Tantangan Multikultural dalam Mengajar

Tantangan Multikultural dalam Mengajar

Mengajar terasa berbeda, karena saya berhadapan dengan mahasiswa yang berbeda budaya dan bahasa. Kalau biasanya saya mengajar mahasiwa yang tinggal di sekitar Bogor, Depok, dan Bekasi, tentu tidak begitu terasa berbeda bahasa dan budaya. Namun kali ini saya mengajar mahasiswa yang bahasa sehari-hari adalah Inggris, dan bahasa di rumah jika bicara dengan nenek dan orang tua mereka melayu, dan bahasa Arab yang mereka gunakan dalam kelompok kajian agama. Jadi mereka terbiasa dengan ketiga bahasa itu. Ini menjadi tantangan multicultural dalam pembelajaran. Menghadapi perbedaan yang cukup jauh dan beragam, namun juga memikirkan bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Inilah pengalaman saya saat mengajar sejumlah mahasiswa asal Singapura.

Ketika mendengar pengantar awal kuliah, saya lihat mereka begitu serius terlihat bahasa tubuh yang condong ke depan dan fokus memperhatikan (semangat juga ni mahasiswa). Beberapa kali ada mahasiswa mengangkat tangan menanyakan kata yang saya ucapkan. (ternyata mereka sedikit bingung dengan bahasa Indonesia yang saya gunakan). Sebenarnya saya juga cukup menyimak dengan susah payah saat mendengar ucapan mereka waktu perkenalan. Saya mulai merasakan ada masalah komunikasi yang jauh lebih penting diatasi agar tujuan pembelajaran bisa sampai.

Dalam waktu empat hari saya harus bisa sampai kepada tujuan pembelajaran dalam mata kuliah psikologi perkembangan. Saya mencoba membuat mahasiswa lebih aktif, sebagai pengantar awal cukuplah saya hanya menyampaikan tujuan pembelajaran dan ruang lingkup pembahasan. Selebihnya mahasiswa yang berperan aktif, agar mereka menikmati, dan membangun pemahaman materi perkuliahan dengan sendirinya.

Collaborative and group discussion menjadi cara-cara yang tepat untuk digunakan dalam menjembatani perbedaan budaya dan bahasa. Mahasiswa memilih tema dari bahasan perkualiahan yang tersedia. Karena waktu yang cukup terbatas, tidak mungkin mereka ada banyak waktu untuk mencari literatur di perpustakaan. Akhirnya saya teringat pengalaman dosen yang mengajar saya sewaktu di Pascasarjana, beliau membawa banyak buku yang bisa mahasiswa baca selama program perkuliahan berlangsung. Ide bagus, ini pula yang saya lakukan, saya menyiapkan referensi yang terkait dengan pembahasan. Saya membuat perpus mini, yang bukunya saya bawa dari rumah. Kebetulan sebelum program perkuliahan berjalan, saya diminta membuat modul untuk mereka sebagai bahan perkuliahan, tentu banyak refrensi yang saya gunakan. Sehingga cukuplah buku-buku itu untuk bahan bacaan tambahan.

Selama mereka melakukan presntasi, mahasiswa lain menanggapi, saya mulai terbiasa dengan bahasa yang mereka gunakan, ketegangan karena ketidakfahaman bahasa sudah tidak ada lagi, karena mahasiswa berbicara tentu mereka faham bahasa mereka sendiri. (persoalannya jadi dibalik, saya yang banyak tanya bahasa). Saya menikmati dan banyak keuntungan dari metode pengajaran yang dilaksanakan. Lebih banyak mengeksplorasi kemampuan mahasiswa. Mahasiswa pun dengan mudah memahami materi dengan penjelasan-penjelasan yang disampaikan teman sebaya mereka, yang menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka dan Bahasa yang dekat dengan mereka juga.

Kelebihan lain yang tidak saya duga inovasi dan kreativitas mereka tumbuh dan terlihat nyata. Mengunakan beragam cara untuk menyampaikan konsep yang mereka bahas. Perkuliahan menjadi obrolan yang ringan, karena menceritakan berbagai pengalaman kehidupan manusia dalam setiap fase perkembangan. Sesekali melongok konsep teori dan mencocokannya dengan realitas. Memahami teori dengan menemukan contoh dalam kehidupan yang dekat dengan mereka menjadi lebih mudah untuk dicerna.

Waktu perkuliahan yang panjang, seharian penuh dari jam 08.00 hingga jam 17.30 tidak menjadi masa yang lama dan membosankan. Meski duduk berlama-lama dan belajar, mereka masih bisa tertawa dan menertawakan diri sendiri, saat permainan dalam ice breaking yang mereka sendiri tampilkan secara bergantian, sebagai relaksasi setiap pergantian sesi.

Diakhir perkuliahan saya meminta salah satu bentuk evaluasi dengan menggunakan penugasan. Mereka membuat tulisan yang sesuai dengan minat mereka dan masih berhubungan dengan psikologi perkembangan. Saya membebaskan tidak hanya tema yang mereka tulis tetapi juga bahasa yang mereka gunakan. Ini sengaja saya lakukan untuk melihat kreativitas mereka, dan hasilnya terlihat saya bisa melihat berbagai kelebihan yang mereka tunjukkan dengan khas. Satu kelebihan lainnya kini saya temuka banyak kata yang kadang saya tertawa sendiri ketika memadankan bahasa Indonesia dengan bahasa melayu yang mereka gunakan. Kecuali bahasa Ingris, tentu jauh persamaannya dengan melayu maupun indonesia.

Siapa yang bisa menduga beberapa kata dalam bahasa melayu ini: penagih dadah, bualan, berpeluk tubuh, ponteng, serik, pusing-pusing dan berkongsi? Bagi yang sudah biasa berinteraksi mendengar atau mengunakan bahasa ini tentu tidak asing. Penagih dadah=narkoba, bualan=percakpan, berpeluk tubuh = berpangku tangan, ponteng=lolos, , serik=kapok, pusing-pusing=jalan-jalan berkongsi =berbagi. Meski secara garis besar jika mereka gunakan bahasa tertulis, tidak banyak yang berbeda, hanya ada beberapa yang sedikit berbeda pengucapan otomatis beda tulisan. Seperti berbeda =berbeza, saja=sahaja, mau=mahu.

Diakhir tulisan mereka saya meminta mahasiswa membuat saran dan kritik dari perkuliahan yang telah mereka rasakan. Secara umum bagus isinya, (mungkin karena khawatir teracam nilai jika saran kritik terlalu pedas). Tetapi saya sangat menghargai kritikan apapun, karena itu menjadi alat koreksi untuk agar tetap memperbaiki diri.

Perbedaan budaya dan bahasa yang ada bukan mejadi tantangan jika disikapi dengan cara yang empatis. Memahami perbedaan dan mencoba menikmati setiap perbedaan yang ada, perlahan menjadi sebuah keasyikan sendiri. Tidak membuat jarak membuat keterbukaan itu dengan mudahnya tercipta. Tidak berburuk sangka atas keluhan dan ketidaknyamanan yang mereka sampaikan. Terus berupaya mencari cara agar pembelajaran lebih efektif itu hal yang utama. Kini saya merasa kangen dengan logat bicara mereka. Sayang saya tidak merekam selama perkuliahan berlangsung. Hanya ada rekaman dalam memori sendiri.

Mensikapi secara empatis perbedaan dapat menjembatani perbedaan budaya dan bahasa dalam pembelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s