Afrika ‘Hutang’ Taufik Ismail

 

Dialog yang menyentuh hati selalu diiringi dengan kelembutan hati merekam laku yang lalu dan akan datang. Perkataan itu hanya bisa didengar oleh hati, bukan telinga tetapi mata hati. Membosankan jika kata itu hanya sampai di telinga, karena tidak banyak beda, isinya pun bisa ditebak ke arah mana. Tetapi ini bukan persoalan menebak konten atau mempadankan judul dan isi. Tetapi mebenamkan makna perlahan ke dalam hati hingga meluluhkan hati melalui puisi yang disampaikan Taufik Ismail di acara halal bil halal civitas Ibn haldun.

Biasanya halal bilhalal riuh dengan obrolan masing-masing yang saling tanya dan cerita kabar dari teman, saudara dan oranglain. Dan sulit dibedakan itu acara anak-anak atau orang dewasa, karena riuhnya suara. Jika pun dapat berhenti itu itu hanya beberapa saat. Apalagi jika acara dan pembicaraan kurang menarik, tentu bisa kalah dengan cerita tetangga. Ini mungkin kebiasaan ibu-ibu. Di majlis taklim pun demikian, acara dimulai, ibu-ibu juga mulai gemuruh. Entah apa yang diobrolkan selalu ada saja. Meski kita yang diajak bicara diam, namun kadang yang berbicara makin semangat karena seolah didengarkan. Karena itu saya kadang lebih suka duduk di tempat yang tidak begitu kenal dengan yang ada di samping kanan dan kiri. Setelah saya bersalaman dengan orang-orang yang saya kenal. Saya cari posisi nyaman yang tidak banyak membuka atau mendengarkan pembicaraan .

Halal bil halal kemaren memang beda, saya larut dalam untaian kata menembus bathin yang disampaikan Taufik Ismail. Ketika mendapat undangan hadir halal bil halal tertulis pembicaranya adalah Taufik Islam seorang sastrawan dan Bdayawan, saya sudah membayangkan ini bakal beda. Orang-orang akan didengarkan puisi.

Terakhir saya mendengarkan langsung puisi yang dibacakan Taufik Islmail pada saat undangan orgaisasi mahasiswa di Jakarta. Biasanya saya mendengar orang baca puisi kadang ‘alay’ suara yang buat telinga pekak, isinya tidak jelas, geli dan membosankan. Tetapi saat mendengar puisi yang dibacakan Taufik Ismail, jauh dari bayangan tidak menyenangkan yang telah saya pikirkan. Koten yang diampaikan menyentuh hati dan suara yang keluar enak didengar. Apa mungkin ini pengaruh ketenaran Taufik Ismail sehingga saya menyukainya, atau bisa juga karena tidak banyak pembanding karena jarangnya saya mendengarkan orang baca puisi. Mungki saja, tetapi dua kali saya mendengarkan bacaan puisinya belum mengubah apresiasi saya akan puisi Taufik Islmail. Tetep menyentuh hati dan bermakna.

Saat moderator menceritakan sedikit riwayat hidup Taufik Ismail, ada kaget akan latar belakang pendidikan dan apa yang dia tekuni saat ini. Ternyata beliau lulusan S1 Dokter Hewan. Sama sekali tidak ada hubungan dengan Sastrawan dan Budayawan. Tetapi sayang saya tidak dapatkan bagaimana titik belok dari keahlian yang didapat dari studi yang ditempuh menuju pada keadaan sekarang sebagai Sastrawan dan Budayawan.

Beliau pernah tinggal di Bogor, kampus Ibn Khadun yang di jalan R.E Martadinata pernah menjadi tempat tinggal beliau. Kedekatan dengan Sholeh Iskandar membuat kampus Ibn Khaldun bukan tempat yang asing. Pulang kampong dech pak mengenang Bogor. Meski tidak lama beliau tinggal katanya hanya 11 tahun. Cukuplah mengenal Bogor dan merasakan jadi urang Bogor.

Beliau lahir tahan 1935. Mendengar tanggal lahirnya lumayan cukup sepuh hampr 80 tahun. Saya pikir suaranya tentu akan melemah. Ternyata diluar dugaan, tidak ada yang berubah dengan suara masih tetap lantang dan semngat. Sebagai orang muda, malu diri, beliau begiitu semangat dan suara yang tetap tegas dan jelas. Begitu semangatnya beliau membaca puisi tidak ada saya lihat beliau minum selama berbicara di depan. Tetapi memang sadis, tidak ada air minum di depan, mungkin panitia lupa. Saya pun baru sadar melihat itu ketika beliau ucapkan salam menyudahi pembacaan puisi. Saya hanya bisa doakan semoga beliau tetap sehat walafiat. Puisi tentang Afrika yang diberi pengantar oleh moderator tidak dapat dibacakan karena teksnya tertinggal jadi belum bisa sampaikan tentag Afrika yang menginsiprasi dan mencerahkan itu katanya.

Saat yang tepat usai ramadhan, yang hadir larut dalam kenangan Ramadhan bulan yang penuh ibadah dan bagaimana sesungguhnya diri ini mengisi Ramadhan, rasanya sangat ingin sekali dipertemukan ramadhan yang akan datang dan mengisisnya dengan lebih baik. Hati kembali basah, menimbang apa yang telah dibuat di Ramadhan yang telah lalu. Dan masihkah dapat bertemnu kembali Ramadhan yang akan datang.

Memasuki pembicaraan yang tidak kalah membuat bathin meangis saat membicarakan anak dan keluarga. Harapan tertinggi ada bersama orang-orang dicintai dalam kebahagiaan kini dan nanti. Namun hidup tidak selalu mudah, begitu banyak tantangan dan godaan yang bukan saja dihadapi oleh pribad sendiri tetapi juga yang kelak akan dihadapi anak-anak generasai yang akan datang.

Sedikit relaks dan tidak kalah dengan syarat makna, saat Taufik Ismail membuatkan lirik lagu untuk almarhum Chrisye. Belia bertutur bagaimana perjalanan dalam menuliskan lirik, ternyata tidak mudah untuk mendapatkan yang ‘klik’. Menuliskannya mungkin satu jam juga selesai, tetapi apa yang hendak dituliskan, tentang apa, itu yang tidak mudah mendapatkan ide dan inspirasi yang klik dengan hati. Perjalanan bathin akan ditemukan dalam ketenangan bathin. Seorang muslim mendapatkannya dengan banyak jalan salah satunya dengan bacaan Quran. Itulah yang menginspirasi beliau untuk menuliskan puisi yang berjudul ‘Ketika tangan dan kaki yang bicara’ Kandungan yang ada dalam surat Yasin ayat 65 yang menginsiprasi beliau untuk menyampaikan pesan yang ada dalam Quran. Lagu ini menjadi cukup terkenal, Taufik Ismail mendapat imbalan dari menulis lirik itu, namun beliau menceritakan kerisauan hati menerima imbalan dari lirik yang dia ambil dalam Quran. Merasa tidak berhak mendapatkan imbalan karena itu bukan dari dirinya namun dari Quran untuk disampaikan kepada semua orang. Namun setelah perdebatan panjang akhirnya beliu terima juga imbalan itu.

Menggugah kesadaran bahwa memang tidak sepatutnya apa yang kita sampaikan kebaikan yang dari wahyu Ilahi menuntut bayaran. Namun tidak juga salah jika menerima bayaran. Memang dilematis namun seidaknya kesadaran akan menuntut imbalan ini tidak dikedepankan dalam dakwah bilisan. Apalagi sampai memberi tarif sekian rupiah untuk kesedaainnya menyampaikan tausiyah. Terlalu! Lebih terlalu hasil bayarannya yang tinggi itu untuk sedikit demi sedikit telah mengubah tampilan dan fasilitas yang menjdi serba mewah dan glamor tidak kalah dengan artis. Berdakwah itu tentu tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dapat tunjukkan dengan perilaku dan perbuatan nyata, yang dapat menjadi panutan. Jutaaan pasang mata sedang tertuju saat pendkwah menjadi public figure yang disorot media, teladan yang baik, tentu akan menyejukan jutaan pasang mata yang menatapnya.

Tidak afdol jika tidak memberikan kontribusi kepda saudara-saudara di Palestina, meski hanya dalam kenang perjuangan, jerit dan tangis warga Palestina. Raga ini tidak sampai turut dalam perlawananmu, namun bathin dan jiwa ini sampai. Lewat doa yang kami sampaikan, semoga getaran ini memberikan kekuatan dan menurunkan pertolongan Allah kepada saudara-saudara di Palestina.

Banyak pesan yang telah disampaikan. Ada yang masih saya menunggu untuaian kata dan makna lewat puisi yang disampaikan Taufik Ismail tentang Afrika. Seperti janji Taufk Ismail bahwa beliau masih punya hutang ke Ibn khadun untuk menyampaikan puisi tentang itu. Semoga Allah berikan kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul di majlis yang diberkahi. Mendengar dan menghidupkan jiwa lewat kata dan makna puisi Taufik Ismail.

 

Halbiluika#05.08.14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s