Kesadaran akan Nikmat Saat Sakit

 

Kenikmatan yang Allah berikan begitu terasa mendalam dan sangat bermakna saat sakit menyambangi kita. Saat sehat mampu berjalan dan berlari dengan cepat, mengunyah makanan dengan nikmat atau menikmati rasa pedas dan gurihnya masakan semua terasa biasa saja, bahkan kadang luput dari rasa syukur yang dalam.

Namun berbeda jika sakit datang, jalan yang terhuyung serasa hendak pingsan, makanan yang enak dan gurih terasa hambar, kelelahan mengunyah makanan padahal hanya sedikit sekali, sungguh terasa jauh apa yang dirasa saat sehat dan sakit, meski apa yang dimakan dan dilakukan adalah hal yang sama.

Bersyukur diberi sakit oleh Allah, sehingga mampu memaknai betapa nikmat segala yang Allah berikan. Pun saat sakit, sesungguhnya kita bisa beristirhat, melepas segala beban dan penat. Menikmati tubuh yang lemas dan terbaring. Meski ada sedikit rasa tanya, mengapa sakit. Sesungguhnya Allah yang mengetahui apa yang terbaik dari segala apa yang terjadi.

Target waktu menyelesaikan pekerjaan hanya tingal target, tidak mudah mengejar apa yang kita harapkan. Apa yang diharap tidak selalu sama dengan apa yang terjadi. Apa yang bisa dilakukan, untuk duduk saja sudah sulit apalagi mengerjakan pekerjaan. Pasrah dan menikmati sakit itulah yang mungkin bisa diperbuat.

Dalam sakit justru banyak makna yang tersimpan. Betapa nikmat dan kasih sayang Allah tidak pernah berhenti. Rasa syukur membuat segalanya terasa ringan. Masih bersyukur diberi sakit, sehingga bisa merasakan betapa berharganya nikmat sehat. Saat diberi sehat apakah sedalam saat sakit, syukur kita kepada Allah?

Semua terasa saat hal yang menggenapi hadir menjadi satu. Nikmat sehat sangat terasa saat sakit datang. Kebahagiaan terasa saat kepedihan mulai berlalu. Kemudahan datang saat mampu mengatasi kesulitan. Hujan itu nikmat saat debu, kering dan tanah mulai retak. Teduh itu nikmat saat melintasi panas yang panjang.

Dalam keadaan sakit inginnya diri bisa menanganinya, tidak perlu membuat orang lain repot atau merasa khawatir. Namun selama hidup berinteraksi dengan orang lain, tentulah dapat diketahui saat sakit itu datang. Kekhawatiran dan pertolongan orang lain, begitu amat berharga. Terlebih di tempat yang terpisah dari keluarga.

Nikmati sakit dalam keheningan dan kesunyian. Betapa aku merasakan kebaikan orang-orang sangat berarti dalam hidup. Sesungguhnya tidak ada hal buruk yang menimpa selama kita mampu berpikir baik, bahwa segalanya adalah yang terbaik.

Dalam hening aku sampaikan doa untuk semua orang yang telah berbuat baik untuk diri ini dan orang-orang yang aku sayangi. Kebaikan adalah harta yang tidak ternilai, hanya Allah yang pantas memberikan balasan kebahagiaan dan kedamaian hati dan jannah di akhir nanti.
Alhamdulillah ‘ala kulli haalin.
Asrama mahasiswa, 26 Desember 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s