Kematian Sungguh Dekat dengan Kita (Mengenang kepulangan Rekan Dosen Dr. H Fakhrudin (Alm) # Selasa, 29.10.14)

Semua kita akan mengalami kematian. Saat kematian itu tiba dan terjadi pada rekan yang senatiasa berinteraksi dengan kita, rasanya sungguh mengejutkan. Namun itulah kematian, tidak pernah mengenal tanda akan datangnya kematian, jangan pernah berpikir yang tua dan sakit-sakitan akan lebih dahulu meninggal, karena kematian bisa datang dan tidak mengenal usia dan sakit atau pun tidak. Kematian memutuskan kehidupan dan sejuta rencana.

Sebagai akademisi, beliau telah menulis buku dan menyelesaikan studi hingga jenjang akhir S3. Di samping itu Jabatan struktural di Perguruan Tinggi dan lembaga sosial masyarakat serta tugas kedinasan di Pemerintahan dapat dilakoninya secara bersamaan. Tugas yang cukup banyak membutuhkan waktu untuk bisa dijalani dengan maksimal. Kepangkatan fungsional pada tingkat lektor kepala pun sedang beliau lakukan ada dalam proses pemeriksaan di Dikti.

Pengurusan kepangkatan fungsional yang beliau lakukan menginspirasi saya untuk mengurus kepangkatan fungsional. Dalam waktu yang singkat saya mencoba menyusun dan merapihkan dokumen kegiatan mengajar, sertifikat seminar, laporan penelitian dan pengabdian. Karena saat itu ada masa tenggang sebelum pemberlakuan peraturan persyaratan yang baru untuk kepangkatan lektor kepala. Akhirnya proses pengurusan kepangkatan saya bisa berbarengan dengan yang dilakukan oleh beliau. Pengurusan perizinan dengan koordinator perguruan tinggi swasta (Kopertais) dan melalui lintas Kementrian (Diktis dan Dikti) memang bukan hal yang mudah, namun itu dapat bertahap dilalui, kini sedang menunggu hasil pemeriksaan Dikti.

Beberapa pekan yang lalu, sempat akan mencoba mengecek progres kepangkatan dengan beliau ke Dikti, setelah sebelumnya saya memastikan bahwa berkas beliau sudah selesai pemerikasaannya di Diktis dan berkas sudah beralih ke Dikti. Namun karena sudah dapat informasi sedang dalam proses, kami sementara membatalkan untuk berangkat mengecek progres kepagkatan. Cukup sementara menunggu hasil dari Dikti, hingga tulisan ini dibuat dan beliau telah berpulang, saya pun belum mengecek kembali.

Beliau orang yang cukup responsif terhadap permasalahan orang yang perlu bantuan. Hubungan yang luas dengan berbagai kalangan memberikan kemudahan bagi beliau untuk lebih banyak memberikan kebermanfaatan kepada orang lain. Beberapa teman merasakan bantuan yang tidak diduga, beliau bersedia membantu dengan senang hati. Mungkin itu pula yang menyebabkan beberapa rekan yang sempat membawa tandu almarhum merasakan begitu ringan saat mengangkat tandu itu, padahal ukuran tubuh beliau cukup berbobot. Terlepas dari dugaan karena yang mebawa tandu itu lebih dari satu orang bisa jadi terasa ringan. Namun kita percaya kebaikan dan keridhoan Allah membuat jiwa ingin segera memasuki gerbang hari akhir dan bertemu yang Maha Memiliki jiwa dan raga.

Kiprah beliau di Keluarga Muslim Bogor (KMB) pun menjadi kekuatan dalam dakwah. Namun sayang saya dan beberapa teman yang bersedia mengabdikan diri, memiliki beberapa rencana namun karena kesibukan dan waktu yang belum tepat belum sempat untuk membicarakan program yang bisa dikerjasamakan. Bahkan setiap kali beliau mengirim pesan yang berisi undangan silaturahmi bulanan KMB berupa acara pegajian, di salah satu hotel syariah binaannya belum berkesempatan saya dan teman-teman hadiri.

Hidup memang terlalu singkat, rencana yang kita buat kadang melebihi batas kotak usia kita. Namun siapa yang mengetahui batas kotak usia itu, yang pasti kematian itu dekat dan sangat dekat. Siapa pun kita tidak pernah bisa menduga kematian itu akan datang. Karena itu mengingat kematian dan waspada kematian akan menghampiri kita, menjadi alat kontrol dalam perilaku. Siapa pun kita tentu berharap akan akhir yang baik, khusnul khotimah. Semoga kita tetap istiqomah dalam kebaikan hingga khusnul khotimah.

Advertisements

Bekerja dengan Gembira

Tugas akhir dari studi memang membuat klimaks apa yang kita lakukan. Tadinya belajar hanya sebentar kini tidak bisa lagi sebentar tetapi begitu banyak waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas akhir. Tidak sempat untuk melakukan aktivitas lain selain duduk di depan komputer dan terus menyelsaikan tugas-tugas yang mesti diselesaikan.

Saya mendengar banyak cerita bukan saja mereka yang terus menerus mengarjakan tugas akhir yang tidak memperhatikan ke[eruan tubuh berolah raga atau memperhatiakan tubuh sendiri, tetapi juga ada yang secara mental mengalami kejenuhan berat sehingga terkadang melumpuhkan kativitas selanjutnya, syukurnya itu terjadi saat disertasi sudah selesai, dan serasa muak dan jenuh melihat buku dan duduk mengetik.

Ada banyak cerita bagaimana suka duka dan pengalaman yang dirasakan orang saat mengerjakan tugas akhir. Terutama disertasi, karena hampir yang mengambil kuliah s3 itu adalah orang yang tidak hanya beraktivitas tunggal sebagai mahasiswa, tetapi bebrapa aktivitas dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Mahasiswa merangkap jabatan di tempat kerja, dan tugas di rumah serta di masyarakat. Membagi waktu dan memberikan priorotas yang tepat telah menghasilkan apa yang mesti diraih dalam waktu yang tepat.

Saya bisa merasakan bagaimana payahnya mengerjakan tugas akhir, sesuatu yang terjadi kadang menjadi sensitif jika disikapi oleh orang yang sedang dalam tugas akhir. Perasa-perasaan yang kurang menyenangkan, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, bukan saja secara teknis dalam mengerjakan disertasi, namun juga terkadang persoalan hidup yang lain menambah berat rasa dalam menyelsaikan pekerjaan.

Tentu kita tidak ingin terjebak dalam sesuatu yang tidak menyenangkan dan merugikan. Jika mengerjakan tuugas akhir itu adalah sesuatu yang menggembirakan tentu akan mudah kita menggapai dan mengerjakannya. Berbeda yang menganggap tugas akhir adalah derita, yang mesti melewati konflik bukan saja dalam membagi waktu tetapi juga curahan pikiran dan anggaran. Ketika selesai tugas akhir mungkin rasanya terbeas dari derita yang menyedihkan, dan kadang memasuki zona nyaman sehingga lupa jika tugas akhir itu sebenarnya bukan akhir tetapi awal dalam melakukan kegiatan penelitian dalam kiprahnya sebagai akademisi.

Cara untuk memandang positif dan menyenangkan segala apa yang terjadi dalam dinmika menyelsaikan tugas akhir adalah hal penting. Ini adalah bagian dari proses belajar dalam melakukan peneltian, belajar dalam menyelaikan masalah secara sistematis, belajar dalam berinteaksi dengan banyak orang yang memiliki karakter yang unik, belajar dalam mengelola waktu, belajar dalam menentukan priorotas, belajar daalam bagaimana bentuk kepasrahan atas segala urusan, belajar dalam banyak hal yang menyenangkan.

Bukankah orang yang belajar itu sedang dalam kesungguhan di jalan Allah, karena belajar untuk meraih ilmu adalah perintah dan ajaran yang melekat pada individu. Setiap kita memiliki kewajiban belajar, setiap kita memiliki peluang kebermanfaatan dengan ilmu yang dimiliki. Perilaku ini yang mengantarkan kepada kualitas diri yang terasah dan tercerahkan. Setiap kita tentu makin lama makin menua, tanpa harus ditunggu,, tua sudah tentu, namun bagaimana menjadi tua dan bermakna inilah proses perjalanan yang harus dilewati, bersama ilmu dan perbaikan perilaku yang terus menerus, hingga sampai pada puncaknya kita tidak ada. Alangkah indahnya, saat segalanya ada dalam titik puncak kita berhenti.

Puncak keimanan, ketaatan, dan kebaikan menutup perjalanan, Alangkah Indahnya.

Masalah dan Menulis

Menulis adalah pekerjaan yang kadang membuat batin lebih hidup, kita bisa bicara sendiri mengurai apa yang menjadi ide, gagasan di kepala. Ini paling tidak bermanfaat bagi diri sendiri untuk mengurai ketegangan, dan memberikan arah bagi apa yang kita persepsi karena kita memiliki sikap dalam menanggapi sebuah permasalahan.

Saat kondisi labil adalah waktu yang dapat dimanfaatkan untuk menulis. Segala kegalauan, konflik dalam pikir dan menentukan sikap apa yang terbaik untuk diri sendiri., sebaiknya bisa menjadi tulisan. Banyak orang terinsiprasi menulis karena menghadapi masalah yang terus menerus dan tidak kunjung usai. Saat menuliskan apa yang menjadi masalah, mencari solusi akan masalah yang dihadapi, perlahan menumbuhkan sikap dan membuat perilaku lebih terarah.

Beruntung jika memiliki kesempatan, kemauan dan masalah yang akan ditulis. Sejatinya manusia hidup dengan masalah. Tidak pernah ada yang terbebas dari masalah. Masalah mendewasakan kita, ada hal yang amat penting mengenai masalah bagi mahasiswa, karena mahasiswa membutuhkan masalah untuk melakukan sebuah penelitian. Mata kuliah Metodologi Penelitian tidak akan lulus dengan baik jika tidak memiliki masalah saat menuliskan rencana penelitian, karena bagaimana membuat perencanaan penelitian jika masalah akal-akalan saja tidak bisa ditemukan.

Begitu pula untuk mengakhiri kuliah, perlu tugas akhir yang didalamnya syarat dengan masalah. Bukan saja masalah yang akan diangkat dalam penelitian tetapi juga kadang masalah hidup yang menyertai yang kadang tidak pernah ada akhir kecuali masa yang mengakhiri.

Menulis artinya membantu mengurai masalah. Manfaat lain yang selain mengurai masalah ada bonus yang tidak pernah kita duga dari menulis. Mungkin bagi yang rajin menulis dan terarah dapat menjadi buku yang diterbitkan. Buku itulah yang menjadi perantara silaturahmi dengan orang yang tidak pernah kita duga. Tetapi jika menulis ala saya yang hany diposting di blog pribadi dan hanya mbah google yang memfasilitasi, kadang juga kebagian bonus ini. Karena kita memang hidup saling membutuhkan dan bergantung satu dengan yang lain. Meski saya tidak mengharapkan menulis ini dibaca orang banyak, tetapi rasanya mustahil jika tidak terselip harapan itu. Jika tidak ingin dibaca orang mengapa harus dipublish. Ternyata efek publish itu menambah manisnya dunia tulis menulis.

Siapa yang menyangka saat lelah mendera, disela waktu istirahat membuka email dan terbaca pesan yang manis, bahwa ada orang yang merasa terbantu dan terima kasih atas apa yang kita tulis. Kita tidak saling mengenal, kata pencarian yang dalam dunia maya yang mempertemukan. Jika tulisan itu telah dapat memberi secercah pengetahuan bagi orang yang tidak pernah kita duga, tentu manis rasanya. Tumbuh sedikit energi kala lelah dan membangkitkan lelah menjadi satu harapan dalam bisik batin itu, dalam hati berkata ‘saya akan menulis lagi hal-hal yang saya mampu dan akan saya bagikan untuk siapapun yang membutuhkan’.

Meski memang tidak mudah berkomintmen untuk tetap menulis, paling tidak hasrat ini ada dan akan tetap terjaga. Harapan semoga dapat tetap bermanfaat meski lewat jari jemari yang dihentakan di atas keypad membentuk sebuah kata, semoga memberi makna dan bermakna bagi sesama.

Salam semangat
Cintai masalah, dan tumbuhlah dewasa bersama masalah

Evaluasi Responsif

Apakah evaluasi yang lain tidak bersifat responsif? Pertanyaan ini sering terdengar manakala banyak model evaluasi yang digunakan dalam penelitian evaluatif, apakah dari sekian banyak tidak bersifat responsif? Evaluasi pada hakekatnya adalah proses penilaian terhadap suatu objek dengan mengumpulkan berbagai informasi dan informasi itu digunakan sebaagai alat untuk menentukan keputusan. Sulit memang pekerjaan evaluasi dengan berbagai proses yang dilaluinya tanpa menghasilkan sebuah kepetusan.

Keputusan itu sebenarnya menjadi akhir dalam kegiatan evaluasi. Keputusan terhadap objek yang dievaluasi entah itu program, atau kebijakan tidak mesti mengatakan bahwa program atau kebijakan itu dilanjutkan, dihentikan atau diperbaiki. Tetapi ada yang penekanan evaluasi yaitu dengan menunjukkan kelebihan dan kekurangan sebuah program. Penelitian Evaluasi memiliki beragam pendekatan. Ada yang bersifat kuantitatif, kualitatif dan juga penelitian tindakan. Masing-masing pendekatan memiliki ciri tersendiri.

Evaluasi responsif merupakan model penelitian evaluatif yang bersifat kualitatif. Pendekatan yang lebih bersifat fleksibel, dengan mampu mendengarkan pandangan dari beragam perspektif yang berbeda. Pendekatan yang bersifat informal, dan tentu terkadang mempertaruhkan idealisme dalam pengukuran untuk mendapatkan kemanfaatan. Tidak menggunakan cara yang ketat dalam mengembangkan alat ukur dan juga perhitungan statistik.

Evaluasi responsif bertolak belakang dengan evaluasi yang bersifat preordinate. Penelitian evaluatif bersifat preordinat yaitu pada umumnya menggunakan desain eksperimen, mengembangkan hipotesis, pengambilan sampel dengan cara random, tes objektif, dan laporan sebagaimana layaknya laporan penelitian. Sedangkan penelitian responsif mengambil sampel dengan cara purposive, mencari informasi dari pihak yang bersebrangan, dan laporan bersifat ekspresif atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Evalausi responsif sebenarnya masih memiliki hubungan yang kuat dengan evaluasi model countanance, karena memang evaluasi responsive juga digagas oleh Stake yang mengagas evaluasi countanance. Karena itu dalam sejumlah hal tertentu masih terdapat pengunaan cara-cara yang digunakan dalam countanance juga digunakan dalam evaluasi responsif , seperti analisis data dalam countanance berupa matrik antesenden, transection dan outcame yang ada dalam matriks deskriptif dan matrik judgment digunakan juga dalam menganalisis data pada model responsive.

Pada matrik deskriptif terdapat kolom intens dan observasi. Kolom ini menunjukkan hal yang semestinya dengan hal yang terdapat pada hasil observasi. Sedangkan kolom judgment terdapat kolom standar dan kolom judgment. Standar merupakan tolak ukur dalam mengambil keputusan. Membandingkan kenyataan dengan tolak ukur yang ada maka dapat menghasilkan keputusan.

Dalam evaluasi responsif lebih dikenal isu ketimbang rumusan masalah. Isu merupakan hal penting yang menjadi kajian, atau sebuah studi evalusi. Hal yang menjadi permasalahan dalam sebuah program dapat menjadi isu dalam penelitian. Karena itu pemahaman awal akan program yang dievaluasi dapat memudahkan dalam menentukan isu.

Evaluasi responsif memiliki kebebasan yang luas, tidak bersifat kaku dan lebih adaptif terhadap persoalan yang berkembang. Kemampuan melakuan interaksi yang dapat menyerap berbagai informasi menjadi andalan dalam mengumpulkan data. Tentu tidak mudah ketika mengevaluasi sebuah program yang peneliti ada diluarnya, dan melakukan evaluasi dengan inisiatif sendiri. Namun ini menjadi tantangan seberapa besar tingkat kesulitan yang dihadapi dan setajam apa sensitivitas peneliti. Karena jika peneliti terlibat atau ada dalam program, tentu senitivitasnya akan berbeda dengan yang berada diluar. Namun kelebihan bagi yang terlibat didalamnya memiliki pengetahuan yang banyak akan program yang dievalusi. Serta kemudahan dalam melihat kondisi yang tepat untuk melakukan kegiatan evaluasi.

Ibrahim, Berani dan Benar

Ibrahim, Nabi yang menjadi Bapak para Nabi. Bukan saja peristiwa idul qurban yang mengingatkan kita kepada teladan dan pengorbanan, tetapi juga perjalanan panjang dalam pencarian kebenaran. Ibrahim sekaligus menjadi peletak dasar bagi agama-agama samawi. Ini bukan cerita dongeng akan keberanian seseorang kesatria, tetapi ini cerita nyata yang diabadikan dalam kitab suci Qur’an. Bagaimana kegelisahan saat melihat kezaliman, keganjilan akan siapa yang sesungguhnya patut disembah.

Alam menjadi tanda dan sumber belajar. Ibrahim mencari Tuhan yang patut disembah tentu bukan patung yang dibuat manusia, bukan sepotong roti yang menjadi tuhan yang manakala lapar kita bisa memakannya. Meski kebanyakan orang saat itu menyembah patung, bukan berarti yang banyak dilakukan orang adalah kebenaran. Logika berpikir tidak akan melompat dalam sebuah kebenaran. Hal yang tidak logis tidak akan berdampingan dengan kebenaran, meski kadang ada saat yang tidak logis keyakinanlah yang menuntun.

Melihat fenomena masyarakat sekitar tidak ada jawab yang memenuhi kepenasaran dan hasrat tentang Tuhan. Ibrahim pun menggunkan tanda-tanda alam sebagai jawab, saat melihat bintang Ia berpikir bintang ini adalah Tuhan yang patut disembah, namun kala siang bintang tidak lagi bersinar, Ia pun ragu dan tentu bukan Tuhan jika meredup. Melihat bulan pun demikian, bersinar terang namun meredup saat siang hari. Saat melihat matahari Ia menduga mungkin ini Tuhan yang patut di sembah, matahari lebih besar dan sinarnya terang dan kuat. Namun kala senja datang matahari mulai menghilang. Tuhan tentu tidak timbul dan tenggelam. Tidak ada kata putus asa dalam benak Ibrahim untuk mencari kebenaran.

Kebergantungan dan keyakinan akan yang Maha Kuasa hadir. Sesungguhnya bintang, bulan dan matahari yang bersinar tentu ada yang menciptkan, begitu pula manusia. Siapa yang sesungguhnya yang menciptkan. Tentu Allah yang Maha Kuasa. Dia yang menghidupkan dan mematikan setiap yang bernyawa. Saat wahyu menuntun keyakinan itu, terdapat pula proses pembuktian akan kebenaran bahwa kuasa Allah menghidupkan dan mematikan. Burung yang terpotong-potong diletakkan di atas batu sebuah bukit, dapat terbang ke bukit yang lain. Tentu Ibrahim bukan tidak percaya Allah yang Maha Kuasa, namun peristiwa tersebut menjadi penguat dan penambah keyakinannya.

Peristiwa Allah memberikan wahyu kepada para Nabi, dari sekian banyak Nabi yang diketahui, terhenti pada Nabi Muhammad saw. Artinya manusia saat ini tidak perlu bersusah payah mencari siapa Tuhan dan kebenaran. Karena Nabi penutup para Nabi itu telah memberikan wasiat kepada umatnya berupa Qur’an dan Hadits. Namun sungguh demikian, kita kadang masih bersusah payah untuk bisa menjalankan pesan yang ada dalam Qur’an dan Hadits. Tantangan hidup kita saat ini secara nyata berbeda dengan zaman para Nabi. Namun demikian ini bukan menjadi dalih dalam mengabaikan pesan. Setiap kita memiliki peran, agar tidak mengalami kerugian tertelan zaman yaitu untuk saling mengingatkan. Mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

Menjadi orang yang lurus dan benar memang tidak mudah, bukan saja dimusuhi orang tetapi juga kadang terancam jiwa. Apakah jika kita berbuat bengkok-bengkok disenangi orang banyak dan tidak akan mati? Tentu saja tanpa diancam jiwanya manusia bakal mati dengan sendirinya. Sebenarnya manusia yang hidup sedang berjalan menuju lubang kematian masing-masing. Kita tidak pernah tahu sapaan terakhir dari sahabat, senyuman terakhir orang-orang yang kita sayangi, dan matahari pagi terakhir yang kita lihat. Tidak ada yang tahu, dan itu pasti datang. Namun kebaikan dan jalan lurus tidak pernah terjadi jika kita tidak melakukan dan berusaha untuk tetap melakukannya.

So, Think and do Good everything.

I Like Sunday, Selamat beraktivitas. Semoga ini bukan sapaan terakhir..