak sekali jadi, kecuali yang sudah terbiasa, bagi yang baru buat instrument dan mebuatnya hanya saat tugas akhir kuliah saja tentu seperti sedikit baru, harus beberpa kali kita melakukan revisi agar sesuai dengan kaidah penulisan butir instrument dan juga tepat sasaran dengan responden penelitian.

Siapapun yang sedang membuat instrument, semangat guys. Tidak ada yang sulit, jika terus dikerjakan, dari sulit tentu jadi mudah. Kesulitan dan kemudahan bagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.

Sudah ah lanjut menuliskan butir instrument.

25/7/14# 7:24

 

Advertisements

Beresi Buku #KuliahAlaIRT

 

Saat tetangga sibuk molesin kue nastar, justru saya lagi bingung lihat kamar sudah macam pasar loak pindah. Gimana enggak, saya hanya rajin turunin buku dari rak dan buka buku tapi tidak dikembalikan ke rak langsung, pasalnya memang buku belum selesai dibaca dan disarikan ke dalam tulisan.

Buku dari beberapa perpustakaan juga pindah ke rumah, ada satu perpus yang izinkan saya pinjam sampai 8 buku. Tetapi ada yang lebih sadis, perpus yang terpaksa bolehkan saya pinjam berapapun. Haha.. sorry bro, urgent.

Rak dengan buku yang ada sudah tidak seimbang, seperti pasien RSCM yang kehabisan kamar, tetapi maksa tinggal di selasar ruangan. Kini nasib buku-buku itu, menumpuk di pinggiran dinding tembok. Sementara lemari sudah penuh padat.

Supaya tidak terlalu bingung dengan identitas buku ini, saya coba kelompokkan sesuai dengan tema yang sedang saya gunakan.

Ada rak isinya buku tentang evaluasi. Berkah banget saya punya banyak buku tentang evaluasi, entah hibah, warisan apa pinjaman, pokok e waktu itu sedang butuh buku evaluasi, ada yang berbaik hati dan tidak sombong membawakan bertumpuk-tumpuk buku. Hehe.. Allah berkahi kita, selalu. Jika ingat sementara cukup doa ini yang saling dipesankan.

Tugas akhir, pekerjaan yang lumayan tidak jelas tingkat kesulitan dan kemudahannya, karena fokus menulis tugas akhir ini banyak kejutannya. Jangan-jangan saya bisa lulus pun dengan penuh kejutan, langsung ujian. (Hee..apa yang diuji, ke lapangan aja belum, mana ada data, dan apa yang mau diolah. Ah..menghayal yang terlalu). Namanya juga khayal, sebagai istrirahat berpikir. Khayal kan sah-sah saja meski rada tidak logis. Dan tidak ada yang larang karena judulnya khayal. Saya juga mengkhayal bisa pergi keluar negeri singgah di mesjid-mesjid dan melihat bagaimana Islam berkembang di tempat mereka. punya tempat kerja dengan sekitaran yang teduh dan asri, rimbun dengan tanaman bunga dan pohon, rumput yang hijau. Ruang sedikit terbuka ke alam, kalau perlu burung juga bisa berkicau dan hinggap di jendela dengan santainya. Ops jangan diteruskan bisa-bisa ini nulis isinya khayal semua.

Masih ngomongin rak berikutnya untuk buku tentang pendidikan dan agama. Buku ini masih berhubungan dengan pekerjaan tugas akhir. Sebagian buku didapat dari hibah, warisan dan pinjaman. Tapi ada beberapa buku yang sengaja saya datangi ke toko buku discount banyak, kualitas buku sama dengan gramedia tetapi potongan harganya bisa 20%, toko bukunya ada di Ciputat. Meski jauh dan hamil besar waktu itu, saya datangi, karena mumpung bayi belum lahir jadi bisa jalan-jalan keluar, setelah bayi lahir saya bisa sambil ngasuh dan baca buku-buku baru. Jadi teringat perjalanan waku itu pun sedang puasa ramadhan, tahun 2012. (hee.. samapai sekarang belum beres juga, wajarlah kan fokus lahiran dan ngurus bayi.. alasan. Sekarang bayi itu sudah 2 tahun. Kalau besar dia baca catatan harian di tulisan ini apa komen dia ya.. emakku pinter dan banyak buat alasan)

Satu tema lagi buku tentang psikologi. Karena pernah kuliah dan juga nulis bahan ajar psikologi, jadi lumayan ada beberapa buku masih berserak juga. Psikologi selalu menarik, karena masih terkait dengan perilaku manusia. Agama juga ajarkan perilaku ada dalam bahasan akhlak. Seru lah kalau membahas keduanya dan saling bersingungan. Tapi sayang saya tulis bahan ajar psikologi tapi belum bersingungan dengan agama, jadi masih kering.

Selebihnya buku gado-gado, seperti buku motivasi dan pengembangan diri. Tidak banyak sich, hanya ada beberapa buku, masih bisa dihitung pake jari tangan. Karena itu keisengan sendiri akan ketidakjelasan diri, jadi kalau mampir ke gramedia ada rak khusus pengembangan diri, saya coba lihat dan beberapa ada yang menarik hati. tetapi belum sampai pada mempraktekan isi buku secara detail. Masih gaya suka-suka hati praktekkannya.

Sambil mengentik ini, saya tengok kanan kiri, buku masih berserak. Bayi juga sudah mulai banyak permintaan, mau duduk sebelah, bacakan buku bongkar tempat pinsil.. asyiik dah. Sudah ah saya mau langsung lakukan saja. Rapihkan buku dan kamar pertarungan pikir. Mudahan setelah ini semangat baru untuk merevisi instrument dengan membuat pilihan terbuka dapat dengan lancer dituliskan.

24/7/14#9.46

 

 

 

Celoteh, Harapan dan Impian Anak

 

Dunia anak yang kaya imajinasi, kadang menembus dinding dan terbang ke angkasa. Menyimak harapan dan cita-cita mereka laksana ikut berjalan menembus awan. Tidak pernah diduga apa yang mereka impikan. Mimpi yang sadar saat bangun dari tidur, sambil makan sahur dini hari tadi, mereka membincangkan harapan dan impian kakak adik yang terpaut usia 4 tahun. Berceloteh, menyampaikan apa yang nanti akan ia lakukan. Ada kelucuan saat mereka saling menceritakan harapannya.

Kakak, anak sulung yang sejak kecil menjelajah imagi lewat komik dan menggambar, kini lebih tekun main game alsanya menurut dia keseimbangan motorik, antara mata dan tangan dengan iriangan lagu yang buat relaks. Tiba-tiba saja dilontarkan pertanyaan “mama kuliah jurusan apa? Terus kuliah yang kedua jurusan apa? Kalau kuliah boleh ngulang lagi ya, mksudnya, sudah kuliah S2 ambil lagi kuliah S2? Saya menjawab seadanya dan sederhana saja. Kalau kuliah orang bisa berkali-kali ambil biasanya karena kesempatan dan kebutuhan kerja.

‘Aku kalau lulus SMA mau langsung kuliah, ada jurusan Astronot gak ya? Aku pengen jadi astronot’ sambil senyum dan menatap ibu dan adiknya, dia menimpali omongannya sendiri ‘Aamiin donk’ aku dan adiknya tersenyum dan serentak jawab ‘aamiin’. Usia dia kini 12 tahun duduk di kelas 6. Dalam hati sungguh aku berdoa memohon agar Allah bimbing anak ini menggapai cita yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak. ‘Mak, kalau aku jadi astronot gimana aku shalatnya ya? Ya gampang aja, Islam itu kan memberi kemudahan, yang penting tetep shalat. Iya melihat tand asetuju dan menjawab sendiri ‘Iya, kan kalau tidak bisa berdiri aja boleh sambil duduk, tidak bisa shalat sambil duduk boleh shalat sambil berbaring, tidak bisa juga sambil baring, baru dishalatin’ Aku percaya guru di sekolah telah mengajarkan dasar-dasar agama sehingga dia bisa memahami apa dan bagaimana ajaran agama yang dianutnya.

‘Kakak, kalau aku mah pengen punya peternakan binatang peliharaan, nanti aku jual-jual. Aku punya pet shop, pelihara kucing Angora’ Kata Adiknya yang perempuan tidak mau ketinggalan mengungkapkan impiannya. ‘Kucing di rumah aja tu teteh di rawat’ Abahnya ikut menyimak. ‘gak ah, dia mah kotor, lagi dijualnya juga murahan, kalau kucing angora kan mahal’. Seperti mengalirnya air deras yang sulit berhenti, dia terus bicara. ‘nanti kalau ternakku sudah banyak, aku mau jual dan pasang spanduk. Dijual anak kucing, ibu kucing’ mendengar dan membanyangkan kata—kata di spanduk , aku dan kakaknya tertawa. ‘udah, gak usah pake anak dan ibu kucing. Dijual binatang peliharaan kucing angora. Gitu aja’ Saran kakaknya. ‘Maksud aku aku juga jual anaknya yang kecil, kalau mau yang besar itu ibunya’. Dia menjelaskan apa yang dimaksudnya. ‘kalau gitu pakai garis miring aja, dijual anak garis miring ibu kucing angora’ dia menegaskan kembali. ‘Sekalian juga teteh bisa ditambah dijual bapak, suami, istri, dan menantu kucing angora’ Keisenganku melengkapi tulisan yang dibayangkannya.

‘Nanti tolong pasang iklannya di OXL ya kak, jual binatang peliharaan kucing, merpati, kelinci’ ‘teteh, nambah lagi binatangnya?’ ‘Iya, karena aku suka kelinci sama merpati juga’. Aku menyimak apa yang mereka cita-citakan. Keduanya memiliki kecenderungan yang berbeda. Anak kedua, perempuan ini, memang suka dengan urusan penjualan, di sekolah pun tanpa diminta dia jualan alat tulis, buku dan kadang bawa makanan untuk dijual. Dia bisa menyisihkan uang jajan, dan lebih banyak menabung ketimbang jajan. Setiap hari harus bawa bekal. Sehingga dia bisa menghemat uang jajan. Sangat realistis dan jelas. namun kadang kelemahannya dia menerjemahkan setiap pekerjaan di rumah dengan uang. Tanpa di minta dia akan menyapu dan mencuci piring. Tetapi setelah itu, kagetlah aku dibuatnya, dia akan lapor, ‘aku sudah nyapu dan cuci piring, mama mau kasi aku uang berapa? Hah!

Dalam kepolosan, keluguan anak-anak kadang memberikan kejutan. Anak ada dalam proses berkembang, dia masih lentur dan dapat dibentuk, arahan yang bijak mampu memperkaya potensi yang dimilikinya. Lingkungan sekitar pun mewarnai perilakunya. Namun tidak akan banyak berpengaruh lingkungan sekitar, jika anak memiliki tujuan dan kecenderngan yang sudah jelas. Karena anak memiliki kegiatan yang lebih dia sukai ketimbang mengikuti kegiatan kawan yang dia sendiri tidak suka. Sesekali aku lihat merea berkawan namun kawan-kawan itulah yang mengikuti kecenderungan kegiatan anak-anak di rumah.

Usia anak-anak memang belum banyak pengaruh kawan yang masuk. Anak-anak masih suka dengan aktivitas rumah, membersihkan kamar, merapihkan buku-buku, merawat binatang peliharaan, main masak-masak dan rumah-rumahan. Kadang rumah rapih dan bersih dibuatnya, namun sering pula rumah seperti pasar tumpah.

Suatu saat mereka akan masuki masa remaja, mungkin celoteh dan aktivitas saat ini akan berganti tema dan kecenderungan aktivitasnya.

 

Diri

Mengorgnisasikan diri, mengarahkan kepada apa yang menjadi tujuan yang dibuat diri sendiri sungguh tidak mudah. Seringkali tujuan, keinganan, dan impian hanya sebatas tulisan di atas kertas, atau di memo pad, setelah itu hilang, dan tidak ada keajaiban apapun yang terjadi. Hidup seperti biasa dan kembali kepada persoalan lama yang tidak pernah tuntas. Lelah memang

Persoalannya mungkin terlalu tinggi membuat capaian dan tidak ada langkah operasional untuk mencapainya, ya itu bisa jadi. Tidak ubahnya setiap awal tahun baru membuat resolusi baru, seperti ingin menurunkan berat badan, tetapi apa hasilnya bertemu tahun baru berikutnya berat badan berubah, bukan berubah jadi turun tapi malah tambah naik. Karena memang dari hari ke hari tidak ada langkah yang berkesinambungan untuk terus melakukan tahapan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan.

Teori memang mudah untuk dibaca, dibahas, diingat dan dilupakan. Tetapi tidak semua orang merasa mudah untuk mempraktekan. Seperti halnya bagaimana fokus dengan apa yang mesti dikerjakan. Entah apa yang membuat fokus itu mudah bergeser, teorinya pasti dapat dijawab, prakteknya juga bisa dilihat. Tetapi siapa yang mampu menjaga terus fokus dan bagaimana cara untuk tetap fokus? Apalagi saat kecenderungan diri itu adalah sangat terpengaruh sekitar, ketimbang pengaruh internal yang ada dalam diri.

Diri memang sebuah keadaan yang kompleks dan tidak mudah dimengerti. Kita ini manusia hebat, yang dapat melampaui dari apa yang kita duga. Kita manusia cerdas dapat melebihi kapasitas memori computer secangih apapun. Kita ini manusia unik yang tidak akan pernah ada yang bisa samai kekhasan yang ada dalam diri masing-masing. Tapi kadang kita ini jadi manusia yang sungguh tidak berdaya untuk mengarah diri sekalipun.

Keadaan yang sungguh tidak nyaman, mempertentangkan keadaan dengan harapan yang sangat jauh. Energy habis tercurah memikirkan mengapa begini, mengapa begitu dan mengapa bisa terjadi? Lebih baik memang memikirkan bagaimana ketimbang mengapa. Pertanyaan mengapa hanya memberikan rasionalisasi yang kadang meyakitkan. Mengapa saya ditinggalkan? Mencari jawab dari mengapa, hanya membuat kesedihan. Tetapi bagaimana agar tidak ditinggalkan? Atau bagaimana menerima kenyataan dengan tenang? Tentu kita belajar berpikir apa yang mesti diperbuat. Perbuatan itu perlahan menggeserkan keadaan. Jika terus dilakukan bukan saja kebahagiaan diri tetapi juga berhenti menjadi pengeluh dan pecundang. Pastilah jadi pemenang. Paling tidak memenangkan diri dengan mengarahkan kepada yang lebih baik.

Diri adalah gambaran mikrokosmos yang rumit dan pelik. Untuk sampai kepada diri yang sempurna memang tidak pernah sampai. Semakin melihat kepada diri semakin banyak titik lemah dan menggugah sadar bahwa diri memang lemah tanpaMu. Begitu tidak faham apa yang sebenarnya kelak jadinya diri ini. sebatas peta perjalanan yang terus dibuat dan selusuri oleh diri sepanjang waktu, entah kejutan apa yang akan kita temui selama perjalanan ini. Tidak ada yang tahu secara pasti.

Keimanan kadang naik dan melemah, begitu pula semangat diri kadang kuat dan melemah. Mempertahankan agar terus menyala, menerangi untuk diri dan orang lain diperlukan kekuatan. Bukan dalam diam agar mampu bertahan, namun dalam gerak dan perbuatan meski perlahan semoga sampai pada apa yang dicitakan.

Bicara manusia dan persoalannya memang tidak pernah tuntas tas tas… Tetapi sebenarnya bisa dibuat sederhana dan tidak mumet. Dipikir tentu malah ruwet, tetapi jika dijalankan dan terus tuntaskan yang bisa dikerjakan meski hal kecil akan lebih baik.

Karena hidup tidak pernah tahu pasti yang bakal terjadi, maka nikmati dan syukuri hari ini. Apa pun yang telah terjadi, nyatanya hari ini ada. Still enjoying sun shine. Seberat apa pun hidup yang dijalani masih di dunia ini ada lantai untuk bersujud. Kept positive thinking.

 

Akhir Piala Dunia, Argentina Merana

 

Tidak perlu banyak cetak gol 1-0 saja sudah menunjukkan the Germany is Champion the FIFA World. Dalam sebuah kompetisi selalu ada menang-kalah, tangis haru dan sedih. Pemandangan yang sudah biasa dilihat saat telah jelas siapa yang menang dan kalah. Terlihat ekspersi kesedihan bagi yang kalah dan kegembiraan bagi yang menang. Tidak hanya pada orang dewasa, anak kecil juga turut merasakan. Begitu sedihnya menerima kekalahan. Dan betapa senangnya menjadi pemenang.

Kalah dan menang dalam sebuah kompetisi tentu bukan sebuah keberuntungan semata, tetapi ada banyak perhitungan dan usaha yang dilakukan agar tetap siap menjemput kemanangan. Permainan yang melelahkan hingga dimenit terakhir pun belum ada yang mampu menembus gawang lawan. Terbayang jika harus adu pinalti permainan yang menegangkan dan dramatis terima kekalahan dan kemenagan itu. Tetapi dibabak tambahan waktu, cukup menegaskan 1-0 saja bisa selesaikan permainan ini dan jelas siapa pemenangnya.

Saya lihat German memahami bagaimana terus memperbaharui stamina, dan membuat energy segar, pergantian pemain dengan tepat dapat menyegarkan kekuatan. Yang muda yang bernergi, bersemangat dan mampu membawa perubahan. Kira-kira itu yang telah ditunjukkan oleh Goetze mencetak sejarah dalam piala dunia 2014 untuk menuntuntaskan dan menjeslakan bahwa dengan satu gol ke gawang lawan menjadi kekuatan baru yang sulit dikejar dan ditandingi oleh Argentina.

Argentina merana, harus menerima kekalahan karena permainan telah usai, waktu telah berakhir. Tidak mudah menerima kekalahan tanpa kesedihan dan air mata. Rasa sakit berlari mengejar bola, benturan dan hantaman rasanya mulai terasa dan melengkapi rasa pedih hati. berbeda dengan yang menang, meski lelah berlari dan bahkan berdarah-darah dengan kemenangan dan kebahagiaan menjadi pemenang rasanya sakit dan lelah saat itu menguap terbang terbawa angin.

Kondisi yang membangkitkan emosi memang begitu kuat mempengaruhi perilaku kita. Kebahagian dan kesedihan melahirkan ekspresi yang begitu tegas dan jelas. Sejumlah kimia dalam tubuh mendukung dan memperkuat suasana hati kala itu. Segalanya memang wajar, justru konyol jika dalam keadaan yag sedih malah tertawa cengengesan, atau dalam keadaan bahagia malah murung dan sedih. Justru yang penting dibalik kemenangan dan kekalahan adalah apa yang akan dilakukan esok? Jika menang bagaimana mempertahankan kemenangan, jika kalah bagai mana menjadi pemenang pada kesempatan selanjutnya.

 

Piala Dunia telah menjadi magnet jutaan pasang mata untuk tdak rela melewatkan dan membicarakannya. Terlebih saat final, menentukan siapa yang menjadi pemenang di piala dunia 2014 ini. Dini hari tadi adalah akhir perhelatan sepak bola dunia di tahun 2014. Sepertinya orang tersihir untuk sejenak menatap akhir dari pertandingan ini. (biasanya saya dengar tahrim subuh di ujung kampong tetangga dan juga masjid sebelah rumah, subuh tadi sepertinya sunyi). Namun demikian Azan subuh tetep masih terdengar dan saling bersahut dari berbagai penjuru mesjid. Mesjid tetap terisi dengan barisan yang memang orang-orang yang biasa datang berjamah subuh di mesjid. Perilaku memang menjadi pola bagi siapa yang membuatnya.

Sepak bola piala dunia kini telah usai, pemenang telah jelas, selanjutnya terserah Anda.

 

Selamat beraktivitas

I like Sunday

Tantangan Multikultural dalam Mengajar

Tantangan Multikultural dalam Mengajar

Mengajar terasa berbeda, karena saya berhadapan dengan mahasiswa yang berbeda budaya dan bahasa. Kalau biasanya saya mengajar mahasiwa yang tinggal di sekitar Bogor, Depok, dan Bekasi, tentu tidak begitu terasa berbeda bahasa dan budaya. Namun kali ini saya mengajar mahasiswa yang bahasa sehari-hari adalah Inggris, dan bahasa di rumah jika bicara dengan nenek dan orang tua mereka melayu, dan bahasa Arab yang mereka gunakan dalam kelompok kajian agama. Jadi mereka terbiasa dengan ketiga bahasa itu. Ini menjadi tantangan multicultural dalam pembelajaran. Menghadapi perbedaan yang cukup jauh dan beragam, namun juga memikirkan bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Inilah pengalaman saya saat mengajar sejumlah mahasiswa asal Singapura.

Ketika mendengar pengantar awal kuliah, saya lihat mereka begitu serius terlihat bahasa tubuh yang condong ke depan dan fokus memperhatikan (semangat juga ni mahasiswa). Beberapa kali ada mahasiswa mengangkat tangan menanyakan kata yang saya ucapkan. (ternyata mereka sedikit bingung dengan bahasa Indonesia yang saya gunakan). Sebenarnya saya juga cukup menyimak dengan susah payah saat mendengar ucapan mereka waktu perkenalan. Saya mulai merasakan ada masalah komunikasi yang jauh lebih penting diatasi agar tujuan pembelajaran bisa sampai.

Dalam waktu empat hari saya harus bisa sampai kepada tujuan pembelajaran dalam mata kuliah psikologi perkembangan. Saya mencoba membuat mahasiswa lebih aktif, sebagai pengantar awal cukuplah saya hanya menyampaikan tujuan pembelajaran dan ruang lingkup pembahasan. Selebihnya mahasiswa yang berperan aktif, agar mereka menikmati, dan membangun pemahaman materi perkuliahan dengan sendirinya.

Collaborative and group discussion menjadi cara-cara yang tepat untuk digunakan dalam menjembatani perbedaan budaya dan bahasa. Mahasiswa memilih tema dari bahasan perkualiahan yang tersedia. Karena waktu yang cukup terbatas, tidak mungkin mereka ada banyak waktu untuk mencari literatur di perpustakaan. Akhirnya saya teringat pengalaman dosen yang mengajar saya sewaktu di Pascasarjana, beliau membawa banyak buku yang bisa mahasiswa baca selama program perkuliahan berlangsung. Ide bagus, ini pula yang saya lakukan, saya menyiapkan referensi yang terkait dengan pembahasan. Saya membuat perpus mini, yang bukunya saya bawa dari rumah. Kebetulan sebelum program perkuliahan berjalan, saya diminta membuat modul untuk mereka sebagai bahan perkuliahan, tentu banyak refrensi yang saya gunakan. Sehingga cukuplah buku-buku itu untuk bahan bacaan tambahan.

Selama mereka melakukan presntasi, mahasiswa lain menanggapi, saya mulai terbiasa dengan bahasa yang mereka gunakan, ketegangan karena ketidakfahaman bahasa sudah tidak ada lagi, karena mahasiswa berbicara tentu mereka faham bahasa mereka sendiri. (persoalannya jadi dibalik, saya yang banyak tanya bahasa). Saya menikmati dan banyak keuntungan dari metode pengajaran yang dilaksanakan. Lebih banyak mengeksplorasi kemampuan mahasiswa. Mahasiswa pun dengan mudah memahami materi dengan penjelasan-penjelasan yang disampaikan teman sebaya mereka, yang menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka dan Bahasa yang dekat dengan mereka juga.

Kelebihan lain yang tidak saya duga inovasi dan kreativitas mereka tumbuh dan terlihat nyata. Mengunakan beragam cara untuk menyampaikan konsep yang mereka bahas. Perkuliahan menjadi obrolan yang ringan, karena menceritakan berbagai pengalaman kehidupan manusia dalam setiap fase perkembangan. Sesekali melongok konsep teori dan mencocokannya dengan realitas. Memahami teori dengan menemukan contoh dalam kehidupan yang dekat dengan mereka menjadi lebih mudah untuk dicerna.

Waktu perkuliahan yang panjang, seharian penuh dari jam 08.00 hingga jam 17.30 tidak menjadi masa yang lama dan membosankan. Meski duduk berlama-lama dan belajar, mereka masih bisa tertawa dan menertawakan diri sendiri, saat permainan dalam ice breaking yang mereka sendiri tampilkan secara bergantian, sebagai relaksasi setiap pergantian sesi.

Diakhir perkuliahan saya meminta salah satu bentuk evaluasi dengan menggunakan penugasan. Mereka membuat tulisan yang sesuai dengan minat mereka dan masih berhubungan dengan psikologi perkembangan. Saya membebaskan tidak hanya tema yang mereka tulis tetapi juga bahasa yang mereka gunakan. Ini sengaja saya lakukan untuk melihat kreativitas mereka, dan hasilnya terlihat saya bisa melihat berbagai kelebihan yang mereka tunjukkan dengan khas. Satu kelebihan lainnya kini saya temuka banyak kata yang kadang saya tertawa sendiri ketika memadankan bahasa Indonesia dengan bahasa melayu yang mereka gunakan. Kecuali bahasa Ingris, tentu jauh persamaannya dengan melayu maupun indonesia.

Siapa yang bisa menduga beberapa kata dalam bahasa melayu ini: penagih dadah, bualan, berpeluk tubuh, ponteng, serik, pusing-pusing dan berkongsi? Bagi yang sudah biasa berinteraksi mendengar atau mengunakan bahasa ini tentu tidak asing. Penagih dadah=narkoba, bualan=percakpan, berpeluk tubuh = berpangku tangan, ponteng=lolos, , serik=kapok, pusing-pusing=jalan-jalan berkongsi =berbagi. Meski secara garis besar jika mereka gunakan bahasa tertulis, tidak banyak yang berbeda, hanya ada beberapa yang sedikit berbeda pengucapan otomatis beda tulisan. Seperti berbeda =berbeza, saja=sahaja, mau=mahu.

Diakhir tulisan mereka saya meminta mahasiswa membuat saran dan kritik dari perkuliahan yang telah mereka rasakan. Secara umum bagus isinya, (mungkin karena khawatir teracam nilai jika saran kritik terlalu pedas). Tetapi saya sangat menghargai kritikan apapun, karena itu menjadi alat koreksi untuk agar tetap memperbaiki diri.

Perbedaan budaya dan bahasa yang ada bukan mejadi tantangan jika disikapi dengan cara yang empatis. Memahami perbedaan dan mencoba menikmati setiap perbedaan yang ada, perlahan menjadi sebuah keasyikan sendiri. Tidak membuat jarak membuat keterbukaan itu dengan mudahnya tercipta. Tidak berburuk sangka atas keluhan dan ketidaknyamanan yang mereka sampaikan. Terus berupaya mencari cara agar pembelajaran lebih efektif itu hal yang utama. Kini saya merasa kangen dengan logat bicara mereka. Sayang saya tidak merekam selama perkuliahan berlangsung. Hanya ada rekaman dalam memori sendiri.

Mensikapi secara empatis perbedaan dapat menjembatani perbedaan budaya dan bahasa dalam pembelajaran.

Ramadhan Buka Puasa dan Bertahanlah

 

“Nanti datang ya buka puasa bersama” Ajakan seorang teman kepada yang belum dapat informasi bukber. Kapan? Tanyanya. “Ya, Magriblah, masa buka puasa zuhur” (hehe..sadis jawabnya) jawaban yang memang tidak perlu ditanya, semua orang juga faham, (maksud kawan itu, kapan waktu atau tanggal acranya). Kalau buka puasa, ya jelas magrib. Kecuali anak balita yang belajar puasa, asal ketemu azan buka puasa. Setelah itu puasa lagi, ketemu azan buka lagi, kemudian puasa lagi. Akhirnya sampai juga puasa sampai magrib dengan ‘ngetem’ dua kali. waktu zuhur dan ashar.

Ramadhan dari tahun ke tahun memiliki makna dan kenangan tersendiri, ini tentu dialami oleh siapa pun. Tahun ini yang kita lewati pun akan menjadi bagian kenangan pada Ramadhan yang akan datang. Setiap tahun tidak pernah sama tentunya, karena manusia memiliki kehidupan yang terus berubah. Berubah kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan berubah perilaku.

Ingat waktu kecil saat belajar puasa, rasanya pengalaman yang tidak lupa, karena bagaimana menahan rasa lapar dan haus, padahal setiap puasa ya tentu akan terasa lapar dan haus. Tetapi waktu kecil belajar puasa itu, sangat sensitif, baru rebus air aja sudah enak untk dicicipi. (kebangetan..) Mencium bau masakan tetangga aja perut sudah perih. Apalagi ada makanan depan mata, serasa melambai minta untuk dimakan. Tidak heran waktu kecil puasa, orangtua sangat rajin ngumpetin makanan supaya tidak terlihat atau membuat anaknya tergoda. Tetapi sialnya kadang emak-emak itu lupa, karena sibuknya kerja rumah dan meriahnya makanan yang akan dihidangkan, makanan yang disembunyikan tadi lupa dikeluarkan, alhasil jika basi, berbulu dan tengik gagal lah untuk dinikmati.

Waktu kecil belajar puasa juga sering dibujuk rayu, meski rengek, nangis dan guling-guling kepengen buka puasa, kalau belum waktuya orangtua sabar bujuk rayu dan carikan cara. Supaya tidak keingetan makanan, disuruh main sama teman-teman diluar. Habis main kan tetep capek dan haus, pulang ke rumah rengek lagi haus, disuruh lah mandi, ternyata mandi jadi modus, bisa lakukan pepatah ‘sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui’. Mandi badan bersih, segar, bisa kumur-kumur. Mulut terasa segar setelah kumur-kumur, tentu tidak batal puasa hanya karena kumur-kumur. Tetapi terasa lebih seger lagi waktu air masuk kerongkongan, telen dikit. Walah…

Kebohongan waktu kecil belajar puasa tidak mudah dilupakan. Emosi yang terlibat, karena saat dimana harapan orangtua yang terlalu tinggi, agar anaknya bisa puasa sampai magrib, sementara anak belum siap, akhirnya demi senangkan orangtua, atau takut kena marah orangtua, anak lakukan sesuatu atau cari cara yang bisa orangtua senang dan puasa pun lancar.

Cara-cara yang diambil sendiri oleh anak, dengan menyenangkan orang lain, dan membebaskan beban yang dirasa berat oleh diri sendiri, tentu ini cara yang tidak patut dilakukan. Namun tentu pengertian dan penjelasan-penjelasan positif yang terus ditanamkan kepada anak, akan menjadikan sebuah kesadaran baru bagi anak. Seiring dengan bertambahnya usia, berkembangnya pemikiran dan bertambahnya pengalaman pola yang kurang baik tentu dapat digantikan dengan pola yang baik.

Memang sebaiknya orangtua melihat kemampuan anak berpuasa, belajar puasa anak-anak adalah khas anak. Intinya mereka belajar dan disadarkan akan pentingnya berpuasa. Merasakan proses berpuasa sesuai dengan kemampuannya. Namun tidak pula orangtua berlaku permisif, membiarkan terus tanpa berlatih, sehingga kebiasaan itu tidak tumbuh sejak dini.

Bagaimana anak kecil berpuasa menahan godaan cokelat dan es krim yang kalau mau dimakan sedikit pun tentu akan membuat puasa tidak sampai, jika dilakukan belum saatnya. Saat dikatakan sudah tidak puasa karena tadi makan coklat, rasanya nyesel.

Begitu pula orang dewasa dengan tantangan yang tentu tidak sama bentuknya dengan anak kecil. Sama-sama belajar menahan dari sesuatu yang bukan untuknya, bukan haknya dan bukan saatnya. Tentu bukan lagi cokelat atau es krim yang menjadi godaan utama orang dewasa. Berbagai hal yang hanya orang dewasa yang mengetahuinya. Menahan diri dari dorongan untuk memiliki sesutu yang bukan miliknya, khayal dan cara sudah terbayang, sama dengan anak kecil yang terbayang nikmatnya es krim, dan gurihnya kacang yang dilapisi cokelat. Eksekusi apakah diambil dan dimakannya, menentukan ketahanan seseorang. Kekuatan untuk tidak mengambil dan memakan, memang tidak sedramatis makan cokelat dan sedramatis anak-anak yang menahan godaan Marchmallow dalam sebuah penelitian.

Inti ajarannya sama, menahan godaan, tidak melakukan seusatu yang belum saatnya. Sesuatu yang bisa jadi bukan miliki kita, belum saatnya berpihak dan sesutu yang belum menjadi bagian dari kita, atau belum waktunya untuk kita miliki, tidak ada kata lain bertahanlah hingga saatnya tiba.

Tentu perlu cara untuk dapat mengalihkan apa yang menjadi tekanan emosi saat itu. Jika terus berkutat dalam belenggu rasa dan pikir, bayangkan nikmatnya dan berfikir mudah caranya, tanpa pikirkan konsekuensi dan menilai patut atau tidaknya dilakukan. Tentu bukan hal mudah menghalau, mengalihkan, karena ada dalam zona abu, mendung , dan genting.

Berpindah mencari zona yang cerah, sejuk dan tenang tentu dibutuhkan usaha keras. Namun semua perangkatnya ada dalam diri kita sendiri. Mengubah pikir, mengubah perilaku dan tanamkan kebiasaan baru yang lebih baik, membuat energi tercurah pada hal baru. Zona rawan tadi tinggal kenang yang menegaskan perjalanan hidup belum selesai. Teruslah bertahan.

 

 

 

 

Pray 4 Gaza

Pray 4 Gaza

Gaza , Palestina. Saya hanya bisa tatap gambar kepulan asap dari serangan roket, bangunan hancur meluluh lantahkan tempat tinggal dan isinya, anak-anak menjadi korban dengan luka darah mengucur, dan ada yang badan kaku terkubur puing reruntuhan.

Tidak kuasa menatap tanpa air mata yang berlinang. Begitu hati tidak mampu bayangkan, bagaimana ketakutan anak-anak. Tidak ada tempat yang bagi mereka bermain, berlari dan berkejaran dengan teman seusianya. Mungkin mereka memilih masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di tempat yang cukup aman, dari pada kena salah sasaran roket yang diluncurkan manusia biadab. Harapan untuk mendapat tempat yang aman ternyata berujung pada pertaruhan antara hidup dan mati.

Dari tahun ketahun belum ada kedamaian Israel dan Palestina, bermula terkait urusan agama, namun kini menjadi persoalan kemanusiaan. Anak-anak yang tidak berdosa menjadi sasaran ambisi kekuasaan Israel. Andai anak-anak yang terluka, terkubur reuntuhan, dan meregang nyawa itu adalah anakmu. Masihkan akan kau luncurkan roket itu menghantam rumah dan keluarga?

259652_serangan-udara-israel-ke-wilayah-gaza--palestina_663_382

 

Sumber: http://dunia.news.viva.co.id/news/read/519885-israel-bombardir-gaza–intifada-di-depan-mata

 

Apa yang didapat dari kehacuran itu. Kutukan dunia kepada Yahudi dan Israel atas kebrutalan menyerang penduduk sipil.

petugas-pemadam-kebakaran-palestina-mencari-korban-yang-tertimpa-reruntuhan-_121117160135-639

 

Petugas pemadam kebakaran Palestina mencari korban yang tertimpa reruntuhan bangunan akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Jebaliya sebelah Utara Jalur Gaza, Sabtu (17/11). (AP/Hatem Moussa)

 

Kejadian penyerangan yang berakibat nyawa anak-anak melayang tidak hanya tahun ini, dikesempatan dunia sedang terlena dengan piala dunia 2014. Tetapi juga tahun 2012, terjadi serangan yang serupa, anak-anak yang menjadi korban.

 

anak-anak-korban-kebiadaban-israel

Anak anak Gaza yang tewas terkena serangan roket israel tgl. 18 Nopember 2012  (Photo Occupied Palestine)

 

Serangan militer dengan peralatan yang hebat, menyerang penduduk tidak bersenjata, yang mengamankan diri dalam rumah. Tentu perlawanan yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Seisi rumah, sekeluarga pun menjadi korban. Selalu rakyat sipil menjadi korban.

 

keluarga-dalou-yang-menjadi-korban-serangan-israel-_121120174049-916

 

Keluarga Dalou yang menjadi korban serangan Israel tahu 2012. Repbulikaco.id

 

Mereka berjuang untuk kemerdekaan Negara mereka Palestina. Berjuang untuk menjaga warisan umat Masjidil Aqsa, dan berjuang untuk memeliharan sejarah dan peradaban. Walau tidak merasakan langsung apa yang mereka rasakan, namun hati ini sudah bisa merasa betapa sangat pedih hidup yang mereka alami.

 

Semoga Allah memberikan pertolongan bagi mereka, memberikan mereka ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi kebiadaban Zionis – Israel.

 

Allahumansur ikhwaanana fi Palestine wa fii kullu bilaadil Muslim.

 

Pray for Gaza

11/7/14

 

 

 

 

Takdir Brazil

Takdir Brazil

‘Edan! 5 – 0’, begitu terikan suara suami sesaat setelah nyalakan TV. Saya jadi terbangun dari tidur santai gara-gara teriakan itu. Terdengar suara riuh, ini tentu sedang pertandiangan bola, tapi saya buta jadwal jadi kalau nonton sedapatnya saja. Entah malam itu jadwalnya siapa, saya hanya cukup tahu hasil akhir dari si sulung dan hanya berminat menunggu jadwal final. Ternyata dini hari tadi permainan Jerman vs Brazil tengah berlangsung.

Saya mendadak jadi penasaran dan tertarik melihat pertandingan, menyaksikan ekspresi pendukung Brazil dan Jerman. Empatis melihat gerak pemain, yang tidak lelah mengejar bola. Meski sebenarnya tentu lelah betul, apalagi Brazil yang begitu kesulitan menembus bola ke gawang lawan. Dan sekor yang terus tertinggal. Seandainya saat menendang bola mengingat sekor yang pahit, tentu beban yang makin berat. Kecepatan dan ketangkasan jadi melambat. Berbeda dengan yang sedang merasa senang, tambahan sekor menjadi energy tambahan yang dapat menghilangkan rasa lelah.

Namun demikian Brazil tentu harus berjuang sampai detik terakhir dan tidak peduli sekor lawan sudah berapa, dan bagaimana ekspresi dan komentar pendukungnya. Tidak perlu dipedulikan. Lagi pula mereka juga sedang main moso lihat ekspresi pendukung. Apalagi dengar komentar, tetapi saya tertarik menyimak apa komentar orang akan peristiwa itu.

Saya dengar komentar beragam, “malu Barzil tuan rumah dihabisi” ada lagi komentar yang berbeda dan menyenangkan. “masih bagus Brazil masuk semi final, dari pada juara bertahan sudah pulang kandang duluan” pikirku iya juga, Brazil masih menunjukkan kekuatannya, entahlah kini dapat skor berapa. Akhirnya gawang Brazil diterus didobrak, sulit menghindari dan bertahan gawang Brazil hanya dapat 1, sementara Jerman7.

Saat menyaksikan pertandingan itu, dalam benak saya terlintas, apa Brazil tidak memiliki kekuatan? Seburuk apa pertahanan Brazil, dan sehebat apa permaianan Jerman? “pemain Brazil, Neymar tidak main cedera dan kaptennya kena kartu kuning” kata sulungku. Apa mungkin Brazil tidak sekuat sebelumnya? “Pelatih Jerman juga sudah paham cara penyerangan Brazil” katanya lagi. apapun alasannya memang selalu ada alasan yang rasional untuk memimpin dan tertinggal. Jika lihat nyatanya begitu tentu ada kesulitan besar bagi Brazil untuk menembus gawang lawan. Dan begitu mudah Jerman membidikkan dan mengarahkan bola ke gawang Brazil.

Saya lihat memang begitu sulit gawang Jerman untuk ditembus, meski beberapa kali tendangan ke arah gawang, tetap saja dapat diantisipasi kipper. Saya berpikir sehebat apapaun penyerang dan menendang bola berkali-kali jika kipper nya hebat dan mampu sigap menguasai bola tentu kecil kemunginan bola bisa gol.

Namun demikian, jika hanya punya kipper hebat, tanpa penyerang yang tangguh, tidak juga dapat menggolkan bola ke tiang lawan. Memang kemenangan itu bukan kerja personal tetapi kerja team yang padu dan tangguh.

‘Brazil sedang menjemput takdirnya’, ucap si sulung. Ya bisa jadi karena permainan belum selesai, entah apa takdir yang sampai untuk mereka. Saat itu Brazil masih dapat angka nol. Saya hanya berharap semoga tidak dapat nol. Meski jauh untuk bisa melampaui setidaknya ada perlawanan yang membuahkan.

Semangat memang penting, kekuatan mental memang harus dipertahankan. Pememang bukan saja dapat mencetak gol yang banyak, namaun mampu memperjuangkan dengan semangat berarapun sekor yang didapat. Sepertinya brazil lakukan itu, tetap semangat melawan di menit-menit akhir, hingga permainan usai. Dan terima takdir.

Tentu tidak mudah terus menjaga semangat dan mental yang positif saat berada dalam ketertinggalan yang jauh. Butuh pikiran yang keluar dari pikiran orang kalah pada umumnya. Begitu pula dalam hidup, tidak melulu fokus kepada apa yang menjadi kekurangan kita, tetapi melihat kelebihan dan dengan kelebihan itu menjadi pijakan untuk bangkit.

Sikap-sikap terbaik dalam keadaan terburuk adalah terus berpikir baik.

Capres, Media dan Berita

Capres, Media dan Berita

Seliweran berita dari para pendukung capres di media akan segera berakhir. Senang sekali rasanya. Karena bebas mumet dari berita tentang capres yang kadang juga ‘alay’. Setiap kali buka facebook, begitu getol orang-orang memberikan berita-berita tentang capres dukungannya yang kadang tidak jelas sumbernya.

Isi di group BBM pun sama, segala berita tentang capres juga kiriman tentang keburukan capres hadir dua-duanya. Bahkan kadang berita yang sama, angka statistiknya sama, mereka broadcast hanya dengan mengganti nama capresnya, jika buruk tentu gunakan capres lawannya. Saya dapat beberapa isi berita demikian yang kontennya sama hanya berganti nama capresnya, mendadak ingin muntah bacanya. (Untung masih punya obat mual muntah, jadi ketahan muntahnya).

Buka blog keroyokan juga sama, Banyak bloger menunjukkan keberpihakannya pada capres yang mereka dukung. Sangat normal, menunjukkan keberpihakkan, mereka tayangkan tulisan yang isinya alasan-alasan apa sebab mereka dukung capres tertentu. Ada bagusnya juga sehingga ada alasan yang dikemukakan menjadi berita baru tentang capres tertentu, meski terkadang subyektif. Tidak salah juga, karena mereka mencantumkan tulisan mereka pun dalam kolom opini artinya memang pendapat mereka sendiri bukan reportase. Argumentatif, sharing and connecting menjadi sah-sah saja bagi bloger menulis apa yang dipikir, dilihat dan dirasa.

Tidak hanya jejaring social yang sesak dengan berita capres, Televisi pun sama, salah satu TV bahkan dau atau tiga TV, getol mengupdate dan megabarkan kegiatan dan apapun yang terkait dengan capres, dan tentu isinya keberpihakan salah satu capres, Sedangkan capres lawannya bilapun muncul tentu berita yang tidak menguntungkan. Misal hasil survey yang tentu akan pilih yang menguntungkan capres dukungannya, pun sebaliknya di chanel tetangga yang juga dukung capres tertentu. Karena berita yang tendensius, Saya bisa tandai jika masuk tempat umum misalnya Bank, atau lembaga tertentu, TV apa yang dipanteng terus? Dari beberapa siaran TV yang tendensius itu. Saya jadi iseng berkesimpulan kalau tv tertentu yang di stay tune terus artinya bisa jadi itu memang capres pilihannya. Padahal belum tentu juga..

Awalnya saya memang tertarik untuk mengetahui latar dan peta politik kedua capres itu. Tetapi sering menemukan bacaan yang kadang berlebihan tentang kedua capres itu, bahkan saling melontarkan sesuatu yang tidak nyaman bacanya, kelamaan muak juga. Tentu bukan dengan pribadi capres atau cawapres tetapi para pendukung fanatik, yang sepertinya saling bertempur membentuk opini di dunia maya, ‘cyber army’ tidak peduli itu isinya belum tentu benar. Karena saya tidak tertarik mengecek kebenarannya, maka saya pun tidak percaya dan tidak membroadcast tentang itu.

Beberapa hari lagi seliweran berita tentang capres dan cawapres akan segera berakhir. Tanggal 9 Juli 2014 menjadi berita baru lagi, karena tentunya sudah ada capres yang terpilih. Saya doakan semoga Capres yang terpilih mampu membawa bangsa ini menjdi lebih baik. Siapapun itu semoga yang terbaik untuk bangsa.

Yang paling saya syukuri saat ini adalah perang berita dari pendukung fanatik capres akan segera berakhir. Group di BBM, status di facebook dan tweeter tidak lagi jadi media bersaut dukung salah satu capres. Kopdar dan obrolan kawan tidak lagi terdengar keras dukung satu capres dan rendahkan capres satunya. Meskipun itu sah-sah saja, dan mereka juga sadar, jika capres mereka menang, tetap saja mereka kembali bekerja, pertemanan dan persaudaraan. Moso hanya beda pilihan jadi berlanjut pada hal-hal lain yang kurang menyenangkan.

Saya percaya dalam hati mereka peristiwa ini hanya sebuah musiman, yang tidak akan memecah pertemanan dan persaudaraan. Semoga Bulan Ramadhan menjadi filter dan pembersih atas segala perilaku yang kurang berkenan, Pilpres ini masih ada dalam nuansa bulan suci Ramadhan Semoga bisa mengembalikan kejernihan hati dan kebeningan fikir.

Salam damai