Sore di Tempat Santri

Hujan turun dengan lebat dan rapat, memaksa saya menghentikan langkah untuk keluar gedung sekolah, usai melakukan pengambilan data penelitian. Sebagian siswa dan guru sudah meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah mereka. Pukul 16.30 saya masih di sekolah. beruntung ada guru perempuan yang sedang mengerjakan koreksian tugas siswa. Saya ada teman, meski masing-masing kita larut dalam pekerjaan sendiri.

Sesekali mengetik tulisan, saya melongok keluar ruangan, untuk melihat rintik hujan, berharap mulai mereda, sehingga saya bisa pulang tidak terlalu basah. Maklum karena mengendarai motor dan lupa memasukan jas hujan ke dalam motor. Maka saya pilih hingga hujan mereda.

Tempat yang tadi sunyi, kini mulai ramai dengan anak-anak remaja laki-laki yang menggunakan seragam pramuka. Mereka mengantri mengambil makanan yang tersedia di meja, yang berada di tengah pojok kanan gedung.

Mereka adalah siswa SMP yang boarding atau menetap di sekolah alias tidak pulang pergi dari rumah. Gedung sekolah mereka ada di luar paling kanan dari gedung sekolah dasar tempat saya berada. Namun dapur umum berada di dekat gedung sekolah dasar dan sudah tidak ada aktivitas siswa SD, maka mereka bisa menggunakan untuk tempat makan sore.

Satu persatu siswa mengambil makanan. Mereka mesti mengukur keperluan makanannya sendiri. Sehingga makanan yang mereka ambil habis dan tidak terbuang.

Usai mereka makan, di depan meja tersedia tiga wadah. Wadah yang satu tempat sampah sisa makanan. Wadah kedau tempat sendok, dan wadah ketiga tempat piring kotor. Usai mereka makan, mereka membersihakn piring yang digunakan sendiri dari sisa makanan. Memasukan sendok di wadah kedua. Dan menyimpan piring di wadah ketiga.

Melihat keteraturan itu, ada yang banyak dapat diambil pelajaran. Pertama, siswa membatu meringankan petugas dapur bagian mencuci. Kedua, siswa belajar tertib dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ketiga, ada pelajaran tanggung jawab, mereka belajar tanggung jawab atas apa yang menjadi bagiannya.

Cukup lama saya berdiri melihat satu persatu siswa meletakan sendok dan piring secara bergantian. Pengalaman yang dialami siswa ini tentu tidak akan selalu didapatkan di rumah. Bergantung kepada bagaimana orang di rumah menerapkan aturan dan tata tertibnya.

Saat berkumpul dengan teman di sebuah kantor, saat menikmati makan siang di tempat kerja, tidak jarang saya melihat orang yang menyimpan tempat makanannya sendiri di sembarang tempat. Meski ada dapur dan tempat sampah. Tidak mudah menempatkan pada tempatnya, jika itu bukan dari bagian kebiasaan dan kesadarannya.

Kita adalah bagian dari warna pengalaman, pembiasaan dan kesadaran yang berpadu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s