Kesempurnaan Perilaku

Kesempurnaan Perilaku
(12 Rabiul Awal 1436 H)

Persoalan dan kekacauan yang terjadi sesungguhnya tidak lepas dari perilaku manusia. Bahkan untuk diri sendiri pun demikian, apa yang terjadi dengan diri sendiri maka parameternya adalah apa yang kita lakukan.  Perbuatan baik berbuah baik, bahkan tumbuh lebat bagai pohon yang rindang. Sebaliknya perbuatan  tidak baik, berakibat buruk pada diri sendiri.

Jika persoalan itu datang disebabkan karena perilaku manusia, maka sebenarnya penyakit dan kesusahan itu berpangkal pada diri sendiri.  Mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, berpikir buruk pada apa yang datang,  itulah pangkal kesusahan.

Maka obat dari itu pun adalah diri sendiri. Mengubah apa yang menjadi kecemasan menjadi harapan, mengubah berpikir buruk menjadi berpikir baik. Dan menyakini bahwa segala sudah ada yang Maha Mengatur, tidak perlu repot mengatur diri, apalagi orang lain. Yang perlu dilakukan adalah menjalani setiap langkah dengan penuh kesyukuran atas anugerah yang Allah berikan.

Tidak mudah untuk membenahi perilaku, sekalipun perilaku diri sendiri. Namun mudah untuk dilakukan bagi orang yang ingin berubah.  Meski awalnya sulit, tertatih dan kadang meleset, namun percaya dengan kesabaran untuk terus berbuat baik, pada akhirnya akan temukan sesuatu yang berharga, merasa tenang dan bahagia.

Kemuliaan dan keluhuran seseorang ada dalam perilaku. Bukan pada banyaknya ilmu yang dikuasai, atau kepandaian yang luar biasa. Kesempurnaan ilmu mestinya membawa perbaikan perilaku. Orang yang tidak banyak pengetahuan yang dimiliki namun ia mampu mengamalkan yang  diketahui jauh lebih baik ketimbang dengan orang yang banyak pengetahuan, namun tidak banyak yang digunakannya. Semoga kita termasuk orang yang mengamalkan yang kita tahu.

Khawatir diri ini terjebak dengan yang Allah firmankan bahwa Allah tidak suka dengan orang yang mengatakan apa yang tidak ia lakukan. Kita hanya diminta mengatakan apa yang kita lakukan, sungguh sederhana, tidak mengada-ada. Katakan apa yang kita lakukan.

Kesempurnaan perilaku, sungguh telah ada pada diri Rasulullah saw. Saya percaya dan meyakininya. Meski  jarak terpisah sekitar 14 abad, namun pesan dan gambaran perilaku Rasulullah saw  membuat hati tergetar. Kelembutan, kasih sayang, kesabaran dan perangai mulia dirasakan bukan saja oleh umatnya namun juga yang memusuhinya.

Rindu rasa hati pada insan mulia, yang lahir di 12 Rabiul Awal. Bertepatan dengan tahun 571M. Sosok jiwa yang tidak pernah membalas, meski luka, darah dan nyawa terancam. Tidak mendendam meski kehidupan telah diluluh lantahkan. Kebesaran misi seorang Rasul agar orang-orang mencintai dan menyembah hanya kepada Allah, tidak padam dengan hantaman, cercaan,  dan makian. Justru doa tulus terus terpancar bagai sinaran yang menyapa siapapun yang membuka hati.

Ya Nabi salam Alaika..
YA Rasul salam alaika..
Ya Habib salam alaika..
Sholawatullah alaika..

Sungguh aku rindu, terima kasih atas nikmat Iman dan Islam.
shalawat
Gambar: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/product/wall_decal/keep-calm-and-shalawat-pada-nabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s