Jangan Biarkan Sampah

Setiap tahun setiap manusia memproduksi sampah milyaran ton, sebanyak itu kah, ya ternyata segala apa yang kita gunakan bukan saja makan, minum tetapi barang-barang yang lain dan kemudian tidak digunakan kembali menjadi sampah.

Sampah yang dekelola perumahan atau petugas kebersihan akan bermuara pada tempat akhir pembuangan sampah. Di tempat itu sampah menggunung. Di Kota Bogor saja tidak kurang 8 Truck sampah yang dibuang di tempat akhir pembuangan sampah yang ada di Galuga. Penanganan dan pengelolaan sampah yang tidak tertib bisa jadi akan membuat repot dan bahaya bagi kita sendiri.

Setiap rumah atau instansi publik belum tentu memiliki alat pengelolaan sampah sendiri. Padahal sebenarnya mengelola sampah itu penting, sama penting saat kita butuh makanan. Tetapi kadang sampah tidak dipedulikan. Orang kadang hanya ingin kebersihan di tempatnya sendiri tidak peduli membuang sampah dimana. Bahkan kadang menyedihkan sekali saat membuang sampah ke sungai dan juga sembarang tempat.

Saat hujan deras, sampah mengumpul pada pintu air sungai. Luar biasa gunungan sampah itu, kita tidak mengira entah dari buangan siapa saja sulit ditebak, semua menjadi satu dan membuat gunungan kecil di sungai. Siapa yang peduli? Padahal jika aliran air sungai tersumbat karena sampah lalu air meluap, siapa yang terkena akibatnya? Kita sendiri, manusia yang membuat ulah manusia yang menanggung akibat.

Saya menulis sampah terinspirasi dari sekolah dasar islam yang cukup besar di bogor. Tempatnya bersih, tempat sampah tersedia dengan cukup. Di bagian belakang sekolah, saya melihat tembok yang debntuk kotak dan makin ke atas ada bagian panjang menyerupai menara. Sampah-sampah sepertinya di kelola di tempat ini. Rasanya mungkin tidak akan tega kita membuang sampah yang akhirnya akan terbengkalai, jika bisa dikelola dan sendiri mengapa tidak dilakukan.

Ajaran agama mengajarkan bahawa kebersihan itu menjadi bagian dari cerminan keimanan. Mungkin bisa juga dipertanyakan keimanannya jika masih suka membuat kotor lingkungan atau tempat umum. Pelajaran tauhid hanya sebatas pengetahuan, bukan penghayatan mendalam yang menjadi bagian sikap dalam hidup.

Saat menulis ini saya sedang ada di lantai dua, asrama putri di sebuah perguruan tinggi yang cukup tua. Saat memandang ke luar jendela, di sudut kanan yang lumayan cukup jauh, terlihat gundukan sampah tanpa ada alat pengelolaan sampah. Meskipun demikian jika di bandng dengan usia perguruan tinggi ini dengan sampah yang ada, rasanya sampah itu tidak begitu banyak. Bisa jadi petugas membakar sampah itu, tanah yang lapang, jauh dari pemukiman, akan mudah penangannan sampah yang ada. Akan menjadi lain cerita jika pemukiman padat dan lahan sempit. Sampah benar-benar menjadi masalah.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana kehidupan di pemukiman padat, sudah tentu sampah yang dikeluarkan juga banyak. Apakah mereka faham dan melakukan pengelolaan sampah dengan baik. Rasanya kecil kemungkinan, mereka lebih suka mengenyahkan jauh-jauh sampah dari rumah dan lingkungan dekat rumah. Tanpa menyelesaikannya dengan tuntas, karena keterbatasan tempat, jangankan untuk tempat khusus sampah, untuk tidur saja tempat mereka sangat terbatas.

Kehidupan miskin dan kumuh menjadi paket lengkap yang semestinya tidak terjadi pada orang muslim, namun apa boleh dikata, di lembaga pendidikan yang mengajarkan ajaran islam saja tidak terlihat bahwa mereka menjaga kebersihan.

Orang islam bangun subuh, mereka sudah membersihkan diri dengan mandi dan wudhu untuk melaksanakan shalat subuh di mesjid. Tetapi saat mesjid kotor karena hujan semalam, sampai harus berjinjit kaki sulit untuk memilih bagian bersih menapakan kaki. Tidak akan mudah menemukan orang yang segera peduli membersihkanya. Dalih ada petugas, menunda untuk berbuat baik dan responsif. Padahal petugas pun terkadang setengah hati membersihkan karena mendahulukan materi ketimbang kenyamanan bersama.

Timbang keimanan dengan kesucian hati dan kebersihan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s