Sarjana dalam Harap dan Cemas

Jalan raya menuju jalan Dr. Semeru Bogor, macet total. Tidak biasanya saya mengalami semacet ini, padahal ada janji jam 14-an. Saya hanya memiliki waktu antisipasi perjalanan 60 menit. Karena biasanya jalan lancar, 30 menit pun saya sudah bisa sampai ke sekolah tempat saya mengambil data penelitian di jalan Loji Sidang Barang.

Menduga-duga apa yang menyebabkan macet, belum terjawab, tetapi ketika terlihat mobil parkir di pinggir jalan, dan orang yang berpakaian seragam wisuda, membawa segenggam bunga memasuki mobil, saya bisa menebak, tentu ini ada acara upacara wisuda, tidak jauh dari kemacetan itu memang ada gedung pertemuan dan hotel yang biasa digunakan untuk acara resepsi pernikahan, perpisahan sekolah juga wisuda sarjana.

Mendekati pintu masuk gedung itu yang ada di kiri jalan yang saya lewati, terlihat mobil yang hendak keluar yang juga sulit karena macet. Para pengiring wisuda pun terlihat banyak yang menunggu dan memarkirkan kendaraan diluar gedung. Sekelompok orang dengan berpakaian seragam, membawa beragam hiasan, tampak hendak menyambut wisuda. Memang kadang ada saja yang disiapkan oleh pengiring wisuda yang biasanya kawan kelas, kakak kelas, atau adik kelas yang sudah menjadi tradisi kelompok dalam suatu organisasi di kampus.

Dibalik wajah kegembiraan dan kemeriahan menyambut wisudawan, memang patut disyukuri dengan suka cita. Karena saya yakin perjalanan panjang melewati proses untuk bisa selesai dalam program, tidak sedikit hambatan dan kendala yang dihadapi. Setiap orang tentu merasakan yang berbeda tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun usaha untuk bisa selesai jelas menunjukkan tahapan yang sama telah dilalui.

Ada jerih payah orangtua, orang terdekat, dan banyak orang yang mengantarkan seseorang dalam suatu keadaan yang terlepas dan selesai dari program yang ditempuhnya. Ada harapan dan cita-cita usai program yang telah diselesaikannya, entah itu bekerja untuk membahagiakan orang yang telah banyak membantu, entah itu melanjutkan kehidupan orang dewasa yaitu menikah, atau pun melanjutkan kembali studi. Pilihan-pilihan yang mungkin bagi para lulusan sarjana S1, karena melihat usia mereka yang memasuki dewasa awal.

Satu hal yang mungkin dilupakan saat orang bahagia, sadarkah bahwa sekian orang dari ribuan lulusan saat itu apakah memiliki peluang yang sama? Terserap di lapangan pekerjaan, atau memiliki kesempatan melanjutkan studi?

Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tidak mudah terserap di dunia kerja. Jika lulus SMA, mungkin akan cepat mudah mendapatkan pekerjaan, karena banyak pekerjaan yang terbuka bagi buruh pabrik dan lainnya dalam jumlah yang besar. Namun bagi lulusan sarjana tentu tidak diharapkan demikian. Mereka memiliki kemampuan ilmu yang bisa turut menyelesaikan persoalan.

Kemampuan menciptakan lapangan kerja adalah hal yang mesti dimiliki para sarjana. Mereka bukan saja mampu menyelesaikan persoalan sendiri, namun juga persoalan orang lain. memang tidak mudah, apalagi kalau melihat bagaimana proses mereka saat di bangku kuliah, juga menentukan kemampuan yang mereka miliki.

Bangku kuliah salah satunya sebagai tempat berkumpul dan bercerita bagi pengalaman-pengalaman yang berserak yang dijemput mahasiswa. Mengajarkan hal yang nyata, menyelesaikan persoalan yang nyata, menjadi tugas sarjana. Universitas yang sesungguhnya adalah kehidupan yang dinamis.

Saya dapat merasakan sendiri, betapa tidak mudah menyelesaikan beragam persoalan dalam sekejap. Menikmati segala proses dan apapun yang terjadi hal yang termudah yang dapat kita buat.

#Selamat ya cucu dari uwakku yang habis wisuda, Rabu, 26 Nov 2014. Buat macet jalan e..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s