BERHASIL ITU TIDAK WAJIB

 

Kehidupan terkadang melenakan, segala rutinitas memadati hari yang datang, seolah penting, padahal jika sejenak diam dan bertanya manakah yang terpenting, tentu ada yang lebih penting. Hidup memang harus pandai mengatur layaknya sebuah piranti yang hendak digunakan, tentu perlu diprogram dan diperhatikan cara kerja dan keberhasilannya. Tetapi juga bukan robot yang mengerjakan rutinitas tanpa jiwa.

Ada kegelisahan saat apa yang membuat hati senang melakukannya tiba-tiba termakan oleh kegiatan keseharian. Bekerja di siang hari dan tidur lelap di malam hari, dan seterusnya. Padahal ada sebuah mimpi yang harus dibangun yang tidak cukup waktu hanya dengan mengerjakan tugas harian. Namun entah apa yang membuatnya seolah apa yang menjadi komitmen dengan diri sendiri kadang melemah. Padahal ada mimpi yang didambakannya. Memang kita harus pandai mengelola waktu dan memanfaatkan kesempatan.

Beruntunglah sahabat baik ada dimana-mana. Seperti oase yang memberikan kesegaran pada dahaga yang hampir mengering. Mengingatkan akan banyak hal yang sebaiknya bisa dilakukan. Tidak ada sesuatu yang berharga dibayar dengan harga yang murah.

Tentu semua kita faham, ada banyak pengorbanan yang mesti dilakukan. Jika bekerja dengan cara biasa-biasa saja ingin mendapatkan yang luar biasa, tentu salah rumus. Tidak equvalen. Mesti ada sesuatu yang berbeda. Mengerjakan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Memang tidak mudah mengukur keberhasilan dengan sebuah pengorbanan. Karena belum tentu berhasil meski dengan pengorbanan yang besar. Apalagi berharap keberhasilan tanpa usaha, sesuatu yang kosong.

Keberhasilan dalam usaha bukan kewajiban yang mesti kita raih. Melakuan usaha yang terbaik adalah kewajiban yang mesti dijalankan. Dalam melakukan itulah nikmat yang mesti disyukuri. Karena menikmati proses, menjalaninya dengan gembira jauh lebih penting ketimbang hasil.

Tidak semua orang senang dengan proses yang mesti dilalui. Umumnya orang senang dengan hasil yang diraih. Hasil yang menyenangkan tentu semua orang harapkan. Tetapi jarang orang yang suka dengan proses padahal proses yang baik, besar kemungkinan akan berhasil dengan baik.

Hidup di dunia ini pun sesunguhnya proses yang mesti dijalani, bagi manusia yang memiliki keyakinan bahwa kehidupan abadi ada di alam akhirat. Maka setiap kita tidak mengetahui dengan pasti apa hasil dari kehidupan di dunia yang singkat ini, dibanding dengan kehidupan akhirat yang selamanya.

Syurga yang tertinggi adalah dambaan setiap manusia. Karena memang Allah telah menyediakannya bagi setiap orang yang memiliki keyakinan kepada Allah dan beramal sholeh. Namun perjalanan di dunia juga tidak mudah, banyak halang dan rintang yang mengikuti perjalanan.

Meski demikian Allah Maha Mengetahui dengan kebutuhan hambanya. Setiap kali kita berbuat salah masih ada pintu maaf, taubat yang terbentang luas selama nafas masih berhembus. Tetapi kita juga perlu ingat, tidak pernah ada yang tahu kapan nafas terakhir yang kita miliki. Hanya Allah yang Maha mengetahui. Kewajiban kita adalah bersegera melakukan kebaikan.

Tulisan ini persis tausiyah… memang tidak salah ini adalah nasihat untuk diri sendiri. Dengan menulis saya sebenarnya sedang menentukan arah dalam sikap yang nyaman dijalani. Nasihat dalam kebaikan itu bagian dari kewajiban diri sendiri, jika tidak pantas untuk orang lain, paling tidak amat berarti bagi diri. Sahabat yang baik adalah sahabat yang mengingatkan kita kepada yang telah menciptakan kita. Meski kadang banyak hal yang kita ingat dari sahabat.. lucu, tawa, sedih, gembira dan semangat. Karena sahabat menjadi tumpahan segala cerita.

Have a nice weekend

Salam hangat sahabat

 

 

 

 

 

 

 

 

AKAD NIKAH SAKRAL DAN SEDERHANA

akad

Gambar: fuh.my

Empatis mengurai keangkuhan dari memahami orang lain. Peristiwa yang sama dimaknai orang tidak pernah sama, namun saat kita mampu merasakan apa yang ada dalam batin seseorang rasanya, kita bisa rasakan dan melihat mata dan hati yang basah karena peristiwa yang dialami.

Aku baru saja diajak undangan ke rumah salah seorang saudara dari nenek. Sampai di tempat undangan, tepat waktu zuhur. Setelah menikmati makan, anakku meminta mencari mesjid. Ternyata tidak jauh dari tempat undangan itu ada mushola, yang lumayan cukup besar. Air yang melimpah, jernih dan dingin, ah mirip air dalam kulkas. Pantaslah ini di daerah kaki gunung salak dan sedang musim hujan pula.

Terasa nyaman untuk melepas penat dan lelah. Menikmati sujud dengan hembusan angin dari sawah. Terasa wisata bathin. Namun tiba-tiba di sebelah mushola, ruangan majlis, terdapat suara ajakan dan pengumuman dengan mengunakan pengeras suara, ternyata sedang memanggil para jama’ah karena hendak dilangsungkannya pernikahan. Ternyata tempat undangan yang aku datangi, baru hendak langsungkan akad nikah pukul 13.00.

Selepas shalat, aku dan keluarga singgah di ruang sebelah mushola. Telah banyak yang berkumpul dari kedua mempelai. Peristiwa yang sakral dan terlihat sederhana. Orang tampak duduk khidmat mendengarkan pembukaan akad. Tetapi karena aku bersama balita, tentu tidak bisa hening tanpa suara. Suara anakku seolah memecah keheningan, kebisuan, dan ketegangan mempelai yang hendak menikah. Saat anakku  bersuara, ‘mama gambar mana?’ orang-orang menoleh ke belakang tempat kami duduk.

Di tempat manapun berada menikah itu yang penting rukun nikahnya terpenuhi. Ada mempelai laki-laki, perempuan, dua orang saksi, wali dan akad. Bukan tempat yang mewah dan megah, atau hingar bingar pesta yang meriah yang membuat syahnya pernikahan.

Lepas akad nikah diucapkan dengan suara yang tegas dan jelas. Serentak para hadirin membalas ‘syah’. Kata yang hanya diucapkan beberapa kalimat, selaksa melepas kerumitan, bahwa sesungguhnya itulah menikah. Dengan ucap kata yang tidak lebih dari 5 menit telah menghalalkan yang tadinya rumit dan haram. Melepas status yang tadinya anak tanggungan seorang ayah, kini berpindah kepada seorang suami. Melepas status yang tadinya lajang mejadi menikah.
Status yang dipersepsi bagi siapa pun yang hadir, akan memberi makna tersendiri. Saat kulihat raut wajah kedua orangtua mereka,  nampak air mata yang terbendung, dan perlahan tetes air mata jatuh tidak tertahan. Keharuan dan bahagia ada dalam wajah kedua orangtua itu, mungkinkah orangtua itu berpikir bahwa anak yang dilahirkan, dibesarkan, kini tumbuh dewasa, menapaki perjalanan bersama orang yang dicintainya. Aku pun melihat mata yng berkaca dari anak putrinya yang entah apa yang dipikirkan, tentunya bahagia.
Sulit terucap kata, aku pun bisa merasakan makna tangis yang terlihat pada mereka. Sesungguhnya teramat halus rasa yang ada dalam hati-hati setiap orang, saat melihat kebaikan dan kebahagian itu menyelimuti.
Bogor, 04 Januari 2015.

Kesempurnaan Perilaku

Kesempurnaan Perilaku
(12 Rabiul Awal 1436 H)

Persoalan dan kekacauan yang terjadi sesungguhnya tidak lepas dari perilaku manusia. Bahkan untuk diri sendiri pun demikian, apa yang terjadi dengan diri sendiri maka parameternya adalah apa yang kita lakukan.  Perbuatan baik berbuah baik, bahkan tumbuh lebat bagai pohon yang rindang. Sebaliknya perbuatan  tidak baik, berakibat buruk pada diri sendiri.

Jika persoalan itu datang disebabkan karena perilaku manusia, maka sebenarnya penyakit dan kesusahan itu berpangkal pada diri sendiri.  Mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, berpikir buruk pada apa yang datang,  itulah pangkal kesusahan.

Maka obat dari itu pun adalah diri sendiri. Mengubah apa yang menjadi kecemasan menjadi harapan, mengubah berpikir buruk menjadi berpikir baik. Dan menyakini bahwa segala sudah ada yang Maha Mengatur, tidak perlu repot mengatur diri, apalagi orang lain. Yang perlu dilakukan adalah menjalani setiap langkah dengan penuh kesyukuran atas anugerah yang Allah berikan.

Tidak mudah untuk membenahi perilaku, sekalipun perilaku diri sendiri. Namun mudah untuk dilakukan bagi orang yang ingin berubah.  Meski awalnya sulit, tertatih dan kadang meleset, namun percaya dengan kesabaran untuk terus berbuat baik, pada akhirnya akan temukan sesuatu yang berharga, merasa tenang dan bahagia.

Kemuliaan dan keluhuran seseorang ada dalam perilaku. Bukan pada banyaknya ilmu yang dikuasai, atau kepandaian yang luar biasa. Kesempurnaan ilmu mestinya membawa perbaikan perilaku. Orang yang tidak banyak pengetahuan yang dimiliki namun ia mampu mengamalkan yang  diketahui jauh lebih baik ketimbang dengan orang yang banyak pengetahuan, namun tidak banyak yang digunakannya. Semoga kita termasuk orang yang mengamalkan yang kita tahu.

Khawatir diri ini terjebak dengan yang Allah firmankan bahwa Allah tidak suka dengan orang yang mengatakan apa yang tidak ia lakukan. Kita hanya diminta mengatakan apa yang kita lakukan, sungguh sederhana, tidak mengada-ada. Katakan apa yang kita lakukan.

Kesempurnaan perilaku, sungguh telah ada pada diri Rasulullah saw. Saya percaya dan meyakininya. Meski  jarak terpisah sekitar 14 abad, namun pesan dan gambaran perilaku Rasulullah saw  membuat hati tergetar. Kelembutan, kasih sayang, kesabaran dan perangai mulia dirasakan bukan saja oleh umatnya namun juga yang memusuhinya.

Rindu rasa hati pada insan mulia, yang lahir di 12 Rabiul Awal. Bertepatan dengan tahun 571M. Sosok jiwa yang tidak pernah membalas, meski luka, darah dan nyawa terancam. Tidak mendendam meski kehidupan telah diluluh lantahkan. Kebesaran misi seorang Rasul agar orang-orang mencintai dan menyembah hanya kepada Allah, tidak padam dengan hantaman, cercaan,  dan makian. Justru doa tulus terus terpancar bagai sinaran yang menyapa siapapun yang membuka hati.

Ya Nabi salam Alaika..
YA Rasul salam alaika..
Ya Habib salam alaika..
Sholawatullah alaika..

Sungguh aku rindu, terima kasih atas nikmat Iman dan Islam.
shalawat
Gambar: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/product/wall_decal/keep-calm-and-shalawat-pada-nabi

“Assalamualaikum Beijing, Ketangguhan Jiwa dan Move On

bj

“… dia akan kuat sekuat Ayah dan Ibunya.”

Potongan kalimat itu menutup film yang sedang aku tonton “Assalamu’alaikum Beijing”. Perjalanan tertatih, untuk bisa bangkit dari pengalaman yang kurang menyenangkan. Kesabaran dan optimisme mengundang segala kebaikan datang, meski ujian hidup tidak pernah terbantahkan. Percaya bahwa masih ada yang Maha Mengatur dan membuat segalanya menjadi indah.

Aku bukan penggemar film, namun jejaring sosialku terhubung dengan Asma Nadia. Aku mendapatkan berbagai informasi tentang bagaimana pembuatan film itu, yang salah satunya mengambil setting di tempat wisata Tembok China, tempat ini harus ditutup kurang lebih 1,5 jam untuk pengambilan gambar tersebut.

http://www.konfrontasi.com/content/khazanah/film-assalamualaikum-beijing-tutup-tembok-besar-tiongkok

Testimoni para selebrities, setelah melihat tayangan itu, salah satunya aku lihat Oki S, pemain “Film Ayat-Ayat Cinta” menyaksikan film ini, dan memberi nilai 99,9. (Ah gak ketulungan tingginya, untuk sisi lain aku juga setuju). Sepanjang film itu diputar Ia tidak lepas mata menatap layar. Ujarnya. Aku juga sayang beringsut dari tempat duduk sebelum selesai.

Terakhir aku baca surat terbuka Asma Nadia, yang meminta agar saat film itu tayang tanggal 30 Desember agar segera ditonton. Jangan menunggu 3 atau 4 hari kemudian. Karena jika dalam waktu seminggu penonton tidak begitu banyak, maka film itu akan segera turun dari bioskop. Begitu rumus film bisa sedikit awet bertengger di bioskop. Demi agar tetap bertahan dan menjadi pencerahan dalam waktu yang cukup  bagi para remaja, maka meramaiakannya jadi pilihan.

Aku sendiri belum membaca detail isi novel tentang ini, tetapi dari membaca sinopsis film, rasanya film ini bisa menjadi satu pandangan bahwa masa lalu yang menyakitkan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru itu menjadi awal dalam mengubah arah haluan yang semula dibangun. Meski mungkin menyakitkan dan menyayat hati, tentu tidaklah seberapa dengan apa yang kita dapat dari buah kesabaran, dan ketangguhan dalam melewati segala persolaan.

Aku menyaksikan film ini di Botani Square, setelah mengecek tempat dan jadwal tayang di internet, akhirnya ada seorang teman yang juga sama nekat, meski sudah sore berangkat nonton.  Satu yang menjadi tujuanku melihat film itu, aku ingin jika film yang memiliki nilai bagus, untuk bisa lebih lama bertahan dan memberi banyak pencerahan. Meskipun memang tidak mudah.

Beijing, tempat yang eksotik. Menjelajahi sudut kota, di tengah bangunan kuno dan daerah wisata, hehe.. seolah aku berada di sana. Menikmati transportasi di Beijing, keindahan bangunan yang unik, jalan yang luas, tembok cina yang meliuk, patung ashima, tarian dan pakaian khas china. Who Knows one da we’ll be there.

Meski bukan pengamat film maupun cerita dalam film. Namun aku bisa menceritakan apa yang aku rasa dalam film itu. Memang tidak mudah mengurai perjalanan cerita yang dikemas dalam durasi 90 menit menyentuh hati setiap penonton,  tetapi saya menangkap makna yang dalam yang diantar oleh cerita dari film itu.

Keluasan, kelembutan dan kebeningan hati  akan bertemu dalam satu batin yang jernih dan terbuka luas. Ini yang tidak bisa didapat dengan jalan singkat dan sederhana. Terpaan hidup mendewasakan dan memberikan makna dan mengurai simpul yang terpancar dalam getar dan perilaku.  Asma dan Chung Xuan seolah menangkap getar nilai batin meski berbeda keyakinan. Proses belajar mengubah cara pikir dan kepetusan seseorang.

Bisa jadi  hal yang subyektif jika aku mengatakan bahwa ajaran dalam agama Islam membuat ketenangan bagi siapapaun yang sungguh-sungguh menjalankannya. Tetapi tidak saat orang mualaf merasakan dan  mengatakannya. Menangkap ketulusan hati, keteguhan jiwa dan ketaatan akan ajaran yang terasa hangat dalam hati.

Rasulullah saw telah lebih dahulu meletakkan prinsip-prinsip dalam kehidupan. Siapapun yang mengikuti jalannya tidak akan sedikit pun ragu menapaki kehidupan.  Ketabahan, kekuatan, dan ketangguhan percaya akan mampu menepis keraguan. Tidak perlu khawatir persoalan apapun yang datang. Masih ada lantai untuk bersimpuh, curahkan segala duka, asa dan bahagia.

Kept spirit, dihitungan awal 2015.