Rasa dan Pikir

Betapapun manusia bisa menampilkan diri dengan kata dan sikap yang penuh dengan lembut dan tenang, namun suatu ketika ada saja yang membuat terusik hati dan pikiran. Peristiwa dan pengalaman yang sangat melibatkan emosi, hati dan pikiran kadang begitu mudah mengacaukan sesuatu yang sudah tertata dengan baik. Sesuatu yang menyenangkan, menyedihkan, memuakan, menjengkelkan maupun menyebalkan, mudah sekali hati dan pikiran terusik. Bahkan membuat perilaku yang berubah.

Saat kehidupan yang sederhana, mampu menata diri dengan secukupnya dan berjalan begitu tenang dan membahagiakan. Namun hidup tidak lurus ada saja kelok yang sebetulnya menjadi ujian, apakah kita terjatuh dikelokan yang curam dan terjal? Jika terjatuh apakah kita masih bisa bangkit? Proses perjalanan dan pengalaman ini memberikan bekas dalam kehidupan seseorang. Tuntas atau tidak memetakan sebuah kejadian dengan kembali memiliki sikap yang sederhana, tenang dan bahagia bergantung pada bagaimana kita hendak membuatnya

Nafas terasa sesak, dada seakan menyempit, perut menahan dan menegang, tengorokan begitu terasa kering saat terusik sesuatu yang bersifat kurang menyenangkan. Itu pertanda belum sampai kepada menempatkan masalah dengan tenang dan membahagiakan jiwa.

Sadar sesungguhnya kita sedang dipermainkan oleh perasaan. Begitu sempit pikiran seakan dunia tidak ada yang lain. begitu sempit padangan seolah hanya ada satu sudut pandang.

Beruntung dengan karunia akal yang luar biasa, masih dapat berpikir rasional, dan bertanya kepada diri sendiri apa yang sesungguhnya sedang dipikirkan. Sesuatu yang tidak pernah ada bukti yang dapat dengan shahih diterima. Sesuat yang dikhawatirkan yang senyatanya belum tentu terjadi. Akal mampu memberikan pertanyaan yang kritis yang tidak mampu emosi menjawabnya. Namun emosi bisa memahami jika ada dalam emosi yang salah.

Jika saja mampu mengubah pikir, mengalihkan apa yang menjadi buntu pikiran, membelokkan haluan pada arah yang lebih tenang dan bermanfaat, tentu sesuatu yang menjadikan sempit pikiran tidak akan terjadi.

Meluaskan hati dan pikiran seluas padang savana lebih baik dari pada seluas halaman rumah. Hati dan pikiran laksana halaman rumah yang sempit, hati dan pikiran begitu detail dan fokus, sesuatu yang kecil dan remeh temeh pun begitu sangat terlihat. Rumput pengganggu yang tubuh satu pun begitu mengusik si empunya. Tambah satu pohon besar pun sudah sesak, apalagi ada macan ikut tinggal tentu sudah teriak mengerikan.

Tetapi jika kita mengibaratkan hati dan pikiran seluas padang savana, jangankan satu tanaman rumput yang tumbuh, singa yang bertambah pun kita tidak kebingungan karena luasnya padang yang terbentang.

Kata dan sikap sesungguhnya menjadi cermin bagaimana hati dan pikiran yang ada. Bukan mengatur kata dan sikap untuk mengubah, tetapi sentuhlah hati dan pikiran untuk melembutkannya. Keimanan dan ilmu menjadi obat dalam melenturkan, melembutkan hati dan pikiran.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s