Langkah Menjadi Penulis

Langkah Menjadi Penulis

Jalan-jalan melongok blog orang lain bisa menjadi inspirasi untuk menulis. Sebenarnya saya sedang tidak ada ide untuk menulis. Beberapa hari ini sedang mengerjakan transkrip data penelitian hingga ada rasa bosan. Namun tentu semunya tidak mungkin dihentikan hanya karena kebosanan.

Refrshing and hang out mengusir kebosanan rutinitas. Tidak kemana, tetap masih duduk menatap layar dengan menyambangi blog orang lain bertemu dengan pikiran dan ide yang kadang menarik hati. Memikirkan apa yang orang lain lakukan dan membandingkannya, dan akhirnya mengambil apa yang bisa dilakukan.
Baru saja aku klik tulisaan Joe ‘3 Steps to Becoming a writer’ sebenarnya dia menulis sepuluh, tetapi dalam blog dia hanya mengulas tiga. Perjalanan dan pengalamannya bagaimana menjadi penulis, saya kira bisa juga dialami oleh banyak orang.

Apa yang dilakukan seorang penulis, sebenarnya saya bisa mengintip pengalaman dari Nusa Putra. Banyak buku yang sudah diterbitkan dan ratusan artikel yang tersebar. Apa yang ditulis Joe bisa jadi penguatan apa yang saya lihat dan rasakan dari pengalaman mengintip pengalaman orang yang sudah menjadi penulis (untung gak bintit nich mata…)

Penulis ya.. pasti menulis. Langkah pertama untuk menjadi penulis adalah Publish. Publikasikan tulisan yang sudah ditulis. Cara sederhana bisa dilakukan dengan mempublish di blog, jejaring sosial seperti  Facebook, Tweeter dan banyak media lain yang dilakukan secara online.

Bisa juga dilakukan dengan memberikan kepada orang lain lembar tulisan yang kita buat. Print dan berikan. Biarakan orang lain menilai, biasakan dengan penolakan, pujian, hinaan dan sanjungan. Akhirnya seiring waktu kita akan mengetahui who’s our lover and hater.

Saya baru bisa melakukan dengan memposting di blog, yang secara otomatis terhubung ke Facebook dan Tweeter. Kalau sengaja mengeprint dan memberikan kepada orang lain.. belum terbiasa. (mungkin bisa dicoba). Tetapi kalu memberikan soft copy dan mengirim lewat email ada juga secara khusus dikirim. Meski jarang mendapat tanggapan. Saya harus tetap terbiasa dengan itu.

Kedua, menentukan batas waktu atau deadline.  Batas waktu yang ampuh itu biasanya dari orang lain. kalau diri sendiri yang menentukan lebih banyak toleransi untuk molor dan tidak tepat waktu. Tentu ini bergantung kepada bagaimana komitmen terhadap diri sendiri. Bagi yang teguh pendirian, tentu bisa berhasil.

Kalau cerita ini, sedikit malu. Saya termasuk banyak toleransi dalam membuat batas waktu. Bahkan mudah ingkar janji dengan diri sendiri karena terlalu memahami diri sendiri. (hee… empati tinggi pada diri sendiri yang salah kaprah). Misalnya saya berkomitmen one day one article  yang diposting di blog. Prakteknya bisa dilihat, masih sakarep e.

Karena itu saya lebih suka dan bersemangat dengan deadline yang dibuat orang lain. karena saya akan berusaha membuat orang lain senang, dengan memenuhi target yang ditentukan. Tentu ini sama-sama menyenangkan.

Ketiga, Apapun yang terjadi jangan berhenti menulis. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dari menulis tentu ini efek positif untuk terus menulis. Namun bagaimana dengan sesuatu yang negatif  seperti merasa tulisan tidak sebagus orang lain. Tulisan yang ditolak penerbit, atau karena kesibukan tidak punya waktu menulis. Maka jawabnya tetap menulis apapun itu jadinya.

Meskipun saya mengetahui ini kuncinya agar tetap menulis, kadang saya butuh penguatan orang lain saat melemah. Itulah gunanya memiliki banyak teman yang baik, mereka tidak akan pernah membiarkan keterpurukan terjadi.  Tetap semangat menulis apapun jadinya.

Asrama Mahasiwa, Bogor. 14 Desember 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s