PAHLAWAN DALAM SETIAP DIRI (Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimipin akan dimintai pertanggung jawaban).

Memperingati hari pahlawan tanggal 10 November yang terbayang adalah mereka yang telah gugur di medan perang untuk kemerdekaan dan mempertahankannya. Namun bagi saya makna pahlawan saat kini tidak selalu harus mengangkat senjata dan gugur di medan perang. Siapa pun kita adalah pahlawan yang berjuang untuk mengendalikan dan menepatkan diri. Jika mampu menempatkan dan mengendalikian diri tentu tidak terlalu banyak kerusakan dan kehancuran negara ini.

Menempatkan dan mengendalikan diri saat ada dalam puncak kekuasaan, tentu akan mampu menjaga tangan untuk tidak melakukan korupsi. Para koruptor adalah penjahat perang, dan bahkan lebih sadis karena mereka bukan saja berkhianat namun secara tega memakan orang yang mesti dibela dan dan diperjuangkan. Jijik benar, dalih memperjuangkan rakyat, membela rakyat miskin, memberantas kebodohan rakyat hanya menjadi penghias bibir untuk melahap banyak harta dan memperkaya diri.

Saat diri tidak mampu dikendalikan oleh yang empunya dan tidak mampu menempatkan diri dengan benar, sepertinya pahlawan dalam dirinya telah pergi. Tidak ada pembela atas jiwanya sendiri. Dibiarkan diri hancur dan dihina oleh dirinya sendiri.

Sebetulnya menarik dalam ajaran Islam bahwa setiap diri adalah pemimpin. Mulai dari hal yang mikro yaitu diri, maka sesungguhnya diri sendiri adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Diri adalah gambaran mikro kosmos, segala keteraturan dan harmoni dalam diri patut dijaga dan dipertanggung jawabkan. Agar keselarasan dengan apa yang dikehendaki Allah yang menciptakan diri ini.

Seorang pemimpin yang tidak mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, maka pemimpin itu telah berlaku tidak adil. Artinya pemimpin melakukan kezaliman. Hal yang mungkin dari anggota tubuh baik fisik maupun psikis kita ada yang terbaikan oleh kita sendiri dalam merawat dan menjaganya maka sesungghnya kita bisa terjebak pada kezaiman pada diri sendiri.

Menggunakan anggota tubuh menjaga jiwa, sesuai dengan peruntukannya apa yang dianugerahi Allah kepada kita adalah wujud dari kita telah barlaku benar sebagai seorang pemimipin bagi diri sendiri. Ketika kita berinteraksi dengan orang, sejumlah peran yang kita jalankan dalam kehidupan sosial, menambah nilai dan kekuatan diri apabila mampu menempatkan dan mengendalikan diri dengan benar.

Memenangkan dalam pertarungan konflik jiwa dan raga, berhasil dalam peran sebagai sosial dan mengelola diri sebagai individu, maka layak menjadi pemenang, pahlawan dan pemimpin diri.

Suka tidak suka, kadang diri menjadi narsis, mencintai, menyanjung diri sendiri. Karena bagaimana pun jiwa dan raga adalah hal yang jauh berbeda, namun keduanya telah berupaya keras untuk menjalani kehidupan yang tidak mudah. Pantas kiranya kita menyangi dan mencintai diri sendiri. Jika tidak menyangi diri sendiri, siapa yang akan berjuang mencintai dan mengarahkan diri.

Kita pemilik sepenuhnya jiwa dan raga ini yang diamanatkan Allah. Hendak dibawa kemana bergantung kepada apa yang menjadi tujuan hidup kita. Allah telah memberikan yang terbaik, dan menginginkan kebaikan pada setiap hambaNya. Karena itu segala yang terbaik ada dalam diri kita.

Selamat berjuang Pahlawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s