Celoteh, Harapan dan Impian Anak

 

Dunia anak yang kaya imajinasi, kadang menembus dinding dan terbang ke angkasa. Menyimak harapan dan cita-cita mereka laksana ikut berjalan menembus awan. Tidak pernah diduga apa yang mereka impikan. Mimpi yang sadar saat bangun dari tidur, sambil makan sahur dini hari tadi, mereka membincangkan harapan dan impian kakak adik yang terpaut usia 4 tahun. Berceloteh, menyampaikan apa yang nanti akan ia lakukan. Ada kelucuan saat mereka saling menceritakan harapannya.

Kakak, anak sulung yang sejak kecil menjelajah imagi lewat komik dan menggambar, kini lebih tekun main game alsanya menurut dia keseimbangan motorik, antara mata dan tangan dengan iriangan lagu yang buat relaks. Tiba-tiba saja dilontarkan pertanyaan “mama kuliah jurusan apa? Terus kuliah yang kedua jurusan apa? Kalau kuliah boleh ngulang lagi ya, mksudnya, sudah kuliah S2 ambil lagi kuliah S2? Saya menjawab seadanya dan sederhana saja. Kalau kuliah orang bisa berkali-kali ambil biasanya karena kesempatan dan kebutuhan kerja.

‘Aku kalau lulus SMA mau langsung kuliah, ada jurusan Astronot gak ya? Aku pengen jadi astronot’ sambil senyum dan menatap ibu dan adiknya, dia menimpali omongannya sendiri ‘Aamiin donk’ aku dan adiknya tersenyum dan serentak jawab ‘aamiin’. Usia dia kini 12 tahun duduk di kelas 6. Dalam hati sungguh aku berdoa memohon agar Allah bimbing anak ini menggapai cita yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak. ‘Mak, kalau aku jadi astronot gimana aku shalatnya ya? Ya gampang aja, Islam itu kan memberi kemudahan, yang penting tetep shalat. Iya melihat tand asetuju dan menjawab sendiri ‘Iya, kan kalau tidak bisa berdiri aja boleh sambil duduk, tidak bisa shalat sambil duduk boleh shalat sambil berbaring, tidak bisa juga sambil baring, baru dishalatin’ Aku percaya guru di sekolah telah mengajarkan dasar-dasar agama sehingga dia bisa memahami apa dan bagaimana ajaran agama yang dianutnya.

‘Kakak, kalau aku mah pengen punya peternakan binatang peliharaan, nanti aku jual-jual. Aku punya pet shop, pelihara kucing Angora’ Kata Adiknya yang perempuan tidak mau ketinggalan mengungkapkan impiannya. ‘Kucing di rumah aja tu teteh di rawat’ Abahnya ikut menyimak. ‘gak ah, dia mah kotor, lagi dijualnya juga murahan, kalau kucing angora kan mahal’. Seperti mengalirnya air deras yang sulit berhenti, dia terus bicara. ‘nanti kalau ternakku sudah banyak, aku mau jual dan pasang spanduk. Dijual anak kucing, ibu kucing’ mendengar dan membanyangkan kata—kata di spanduk , aku dan kakaknya tertawa. ‘udah, gak usah pake anak dan ibu kucing. Dijual binatang peliharaan kucing angora. Gitu aja’ Saran kakaknya. ‘Maksud aku aku juga jual anaknya yang kecil, kalau mau yang besar itu ibunya’. Dia menjelaskan apa yang dimaksudnya. ‘kalau gitu pakai garis miring aja, dijual anak garis miring ibu kucing angora’ dia menegaskan kembali. ‘Sekalian juga teteh bisa ditambah dijual bapak, suami, istri, dan menantu kucing angora’ Keisenganku melengkapi tulisan yang dibayangkannya.

‘Nanti tolong pasang iklannya di OXL ya kak, jual binatang peliharaan kucing, merpati, kelinci’ ‘teteh, nambah lagi binatangnya?’ ‘Iya, karena aku suka kelinci sama merpati juga’. Aku menyimak apa yang mereka cita-citakan. Keduanya memiliki kecenderungan yang berbeda. Anak kedua, perempuan ini, memang suka dengan urusan penjualan, di sekolah pun tanpa diminta dia jualan alat tulis, buku dan kadang bawa makanan untuk dijual. Dia bisa menyisihkan uang jajan, dan lebih banyak menabung ketimbang jajan. Setiap hari harus bawa bekal. Sehingga dia bisa menghemat uang jajan. Sangat realistis dan jelas. namun kadang kelemahannya dia menerjemahkan setiap pekerjaan di rumah dengan uang. Tanpa di minta dia akan menyapu dan mencuci piring. Tetapi setelah itu, kagetlah aku dibuatnya, dia akan lapor, ‘aku sudah nyapu dan cuci piring, mama mau kasi aku uang berapa? Hah!

Dalam kepolosan, keluguan anak-anak kadang memberikan kejutan. Anak ada dalam proses berkembang, dia masih lentur dan dapat dibentuk, arahan yang bijak mampu memperkaya potensi yang dimilikinya. Lingkungan sekitar pun mewarnai perilakunya. Namun tidak akan banyak berpengaruh lingkungan sekitar, jika anak memiliki tujuan dan kecenderngan yang sudah jelas. Karena anak memiliki kegiatan yang lebih dia sukai ketimbang mengikuti kegiatan kawan yang dia sendiri tidak suka. Sesekali aku lihat merea berkawan namun kawan-kawan itulah yang mengikuti kecenderungan kegiatan anak-anak di rumah.

Usia anak-anak memang belum banyak pengaruh kawan yang masuk. Anak-anak masih suka dengan aktivitas rumah, membersihkan kamar, merapihkan buku-buku, merawat binatang peliharaan, main masak-masak dan rumah-rumahan. Kadang rumah rapih dan bersih dibuatnya, namun sering pula rumah seperti pasar tumpah.

Suatu saat mereka akan masuki masa remaja, mungkin celoteh dan aktivitas saat ini akan berganti tema dan kecenderungan aktivitasnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s