Bekerja dengan Gembira

Tugas akhir dari studi memang membuat klimaks apa yang kita lakukan. Tadinya belajar hanya sebentar kini tidak bisa lagi sebentar tetapi begitu banyak waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas akhir. Tidak sempat untuk melakukan aktivitas lain selain duduk di depan komputer dan terus menyelsaikan tugas-tugas yang mesti diselesaikan.

Saya mendengar banyak cerita bukan saja mereka yang terus menerus mengarjakan tugas akhir yang tidak memperhatikan ke[eruan tubuh berolah raga atau memperhatiakan tubuh sendiri, tetapi juga ada yang secara mental mengalami kejenuhan berat sehingga terkadang melumpuhkan kativitas selanjutnya, syukurnya itu terjadi saat disertasi sudah selesai, dan serasa muak dan jenuh melihat buku dan duduk mengetik.

Ada banyak cerita bagaimana suka duka dan pengalaman yang dirasakan orang saat mengerjakan tugas akhir. Terutama disertasi, karena hampir yang mengambil kuliah s3 itu adalah orang yang tidak hanya beraktivitas tunggal sebagai mahasiswa, tetapi bebrapa aktivitas dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Mahasiswa merangkap jabatan di tempat kerja, dan tugas di rumah serta di masyarakat. Membagi waktu dan memberikan priorotas yang tepat telah menghasilkan apa yang mesti diraih dalam waktu yang tepat.

Saya bisa merasakan bagaimana payahnya mengerjakan tugas akhir, sesuatu yang terjadi kadang menjadi sensitif jika disikapi oleh orang yang sedang dalam tugas akhir. Perasa-perasaan yang kurang menyenangkan, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, bukan saja secara teknis dalam mengerjakan disertasi, namun juga terkadang persoalan hidup yang lain menambah berat rasa dalam menyelsaikan pekerjaan.

Tentu kita tidak ingin terjebak dalam sesuatu yang tidak menyenangkan dan merugikan. Jika mengerjakan tuugas akhir itu adalah sesuatu yang menggembirakan tentu akan mudah kita menggapai dan mengerjakannya. Berbeda yang menganggap tugas akhir adalah derita, yang mesti melewati konflik bukan saja dalam membagi waktu tetapi juga curahan pikiran dan anggaran. Ketika selesai tugas akhir mungkin rasanya terbeas dari derita yang menyedihkan, dan kadang memasuki zona nyaman sehingga lupa jika tugas akhir itu sebenarnya bukan akhir tetapi awal dalam melakukan kegiatan penelitian dalam kiprahnya sebagai akademisi.

Cara untuk memandang positif dan menyenangkan segala apa yang terjadi dalam dinmika menyelsaikan tugas akhir adalah hal penting. Ini adalah bagian dari proses belajar dalam melakukan peneltian, belajar dalam menyelaikan masalah secara sistematis, belajar dalam berinteaksi dengan banyak orang yang memiliki karakter yang unik, belajar dalam mengelola waktu, belajar dalam menentukan priorotas, belajar daalam bagaimana bentuk kepasrahan atas segala urusan, belajar dalam banyak hal yang menyenangkan.

Bukankah orang yang belajar itu sedang dalam kesungguhan di jalan Allah, karena belajar untuk meraih ilmu adalah perintah dan ajaran yang melekat pada individu. Setiap kita memiliki kewajiban belajar, setiap kita memiliki peluang kebermanfaatan dengan ilmu yang dimiliki. Perilaku ini yang mengantarkan kepada kualitas diri yang terasah dan tercerahkan. Setiap kita tentu makin lama makin menua, tanpa harus ditunggu,, tua sudah tentu, namun bagaimana menjadi tua dan bermakna inilah proses perjalanan yang harus dilewati, bersama ilmu dan perbaikan perilaku yang terus menerus, hingga sampai pada puncaknya kita tidak ada. Alangkah indahnya, saat segalanya ada dalam titik puncak kita berhenti.

Puncak keimanan, ketaatan, dan kebaikan menutup perjalanan, Alangkah Indahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s